Kisah Anak Farmasi

Kisah Anak Farmasi
Bab 94


__ADS_3

Setelah menjalankan sholat maghrib berjamaah, Radi membawa keluarga kecilnya pergi ke mall. Sampai di mall, mereka langsung makan, setelah itu ke store pakaian laki-laki dan perempuan. Seperti biasa yang aktif memilih adalah Hellen dan kedua putrinya sementara Hadi hanya mengikuti mereka saja di belakang. Tugasnya adalah menjaga, dan memberikan bantuan bila memang diperlukan misalnya bantuan untuk memegang baju yang sudah dipilih.


“Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?”


Hellen tertawa seraya menoleh ke belakang dimana suaminya baru saja melontarkan pertanyaan layaknya asisten kepada majikan.


“Nggak ada, Pa. Udah papa duduk aja daripada capek atau bosen jalan-jalan terus,”


“Tapi saya mau jagain Nyonya sama bantu Nyonya,”


“Ih papa jangan ngomong gitu ah. Takut didengar orang nanti mereka mikirnya papa beneran asistennya mama,”


“Nggak apa-apa ‘kan jadi suami itu emang ada tugas untuk menjaga dan membantu, salahnya dimana?”


“Ya tapi jangan panggil nyonya-nyonya. Nanti orang salah paham,”


“Ah biarin aja, orang itu candaannya kita berdua, orang kalau salah paham ya berarti emang hidupnya terlalu serius dan terlalu ngurusin orang. Harusnya mereka fokus belanja aja lah nggak usah merhatiin kita apalagi nguping dan akhirnya salah paham,”


“Papa,”


“Papa,”


Radi langsung menoleh ketika dipanggil oleh dua suara yang mirip. Tidak lain dan tidak bukan adalah suara dua putrinya.


“Iya kenapa, Nak?”


Radi bertanya pada mereka yang sedang berada di tempat baju perempuan remaja. Memanggil Radi berbarengan, dan sekarang mereka saling memberikan tatapan tajam satu sama lain.


“Aku duluan, Kak,”


“Kakak lah yang duluan, yang lebih tua siapa?”


“Ya kakak tapi ‘kan aku adeknya kakak jadi kakak harus ngalah dong,”


“Kata siapa? Kakak duluan yang mau minta tolong ayah untuk milihin baju buat kakak diantara dua ini, soalnya semua bagus,” ujar Arani seraya menunjukkan dua stel baju di tangannya.


“Nggak ah, aku duluan pokoknya,”


“Lah, adek tuh harus patuh sama kakak. Kalau kakak bilang adek belakangan berarti adek nurut,”


“Nggak mau, aku duluan, aku juga mau nanya sama papa soal baju,”


“Nggak, udah pokoknya—“


“Ada apa sih? Papa pusing dengar kalian berdebat. Satu-satu ‘kan bisa, pasti papa bantu semuanya, papa nggak bakal pilih kasih kok, tenang aja,”


“Tuh ‘kan, makanya jangan begitu dong, Kakak. Ngalah sama adeknya, jadi kakak tuh harus ngalah,”


“Udah biar adil, papa bantuin adek, mama bantuin kakak,”


Hellen langsung menawarkan bantuan supaya anaknya tidak berdebat dan suaminya juga tidak bingung.


“Tapi kakak mau sama papa, Ma. Pengen dipilihin baju sama papa,”


“Padahal mama ‘kan lebih paham, Kak,” ujar Radi yang merasa bingung karena dua anaknya kali ini minta bantuan kepadanya.


“Ya udah deh aku habis adek aja. Sekarang papa bantuin adek, terus nanti aku deh,”


“Nah gitu dong, Kakak cantik. Ya ampun, dari tadi harusnya,”


“Ya udah ayo papa bantu pilihin,”


Ria langsung bahagia sekali ketika papanya mendekat dan mengamati dua pilihan di tangannya.


Arani mendengus pelan. Sebagai kakak yang baik, sudah sewajarnya Ia memang mengalah. Tak apalah, kali ini mengalah lagi. Daripada malah bertengkar di store baju. Papa dan mama juga tak senang bila Ia dan adiknya berdebat hanya karena permasalahan kecil.


Akhirnya Arani bersedia menunggu giliran. Ia mempersilahkan ayahnya untuk membantu sang adik dalam memilih pakaian. Sementara Ia lanjut menjelajah lagi tapi tangannya masih memegang dua baju yang akan dipilih salah satunya oleh sang ayah nanti.


“Menurut kamu, cocoknya yang jeans yang kulot atau cutbray gitu?”


Arani langsung menolehkan kepala setelah mendengar seorang perempuan bertanya tentang celana yang entah pada siapa dan itu membuat Arani penasaran makanya spontan menoleh. Matanya langsung membelalak dan cepat-cepat Ia membuang muka sambil bergumam.


