
"Ran, bangun. Ran, ayo bangun udah jam segini. Nanti Areno udah dateng."
Syena sibuk membangunkan Arani. Sembari mengguncang tubuh Arani.
"Hhmm, Iya bentar lagi. Gue masih ngantuk,”
Jawab Arani dengan setengah sadar. Karena memang masih sangat ngantuk.
"Ih, Ran. Nggak pake bentar-bentar. Pokoknya Lo harus bangun sekarang juga! Dan Lo harus liat sekarang jam berapa? ayo, Ran ."
Lanjut Syena kembali membangunkan Arani mengerjapkan mataku melihat Dafilla dan Vevi yang baru bangun juga dari tidurnya.
"Ya ampun udah jam segini. Kenapa kita bisa kesiangan?"
Ucap Vevi. Yang ikut panik dengan pagi ini.
"Gue mau mandi duluan bye,”
"Enak aja gue duluan yang mandi. Kan gue yang lebih dulu bangun,”
"Gak ada. Pokoknya gue duluan yang mandi. Kalian belakangan,”
"Ogah Lo kan mandi nya lama. Pokoknya gue duluan! Nggak ada nola-nolak,"
"Gue duluan,”
"Gue duluan,”
"Gue duluan,”
"Ya ampun kalian berisik banget sih. Ganggu gue tidur aja deh,”
Ucap Arani untuk melerai mereka.
"Woyyy. Lo juga harus bangun. Lo nggak liat sekarang jam berapa? Hah? Cepetan bangun, Ran. Ini udah siang banget. Nanti kita bisa telat."
Ucap Syena sembari menarik tangan Arani dan berhasil membuatku terbangun dari tidur lelap Arani.
"Ya ampun! Gue nggak salah liat ini jam berapa? Setengah tujuh? Kita bisa telat kalau kayak gini. Ayo buruan mandi. Cepetan!”
Arani mengajak mereka untuk segera ke kamar mandi. Tapi mereka tidak juga bangkit dari posisi mereka. Kenapa mereka malah diam di tempat? Bukannya tadi mereka yang mau cepetan mandi?
"Kok pada diam sih? Kalian nggak mau sekolah? Ya udah berarti gue aja yang masuk sekolah. Terserah kalian,”
Arani bertanya heran pada mereka.
"Kamar mandi nya kan cuma satu?”
Ucap mereka secara bersamaan. Lalu mereka saling menatap satu sama lain.
"Enak aja. Kamar mandi di rumah gue ini lebih dari satu. Di lantai atas sama di lantai bawah sama-sama ada kamar mandinya. Udah gitu bukan cuma satu. Jadi tunggu apa lagi? Buruan ayo pada mandi. Ya udah gue mandi duluan deh."
Ucapku sembari bergegas ke kamar mandi di kamar Arani di ikuti mereka yang berpencar ke beberapa kamar mandi di rumahku ini.
********
"Akhirnya selesai juga. Aduh udah jam berapa nih? Gue takut telat lagi."
Ucap Arani panik sembari memakai sepatu sekolahku, begitupun teman-temanku. Beginilah kalau teman-temannya menginap, suka jadi kesiangan karena mereka tidur terlalu malam. Wajar saja tidur malam karena mereka menonton drama korea dulu, tahu-tahu sudah jam dua malam.
"Emang lo doang yang takut telat kita juga kali,"
"Lagian takut telat masuk sekolah apa takut buat Areno nunggu?"
Ucap Vevi yang berhasil mendapat tatapan tajam dari Arani.
"Takut telat masuk sekolah lah. Kalau masalah dia nunggu mah biarin aja,”
Ujar Arani dengan galak.
"Eh kayaknya itu Suara motornya Areno deh. Buruan, Ran. Nanti Areno kelamaan nunggu,”
"Iya bawel. Sabar dong, gue belum selesai pakai sepatunya. Dia juga pasti ngerti kok,”
"Buruan, Ean. Itu Areno udah nunggu."
"Kalian kalau udah selesai duluan deh ke depan. Bilang ke dia kalau gue belum siap,"
"Oke deh. Tapi Lo jangan lama yaa,"
"Ya udah kita duluan ya, Ran,”
Ucap ketiga teman Arani lalu bergegas menuju gerbang. Dan ternyata benar dugaan mereka kalau orang yang udah nunggu di depan pagar itu Areno. Aku dengar Areno berbicara.
