
“Mau apa lagi sih? Gak usah turun dari motor! Pulang aja sana," Arani mengibaskan tangannya mengusir Areno yang tengah membuka Hodie nya seraya turun dari motor.
Seperti biasa, Semenjak hari dimana mereka resmi menjadi seoasang kekasih, Areno tak pernah absen untuk mengantar dan menjemput Arani setiap harinya. Sepadat apaoun kegiatan cowok itu, Arani tetap yang paling utama.
jika Areno harus melakukan Latihan Basket atau mengadakan Rapat ISSMAF, ia tetap berusaha memastikan Arani sampai di rumah dengan aman.
"Lo gak nawarin gue masuk gitu?"
"Ngapain? Lo Mau motongin rumput di rumah gue? Gantiin Pak Dadang?"
Areno menjepit pipi gadisnya dengan gemas. Giginya tak tahan untuk bergemelutuk. Pipi putih yang selalu cemberut bila bersamanya itu sangat menggemaskan dimata Areno.
Arani berusaha melepaskan tangan Areno dari pipi nya yang pasti sudah memerah karena ulah cowok itu.
Gadis itu menjauh dari tubuh Areno saat sadar bahwa posisi mereka sangat dekat saat ini. Jujur, Ini membuat cewek polos macam Arani gugup setengah mati.
Gadis itu berkelit terhadap rasa canggung nya. Ia memasang ekspresi ingin muntah di depan Areno dengan tangan yang menjepit hidung kecil nya.
"Bau Rokok," Ucapnya Arani lalu menatap Areno sebentar.
"Dih? Siapa yang bau rokok?"
"Gue," Jawabnya dengan wajah merah menahan kesal.
Sial!
Kenapa dia harus secanggung ini dekat dengan Areno. Sampai-Sampai ia harus berbicara hal tidak penting demi menjauh dari Areno yang sedari tadi berusaha mendekatinya.
Lalu apa masalahnya Jika Areno bau Rokok? Bodoh! Kenapa ia harus sedetail itu menghirup aroma Tubuh Areno.
Areno tertawa melihat Arani yang menatapnya tajam.
"Emang kecium ya bau nya? Perasaan gue ngerokok pas jam istirahat pertama. Masa iya belum ilang juga bau nya?"
Areno menilai sendiri aroma tubuhnya. Hal itu tak luput dari perhatian Arani.
"Kode ya kalau lo gak suka gue ngerokok? Hm? Okay,"
"Apaan? Kode? Gue gak peduli lo mau ngerokok, mau minum, mau ngapain aja terserah lo. Yang mati gara-gara itu semua juga lo. Yang nanti masa depannya ancur juga lo. Jadi ngapain gue harus peduli?"
Areno mengangguk pelan. Ia senang, Arani sekarang sudah mau berbicara cukup panjang padanya. Bahkan saat Areno belum selesai mengucapkan kalimatnya.
"Tapi kalau lo abis ngerokok jangan deket-deket gue deh! Gue gak mau jadi perokok Pasif," Ujar Arani dengan wajah tanpa ekspresinya.
Bagus Arani. Gunakan seribu satu cara untuk menjauh dari rasa gugup sialan ini, Arani menyemangati dirinya sendiri.
Gadis itu melipat kedua lengannya di depan dada lalu mengalihkan pandangannya tak ingin menatap Areno.
"Eh gue selalu pake Parfum kalau abis ngerokok. Gue juga punya otak kali. Gue tau, cewek kayak lo gak bakal suka sama hal kayak gitu."
"Tapi sekarang apa? Masih ada baunya tau gak? Ganggu indera penciuman gue aja lo!"
Areno tersenyim miring
"Sedalem apa lo hirup wangi badan gue? Bahkan gue sendiri gak ngerasa kalau ada bau rokok atau apapun itu dibadan gue sekarang."
Skak Mat
Arani mematung.
Benar-Benar cowok ini,
Arani terlihat seperti cewek Protective sekarang. Layaknya gadis-gadis di luar sana yang peduli pada kesehatan kekasih mereka.
Arani mengumpat dan memaki Areno yang tertawa Jail.
"Hidung gue masih berfungsi normal, Sayang"
What the,
Arani dibuat sangat jengkel mendengar ledekan Areno.