“Kok ada Areno di sini?”


Arani menggaruk pelipisnya yang sebenarnya tidak gatal, tapi memang begitulah gerak geriknya kalau sedang bingung atau panik.


Arani menoleh ke arah Areno sekali lagi untuk memastikan dan ternyata penglihatannya memang tidak salah. Itu benar-benar Areno, bersama seorang perempuan yang belum Arani kenali wajahnya karena posisi perempuan itu membelakangi Inaya.


“Ya ampun, kok bisa-bisanya aku ketemu sama Areno? Dia kayaknya lagi temenin temennya belanja kali ya? Dia nggak bilang-bilang ke aku,” batin Arani.


Arani ingin menoleh lagi tapi rasanya segan. Padahal Ia penasaran sekali dengan perempuan yang saat ini bersama Areno tapi sayang memang sulit untuk Ia ketahui sosoknya sebab posisi perempuan itu membelakanginya.


“Niat hati mau senang-senang ke mall, eh malah liat Areno sama cewek. Jadi senangnya aku berkurang deh. Jujur agak risih sih ngeliatnya,”


“Apa bedanya sih cutbray dan kulot?”


“Yang ini cutbray, nah ini kulot,”


Arani masih bisa mendengar lumayan jelas obrolan antara Areno dan perempuan itu walaupun Inaya sudah berusaha untuk fokus melihat-lihat baju.


“Yang kulot aja deh kayaknya,”


“Okay berarti kulot ya? Emang kenapa kamu kasih sarannya kulot?”


“Karena cocok aja gitu di kamu, sopan juga. Soalnya dia besar gitu ya bentuk celananya,”


“Iya emang, okay aku ikutin saran kamu aja,”


“Tapi sebenarnya kamu pakai apa aja juga cocok kok, Cha. Serius deh, ini pendapat aku,”


“Jiahhh bisa aja kamu,”


“Areno kayaknya gentle ya. Kalau mau muji ya muji aja nggak malu-malu. Beruntung banget perempuan itu. Kalau aku yang dibilang cantik, aku kayaknya bakal terbang deh. Eh nggak deh, jangan! Nanti ayah, bunda, sama adek gimana kalau aku terbang?”


“Makasih ya udah bantu aku milih,”


“Sama-sama, Cha,”


Arani sempat mendengar sebutan Areno kepada perempuan itu tapi Ia tidak tahu siapa nama lengkapnya, apalagi wajahnya yang masih membelakanginya itu. Jujur Arani jadi gemas sendiri ingin secepatnya melihat wajah perempuan itu. Apakah sama dengan yang diposting Areno atau justru malah beda orang.


*******


“Kakak, ayo mana yang mesti papa pilih? Papa udah selesai bantu adek nih,”


Arani langsung menoleh ke arah ayahnya yang memanggil dirinya. Dengan cepat Inaya menghampiri ayahnya. Tadi Inaya sibuk melihat-lihat baju tapi fokusnya malah mendengarkan obrolan antara Areno dan perempuan yang sedang bersamanya.


Daripada disuguhkan dengan keakraban mereka berdua, lebih baik Arani pergi saja mendekati ayahnya yang kebetulan juga sudah memanggilnya.


“Ini, Pa. Menurut papa yang mana yang bagus?”


“Baju rumah aja minta pilihin sama papa. Adek dong, Kak, minta tolong ke papa untuk milih baju pergi,”


“Ih berisik banget kamu, udah deh jangan komentar,”


Arani langsung menutup mulutnya sendiri karena mendapat pelototan tajam dari kakaknya dan juga peringatan agar tak berkomentar. Tapi dasarnya Ia punya mulut yang suka berkomentar, dan itu bagian dari sifat usilnya pada sang kakak,


“Yang warna biru pastel lah yang bagus. Kamu baju yang merah muda kayaknya udah banyak deh, Kak,”


“Iya sih, papa benar, jadi yang biru aja? Tapi emang bagusan biru, Yah?”


“Iya bagus biru, bentuk lengannya kayak balon gitu, kalau yang pink modelnya kamu udah punya deh kalau nggak salah. Papa pernah liat kamu make model yang gitu soalnya,”


“Papa ingat aja,”


“Ya namanya anak, suka merhatiin penampilan anak lah,”


“Okay aku pilih ini. Makasih ya, Papa,”


“Sama-sama,”


“Tapi yang pink juga bagus. Duh gimana ya. Aku bingung banget,”


Radi geleng-geleng kepala. Sudah minta tolong dipilihkan yang paking tepat, dan Ia berikan pendapat menurut pandangannya, tapi akhirnya Arani bimbang.