"Loh Arani mana? Kok kalian doang?"
"Arani belum selesai pake sepatu. Tunggu bentar ya. Bentar lagi juga selesai,”
Vevi dengar Syena menjawab pertanyaan Areno.
Sesampainya Arani di depan gerbang. Ada Bibik yang sedang menyiram tanaman, Arani langsung pamit.
"Bik aku berangkat sekolah dulu ya. Bibik hati-hati di rumah. Assalamualaikum,”
Pamit Arani pada Bibik sopan. Sembari mencium punggung tangan Bibik lembut.
"Iya, Kak. Hati-hati ya,”
Entah kenapa jawaban Bik Imah itu disertai dengan senyum jail nya sembari melirik Areno. Oh ternyata Arani baru tersadar kalau bik imah sedang menggoda Arani yang membalas senyum bik Imah.
"Bik kita juga berangkat sekolah dulu ya. Makasih, Bik, udah ngasih numpang kita tidur disini"
Ucap mereka sembari tertawa kecil. Lalu mereka juga mencium punggung tangan bik imah dan di balas bik imah dengan anggukan sembari tersenyum.
"Saya juga permisi ya bik ke sekolah dulu. Assalamualaikum,”
Tak ingin kalah Areno juga ikut berpamitan dengan bik imah.
"Waalaikumsalam kalian hati-hati ya,”
Pesan bik imah pada kami lalu mereka segera bergegas meninggalkan dari rumah Arani.
"Lama ya nunggu nya? Maaf ya. Soalnya tadi gue sama temen-temen aku bangun kesiangan,"
Ucap Arani sebelum berangkat ke sekolah.
"Enggak kok. Aku juga baru dateng. Ya udah ayo naik ke motor. Nanti kita telat,”
Areno mengajakku agar segera menaiki motor berwarna hitamnya.
**********
Bell masuk berbunyi....
“Apa kalian sudah siap untuk ulangan hari ini?"
Pertanyaan dari Bu Siska guru Kimia berhasil membuat mata teman-teman Arani membulat sempurna.
"Ulangan? Wah aneh nih guru. Gue belum belajar sama sekali guys. Lagian emang Bu siska udah bilang minggu kemarin kalau kita mau ulangan? "
Defilla bertanya padaku yang langsung menganggukkan kepala sambil menjawab
"Udah kok. Minggu kemarin Bu Siska udah bilang sama kita kalau hari ini mau ulangan kimia"
Arani menjawab dengan santai. Arani terlihat santai karena Arani memang setiap hari belajar. Arani bukan tipe pelajar yang belajarnya kalau mau ulangan saja. Belajar sudah menjadi aktivitas wajib Arani hampir setiap hari untuk mengisi waktuku di rumah.
"Ya ampun, Ran. Kok Lo nggak bilang sama kita? Lo jahat banget sih Ran sama kita?"
"Dih mana gue tau kalau kalian ternyata lupa, entah lupa apa nggak tau. Lagian emang kalian nggak dengar minggu kemarin Bu Siska bilang apa?”
Teman-teman Arani menjawab dengan gelengan secara bersamaan.
"Kirain gue kalian udah tau, makanya nggak gue kasih tau lagi. Lagian nih ya, kalian itu kalau belajar jangan karena mau ulangan doang. Setiap hari kita harus belajar. Jadi kalau ada ulangan kayak gini kalian nggak panik lagi. Karena kalian merasa kalian udah belajar. Belajar itu harus menjadi aktivitas yang wajib kita lakukan setiap hari,”
Arani memberi penjelasan pada mereka. Dan mereka hanya membalas dengan mengangguk paham.
"Ya udah kalian ber do'a aja. Semoga ada keajaiban yang datang. Gue yakin kok kalian bisa. Tenang aja ya. Ntar gue bantuin deh,”
Arani memberi mereka motivasi sambil tersenyum.
***********
Krringgg...kriinggg
"Akhirnya selesai juga. Sumpah ulangan nya susah banget cuy eh tapi Lo kok santai aja sih Ran nggak ada rasa khawatir gitu?"
Tanya Syena.
