Kisah Anak Farmasi

Kisah Anak Farmasi
Bab 92


__ADS_3

“Arani, makan malam sama aku mau nggak? Tapi makan nya sore, takutnya kalau keluar malam susah izinnya ke Mama Papa kamu, dibolehin nggak kira-kira?”


Arani menghembuskan napas pelan. Disaat Ia pusing dengan tugas Farmakologi yang baru Ia terima tadi siang dari gurunya, Areno menghubungi cuma untuk mengajaknya pergi makan. Jujur terlalu malas untuk Arani keluar rumah sekarang.


“Aku lagi ngerjain tugas nih,”


“Oh gitu? Ya udah aku temenin ayok,”


“Temenin gimana sih maksudnya?”


“Ya…aku temenin. Kita pergi makan, kamu bawa tugas terus kerjain. Aku bantuin kalau aku bisa,”


“Nggak usah, aku kerjain sendiri aja. Lagian aku lagi malas keluar rumah,” tolak Arani secara langsung tanpa basa-basi, supaya Areno tak melanjutkan ajakannya lagi, sebab Ia masih memiliki tugas yang harus segera Ia selesaikan.


“Jadi nggak mau nih keluar makan bareng?”


“Nggak dulu ya,”


“Aku izin ke Mama Papa kamu,”


“Iya aku tau, kamu nggak mungkin bawa kabur aku, Areno. Tapi masalahnya aku lagi mumet sama tugas nih,”


Arani juga tidak berpikir kalau Areno akan membawanya kabur diam-diam untuk pergi makan berdua. Ia yakin Areno akan minta izin walaupun segan. Areno memang menyebalkan, suka memaksakan kehendak, tapi sejauh ini tidak menghalalkan segala cara untuk membawanya pergi. Jangan sampai itu terjadi juga.


“Eh video call dong,”


“Nggak ah, kamu lagi kuker ya? Hah? Aku lagi ngerjain tugas, ngapain kamu ngajakin aku video call?”


“Ya karena kamu nggak mau pergi makan sama aku, jadi aku makan di rumah aja kalau begitu,”


“Ya udah makan tinggal makan, Areno,”


“Temenin aku lah,”


Arani berdecak pelan. Sungguh, Ia tidak tahu kalau Areno bisa bersikap seperti ini. Persis seperti anak kecil yang kalau makan suka minta ditemani.


“Mau ‘kan temenin aku makan?”


“Nggak ah, kurang kerjaan banget aku kalau temenin kamu makan, orang aku lagi sibuk,”


“Kamu cuma diem doang, Ran, aku nggak minta kamu pertunjukkan,”


“Ck, ya udah lah nanti aja,” ujar Arani dengan ketus. Jujur Arani paling tidak bisa diganggu ketika lagi sibuk tapi Areno melakukannya. Benar-benar menyebalkan bukan?


“Udah ya, aku masih harus kerjain soal, terus aku mau baca-baca dulu takutnya besok di tanya ‘kan, aku nggak bisa jawab. Farmakologi tuh mantep banget materinya,”


“Ya udah deh satu jam lagi aku video call ya, okay?”


“Hmm, nggak janji,”


“Dih kok gitu sih, Aranique yang cantik,”


Arani merotasikan bola katanya. Lalu Areno mau apa kalau Ia sedang tidak mau melayaninya? Untuk saat ini Arani harus mengerjakan tugas dan Ia ingin fokus.


“Okay aku nggak ganggu kamu sekarang, tapi kalau satu jam ke depan aku telepon kamu bisa nggak?”


“Ya udah iya,”


“Okay makasih ya, aku tutup teleponnya. Nanti aku hubungin kamu lagi,


“Iya,”


“Dijawab ya, Cantik,”


“Iya, Astaga. Kamu cerewet banget deh,”


“Aku takutnya kamu nggak mau jawab telepon aku nanti,


“Iya-iya, aku jawab, puas?”


“Okay deh semangat ngerjain tugasnya,”


“Kamu nggak ngerjain tugas?”


“Udah,”


“Serius?”


“Iya, kamu nggak percaya?”


“Nggak yakin,”


“Mau aku tunjukkin? Tugas apa sih yang kamu maksud? Farmakologi bukan? Aku ada tugas itu,”


“Iya itu yang aku maksud,”


“Udah kok,”


“Wih keren,”


“Iya dong, perlu bantuan aku nggak? Cielah Hahahahaa. Kamu mah nggak perlu bantuan aku pasti udah bisa nyelesain tugas sendiri “

__ADS_1


“Ini kapan udahannya? Aku mau lanjut ngerjain tugas nih,”


“Oh iya, nanti aku telepon lagi ya, angkat ya temenin aku makan ya, Ran,”


Areno sebenarnya belum rela mengakhiri pembicaraannya dengan Arani. Tapi Ia tidak mau egois. Ia harus memikirkan kepentingannya Arani. Ini berhubungan dengan tugas sekolah.