“Artinya kamu nggak benar-benar minta pendapat ayah. Buktinya ayah udah kasih pendapat tapi kamu masih bingung,”


Arani tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang cantik. Ia tersenyum lebar sebagai permintaan maaf kepada papanya atas kebimbangan yang saat ini harus Ia hadapi.


“Yang mana ya? Bingung aku. Yang pink warna kesukaan aku, yang biru juga bagus banget pikihan papa pula,”


“Ya ydah ambil yang pink aja kalau kamu sukanya itu, Kak. Jangan dibikin pusing, Kak,”


Arani tertawa melihat ayahnya menggaruk kepala. Nampaknya lelah menghadapi dirinya yang aneh ini. Minta pendapat setelah diberikan pendapat, malah bingung sendiri.


Beberapa detik Arani habiskan untuk menatap baju yang Ia pegang ini. Setelah menimbang, akhirnya Ia memilih yang biru pastel. Itu pendapat papanya,


“Aku pilih yang ini,”


“Suka nggak?”


“Iya suka juga kok, Pa,”


“Jangan karena papa yang milih, kamu jadi milih ini. Kalau sukanya yang pink nggak apa-apa, papa nggak masalah kok,”


“Yang biru aja, Pa. Aku suka juga sama yang biru. Dan benar kata papa, aku banyak baju pink,”


“Ya udah pilih lagi kalau emang ada yang disuka,”


“Papa, udah yuk,”


Hellen menghampiri Radi dengan beberapa baju lelaki di tangannya. Radi mengernyit menatap baju-baju itu.


“Mama nggak beli baju? Mana?”


“Nggak ada yang mama suka, beliin buat papa aja,”


“Lah kok gitu? Masa iya diantara banyak baju, nggak ada yang mama suka?”


“Iya nggak ada, Pa. Mama udah nyari,”


“Mama, Papa ‘kan banyak duit, beli aja yang banyak,” ujar Arani yang mengundang bundanya untuk terkekeh.


“Mama, kalau ada yang disuka pasti udah beli, Nak. Tapi emang nggak ada yang bikin mama tertarik,”


“Ya udah papa aja yang pilihin. Baju rumah samaan tuh sama Arani. Papa beliin juga buat Inara,” ujar Radi seraya meraih baju berwarna biru pastel serupa dengan yang dipegang oleh Inaya dan masih tergantung. Jadi niat Rady adalah membelikan baju itu untuk istri dan anak bungsunya, berhubung sang istri tidak membeli apapun karena katanya tak ada yang membuatnya tertarik.


“Nggak usah, Pa,”


“Nggak apa-apa, ini bagus, satu stel, bahannya bagus, modelnya juga anak muda, Ma, jadi mama berasa balik ke masa muda lagi. Dah pokoknya ini aja,”


Radi bingung mau memilih baju apa untuk istrinya. Tapi kalau membiarkan sang istri pulang dengan tangan kosong, sementara Ia dipilihkan beberapa baju, rasanya tidak tega. Daripada bingung memilih, dan tidak istrinya tak beli apapun, jadi Radi ambil saja yang serupa dengan anak pertamanya.


“Papa, aku udah,”


Arani sudah selesai menjelajah dan kini Ia mendekati kedua orangtua dan juga kakaknya dengan membawa tiga baju. Dua baju untuk pergi, dan satunya lagi baju santai untuk di rumah.


“Nih dibeliin papa samaan,”


Ria menerima baju yang diulurkan oleh sang ayah. Matanya langsung menatap kagum “Yeay ini buat aku?”


“Iya samaan kayak punya kakak dan mama. Mama nggak beli baju karena nggak ada yang menarik katanya. Papa pilih aja lah itu,”


“Aku kurangin bajunya ah. Ini kebanyakan. Aku balikin baju santai pilihan aku,”


Ria pikir belanjaannya terlalu banyak. Karena Ia sudah membawa tiga, ditambah lagi yang baru diberikan oleh ayahnya. Jadi Ia putuskan untuk mengembalikan satu baju santai pilihannya. Sementara yang diberikan oleh ayahnya tentu akan Ia bawa pulang. Ia suka warna dan model yang sederhana, dan sama juga dengan kakak juga bundanya.


“Ma, beneran nggak mau beli apa gitu?”

__ADS_1


“Nggak, papa aja,”


Hellen menatap empat baju kaos untuk sang suami yang menyukai kaos karena bahannya nyaman dan Radi memang tidak suka suka yang ribet.


“Beneran nih cuma yang ayah beliin doang, Ma?”


“Iya bener,”


“Ya udah ayo kita ke kasir,” Rafi akan membawa semua belanjaan anak dan istrinya tapi mereka menolak ingin membawa sendiri.


