
“Arani, makan malam sama aku mau nggak? Tapi makan nya sore, takutnya kalau keluar malam susah izinnya ke Mama Papa kamu, dibolehin nggak kira-kira?”
Arani menghembuskan napas pelan. Disaat Ia pusing dengan tugas Farmakologi yang baru Ia terima tadi siang dari gurunya, Areno menghubungi cuma untuk mengajaknya pergi makan. Jujur terlalu malas untuk Arani keluar rumah sekarang.
“Aku lagi ngerjain tugas nih,”
“Oh gitu? Ya udah aku temenin ayok,”
“Temenin gimana sih maksudnya?”
“Ya…aku temenin. Kita pergi makan, kamu bawa tugas terus kerjain. Aku bantuin kalau aku bisa,”
“Nggak usah, aku kerjain sendiri aja. Lagian aku lagi malas keluar rumah,” tolak Arani secara langsung tanpa basa-basi, supaya Areno tak melanjutkan ajakannya lagi, sebab Ia masih memiliki tugas yang harus segera Ia selesaikan.
“Jadi nggak mau nih keluar makan bareng?”
“Nggak dulu ya,”
“Aku izin ke Mama Papa kamu,”
“Iya aku tau, kamu nggak mungkin bawa kabur aku, Areno. Tapi masalahnya aku lagi mumet sama tugas nih,”
Arani juga tidak berpikir kalau Areno akan membawanya kabur diam-diam untuk pergi makan berdua. Ia yakin Areno akan minta izin walaupun segan. Areno memang menyebalkan, suka memaksakan kehendak, tapi sejauh ini tidak menghalalkan segala cara untuk membawanya pergi. Jangan sampai itu terjadi juga.
“Eh video call dong,”
“Nggak ah, kamu lagi kuker ya? Hah? Aku lagi ngerjain tugas, ngapain kamu ngajakin aku video call?”
“Ya karena kamu nggak mau pergi makan sama aku, jadi aku makan di rumah aja kalau begitu,”
“Ya udah makan tinggal makan, Areno,”
__ADS_1
“Temenin aku lah,”
Arani berdecak pelan. Sungguh, Ia tidak tahu kalau Areno bisa bersikap seperti ini. Persis seperti anak kecil yang kalau makan suka minta ditemani.
“Mau ‘kan temenin aku makan?”
“Nggak ah, kurang kerjaan banget aku kalau temenin kamu makan, orang aku lagi sibuk,”
“Kamu cuma diem doang, Ran, aku nggak minta kamu pertunjukkan,”
“Ck, ya udah lah nanti aja,” ujar Arani dengan ketus. Jujur Arani paling tidak bisa diganggu ketika lagi sibuk tapi Areno melakukannya. Benar-benar menyebalkan bukan?
“Udah ya, aku masih harus kerjain soal, terus aku mau baca-baca dulu takutnya besok di tanya ‘kan, aku nggak bisa jawab. Farmakologi tuh mantep banget materinya,”
“Ya udah deh satu jam lagi aku video call ya, okay?”
“Hmm, nggak janji,”
Arani merotasikan bola katanya. Lalu Areno mau apa kalau Ia sedang tidak mau melayaninya? Untuk saat ini Arani harus mengerjakan tugas dan Ia ingin fokus.
“Okay aku nggak ganggu kamu sekarang, tapi kalau satu jam ke depan aku telepon kamu bisa nggak?”
“Ya udah iya,”
“Okay makasih ya, aku tutup teleponnya. Nanti aku hubungin kamu lagi,
“Iya,”
“Dijawab ya, Cantik,”
“Iya, Astaga. Kamu cerewet banget deh,”
__ADS_1
“Aku takutnya kamu nggak mau jawab telepon aku nanti,
“Iya-iya, aku jawab, puas?”
“Okay deh semangat ngerjain tugasnya,”
“Kamu nggak ngerjain tugas?”
“Udah,”
“Serius?”
“Iya, kamu nggak percaya?”
“Nggak yakin,”
“Mau aku tunjukkin? Tugas apa sih yang kamu maksud? Farmakologi bukan? Aku ada tugas itu,”
“Iya itu yang aku maksud,”
“Udah kok,”
“Wih keren,”
“Iya dong, perlu bantuan aku nggak? Cielah Hahahahaa. Kamu mah nggak perlu bantuan aku pasti udah bisa nyelesain tugas sendiri “
“Ini kapan udahannya? Aku mau lanjut ngerjain tugas nih,”
“Oh iya, nanti aku telepon lagi ya, angkat ya temenin aku makan ya, Ran,”
Areno sebenarnya belum rela mengakhiri pembicaraannya dengan Arani. Tapi Ia tidak mau egois. Ia harus memikirkan kepentingannya Arani. Ini berhubungan dengan tugas sekolah.
__ADS_1