Ia biarkan Arani mengerjakan tugasnya terlebih dahulu. Sekitar dua jam kemudian Ia kembali menghubungi Arani. Ia benar-benar sudah dimabuk cinta.


“Hai,”


“Hmm, kenapa?”


“Dih, kok kenapa sih? Aku ‘kan udah bilang bakal telepon kamu sejam kemudian. Tadi kamu lagi ngerjain tugas, terus sekarang gimana? Udah selesai ngerjain tugas? Atau belum?”


“Udah, ini lagi rebahan,”


“Asyik bisa ngobrol banyak dong sama aku?”


Areno tampak bahagia mendengar Arani sudah selesai mengerjakan kewajibannya sebagai seorang pelajar, yaitu menyelesaikan tugas.


“Nggak juga, nggak bisa lama-lama soalnya aku mau nonton bentar terus tidur deh,”


“Ya udah nggak apa-apa, sekarang temenin aku makan ya?”


“Hah? Kamu belum makan?”


“Belum, soalnya mau sambil ngobrol sama kamu, boleh ya?”


“Ya,”


“Video call ya?”


“Ya,”


“Singkat bener jawabnya,”


“Lagi capek, makin capek harus ngeladenin kamu,”


Areno tertawa sambil kakinya melangkah ke ruang makan. Ia senang sekali karena Arani mau menemaninya makan. Walaupun tak menemani secara langsung, paling tidak Arani bersedia menemaninya makan dengan cara berinteraksi dengannya melalui sambungan panggilan video.


“Aku makan dulu ya,”


“Okay,”


“Maaf ya aku makan, kamu nggak,”


“Lah, aku mah udah makan,”


“Beneran udah makan ‘kan?”


“Udah,”


******


“Aku mau ke kamar kakak ah. Mau ngajakin nonton drakor,”


“Eh kakak kamu lagi ngerjain tugas kali, jangan diganggu, Nak,”


“Aku pengen liat dulu untuk mastiin,”


Ria tetap bersikeras untuk menghampiri sang kakak di kamarnya. Ia pergi meninggalkan ruang keluarga dimana mama dan papanya duduk menonton televisi.


“Dek, kalau kakaknya lagi belajar atau ngerjain tugas jangan diganggu ya, Nak,”


“Iya, Mama. Tenang aja ya, Ma,”


“Kalau sampai kakaknya diganggu, Papa marah ya, Nak,”


“Iya, Papa. Aku nggak bakal gangguin Kakak. Ih kok Mama sama Papa nggak percaya banget sih, orang aku cuma mau nyamperin aja kok. Kalau Kakak udah kelar ngerjain tugas, aku mau langsung ajakin kakak nonton,” jelas Ria supaya Mama dan Papanya tidak khawatir Ia mengganggu Arani. Ia tidak punya nyali sebesar itu mengganggu kakaknya yang sedang belajar. Arani bisa marah bahkan tak segan mengusirnya dari kamar. Itu sudah pernah terjadi. Dan Ia jera melakukannya. Arani paling tidak suka kalau diganggu ketika sedang sibuk dengan urusan sekolahnya. Ia yang terkadang menyebalkan pernah mengganggu dan akhirnya ditegur tegas oleh Arani dan disuruh keluar dari kamar.


Ia mengetuk pintu kamar kakaknya. Ada sahutan dari dalam sana yang mempersilahkannya masuk. Tanpa menunggu waktu lama Ia segera membuka pintu kamar.


“Asyik, Kaka udah rebahan nih. Nonton drakor yuk, Kak,”


“Iya ayo,”


“Kakak lagi telponan sama siapa itu?” Tanya Ria yang baru menyadari Arani sedang menatap layar ponselnya yang tepat berada di depan muka.


“Nih, si Areno video call,” ujar Arani seraya beranjak duduk dan bersandar di kepala ranjangnya.


“Abis belajar bareng ya?”


“Nggak,”


“Ria ya? Hai, Ri,” sapa Areno setelah mendengar suara lain yang bukan milik Arani.


“Hai, Bang Aren, aku mau ajak Kakak nonton boleh ‘kan?”


“Boleh kok,ini aku udah kelar juga makan nya,”


“Oh jadi Bang Aren video call Kakak karena mau sambil makan ya?”

__ADS_1


“Iya, biar ada teman ngobrol gitu, biar nggak sepi. Ya maklum lah, aku nggak ada teman di rumah, nggak kayak Arani yang punya teman yaitu kamu,”


“Sih apaan, dia kadang bukan teman aku tau, dia suka jadi musuh aku, nyebelin dia kadang,”


“Ih apa sih, Kak? Aku anak baik begini kok dibilang nyebelin?”


