Kisah Anak Farmasi

Kisah Anak Farmasi
Bab 91


__ADS_3

Areno tiba di kelasnya dan langsung disambut oleh tiga orang Dani, Dafa, dan Adib yangs edang menikmati sarapan mereka berubah bubur ayam.


“Asek asek asek ada yang udah datang nih,” goda Dani.


“Buset pada makan,” ujar Areno yang kaget teman-temannya kompak makan bubur.


“Laper, brow. Lo udah makan belum?” Tanya Dafa.


“Udah, gue udah makan sereal,”


“Seriusan?”


“Iyalah, emang kalau gue belum makan kenapa? Lo pada mau nyuapin gue?”


“Dih, minta suapin sama cewek lo sono,”


“Hahaha mana mau Arani, orangnya gengsi, cuek gitu,”


“Ya makanya manja-manjaan ntar juga luluh,”


“Pala lo peyang, yang ada gue ditempeleng kali,” ujar Areno pada Adib yang punya saran aneh. Mana mau Arani menyuapinya. Yang ada juga Ia dipukul.


“Pernah sih gue disuapin, tapi ya gitu, agak nggak ikhlas dianya,”


“Hahahaha kesian ya lo,” ejek Adib.


“Nanti juga lama-lama biasa. Dia malu kali kalau mesra-mesraan depan umum,”


“Ya emang, dia anti banget. Kayak malu jadi pacar gue,”


“Hahahah sabar, brow,”


“Lo ntar balik sekolah kau kemana?”


“Nggak kemana-mana sih kayaknya, emang kenapa?”


“Nongki yuk, di kafe,”


“Boleh tapi gue antar cewek gue dulu ke rumahnya,”


Mendengar kata ‘cewek gue’ terlontar dari mulut Areno, teman-teman Areno langsung bereaksi. Mereka langsung menggoda Areno habis-habisan.


“Siap cewek gue,”


“Ya ‘kan enang beneran cewek gue, masa cewek orang,”


“Iya Mas posesif,”


“Abis gue antar Arani ke rumahnya gue langsung samperin kalian ya. Share lokasi kalian aja ada di kafe mana,” ujar Arani yang langsung ditanggapi dengan anggukan oleh Dani, Dafa, dan Adib.


Mereka sudah lumayan lama tidak kumpul di kafe sambil minum kopi, tentunya mengobrol. Melepas penat di hari terakhir sekolah karena besok libur berakhir pekan.


“Lo sama Arani nggak ada rencana mau jalan ntar pulang sekolah ‘kan?”


“Nggak ada, gue antar dia ke rumahnya aja, abis itu gue bisa nyamperin kalian,”


“Okay, ntar ya balik sekolah, jangan lupa lo,”


“Iya tenang aja gue nggak lupa,”


********


“Duh, Nak. Kamu ada-ada aja deh,”


Helen khawatir sekali ketika mendapat kabar kalau anak bungsunya terjatuh di tangga yang menyebabkan kakinya berdarah. Setelah sempat dibawa ke rumah sakit untuk diberi pengobatan, Ria dipulangkan oleh pihak skeolah supaya bisa istirahat.


Untuk sementara waktu Helen menempatkan anak bungsunya itu di kamar tamu kamtai dasar karena Ia khawatir kalau Ria naik ke kamarnya sendiri kakinya belum kuat.


“Sakit banget, Mama,”


“Iya orang berdarah kayak gini. Makanya hati-hati, Nak. Kamu jangan bercanda kalau naik turun tangga tuh, kamu aja sering bercanda atau sambil debat sama kakak naik turun tangga,”


“Tapi aku tadi tuh nggak lagi bercanda sama teman, aku, Ma. Orang aku nggak lagi ngapa-ngapain kok cuma naik turun tangga biasa aja,” ujar Ria.


