
“Kamu kenapa? Kok keliatan lesu gitu sih tumben banget. Biasanya juga selalu semangat. Apalagi kalau mau ketemu aku,”
Arani tertawa sambil menepuk bahu Areno yang saat ini menjadi teman pulangnya. Tadi terakhir bertemu di lapangan ketika akan melaksanakan upacara bendera Areno kelihatan baik-baik saja. Sekarang lesu, Arani jadi penasaran. Sebenarnya Areno kenapa? Tidak biasanya lesu.
“Nggak apa-apa,”
“Hah? Nggak apa-apa? Yakin? Coba aku cek kali aja panas,”
Setelah Arani bicara seperti itu, Arani menyentuh kening Areno dan Ia terkejut ketika telapak tangannya disengat panas yang berasal dari kening Areno.
“Eh kamu demam ya? Ya ampun itu demamnya tinggi banget deh kayaknya. Kamu kenapa nggak pulang duluan aja? Harusnya kamu izin pulang duluan terus kamu istirahat di rumah,”
“Cuma lemas dikit doang. Aku nggak apa-apa. Lagian udah biasa juga sakit kayak gini,”
“Ih Areno! Kamu nggak boleh nyepeleib sakit, apapun itu jenis penyakitnya. Nggak baik tau! Badan kita ini harus sehat, kalau sakit dikit ya tandanya harus diobatin, badan lagi pengen dapat perhatian kita. Mungkin selama ini kamu lalai jaga kesehatan kamu. Sering begadang dan makan sembarangan ya?”
__ADS_1
“Duh cerewet banget, Ibu Apoteker aku ini,” ujar Areno yang sengaja menggoda supaya Arani tidak terlalu khawatir. Areno bisa melihat kalau Arani mengkhawatirkan keadaannya. Sementara Ia yang punya badan, yang sakit, santai saja malah bisa terkekeh sekarang.
“Aamiin, tapi aku serius, Ar! Kamu sakit jangan disepelein,” Arani mengamini karena menjadi Apoteker adalah keinginan orangtuanya yang sudah menjadi keinginan dirinya sendiri juga.
“Tapi aku udah biasa demam kayak gini. Kalau lagi kecapekan, cuaca nggak nentu, ya seringnya jadi sakit. Daya tahan tubuh aku kadang payah,”
“Aku aja yang nyetir ya? Boleh nggak? Aku udah bisa lho, ya walaupun SIM nya belum jadi sih,” ujar Arani yang tidak ingin Areno mengemudi.
“Ya berarti jangan dulu nyetir lah. Lagian aku nggak mau repotin kamu. Aku bisa kok nyetir sendiri,” ujar Areno seraya menggunakan seatbelt tidak lupa mengingatkan Arani juga untuk melakukan hal yang sama. Barulah setelahnya Areno melajukan kendaraannya meninggalkan sekolah.
“Areno, nanti sampai rumah langsung minum obat ya, pastiin kamu jangan males makan! Ya gimana nggak lemas kalau kamu malas ngisi perut. Dan jangan lupa minum obat ya,”
“Kok kamu malah ngeledekin aku sih, ini aku lagi serius lho ngomong sama kamu,”
“Ya ampun, Sayang. Aku juga serius ini. Aku dengerin omongan kamu serius, aku doain kamu juga supaya bisa jadi Ibu apoteker,”
__ADS_1
“Ya tapi kamu kayak ngeledek aku deh. Aku ‘kan belum jadi apa-apa,”
“Lagi berjuang,” ujar Areno seraya tersenyum.
“Kamu kalau nggak mendingan juga sampai nanti malam mendingan istirahat aja dulu di rumah jangan masuk sekolah besok daripada sakitnya makin parah,”
“Doain aja supaya aku bisa sembuh secepatnya. Aku paling nggak betah kalau sakit karena pasti bakal disuruh istirahat mulu sama nyokap bokap, dih males istirahat mulu,”
“Ya emang harus begitulah. Kalau nggak mau istirahat gimana bisa cepat sembuh?”
“Ah kamu sama aja kayak mereka berarti ya,”
“Areno, dimana-mana orang sakit emang baiknya banyak istirahat. Kamu aneh banget deh,”
“Aku istirahat kok tapi ya nggak lama paling tidur sejak kalau lagi sakit abis itu main game,”
__ADS_1
“Dih, otaknya agak geser nih,”
Arani tak habis pikir dengan Areno. Disuruh istirahat oleh orangtua tujuannya supaya cepat sembuh, tapi Areno malah kukuh di atas kemauannya sendiri yaitu sibuk dengan game.