Akhirnya Rady mengajak tiga perempuan berharga dalam hidupnya itu untuk pergi ke kasir. Begitu tiba di meja kasir yang kebetulan kosong dari antrean, Rady langsung mengeluarkan kartu debitnya.


Selagi belanjaan dihitung semua hargaya, Arani mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Areno.


“Areno udah pulang ya? Atau belum?”


“Apa, Kak?”


Arani langsung tersentak kaget mendengar pertanyaan adiknya yang sekarang mendekatkan telinga ke arahnya.


“Hah?”


“Kakak ngomong apa? Aku nggak dengar tau,”


“Aduh gawat, aku keceplosan ngomongin Areno,”


“Nggak, kamu salah dengar kali Siapa yang ngomong? Kakak nggak ngomong kok,”


“Ih bohong. Tadi aku dengar kakak ngomong kok,”


“Nggak, kamu salah dengar, Dek,”


“Tadi aku dengar nama siapa gitu,”


“Untung aja adek nggak dengar aku ngomong apa. Kalau dia dengar, pasti dia penasaran,” batin Arani.


“Udah ah nggak usah cerewet,”


Ria merengut karena kakaknya melotot. Padahal Ria penasaran tadi kakaknya bicara apa. Ia tadi dengar kakaknya mengeluarkan bicara tapi Ia tidak tahu apa yang dibicarakan.


Arani kembali melanjutkan pencarian dengan matanya. Matanya berbinar ketika melihat Areno berjalan sendirian sambil melihat-lihat baju perempuan.


“Sebenarnya Areno sama siapa sih? Penasaran deh, tapi kayaknya sahabat atau saudaranya. Ntar tanya aja deh sama dia. Nggak cemburu cuma penasaran aja dia eprgi sama siapa dan apa dia bakal jujur ya? Hmm kita liat nanti. Kayaknya sih dia nggak nyadar ada aku deh, ya semoga aja. Kalau dia nyadar, aku nggak bisa tanya-tanya nanti, dan ada kemungkinan dia juga bisa bohong alias nggak jujur pas jawab pertanyaan aku,”


******


“Assalamualaikum, Om,”


“Waalaikumsalam, ini mau jemput Arani, Ren?”


“Iya, Om. Arani sekolah ‘kan, Om?”


“Hari ini nggak dulu, Ren. Besok aja kalau memang keadaan Arani makin membaik, soalnya semalam jtu kaki Arani terasa ngilu lagi. Mamanya kasian kalau biarin Arani sekolah hari ini. Apalagi di sekolah ‘kan Arani bakal beraktifitas ya, jadi takut kakinya malah kambuh lagi sakitnya, biar benar-benar sembuh dulu baru sekolah. Ya semoga aja besok udah bisa, memang Arani nggak bilang ke kamu?”


“Oh gitu ya, Om. Arani mungkin lupa ngabarin aku. Niatnya aku ke sini jemput Arani kayak biasa. Tapi menurutku iya lebih baik Arani istirahat dulu deh di rumah biar kakinya benar-benar pulih, daripada jadi parah ‘kan,”


“Iya, maaf ya kamu jadi sia-sia deh datang ke sini,”


Areno tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Kalau untuk Arani tidak akan pernah Ia anggap sia-sia. Kalau Ia tidak datang sekarang ke rumah Arani mungkin Ia tidak akan tahu kalau Arani tidak sekolah mengingat Arani belum memberitahu apa-apa kepadanya.


“Ya udah kalau gitu salam buat Arani ya, Om. Nanti aklau pulang sekolah aku ke sini boleh nggak, Om?”


“Boleh dong silahkan aja,”


“Aku berangkat sekolah dulu ya, Om. Aemoga Arani makin membaik deh, Aamiin,”


“Aamiin, makasih doanya ya. Hati-hati berangkat sekolahnya?”


“Iya makasih, Om,”


Bertepatan dengan Areno yang akan bergegas meninggalkan rumah Arani, Ria keluar dengan seragam sekolahnya sambil memanggil sang papa.


“Pa aku udah siap, ini air minumnya,”


“Eh Ria mau berangkat sekolah?”


Areno senoatkan untuk menyapa adik dari kekaishnya itu. Ria langsung tersenyum hangat.


“Eh ada Bang Aren, pastu mau jemput kakak ya?”


“Iya, kok tau?”


