
“Hai, Ran,”
Kening Arani mengenryit bingung ketika mendengar suara Areno yang lemas ditambah lagi wajahnya yang minim ekspresi. Berbeda dengannya yang berbunga-bunga karena nilainya meningkat, Areno justru sebaliknya.
“Bentar deh, kamu kenapa? Kamu sakit ya? tapi pas ketemu di sekolah tadi kamu baik-baik aja,” ujar Arani yang jujur khawatir. Biasanya Areno itu selalu semangat kalau bicara dnegannya apalagi melakui sambungan video call seperti ini ditambah lagi Ia yang menghubungi lebih dulu.
“Aku baik-baik aja, Ran. Tumben nih video call aku duluan, ada apa?”
“Nggak apa-apa, aku pengen tau aja kamu lagi ngapain?“
“Lagi review pelajaran yang lagi down nih,”
“Nilai kamu menurun?”
“Iya,” jawab Areno dengan lemah.
“Mama Papa aku kecewa gitu. Padahal aku juga nggak pinter ‘kan anaknya,”
“Nggak apa-apa, wajar kok orangtua kecewa. Soalnya mereka punya harapan yang besar untuk anaknya apalagi kamu ‘kan cuma anak satu-satunya nih,” ujar Arani yang coba menenangkan Areno.
“Aku makanya udha mulai batasin desain aku, Ran,” ujar Areno dnegan suara yang pelan. Oleh sebab itu Arani mengangkat salah satu alisnya bingung.
__ADS_1
“Apa? Kamu ngomong apa?”
Aranis ambil makan jadi kurang fokus juga mengobrol dengan kekaishnya yang saat ini berada di meja makan.
“Aku udah mulai batasin nge-desain,” ujar Areno maish dengan suara yang pepan tapi artikulasinya lebih diperjelas.
“Oh, iya bagus deh. Aku rasa itu jadi salah satu penyebab nilai kamu turun,” ujar Arani dnegan suara pelan juga karena Arani tahu, Areno saat ini sedang di kamar dan bahaya kalau mamanya Areno tahu mereka sedang membicarakan penyebab nilai Areno turun yaitu karena Areno mendesain.
“Iya aku juga mikirnya gitu sih. Ya semoga aja dnegan aku ngebatesin jumlah desain aku, nilai bisa naik deh, ya nggak usah tinggi-tinggi, minimal sama kayak nilai yang biasa aja jangan kayak gini jadi turun,”
“Tenang ya, Ren. Aku yakin kok kamu bisa. Harus sabar dan yakin kalau diri diri kamu sendiri kalau kamu tuh bisa ngembaliin nilai kamu lagi,”
“Makasih ya, Ran,”
“Iya sama-sama, semangat dong! Jangan lemes, ‘kan kamu cari uang aja bisa masa ningkatin nilai lagi nggak bisa,”
“Udah mulai belajar dari sekarang untuk nafkahin kamu, Ran,”
“Heh ssstt! Kamu ngomong apa sih? Ntar didengar sama Mama kamu lho,” Arani berdesis mendekatkan telunjuknya dengan bibir.
“Ya ‘kan emang kenyataan aku udah mulai belajar cari nafkah sekarang, nggak didengar kok, orang aku ngomongnya pelan, nih kamu emang nggak bisa dengar suara aku apa? Hah? Kurang pelan apalagi coba?”
__ADS_1
Arani terbahak melihat Areno sengaja mendekatkan mukany ke arah ponsel dan suaranya juga berbisik.
“Kamu sendiri gimana nilainya?”
“Biasa aja,”
“Ah masa sih biasa aja? Pasti luar biasa deh aku yakin. Kamu jangan terlalu merendah deh,”
“Nggak kok, emang nilai aku kayak biasa aja,”
“Iya kayak biasa berarti tinggi dong?”
“Ya nggak juga,”
“Halah bohong. Nggak mau banget pamer deh kamu,”
“Ya ngapain aku pamer? Banyak yang lebih pintar dari aku kok,”
“Aku bangga deh punya pacar yang bisa pertahanin nilai bahkan mungkin bisa ningkatin nilai, nggak kayak aku nih,”
“Eh jangan ngomong kayak gitu, nggak baik membandingkan diri sendiri sama orang lain. Kita nggak maju-maju kalau selalu begitu, karena selalu aja ada jarak entah itu jauh atau dekat antara pencapaian kita sama pencapaian orang lain. Nggak usah peduliin itu, fokus aja sama jalan kita sendiri,”
__ADS_1