"Khawatir kenapa? Nggak ada yang perlu di khawatirin juga ‘kan? gue udah pasrah. Apapun hasilnya gue bisa terima. Karena gue udah usaha yang terbaik sebisa gue,” jawab Arani seraya tersenyum
"Hai kita ke kantin bareng yuk,”
Tiba-tiba suara itu berhasil membuat Arani dan teman-teman Arani menoleh pada sumber suara itu. Arani mendapati Areno dan teman-temannya yang tengah tersenyum pada kami.
"Ayo,"
Ajak Syena sembari melirik Arani, Defilla dan Vevi.
Mereka ke kantin bersama. Tapi saat di tengah di perjalanan menuju kantin. Tiba-tiba Areno berkata
"Oh iya, aku boleh ngomong sama kamu sebentar nggak?"
Areno bertanya sembari menarik tangan Arani lembut agar berhenti melangkah. Arani yang mendengar ucapan Areno hanya mampu menatapnya heran.
"Ya udah ngomong aja,”
__ADS_1
Jawab Arani pada Areno. Teman-teman Arani sudah lebih dulu pergi memberikan waktu untuk Arani dan Areno bicara berdua.
"Nanti malam aku mau ngajak kamu ke suatu tempat. Kamu dandan yang cantik ya. Walaupun setiap hari udah cantik. Tapi aku mau liat kamu berpenampilan lebih cantik dari sehari-hari kamu. Aku bakal jemput kamu jam tujuh malam. Ada yang mau aku omongin juga sama kamu. Kamu mau kan?"
Jujur, ucapan Areno berhasil membuat mata Arano terbelalak sempurna. Tumben Areno ngajak aku jalan. Sebenarnya ada apa ini? Tidak biasanya Areno romantis seperti itu mengajak Arani jalan.
"Hei kamu kok melamun? Aku mohon sama kamu. Sekali ini aja aku ngajak kamu pergi. Dan aku janji akan jaga kamu . Aku nggak akan ngapa-ngapain kamu. Aku mohon sama kamu,"
Ucapan itu berhasil membuat Arani sadar dari kebingunganku. Arani harus menjawab apa? Jujur masih bingung karena Ia juga belum izin papa dan mamanya.
"Hhmm. Gimana ya? Kita liat nanti aja deh,”
Arani memutuskan untuk pergi dari hadapan Areno. Tapi dengan sigap Areno menahan lenganku lembut.
"Terserah kamu mau atau nggak jalan sama aku. Tapi aku akan tetap datang nanti malam ke rumah kamu. Itu akan membuktikan, kalau aku bener-bener serius ngajak kamu jalan. Bukan cuma bicara aja. Kalau nanti malam aku liat kamu udah rapi, dengan dandanan yang membuat kamu makin cantik berarti kamu mau aku ajak jalan. Tapi kalau kamu nggak mau nerima ajakan aku, kamu nggak perlu dandan. Kamu cukup datang nyamperin aku ke pagar rumah kamu, dan kamu bilang kalau kamu nggak bisa nerima ajakan aku. Aku akan terima kok. Kamu nggak perlu sungkan bilang itu. Oke?"
Ucap Areno dengan nada lembutnya .
"Ya udah. Kita ke kantin yuk. Nanti keburu masuk,”
Ajak Areno sembari menggenggam tangan Arani.
"Lama amat si Bro berduaan nya?"
Tanya Ryan, teman Areno.
"Apaan si lo?".
Berbeda dengan Ryan dan Areno yang berbicara dengan volume yang lumayan terdengar, Arani dan teman-temanku justru sedikit berbisik pelan.
"Lo abis darimana aja si sama Areno. Lama banget datangnya,”
"Tau kemana aja Lo, Ran? Berduaan mulu. Kalau udah berduaan sama Areno pasti lupa sama kita,”
"Buruan kasih tau. Lo abis darimana sama Areno? Terus ngomongin apaan?"
Teman-teman Arani bertanya pada Arani seenaknya mereka.
"Sstt. Berisik banget si. Udah ah lanjut aja makan. Daripada ngurusin gue sama Areno"
Ucap Arani sembari mendengus kesal.
*********
Krriinggg...kriinggg...
Tak terasa bel pulang telah berbunyi nyaring. Dengan cepat murid berhamburan keluar dari kelas masing-masing. Begitu pun Arani dan tema-temannya.