”iya tau dong,”


“Mau berangkat sekolah? Ayo Abang anterin,”


“Nggak deh, aku sama Papa aja. Bang Aren mending berangkat sekarang. Nanti kalau telat ‘kan dihukum sama guru. Harusnya Bang Aren nggak datang ke sini, ‘kan kakak nggak sekolah,”


“Eh Dek ngomongnya jangan gitu, kayak ngusir aja,”


“Hehehe nggak gitu maksudnya, Pa. Tapi aku bingung kok Bang Aren ke sini lrang kakak nghak aekolah kok. Kakak masih sakit kakinya. Semalam kata Kakak, ngilu lagi rasnaya,”


Areno langsung mengernyitkan keningnya membayangkan rasa sakit yang Arani alami semalam.


“Semoga kakak kamu cepat sembuh ya. Andai abang aja yang kena kayu itu, pasti nggak akan ngerasain sakit soalnya udah pernah waktu itu, malah besi,”


“HAH?!”


Areno spontan mengelus dadanya sendiri karena kaget mendengar seruan kaget dari mulut Ria.


Radi tertawa melihat ekspresi kaget Areno dan jujur Radi sendiri juga kaget. Anaknya itu tidak kira-kira kalau kaget malah ajak-ajak orang.


“Dek, bisa pelan nggak? Papa sama Bang Aren kaget lho,”


“Ya abisnya gimana ya? Aku juga kaget. Kok bisa Bang Aren kakinya ketimpa beso? Rasnaya gimana? Pasti mantafff ya, Bang?”


“Ih yang benar? Kok bisa biasa aja sih, Bang?”


“Ya smang biasa aja, skait sih tapi biasa aja. Makanya Abang bilang barusan, andai Abang aja yang kena kayu itu, Abang pasti nggak akan ngerasain sakit karena sebelumnya usha pernah ngalamin malah yang lebih berat,”


“Areno jangan ngomong gitu. Emang ini udha jadi musibah buat Arani. Nggak apa-apa, Insya Allah Arani kuat kok ngerasain sakitnya,”


“Iya Bang Aren doain aja supaya kakak aku cepat aembuh, jangan malah berandai-andai abang yang kena. Itu nggak boleh. Apa yang udah terjadi jangan disesalkan,”


Areno tersenyum jagum mendengar perjataan adik Arani yang dewasa sekali tidak seperti usianya.


“Keren banget nasehatnya. Abang aja kalah nih deqasanya sama Ria. Usah ah abang bernagkat dulu, malu lama-lama sama anak yang udah dewasa banget pemikirannya semnetara abang nggak,”


“Ah Abang bisa aja,”


“Hati-hati, Ren. Maafin ya kalau ada salah-salah kata dari si Ria yang cerewet itu,”


“Nggak ada salah kata kok, Om. Ria anaknya baik, dan dewasa banget ternyata,”


“Makasih, Bang,”


“Abang bernagkat dulu ya, Ri,”


“Okay hati-hati, Bang,”


“Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam,”


Sebelumnya Areno sudah mau berangkat ke sekolah tapi karena mengobrol dengan Ria, Areno jadi menunda keberangkatannya. Benar-benar menyenangkan bicara dengan adik dari kekasihnya itu.


Menurut Areno, kekasihnya cenderung cuek, dan tak sebanyak Ria kalau bicara, sementara Ria ini tipe anak yang cerewet, dan suka mbuat suasana jadi lebih hidup. Pantas mereka disatukan menjadi kakak dan adik karena saling melengkapi.


*******


“Aduh kok sakit banget ya, perasaan kemarin nggak tuh, ini kok sakitnya kayak pertama kali kena ya,”


Arani mengeluh sambil memegang punggung kedua kakinya yang terasa nyeri. Tapi menurut Arani yang paking nyeri itu yang sebelah kanan karena yang kiri memang hanya kebagian sedikit saja dari kayu itu.


“Nak, Mama bawain sarapan nih,”


“Mama aku ‘kan nggak sekolah,”


Helen masuk ke dalam kamar anak perempuan pertamanya setelah melepas keberangkatan sang suami dan anak bungsunya.


Helen datang membawa bubur ayam untuk Arani. Walaupun Arani bilang ingin sarapan sedikit siang saja sekitar jam delapan atau sembilan karena Ia tidak sekolah, tapi tetap saja Helen ingin Arani sarapan seperti sehari-hari kalau Arani sekolah.


“Aku ‘kan nggak sekolah, Ma. Santai aja sarapannya,”


“Jangan santai-santai kamu harus minum obat pereda nyeri,”


“Mama jadi sibuk ngurusin aku deh di kamar. Maaf ya Mama jadi repot, Papa sama Adek udah berangkat?”


“Kamu jangan ngomong begitu ah. Sejak kapan kamu ngerepotin Mama? Nggak lah, Sayang. Memang ini tugas Mama. Papa dan Adek udah berangkat kok,”


“Udah sarapan berarti?”