Arani melangkahkan kaki nya untuk memasuki pekarangan Rumah besar nya. Meninggalkan Areno yang licik itu. Dia merasa terjebak dengan ucapannya sendiri. Seharusnya masih banyak kalimat yang bisa dijadikan alasan untuk menutupi kecanggungannya tadi. Senjata yang digunakannya untuk menjauhi Areno justru malah mematikannya.
Sial!
"Gue gak di suruh masuk?"
__ADS_1
Areno mengikiti pacarnya untuk masuk kedalam rumah yang terlihat sepi itu.
Arani menengok ke belakang.
"Ngapain sih ngikutin gue masuk?! Pulang sana!" Geram Arani yang baru saja di lewati oleh Areno. Cowok ganteng itu sudah lebih dulu sampai di depan pintu rumah Arani.
Arani menarik Hoodie Areno dengan marah.
"Keluar gak lo! Gue gak ngizinin lo masuk ke rumah gue,"
"Bodo amat. Yang punya rumah ini siapa? Orang tua lo! Inget ya, bukan punya lo!"
Areno masuk ke dalam rumah dengan santai. Meninggalkan Arani yang mengelus dadanya sabar.
"Bang Areno, Motor nya gak di masukin dulu?" Ujar Bik Tuti saat Areno menyapanya sopan. Sebelum akhjrnya duduk setelah dipersilakan oleh Asisten Rumah Tangga yang sudah sangat lama berbakti pada keluarga Arani.
"Biarin aja, Bik. Alhamdulillah kalau motornya ilang. Biar dia gk usah dateng lagi ke sini," Bukan Areno yang menjawabnya, Namun Arani yang baru sampai di ruang tamu tempat Areno dan Bik Tuti berada.
"Bisa beli lagi, elah. Gitu aja kok repot,"Gaya bicara Areno yang dibuat lucu itu sontak saja mengundang gelak tawa Bik Tuti.
Arani meletakkan tas nya di sofa sebrang Areno. Ia ke dapur untuk mengambil cemilan nya.
"Tante sama Om belum pulang, Bik?"Tanya Areno saat memutar pandangannya ke seluruh penjuru rumah.
"Belum, Bang. Biasanya sore banget,"
Areno mengangguk.
"Makasih banyak, Bik. Repot banget tiap Areno ke sini pake di kasih minum segala," Areno terkekeh dan menyambut minuman yang dibuatkan oleh Wanita parubaya itu.
Bik Tuti nyaman berkomunikasi dengan pemuda yang satu itu. Walaupun terkadang gayanya tengil -kata Arani, Tetapi sopan santun nya tak pernah hilang. Walaupun Bik Tuti hanyalah ART di rumah itu, tetapi sikap baik Areno terhadap Bik Tuti menunjukkan bahwa cowok itu menghargainya.
Bik Tuti kembali ke dapur usai menyajikan minuman untuk tamu yang baru saja datang itu.
"Heh mau kemana?" Arani melirik Areno yang baru saja menghentikan langkahnya yang ingin naik ke lantai atas dimana kamarnya berada.
"Bukan urusan lo," Arani kembali melanjutkan pijakan kaki jenjang nya di tangga.
"Mau ganti baju kan? Abis itu turun lagi! Awas aja kalau gak turun, Gue samperin lo ke atas,"
Arani menulikan pendengarannya.
"Assalamualaikum,"
Areno langsung menolehkan kepalanya ke arah datangnya suara bariton khas Papanya Arani.
Di depan pintu sana ada sepasang suami istri lengkap dengan pakaian formal kantornya dan dibelakang mereka ada Seorang gadis remaja yang mengenakan Seragam putih birunya.
Areno langsung bangun dari sofa dan bersalaman dengan kedua orangtua Arani.
"Eh Bang Aren yang manisnya kayak gula Aren," Sapa Ria dengan wajah cerianya. Areno tersenyum saat mendengar panggilan Ria yang sudah disematkan gadis remaja itu sejak awal mereka bertemu.
"Bang Aren tumben Mampir? Biasanya gak pernah mau kalau di suruh masuk, kata Kakak."
Areno menghela nafasnya panjang, saat mendengar ucapan Ria. Arani benar-benar pintar mengarang. Kapan Arani menawarinya masuk ke rumah ini? Pasti ada pertengkaran dulu kalau Areno mau mampir. Telinga Areno harus siap mendengar Ucapan pedas dari Arani yang selalu langsung mengusirnya jika sudah sampai di depan Rumah.
"Areno udah makan?" Tanya sosok wanita yang lembut menyerupai ibunya.