"Eh, Ran, Lo kenapa? Kok semenjak selesai istirahat tadi lo jadi banyak melamun? Ada masalah? Cerita dong sama kita,”
"Iya, Ran. Gue perhatiin semenjak istirahat tadi Lo jadi banyak diam. Ah nggak asik lo,”
"Cerita aja Ran sama kita kalau lo masalah. Kita siap dengar cerita lo kok,”
"Hai. Kalian udah dari tadi pulangnya?"
Pertanyaan itu berhasil mengalihkan pembicaraan aku dengan mereka. Pertanyaan itu keluar dari mulut Areno.
"Eh Areno. Enggak kok. Kita juga baru keluar dari kelas,”
Jawab Syena. Dibalas dengan anggukan paham oleh Areno.
"Ran, pulang bareng yuk. Kamu kan nggak dijemput dan nggak bawa motor ya? Aku antar Kamu sampai rumah kayak kemarin,”
Ajak Areno pada Arani yang merasa lenganya mendapat sentuhan dari lengan Vevi. Dia berbicara sembari berbisik.
"Lo nggak bawa motor, mobil, dan dijemput ‘kan? Nah ya udah ikut aja sama Areno,"
Vebi mendorong Arani dengan semangat.
"Iya, Ran. Lo bareng Areno aja pulangnya. Lo kan nggak bawa motor. Buruan sana. Bilang mau sekarang,”
"Gue pulang bareng kalian aja deh,”
Arani menolak suruhan teman-temannya dengan berbicara berbisik juga. Sejujurnya lebih baik pulang dengan teman-teman. Sudah terlalu sering dengan Areno.
Dan ucapan Arani barusan membuat mata mereka membulat sempurna.
"Gak ada. Kita nggak terima tumpangan. Sorry ya,”
Jahat! Arani yakin pasti mereka sengaja tidak mau menerima Arani sebagai penumpang di kendaraan mereka. Karena mereka mau nya Arani pulang bareng sama Areno bukan sama mereka.
"Dih jahat banget si kalian. Gue males ah pulang bareng Areno, mau quality time sama kalian,”
Ucap Arani dengan kembali berbisik.
"Ayo lah, Ran. Sana buruan pulang bareng Areno. Lo kenapa si aneh banget. Tadi pas berangkat sekolah perasaan baik-baik aja. Eh semenjak ngobrol berdua tadi sama Areno, jadi berubah gini. Udah cepetan sana,”
Ucap Defilla sembari menyenggol lengan Arani sembari berbisik juga.
Pertanyaan itu membuat Arani dan teman Arani berhenti berbisik sembari menggaruk tengkuk kami yang tak gatal.
"Hehe. Ya gitu deh kebiasaan. Jadi susah deh ngilanginnya,”
Ucap Defilla sembari tertawa kecil.
"Iya kebiasaan. Maaf deh kalau bikin Lo nggak nyaman,”
"Bukannya kalian yang nggak nyaman? Kalau gue sih biasa aja. Lagian kalau gue ngomong bisik-bisik gitu nggak enak aja jadi susah ngerti nya karena suaranya pelan banget,”
Ucap Areno sembari tertawa kecil pula.
"Ya kalau itu sih emang lo nya aja yang lemot. Susah ngerti. Kalau kita fine aja bisik-bisik . Ya namanya juga cewek. Biasa lah."
Omongan Defilla itu membuat tawa kami pecah.
"Ya udah pulang yuk. Nanti keburu sore. Ran, Kamu mau nggak pulang bareng aku?”
Lagi dan lagi Areno bertanya soal itu. Arani kembali mendapat senggolan lengan dari Defilla.
"Iya bawel,”
Bisik Defilla dan berhasil membuat Vevi senyum penuh kemenangan. Dan aku hanya mengangguk pasrah menerima ajakan Areno.
"Ran, nanti kita ke rumah lo ya. Mau ngobrol kayak biasa,”
Ucap Vevi sedikit berteriak agar Arani mendengarnya. Karena Arani memang sudah sedikit jauh dari mereka. Lalu Arani balas dengan anggukan.
**********
"Ran, udah sampe rumah Kamu nih."