“Udah dong, Sayang. Nggak bakal berangkat kalau belum sarapan. Kan biasanya begitu. Kamu mau makan sendiri atau Mama suapin?” Tanya Helen pada anak pertamanya itu.


“Aku makan sendiri aja, Ma,”


“Okay, Mama kompres kaki kamu kalau begitu,”


Helen sudah membawa wadah dan handuk kecil untuk mengompres kaki anaknya. Ia mengambil air panas dan dingin did alam kamar mandi anaknya setelah itu Ia kembali ke dekat anaknya yang sedang makan.


“Mama, makasih banyak ya udah ngurusin aku,”


“Sama-sama, usah jangan bilang makasih terus ah, Mama sampai bosan dengarnya,”


“Aku udah gede tapi masih repotin Mama Papa mulu deh,”


“Ih kok ngomong gitu sih? Nggak ada cerita anak ngerepotin orangtua,”


Helen mulai mengompres kaki anaknya itu dengan lembut, sementara Arani tetap menikmati sarapannya itu.


“Oh iya tadi ada Areno tuh kata Papa. Kamu nggak kanarin dia ya kalau kamu nggak sekolah hari ini?”


“Ya ampun aku lupa banget,” ujar Arani smabil menepuk pelan keningnya. Helen terkekeh dan memaklumi itu.


“Nggak apa-apa, Mama maklum kok, Areno juga passti maklum. Namanya juga lagi sakit, pasti jarang pegang handphone dan lagi sibuk nahan sakitnya ‘kan,” ujar Helen seraya tersenyum menatap anak pertamanya itu.


“Jadi Areno datang ke sini?”


“Iya tadi, Sayang, sekarang ya udah berangkat ke sekolah. Tadi ketemu sama Papa dan Adek kamu,” jelas Helen yang ditanggapi dengan anggukkan kepala oleh Arani.


“Aku jadi nggak enak, dia udah meburu datang ke sini eh aku nya nggak sekolah,”


“Nggak apa-apa, Sayang. Areno maklum kok. ‘Kan barusan Mama bilang gitu. Arenk paati laham kamu lagi fokus sama sakitnya kamu jadi belum sempat ngabarin dia.” ujar Helen pada anaknya.


Arani meraih ponselnya dan Ia mengirimkan pesan kepada Areno. Kalau Areno sudah samlai sekolah dan membuka ponsel, Areno pasti akan langsung membuka pesannya. Areno rajin buka pesannya secepat mungkin.


-Areno, aku minta maaf belum sempat ngasih tau kamu kalau aku nggak sekolah dulu hari ini. Jangan marah ya :) maaf banget-


Aetelah mengirimkan pesan berisi permintaan maaf, Arani meletakkan ponselnya di atas nakas dan lanjut menikmati makannya.


“Mama, aku sampai kalan ya begini? Kali aku kapan sembuhnya? Kok malah jadi bengkak merah gitu ya, Ma?”


“Ya wajar, Sayang, namanya juga abis ketimpa barang berat, untungnya kaki kamu nggak lebih dari bengkak ini. Mama takutnya malah reta atau patah tapi Alhamdulillah semalam kita cek ke rumah sakit lagi, aman kan,“


“Iya udah dicek dua kali di rumah sakit, pertama di Bogor, kedua tadi malam, puas banget deh ini kaki dicek mulu sama dokter. Segala di X-ray pula. Hadeh kaki ini ngerepotin banget sih!“


“Sast hei kok ngomongnya begitu? Ini cobaan dari Allah jadi kamu harus lewatin dengan senyum dong, jangan menggerutu,”

__ADS_1


“Tapi aku takut nggak sembuh, Mama,”


Helen meletakkan mangkuk yang dipegang anaknya di atas nakas kemudian Ia merangkum wajah anaknya itu. Ia mengecup kening Arani dengan lbut menenangkan Arani.


“Sembuh, Nak. Kata dokter apa? Pasti sembuh ‘kan? Jadi kamu tenang aja,”


“Tapi kok lama, Ma?”


“Sabar, Nak. ‘Kan kamu aja baru kemarin pulang dari Bogor,”


“Oh iya juga ya, baru bentar ya berarti,”


“Intinya kamu harus banyak istirahatin kaki kamu ini jangan kebanyakan dipakai jalan dulu, okay?”


“Iya, Ma,”


*******


“Areno, kok nggak bareng Arani sih? Tumben banget,”


Areno baru saja turun dari mobilnya. Dan Ia tidak sengaja bertemu dengan Vevi, Defilla dan Syena yang baru saja sampai di juga di sekolah.


“Arani masih sakit kakinya jadi hari ini dia nggak sekolah,”


“Ih kok nggak ngaish tau kita sih? Terus gimana keadaan Arani?”


