Kisah Anak Farmasi

Kisah Anak Farmasi
Bab 79


__ADS_3

-Nara, lo kenapa ngirim makanan ke gue? Ya amlun repot-repot. Makasih banyak ya, tapi lain kali nggak usah ya, Nar-


Arani mengangkats alah satu alisnya begitu membaca pesan yang baru saja dikirimkan oleh kekasihnya. Dari isi pesan saja Arani sdah bis amenebak kalau Arenos alah kirim.


“Bisa-bisanya dia ngirim ini ke gue, sejak kapan nama gue Nara? Dih nggak jelas banget si Areno,”


Arani langsung memghubungi kekasihnya itu. Supaya dia sadar kalau pesan yang baru saja dikirim itu bukan ke orang yang dituju, melainkan salah kirim. Kalau Ia diamkan bisa jadi Areno tidak sadar.


“Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam, iya sama-sama ya, Areno. Semoga kamu suka sama makanan nya. Duh, nggak ngerepotin sama seklai kok,”


Tiba-tiba Arani bicara seperti itu dengan nada bicara yang dibuat beda dari bagaimana Ia bicara selama ini.


“Hahaha kamu kenapa deh?”


“Lah, aku ‘kan bilang sama-sama, gimana makanan itu? Enak?”


“Hah?”


Areno langsung berpikir beberapa detik untuk mencerna ucapan kekasihnya. Ia langsung membuka room chatnya dan Arani, ternyata Ia memang barus aja memgirimkan pesan untuk Arani dengan ucapan terimakasih.


“Ya Allah, ih kok bisa sih?”


Areno panik semdiri padahal isinya juga bukan hal ang megatif. Ia hanya mengucapkan terimakasih kepada Nara.

__ADS_1


“Ya ampun,namaf banget ya, Ran. Aku salah kirim ternyata,”


“Iya nggak apa-apa,”


“Kamu nggak cemburu ‘kan?”


“Nggak lah,”


“Tapi ketus gitu jawabnya hahahaha,”


Areno tertawa keras dan itu membuat Arani mendengus kesal. Ia langsung mengakhiris ambungan teleponnya bersama sang kekaish. Karena tujuan awlanya menghubungi Areno memang untuk menyadarkan Areno kalau Areno itu salah kirim pesan.


Tiba-tiba Areno menghubunginya lagi. Ia berdecak dan sengaja Ia tolak panggilan Areno tpai Areno kembali menghubunginya. Arani langsung berdecak kesal. Areno tidak akan menyerah kalau Ia belum menerima panggilannya.


“Apa lagi sih?”


“Ya emang mau ngobrolin apa lagi coba?”


“Aku mau cerita. Jadi tadi tuh aku dikirimin makanan sama Nara, Mama aku sih yang nerima. Kata kurirnya dari Nara teman aku,”


“Ya udah terus?”


“Nggak apa-apa cuma mau cerita aja sukaya nggak terjadi kesalahpahaman ya ‘kan,”


“Emang aku salah paham ya? Nggak tuh, aku paham,”

__ADS_1


“Ya mggak apa-apa dong kalau aku mau cerita biar kamu tau aja gitu ceritanya. Karena tadi ‘kan aku nggak semgaja tuh salah kirim chat ke kamu,”


“Kalau nggak salah kirim, emang kamu bakal rajin cerita apapun?”


“Iya aku ‘kan rajin cerita-cerita ke kamu, nggak kali ini aja, bener nggak?”


“Hmm iya iya, jujur aku bingung sih tadi. Kenapa kamu tiba-tiba ngirimin chat kayak gitu, aku nggak merasa kirim apapun ke kamu, terus aku juga bingung ada nama Nara,”


“Untung aja yangs alah kirim bukan yang aneh-aneh ya hahaha,”


“Oh jadi diam-diam di belakang aku, kamu suka aneh-andh ya? Hmm?”


Areno tertawa mengetahui kekasihnya penasaran. Biasnaya yang penasaran itu karena ada percikan rasa cemburu. Jarang Arani cemburu jadi seklainya cemburu membuat Areno senang bukan main.


“Duh ketauan deh,” Areno sengaja memancing dan itu menciptkana perdebatan.


“Baru tau aku. Emang aneh-anehnya ngapain sih? Dih, sok kegantengan kamu. Minimal ingat orangtua lah kalau mau macam-macam. Jadi anak tuh jangan bikin malu deh,”


“Hahahaha kamu tuh sebenarnya lahi nasehatin aku atau marahin aku sih?”


“Nasehatin, emang macam-macamnya kamu tuh apa? Hah? Main cewek gitu? Malu-maluin orangtua kamu, Ren!”


“Hmm ada deh, selain malu-maluin orangtua aku, bikin kamu cemburu juga ya kalau aku main cewek?”


“Dih, sikahkan sja, tapi abis itu, nggak usah hub—“

__ADS_1


“Eh jangan-jangan! Nggak kok, aku cuma bercanda. Ya elah kamu mah nggak bisa diajak bercanda,”


__ADS_2