Ucapan Areno membuat Arani terbangun dari kebingunganku soal ajakan Areno tadi. Entah kenapa Arani masih bingung dengan ajakan Areno. Jujur Arani memang sering di ajak laki-laki untuk hanya sekedar dinner. Tapi Arani selalu menolaknya. Karena Arani memang sangat kaku berjalan dengan cowok.
"Eh iya. Udah sampe ya? Cepet juga kamu bawa motornya,”
Areno hanya tersenyum mendengar. Ucapan Areno sembari mengacak rambutku lembut.
"Ya udah masuk sana. Langsung Mandi abis itu istirahat ya. Jangan lupa makan. Nanti kamu sakit,”
Areno memberiku perhatian yang membuat perasaan Arani menghangat.
Arani membalas perkataan Areno dengan mengangguk paham sembari tersenyum.
"Makasih ya kamu udah mau antar aku pulang. Ya udah aku masuk ya. Kamu hati-hati pulangnya bye,"
Ucapku sembari tersenyum pada Areno. Entah mengapa mulutku menuntut Arani untuk berbicara seperti itu pada Areno.
Lalu Arani masuk kedalam rumah. Yang sudah di sambut dengan bik imah.
"Cieee kakak sekarang ada teman cowok? Biasanya kakak nggak mau berteman dengan cowok,”
Ucap bik imah sembari tersenyum jail.
"Bibik ngapain senyum gitu?"
"Nggak. Bibik nggak senyum-senyum. Non kali yang lagi senyum karena lagi bahagia,”
Ledek bik imah sembari mencolek dagu Arani. Ini godaan entah yang ke berapa kali yang Arani dapatkan dari bik imah. Setelah kemarin bik imah melihat Arani diantar pulang oleh Areno dan hari ini juga seperti itu.
"Ah bibik mah ledekin aku terus. Tau ah mending aku mandi terus tidur. Daripada di ledekin mulu sama bik imah,”
Ucap Arani sembari meninggalkan bik imah yang masih tersenyum jail menggoda Arani.
**********
Seusai mandi tadi Arani masih bingung soal ajakan Areno itu. Arani bingung harus bagaimana.
Tiba-tiba pintu kamar Arani terbuka.
Arani memang sengaja tak mengunci pintu kamarnya. Karena tadi bik imah bilang mau mengantarkan susu hangat untuk Arani. Tapi ketika Arani lirik bukan bik imah yang membuka pintu kamar Arani. Ya siapa lagi kalau bukan teman-temannya. Mereka merasa ini kamar mereka, jadi tak mengetuk pintu nya terlebih dahulu.
"Hai, Ran. Ngelamun aja lo. Ntar kesambet lo,"
"Iya, Ran, jangan ngelamun nanti Areno dateng,"
Ucapan yang keluar dari mulut Syena itu membuatku menatapnya tajam. Syena jadi membawa-bawa Areno dan Arani hanya ter kekeh kecil melihat tatapan tajam dari Arani.
"Lo kenapa si? Dari tadi diam mulu,"
"Siapa yang diam? Dari tadi gue ngomong mulu,"
Jawab Arani dengan santai.
"Lo bohong. Iya kan? Lo bohong sama kita? Ran kita itu temenan baru kemarin sore ya? Perasaan enggak deh. Jadi pasti kita tau kalau lagi ada yang lo sembunyikan dari kita,”
__ADS_1
"Enggak ada yang gue sembunyiin,"
Jawab Arani tanpa menoleh pada mereka. Lalu Syena mengarahkan pundak Arani agar menghadap padanya.
"Kenapa lo selalu lakuin ini sama kita? Lo udah Gak percaya lagi sama kita sebagai teman ? Kenapa lagi dan lagi lo bohong sama kita? Gue bisa liat dari mata lo kalau lo lagi mikirin sesuatu. Lo cerita sama kita siapa tau kita bisa bantu. Kita bisa jaga rahasia Lo kok. Kalau emang yang lagi Lo pikirin ini mengandung rahasia,”
Ucap Vevi.
"Iya, Ran. Lo cerita sama kita. Lo lagi ada masalah? Ayo dong Ran, lo jangan kayak gini terus kita jadi sepi ngeliat Lo diam terus."
Ucap Defilla.
"Lo nggak perlu takut sama masalah Lo ada kita di sini. Tapi gimana kita bisa tau masalah Lo, kalau Lo nggak pernah mau cerita sama kita,”
Defilla ikut berbicara menasihati Arani.