“Jangankan lo pada, gue aja nggak diaksih tau sama dia. Wajar lah, namanya juga lagi sakit. Mungkin dia lupa kali untuk ngabarin kita, atau emang nggak kepikiran karena lagi sakit,”


“Ya amlun, semoga Arani cepat sembuh deh kakinya,”


“Aamiin, makasih doanya,”


Areno bergegas ke kelasnya begitupuan dengan teman-teman Arani. Begitu tina di kelas, Defilla langsung berinisiatif untuk tanya langsung pada Arani bagaimana keadaannya sekarang.


-Hai, Ar. Gimana keadaan lo? Nggak sekolah ya hari ini? Semoga cepat pulih ya kali lo, Ar. Kangen woy! Jangan lama-lama di rumah-


******


“Aku belum apa-apa udah bosan deh, Ma di kamar,”


“Eh kita jemur aja yuk,”


“Jemur? Tapi kaki aku lagi kayak gini,”


“Jemur di balkon kamar kamu mau?”


“Nggak mau, aku maunya di halaman depan,”


“Duh gimana ya, Sayang. Kaki kamu ‘kan belum sembuh nih, Mama bukannya nggak mau, cuma ‘kan Mama khawatir kalau misalnya kamu maksain diri untuk turun ke lantai bawah,”


Arani menghela napas kasar dan wajah murungnya membuat Helen merasa tidak tega. Helen berharap secepatnya rasa sakit yang dialami anaknya bisa segera dihilangkan.


“Sabar ya, semoga nggak lama-lama pemulihannya,”


“Aku bosan di kamar,”


“Mama temenin terus deh, gimana?”


“Iya boleh, tapi kalau kita berdua sama-smaa bosan gimana?”


“Mama nggak akan bosan sama kakak, ‘kan senang temenin anak di kamarnya,”


“Sebenarnya ada sih kursi roda Oma kamu yang udha nggak kepake itu ‘kan, tapi gimana turunnya coba,”


“Bilang Papa deh bikin lift,”


“Hahaha iya deh bilangin ke Papa nanti ya, Mama setuju,”


“Jadi kalau kita bangun tidur terus males turun ke bawah pakai tangga kita tinggal naik lift tau-tau udah sampai deh,”


“Lift mengajarkan kita untuk malas ya, Kak? Hahaha,”


“Iya bener, Ma. Tapi berguna banget kalau lagi sakit kayak gini,”


“Mama tau kakak bosan, tapi sabar ya, Nak. Insya Allah kamu cepat sembuh nanti udah bisa deh beraktifitas seperti biasa,”


“Iya aku sabar, Ma. Mama juga sabar ya ngurusin aku,”


“Ngurus anak itu bikin Orangtua bahagia tau, nggak ada yang merasa direpotkan atau apa gitu, nggak ada. Jadi kamu jangan ngomong kayak gitu lagi ya,”


*******


“Ya ampun, kenapa tugasnya begitu?”


Ria mencak-mencak dalam hati ketika mendapatkan tugas dari guru seni yang baginya sulit untuk Ia lakukan dalam situasi kakaknya yang sedang sakit kakinya.


Ria meringis sambil menenggelamkan kepalanya di antara lipatan kedua tangannya. “Aku kasian lah sama kakak. Masa harus aku suruh foto berdua sama aku? ‘Kan kakak lagi sakit kakinya,” batin Ria.


“Eh Ri, kamu konsep fotonya nanti mau gimana sama kakak kamu?”


Ria mengangkat kepalanya dan menatap Indah, temannya yang baru saja menanyakan konsep foto bersama kakknya nanti. Jangankan memikirkan konsep, memikirkan bagaimana cara bilang ke Arani saja Ia belum tahu.


“Kakak aku lagi sakit kakinya, jadi dia harus banyak di tenpat tidur, terus tiba-tiba aku dapat tugas kayak gini, ih kenapa nggak yang lain aja ya tugasnya?”


“Serius kaki kakak kamu lagi sakit? Kenapa? Kecelakaan ya? Diamputasi?”


“Heh sembarangan! Alhamdulillah kaki kakak nggak sampai digituin. Jadi kakak aku abis ketimpa kayu, jadi kakinya bengkak merah giru, padahal kemarin nggak gitu mungkin karena belum aja lali ya kemarin tuh,”


“Oh iya biasanya emang beberapa hari dari kejadian baru berasa banget sakitnya. Aku pikir kaki kakak kamu—“


“Nggak, Indah! Jangan ngomong gitu ah, kakak aku baik-baik aja, cuma emang kakinya lagi sakit,”


“Ya udah ‘kan bisa fotonya duduk, bener nggak?”


“Emang kakak mau? Takutnya kakak nggak mau, kasian dia kalau harus nahan sakit,”


“Kamu care banget. Nggak pernah berantem ya?”


