Kisah Anak Farmasi

Kisah Anak Farmasi
Bab 80


__ADS_3

“Mama cuma pengen tanya, kamu jangan tersinggung ya,”


“Iya boleh, Ma,”


“Barusan ‘kan Mama ambil rapor kamu. Nah Mama dapat laporan kalau nilai kamu tuh menurun,”


“Lah emang biasanya nilai aku nggak tinggi-tinggi amat kok, Ma. Aku mkan bukan anak yang pintar, nggak masuk peringkat lima,”


“Ya tapi Mama tau kemampuan anak Mama. Kata siapa kamu nggak pintar?”


“Ya kata aku, Ma. Aku ‘kan yang bisa ngukur kemampuan diri aku sendiri,”

__ADS_1


Sejujurnya Areno mulai ketar-ketir karena wali kelasnya melalorkan bahwa nilainya menurun kepada sang Mama yang hari ini mengambil laporan nilainya di semester ini.


“Kamu lagi nggak fokus belajar ya? Hmm? Tapi yang Mama liat kamu nggak kebanyakan main sih. Terus kenapa bis abegini? Apa lagi nggak fokus aja? Gara-garanya apa? Kamu bisa kok cerita sama Mama, Ren,” ujar Qanita pada anaknya yang kelihatan tegang sekarang. Ternyata keputusan untuk menjalani hobi dan pendidikan secara bersamaan cukup sulit dan Areno sedang penyesuaian. Tapi Ia yakin bisa.


“Kenapa? Cerita yuk sama Mama,”


“Nggak kemapa-napa, Ma. Emang lagi jelek aja. Sebenarnya nggak ada yang bikin aku nggak fokus belajar kok,”


“Iya aku minta maaf, Ma,”


Areno menundukkan kepalanya sebentar. Ia tidak mungkin kalau belakangan ini klien nya yang memperceyakan desain kepadanya semakin bertambah. Sehingga Ia harus membersamai hobi sekaligus sumber uang, dan juga pendidikan. Kalau orangtuanya tahu akan hal itu, sudah dipastikan mereka akan kecewa, marah, dan sudah pasti Ia benar-benar dilarang bahkan bisa jadi semua peralatan elektronik yang menunjang hobinya itu diambil alih oleh kedua orangtuanya.

__ADS_1


“Apa karena lagi ada amsalah sama Arani?”


“Hah? Nggak kok, Ma. Aku nggak ada amsalah sama Arani. Emang murni itu kesalahan aku yang lagi nggak bsia jaga nilai. Kayaknya semster ini aku emang males-malesan, Ma. Sebenarnya males juga sih sebelumnya tapi ini tuh paling males deh kayaknya,” ujar Areno yang jelas hanya omong kosong. Bukan hanya malas seratus persen tapi memang Ia kurang fokus belajar akibat mendesain.


“Makanya kurangin itu main game nya. Mama nggak mau ya masa depan kamu luntang-lantung karena kamu terlalu sibuk sama dunia kamu,”


“Iya nggak kok, Ma. Aku bakal lebih fokus belajarnya dan nggak males-malesan lagi aku janji,”


“Ya udah bagus. Kalau ada kendala apapun itu, kamu ceritain ke Mama. Baik itu kendala dari luar ataupun dari dalam diri kamu sendiri. Jangan sunhkan untuk berbagi cerita ke mama kamu ini okay?”


Areno langsung menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Untuk saat ini Ia bisa lepas dari suasana yang mencekam. Ia berharao setelah ini Ia bisa mengimbangi antara pendidikan dan hobinya itu yang menghadilkan uang.

__ADS_1


“Senang banget banyak yang percaya ke gue untuk bikin desain produk, atau apapun itu. Tapi kayaknya gue bakal batasin deh mulai sekarang supaya nggak terlalu banyak yang gue pegang. Karena ternyata ribet juga ya kalau semua gue terima terus gue masih sibuk sekolah. Gue nggak mau nilai gue nurun kayak gini lagi karena bikin nyokap bokap kecewa pasti,”


__ADS_2