"Sebenarnya gue nggak apa-apa. Gue cuma lagi bingung aja,"
Arani menjawab pertanyaan mereka.
"Bingung kenapa? "
Tanya Defilla.
"Tadi kalian ingat kan waktu istirahat, gue sama Areno nyampe di kantin belakangan?"
Mereka membalas dengan anggukan cepat.
"Makanya kita sampe belakangan karena tadi Areno ngomong sesuatu sama gue,"
Lagi-lagi omongan Arani terputus. Aku bingung ingin memulainya dari mana.
"Ngomong apa, Ran? Buruan ngomong,”
Teman-teman Arani sudah benar-benar tidak sabar dan sangat penasaran.
"Dia ngajak gue jalan malam ini jam tujuh. katanya ada yang mau dia omongin sama gue,"
"Terus lo terima kan? Terima kan, Ran?"
Tanya mereka dengan nada penasaran mereka.
"Gue belum jawab apa-apa. Tapi katanya di terima atau nggaknya tawaran dia itu sama gue. Dia akan tetep dateng ke rumah gue nanti malam, karena dia mau buktikan kalau dia bener-bener serius ngajak gue jalan,”
"Lo harus terima, Ran. Fix lo pokoknya harus terima ajakan dia,”
"Bener, Ran. Lo pokoknya harus terima ajakan itu. Lo nggak boleh sia-siain kesempatan langka ini. Perdana loh Areno ngaja in cewek jalan. Biasanya kan dia terus yang di ajakan jalan sama cewek-cewek di sekolah kita,”
"Kalian mah dari kemaren nyuruh gue nerima gitu aja semua tawaran dia. Emang nggak susah apa?"
"Susah apanya sih, Ran? Lo tinggal duduk manis. Semuanya udah disediain sama Areno. Dimana letak susahnya?"
"Tau lo, Ran. Udah pokoknya Lo harus terima diner pertama lo sama Areno ini. Lo harus dandan yang super cantik supaya Areno makin cinta sama lo,"
"Dih apaan sih? Ngomongnya cinta mulu. Dia sendiri aja belum ngomong apa-apa sama gue. Kalian malah udah mastiin gitu aja kalau dia cinta sama gue,”
"Udah bawel lo. Gue yakin pasti yang mau Areno omongan nanti malam ke lo itu tentang perasaannya. Kalau dia itu cinta sama lo,”
"Bener gue setuju. Gue juga mikir gitu. Pasti Areno ngajak Lo jalan malam ini karena dia mau jujur sama perasaannya ya walaupun kalian udah pacaran sih hahaha,”
"Kalau dia nembak Lo. Pokoknya Lo harus terima. Karena gue yakin, hal yang mau dia bicara in ke Lo itu soal perasaan cinta nya ke Lo. Dan lo nggak boleh nolak. Lo harus terima,”
"Ehh di kira gampang apa ? Main terima-terima aja. Biar namanya pacaran tapi tetep aja susah jalani nya,”
"Orang aja bisa jalaninnya. Masa lo nggak bisa. Ah payah Lo,"
Arani kini tak menjawab mereka.
"Kita akan dandanin lo secantik mungkin. Malam ini kita akan membuat Lo merasa menjadi wanita paling cantik sejagat raya ini. Oke?"
"Yuupss bener banget. Kita bakal lo jadi lebih menarik. Pokoknya semenarik mungkin. Biar Areno makin jatuh hati sama lo,"
"Kalian apaan si? Lebay banget. Cuma mau jalan sama Areno aja heboh nya setengah mati,”
"Biarin yang penting Lo bahagia,”
Lalu kami berpelukan setelahnya. Aku terharu dengan kebersamaan ini. Mungkin aku tidak akan pernah menemukan sahabat seperti mereka yang selalu bersamaku di saat aku sedih dan bahagia ini. Oleh karena itu aku berharap , kalau aku dan teman-temanku akan selamanya bersama melewati rintangan hidup ini.