Areno langsung mengangguk dan tersenyum hangat.
"Udah, Tante."
"Beneran? Ayo kita makan sama-sama."
"Beneran udah tadi,"
"Arani mana? Kok gak sama kamu?"
Areno menoleh pada Papanya Arani yang mengisyaratkannnya untuk kembali duduk di sofa.
"Di atas lagi ganti baju kayaknya, Om"
"Aku Naik ya."
"Sekalian panggil Kakak, Dek"
Ria mengangguk patuh dan berjalan menaiki tangga dan begitu sampai di atas, langkahnya berbelok ke arah kamar Kakaknya yang serba pink itu bahkan dari pintunya pun sudah pink. Benar-Benar tidak sulit bagi orang baru jika ingin mencari kamar gadis yang terlahir sebagai putri sulung itu.
__ADS_1
Sebelum Ria mengetuk pintu kakaknya, Arani sudah keluar dengan mengenakan piyama hello kitty nya. Ia mengerinyit mendapati adiknya yang berada di depan kamarnya dengan ancang-ancang ingin mengetuk pintu dan mulut terbuka.
"Ngapain ke sini?"
"Buruan turun. Udah ditungguin sama Bang Aren,"
Arani berdecak seraya merotasi bola matanya mendengar nama itu lagi. Ternyata dia belum pulang juga.
Padahal Arani sengaja memperlambat Kegiatan mandinya sampai kiranya Areno bosan menunggunya yang tak kunjung turun dari lantai atas.
"Ayo,"
Arani mengerinyit bingung saat Areno lagsung bangun dari sofa saat melihatnya.
"Kemana?"
"Ke Pasar Malem di deket sekolah,"
Demi Apapun, Areno membuat cewek itu mendidih. Baru juga sampai rumah dan sekarang sudah di ajak untuk ikut ke pasar malam. Arani bahkan belum sempat meluruskan kakinya dulu. Karena tadi begitu ia sampai, tubuhnya sudah menuntut untuk segera dibersihkan setelah hampir seharian beraktivitas di sekolah.
Arani menatap papa dan mamanya dengan memohon. Ia sangat butuh bantuan dari kedua orangtuanya agar cowok itu segera pergi dari rumah.
Papa nya tersenyum hangat.
"Tadi Areno udah izin sama papa,"
******
"Mau cobain gak?"
Arani menghindar saat Areno mengangsurkan sendok berisi Teh hangat padanya.
"Ini lebih enak,"
Arani melanjutkan sesi minum susu hangatnya dalam suasana dinginnya malam yang di isi oleh ramainya orang di pasar malam yang sedang mereka kunjungi sekarang.
"Cobain dong,"
Arani langsung menjauhkan gelas nya dari jangkauan Areno. Lalu menatap Areno garang.
"Itu udah punya sendiri juga. Masih aja minta punya orang. Dasar rakus," Perkataannya mengundang tawa lebar dari Areno.
"Dasar pelit,"
"Biarin,"
"Siapa yang bayarin?"
Sendok yang tadinya hampir sampai di mulut Arani, langsung berhenti dan bergantung di udara. Gadis itu menatap Areno dengan sebal dan kembali memasukkan sendoknya ke dalam gelas.
Ia mendorong gelas itu ke arah Areno.
"Gak ikhlas banget. Yaudah itu ambil aja. Gue bisa beli sendiri,"
Areno langsung menggenggam lembut tangan halus Gadisnya yang sedang Baper Mode On.
Ia mengisyaratkan Arani untuk kembali duduk di sampingnya.
"Bercanda doang tadi. Gak usah ngambek kayak gitu," Ucapnya lembut seraya mengusap wajah Arani sebentar.
"Lo beneran mau ini?"
Areno mengangguk antusias saat cewek yang sedang memakai Piyama di baluti cardigan itu menawarinya.
"Mana Cochlear Thea Lo?"
Tangan kanan Arani menengadah untuk meminta sendok Teh milik Areno.
"Jangan pake sendok gue lah,"
Areno memutar bola matanya. Gagal sudah alibi Modusnya kali ini.
"Gak papa sih. Gue gak penyakitan kok," Ucap Areno yang enggan memberi sendoknya.
"Yaudah kalau gak mau pake sendok sendiri, berarti gak jadi gue kasih. Masih untung dibagi," cibir cewek itu.
******
__ADS_1
Cochlear Thea --> Sendok Teh