“Nggak ngaku? kamu tuh nyebelin. Paling nyebelin kalau udah belain Areno, padahal yang kakak kamu ‘kan aku, bukan Areno,”


“Ya berarti dia anggap aku abangnya, Ran,”


“Dih, sembarangan. Dia nggak punya abang, dia cuma punya aku, kakaknya. Jangan kegeeran deh kamu,”


“Ya kalau orang baik ke kakak, pasti aku juga baik. Tapi kalau orang itu jahat ke kakak, aku pasti juga jahat. Gitu aja sih, Kak,” jelas Ria yang selama ini menilai Areno baik kepada kakaknya. Kalau yang Ia lihat adalah sebaliknya, Ia tak akan segan untuk tidak menyukai Areno.


“Kamu nggak tau aja, dia tuh sebenarnya jahat tau, dia pemaksa, pokoknya dia nyebelin deh,”


“Jangan ngarang, Ran,”


“Lho, kok ngarang sih? Emang bener ‘kan? Kamu itu pemaksa, dari awal aja kamu udah maksa aku untuk jadi pacar kamu. Apa kamu udah lupa ya?”


“Iya kayaknya aku udah lupa deh,”


Arani merotasikan bola matanya, sementara Ria menahan senyum. Ia senang melihat perdebatan kecil antara Arani dan Areno, sepasang kekasih yang punya nama hampir mirip.


“Ya udah aku mau nonton. Jangan ganggu aku dulu,”


“Okay sip, makasih ya, maaf udah ganggu waktunya,”


“Ya, bye,”


Arani langsung mengakhiri sambungan telepon dan meletakkan ponselnya di nakas. Kemudian Ia berbaring dan menyuruh Ria untuk menghidupkan televisi.


“Tolong nyalain tv, kita nonton lanjutan drama yang kemarin, Dek,”


“Yang detektif itu ‘kan?”


“Iya, itu seru,”


“Okay, eh tapi Kakak udah selesai kerjain tugas belum?”


“Udah, kamu tau darimana aku kerjain tugas?”


“Tau lah, pasti kakak tuh ngerjain tugas atau belajar kalau udah ngilang di kamar, apalagi jam-jam segini. Kalau nggak ngerjain tugas ya baca novel atau nonton, tapi itu meja belajar kakak masih agak berantakan tandanya kakak abis kerjain tugas,”


“Iya tau aja,”


Mereka mulai menikmati tontonan, tapi tiba-tiba diganggu oleh suara ketukan pintu. “Iya masuk aja, Ma,” ujar Arani setelah mengetahui bahwa mamanya lah yang datang.


“Ria gangguin kamu nggak?”


“Nggak, Ma. Aku udah selesai kok,”


“Kamu abis ngerjain tugas?”


“Iya, Ma,”


“Aku nggak gangguin, Mama. Emang aku datang kakak udah kelar kok ngerjain tugasnya, Kakak lagi ngobrol sama Bang Aren tadi,”


“Ngobrol?”


“Iya ngobrol di video call,”


“Ada apa, Ran?”


“Hmm? Nggak, Ma. Si Areno video call katanya mau ngobrol aja, terus sambil dia makan,”


“Fokus nggak ngerjain tugasnya kalau sambil ngobrol begitu?”


“Tadi dia video call, aku udah selesai kok, Ma,”


“Oh ya udah kalau gitu, kirain ada hal penting apa yang diobrolin,”


“Mungkin soal rindu kali, Ma,”


“Astaga, Ria! Kamu nih ngeledekin aku mulu kerjaannya,”


“Lah ‘kan benar apa kata aku, Kakak. Mungkin yang diobrolin sama Bang Aren dan kakak itu soal rindu, itu ‘kan hal penting juga ya?”


“Nggak! Siapa yang bahas-bahas rindu? Astaga ni bocah. Kamu kali yang lagi rindu sama seseorang ya? Hmm? Jujur aja kamu sama kakak,”


“Nggak kok, Kak. Aku nggak—“


“Halah, jujur aja. Udah mulai ada cinta monyet ya? Hmm?”


Arani membalik keadaan. Ia tersenyum menatap adiknya yang panik. Arani jadi semakin gencar menggodanya.


“Hayo jujur aja sama kakak, mumpung ada mama juga nih,”


“Eh, Kak. Adik kamu masih terlalu kecil, jangan ngomong kayak begitu ah,”


“Ya lagian dia duluan yang mulai, Ma. Siapa yang bahas rindu coba?”

__ADS_1


“Ya maksud aku, Bang Aren rindu sama kakak kali,”


“Hadeh, udah deh. Jangan ngomong yang aneh-aneh, kakak nih masih sekolah. Pacaran ya pacaran yang wajar aja, nggak perlu lebay. Pacaran kayak orang temenan aja kakak maunya. Orang ketemu tiap hari kok,”


__ADS_2