"Oke. Sekarang kita bakal mulai memoles wajah Lo. Supaya terlihat lebih menarik,”
"Iya, Pokoknya Lo tenang aja ya. Kita nggak akan buat lo kecewa sama make up lo ini,”
"Lo harus siap jadi wanita paling menawan malam ini, Ran,”
Arani pasrah dengan tangan mereka yang menarik tangan Arani agar Arani duduk manis di depan meja riasku. Lalu mereka mulai memoles wajah Arani dengan sangat teliti. Arani juga bingung sejak kapan mereka jago make up? Selama ini Arani dan mereka bertiga adalah cewek yang tidak terlalu feminim.
"Selesai,”
Mereka memekik kegirangan.
"Gue nggak nyangka kalian ngerti juga sama make up. Kirain ngerti nya film, doang. "
Ucap Arani sambil meledek mereka. Arani melihat ke arah cermin . Arani tersenyum melihat wajahku yang kini sudah di make up senatural mungkin. Jujur Arani sangat tidak suka dengan make up yang berlebihan. Menurut Arani dengan make up yang tipis dan natural itu akan membuat wanita jauh terlihat lebih cantik. Sebelum wajahku di poles dengan mereka , terlebih dahulu Arani sudah berpesan pada mereka kalau Arani tak mau di make up terlalu berlebihan. Arani ingin cantik dengan make up yang tipis dan natural. Lalu mereka mengangguk setuju dengan permintaan Arani. Selain mereka merias wajahku, mereka juga merias rambut Arani. Arani sangat bahagia dengan penampilan Arani malam ini.
"Enak aja. Makanya jangan meremehkan kita. Keliatannya aja cuek. Tapi sebenarnya ngerti make up kok. Ya kan? "
Ucap Defilla bangga sembari melirik Syena dan Vevi yang dibalas oleh mereka anggukan pasti.
"Ya udah sekarang buruan lo ganti baju. Nanti Areno udah dateng, lo belum siap,”
"Iya, Ran cepetan. Gue nggak sabar liat ekspresi Areno saat liat penampilan lo malam ini,”
"Buruan, Ran. Ngapain diam aja?”
Mereka menyuruh Arani agar Arani segera mengganti pakaiannya.
"Gue ragu,”
Tiba-tiba ucapan itu keluar dari mulut Arani
"Kenapa harus ragu? Lo nggak boleh ragu. Lo harus yakin sama perasaan lo,”
Ucap Syena sembari menangkup wajahku agar menatapnya.
"Lo nggak boleh ragu, Ran. Gue yakin kok Areno bisa buat lo bahagia, ini kayaknya dia mau nembak lo lagi sih asli, ini nembak versi lebih serius anjay,”
"Iya, Lo harus yakin sama perasaan Lo. Udah nggak usah pake ragu. Pokoknya lo harus yakin!”
Ucap mereka memberi keyakinan pada Arani yang entah kenapa gugup karena mau pergi berdua dengan Areno. Arani membalas perkataan mereka dengan anggukan sembari tersenyum.
"Ya udah gih buruan sana ganti baju,”
"Ganti baju sekarang. Supaya Areno nggak lama nunggu,”
"Iya. Gue ganti baju sekarang,”
Setelah beberapa saat, akhirnya Arani selesai mengganti baju piyama hello kitty dengan dress. Malam ini Arani mengenakan dress berwarna pink pastel yang panjangnya sebatas lutut saja. Dress tanpa lengan ini sentuhan berlian di bagian pinggangnya. Ini memang salah satu gaun kesukaan Arani. Selain warnanya yang merupakan warna kesukaan Arani, model dress ini juga sangat aku sukai. Model dress ini sangat modern dan sangat modis. Malam ini rambut Arani digulung ke atas yang menunjukkan leher jenjangnya. Teman-teman Arani lah yang menyarankan agar rambut Arani digulung ke atas. Agar selain memperlihatkankan leher jenjangku yang putih dan mulus ini , tujuan di gulungnya rambut ke atas juga sekalian memperlihatkankan sedikit sentuhan berlian juga di bagian leher pada dress favorit Arani itu. Menurut ketiga temannya, sayang bila berlian ini tidak dinampak kan. Arani hanya mengikuti saran mereka dengan pasrah. Tapi Arani juga cukup puas dengan make up yang mereka beri untuk wajahnya. Arani merasa sangat beda malam ini. Yang biasanya tak pernah memakai make up, justru malam ini terlihat sangat berbeda dengan make up yang natural seperti ini. Ketika Arani keluar dari kamar gantiku, Arani melihat wajah mereka yang sangat terfokus dengan kehadirannya yang sudah mengganti pakaian. Respon mereka adalah mata mereka tak berkedip sedetik pun dan mulut mereka sedikit terbuka. Menurut Arani ini reaksi yang sungguh berlebihan. Arani jadi bingung mengapa respon mereka seperti ini? Apa dandanannya terlalu berlebihan? Atau gaunnya yang kurang bagus?
