
“Arani, aku pinjam jas lab dong, punya aku ketinggalan,”
“Ah kamu kebiasaan deh. Masa bisa ketinggalan sih? Makanya sebelum tidur tuh, pastiin semua yang harus dibawa besok ke sekolah udah siap! Jangan kebiasaan apa-apa ketinggalan. Jangan siapin pagi makanya, karena kamu bakal keburu-buru,”
Arani akhirnya mengoceh ketika baru saja keluar dari ruang laboratorium resep malah dihampiri oleh Areno yang ingin meminjam jas laboratoriumnya. Memang Ia bisa saja meminjamkan karena kebetulan Ia sudah selesai praktek, dan otomatis jas laboratoriumnya menganggur. Tapi Ia kesal ketika Areno meminjam. Harusnya Areno memakai miliknya sendiri. Tapi karena dia teledor akhirnya pinjam punya orang lain.
“Ya udah aku pinjam dulu bentar, nanti aku balikin. Aku lupa nyiapinnya,”
“Ya makanya jangan lupa,”
“Ih kamu cerewet banget deh,”
Areno langsung mencubit ujung hidung bangur kekasihnya lantas langsung merebut jas lab yang sudah Arani lipat hendak Arani simpan di dalam ranselnya.
__ADS_1
“Ih kamu main ambil aja sih,”
“Tadi ‘kan aku udah pinjam, Ran. Kamu jangan pelit ya. Aku cuma pinjam bentar doang. Nanti aku langsung balikin deh,”
“Ya bukan masalah itu. Biar kamu nggak kebiasaan makanya aku marah. Lagian barusan kamu bilang bakal langsung dibalikin? Emang aku mau gitu nungguin kamu sampai selesai praktek? Nggak lah, aku mau ngerjain tugas di toko buku sekalian beli buku,” ujar Arani seraya menyimpan semua peralatan tulis dan juga merapihkan kotak berisi alat-alat prakteknya secara singkat. Nanti di rumah pasti akan Ia bereskan lagi supaya benar-bsnar rapi.
“Lho kamu nggak mau pulang bareng aku?”
“Nggak, aku pulang sama teman-teman aku ya. Kami mau ngerjain tugas, sekalian beli buku baru,”
“Novel, ada novel baru dan kita mau baca,” ujar Arani sambil tersenyum menaik turunkan alisnya. Mendengar Arani akan pulang tanpa dirinya, Areno mendengus dan wajahnya juga kelihatan kesal.
“Kok nggak pulang bareng aku aja sih? Nanti aku antarin deh ke toko bukunya, terus aku antar kamu ke rumah, gimana?”
__ADS_1
“Jangan! Kamu jangan nganterin aku ke toko buku ataupun ke rumah. Ini ‘kan waktunya aku sama teman-teman aku, jangan diikutin dong. Aku risih tau,”
Areno akhirnya mengangguk pasrah. Kekasihnya itu sudah punya pilihan sendiri. Ia ingat Arani pernah kesal berhari-hari hanya karena Ia mengikuti Arina pergi bersama teman-temannya. Arani itu paling tidak suka diganggu ketika bersama teman. Arani merasa punya hak untuk menghabiskan waktu nersama orang terdekat, dan ada saatnya kekasih tidak perlu ikut. Dengan begitu, Arani tidak merasa dikekang, dan Ia anggap kekasihnya tidak over posesif.
“Jadi sekarang kamu mau pulang nih?”
“Iya, eh nggak dong. Ke toko buku. Jam mata pelajaran aku udah habis. Tapi sebenarnya masih ada satu lagi sih, cuma gurunya udah bilang nggak masuk hari ini dan bakal gabung materi pas beliau masuk di senin depan,”
“Dih enak banget udah pulang. Lah aku lagi mau praktek empat jam pelajaran. Mau berkutat sama resep. Gila banget nih otak. Mana ngebayangin kamu udah diluar happy-happy lah aku nya malah sibuk sama resep dan obat,”
Mendengar Areno mengeluh, Arani tertawa dan menepuk bahu Areno dua kali. “Sabar ya, kamu nggak boleh ngeluh harus semangat demi cita-cita. Lagian ya, aku ke toko buku bukan untuk senang-senang tapi ada tujuannya dan itu ngerjain tugas sama beli buku,”
“Ya tapi happy ‘kan nggak ada aku? Nggak ada yang ganggu?”
__ADS_1
“Happy! Nggak ada yang repot,”
“Dih masa gitu. Harusnya senang dong kalau kemana-mana aku temenin,”