Ria terbahak mendengar pertanyaan polos Indah. Tidak pernah bertengkar? Jangan salah, justru sering. Tapi kalau jauh-jauhan memang akan manis kelihatannya sampai ornag berpikir tak pernah bertengkar.


“Hahaha kamu salah besar. Aku sama kakak rajin berantem lho sebenarnya, tapi ya kalau lagi akur ya akur sih,”


“Oh gitu? Kirian nggak pernah berantem. Ya udha nanti diomongin aja sama kakak kamu kalau kamu dapat tugas untuk hias foto terbarung diri sendiri sama saudara. Foto yang full body, nah kakak kamu pasti ngerti deh, dia nggak bakal biarin adeknya nggak ngerjain tugas,”


“Lagian kenapa sih harus full body segala, errghh ribet tau. Coba aja kalau foto muka aja, aku banyak tuh foto muka aja sama kakak. Kami seringnya selfie, bukan foto seluruh badan abisnya ribet. Suka keliatan kegemukan lah, kekurusan lah, ah mending foto muka ajalah,”


Indah terbahak mendengar Ria menggerutu. “Ternyata bukan aku sama kamak aku diang yang gitu hahahah. Aku sama kakak juga kalau foto seringnya muka doang, karena kalau sebadan kakak suka repot. Protes mulu dia,”


“Iya, makanya. Ntar deh aku coba ngomong sama kakak semoga dia nggak keberatan,” ujar Ria.


*******


“Kak, kalau bosan scroll sosmed, baca-baca, atau main game, mending belanja online, Kak,”


“Ih Mama ngeracunin aku nih,”


“Hahahaha iya nggak apa-apa, tinggal minta sama Mama isiin saldonya,”


“Huwaaa Mama baik banget,”


Arani langsung merengkuh Mamanya yang dari pagi sampai siang seperti ini masihs etia menemaninya.


Arani diberi saran untuk belanja saja, bagaimana Ia tdiak senang. Siapa yang tidak sennag diberikan kesemaptan untuk belanja, malah diberikan modal juga omeh mamanya itu.


“Makaish banyak ya, Ma,”


“Sama-sama,”


“Mama kok baik banget sih ya ampun,”


“Apa sih yang nggak buat anak Mama, toh nggak belanja tiap hari juga,”


“Coba ya aku liat-liat dulu


“Beli apa aja terserah Kakak deh, mau baju, mau celana, atau apa gitu, suka-suka kakak,”


“Kalau case handphone boleh, Ma?”


“Boleh dong, Sayang,”


“Yessss!”


“Senang banget ya?”


“Iya senang, Ma. Makasih banyak ya, Ma,”


“Sama-sama, Nak,”


Arani sekarang sibuk memilih case untuk handphone nya. Sesekali Ia akan meminta pendapat Mamanya. Tapi malah cari lagi karena belum puas.


“Duh bingung,”


“Perasaan nanya ke Mama udah empat kali, Kak. Tapi belum cekout juga,”


“Iya bingung, Ma,”


“Ya begitulah perempuan. Bisa belanja bingung, nggak bisa belanja sedih,”


“Hahahah Mama bisa aja,”


“Aku mau sekalian beli buat adek boleh nggak, Ma?”


“Boleh dong, silahkan beli buat adek juga. Maksudnya biar samaan ya case nya?”


“Iya, biar couple ceritanya,”


Disaat Arani sedang sibuk dengan banyaknya pikihan case, tiba-tiba Arani ditelpon oleh Areno.


“Halo,”


“Iya kenapa, Ren?”


“Aku ke rumah boleh ya?”


“Boleh,”


“Lagi mau apa?”


“Nggak mau apa-apa, kalau mau datang ya datang aja nggak usah bawa macam-macam,” ujar Arani pada kekasihnya yang baru saja keluar dari kelas ingin langsung ke rumah Arani.


“Dih masa nggak mau apa-apa sih? Nggak mungkin ah. Bilang aja mau apa, Aranique. Biar sekalian aku beliin,”


“Nggak ah, aku nggak mau apa-apa,”


“Martabak mau? Eh atau seblak aja ya? Kamu mungkin mau yang kuah-kuah pedas gitu,”


“Nggak ah,”


“Serius, Ran. Mau apa?”


“Iya aku serius, aku nggak mau apa-apa. Mama masak buat aku, tadi udah makan,”


“Ya buat nanti-nanti aklau kamu mislanya lapar lagi setelah makan masakan Mama kamu,”


“Nggak usah,”


“Oh ya udah cemilan aja kali ya?”

__ADS_1


“Ah nggak tau ah, dibilang nggak usah masih aja ngeyel,”


__ADS_2