"Kalian kok ngeliatin gue gitu banget si? Dandanan gue berlebihan ya? Atau dress gue yang jelek? Oh atau gue terlalu heboh? Ya udah deh gue cari dress lain yaa"
Ucap Aranj dengan nada kecewa kepada mereka yang masih terfokus dengan Arani, Tapi saat Arani mau menuju lemari pakaian untuk mencari dress lain, tiba-tiba lengannya ditahan oleh mereka.
"Sumpah lo sempurna banget, Ran. Lo cantik banget “
"Ya ampun lo cantik banget. Kayak princess yang ada di dongeng,"
"Sempurna. Lo cantik . Lo nggak perlu ganti dress . Karena ini udah sempurna. Nggak ada yang perlu diubah. Sumpah lo cantik banget,”
Ucapan mereka membuat Arani tersenyum kecil.
"Mulai deh lebay nya"
Aku meledek mereka dengan tawa kecilnya.
"Kita nggak lebay. Lo bener-bener cantik banget. Menurut kita lo sempurna dengan penampilan Lo malam ini,”
"Iya kita nggak bohong. Lo perfect banget, Ran. Gue yakin Areno akan makin tertarik sama lo,” makin cinta udah,”
"Kalian bisa aja"
Ujar Arani sembari tertawa kecil menggoda mereka.
"Makasih ya. Kalian udah mau bantu gue malam ini tampil beda. Kalau nggak ada kalian, gue nggak tau apa jadi nya dandanan gue malam ini. Kan gue sama sekali nggak ngerti make up"
Arani mengucapkan terimakasih oleh mereka sembari memeluk mereka erat.
"Sama-sama, Ran. Itu udah tugas kita sebagai sahabat. Yaitu bikin Lo bahagia “
Ucap Vevi dengan tulus.
Suara bel membuat mereka terdiam dan saling menatap satu sama lain
"Eh bel rumah Lo udah bunyi . Pasti itu Areno yang dateng. Dia udah dateng tuh Ran buat jemput lo,”
"Iya itu pasti Areno. Dia datang tepat waktu untuk jemput lo,”
"Selamat berbahagia ya, Ran."
"Take care ya, Ran."
"Take care cewek cantik. Udah buruan sana nanti Areno kelamaan nunggu,”
"Ya udah gue jalan dulu yaa. Sekali lagi makasih bye "
Arani berpamitan pada mereka dan segera berlalu dari hadapan mereka.
__ADS_1
Arani segera membuka pintu rumah untuk segera membuka pagar. Begitu Arani membuka pintu rumah, Ternyata benar yang sudah di ambang pagar itu Areno dan Arani juga melihat sudah terdapat mobil sport berwarna merah yang terparkir di depan pagar rumahnya. Seperti nya itu mobil yang belum lama dibeli karena body mobil itu masih sangat mulus belum ada lecet sedikit pun. Arani melihat Areno yang tampak sangat tampan menggunakan jas berwarna biru pastel dan di dalam nya terdapat kemeja putih yang tak dikancing di bagian atasnya. Arani melihat respon Areno yang sama dengan respon teman-temannya tadi saat melihat Arani tampil seperti ini. Tampaknya dia tidak berkedip sedikit pun. Dan mulutnya sedikit terbuka. Ini sungguh membuat Arani salah tingkah. Arani takut nanti Areno berpendapat kalau dandanan Arani ini terlalu berlebihan. Ini membuat aku makin ragu menghampiri Areno. Tapi Areno sepertinya mengisyaratkan Arani agar Arani menghampirinya dengan senyumnya yang manis itu. Arani yang mengerti isyarat Areno memutuskan untuk berjalan menghampirinya dengan rasa ragu yang masih menyelimuti diri Arani. Lalu Arani membuka pagar rumahnya.