“Berarti ini memang musibah yang nggak dipancing. ‘Kan ada musibah yang datangnya tuh dipancing alias diundang. Ya salah satu contohnya tadi, bercanda atau ngobrol di tangga, padahal itu nggak boleh karena bahaya banget. Ngobrol apalagi bercanda sambil naik turun tangga itu bisa mengurangu fokus dan akhirnya bisa jatuh deh,”


“Tapi aku nggak kayak gitu, Mama. Serius deh aku nggak lagi bercanda, tiba-tiba aja kaki aku keserimpet deh,”


“Ya udah sekarang kamu istirahat ya,”


“Iya, Ma,”


“Kamu mau makan apa? Biar Mama bikinin,”


“Nggak mau, aku nggak mau makan apa-apa, aku cuma pengen istirahat,” ujar Ria yang mukanya kusut dengan jejak air mata yang masih ada. Helen merasa tidak tega. Ia langsung mengusap wajah Ria dan mengecup keningnya.


“Udah jangan sedih lagi ya, Sayang. Insya Allah secepatnya sembuh,”


“Ngulu banget kaki aku, Ma,”


“Iya Mama tau, Nak, tapi yang penting udah diobatin,”


“Kenaoa sih aku harus jatuh,”


“Hei nggak boleh ngomong begitu, ini cobaan. Jadi harus dilalui, kakak aja udah pernah kakinya sakit ‘kan, tapi Alhamdulillah sembuh, Nak,”


“Tapi aku takut nggak sekuat kakak,”


“Kuat kok, ‘kan anak Mama semuanya kuat, nggak ada yang nggak kuat,”


“Mana aku nggak bisa ke kamar aku dulu,”


“Iya sabar, Sayang, kalau kamu butuh sesuatu kamu tinggal ngomong sama Mama, nanti Mama yang ambil di kamar kamu,”


“Bosan di sini,”


“Cuma bentar, mudah-mudahan besok bisa naik ke atas ya,”


“Nanti aku minta gendong sama Papa deh biar aku bisa ke kamar aku,”


Helen terkekeh karena anaknya ini tidak rela kalau Ia tidak diam di kamarnya melainkan kamar tamu.


“Padahal kamar tamu juga nyaman banget nih kalau bosan tinggal nyalain tv, terus ada ac juga, kenapa nggak mau di sini?”


“Mau sih tapi aku lebih mau di kamar aku sendiri, Mama,”


“Ya udah ntar apa kata Papa deh,”


“Kakak aja waktu kakinya sakit di kamar sendiri, Ma. Kalau nggak salah dibawa Papa ke kamarnya ya?”


“Ya udah ntar apa kata Papa deh. Soalnya kamu itu beda dari kakak. Kamu gampang banget bosannya. Kalau kakak lagi bosan waktu itu main handphone, baca novel, nonton, lah kamu kalau bosan ‘kan seringnya keluar kamar. Itu gimana ceritanya mau keluar kamar kalau kaki lagi sakit kayak gitu,”


“Ya udah deh, Ma. Aku di sini aja,”


“Tuh ‘kan cepat banget berubah pikiran,” ujar Helen seraya terkekeh.


“Nanti aku kalau mau ke dapur, mau ke depan jadi gampang, kalau di kamar aku sendiri susah deh,”


“Nah itu dia. Kamu kalau bosan ‘kan suka keliling dimah ngeliatin apa aj ayang dilakuin sama orang rumah. Kalau kakak sih bosan bisa baca buku, nonton tv, main handphone, kamu agak susah untuk itu,”


Ria menganggukkan kepalanya. Pada akhirnya, Ia setuju dengan mamanya. Daripada Ia merasa terjebak did alam kamar karena kakinya yang sakit akan sulit digerakkan nantinya maka lebih baik Ia di kamar tamu saja. Setidaknya kalau ke dapur, ke teras rumah masih jauh lebih mudah ketimbang bila Ia diam di kamarnya sendiri.


“Kamu mau dibuatin apa nih? Puding ya?


“Mau puding nggak?”


Untuk menghibur anaknya yang baru saja jatuh dari tangga, Helen ingin membuatkan suatu makanan untuk anaknya itu yang sekiranya disukai.


“Hmm aku pengen apa ya?”


“Puding mama mau nggak? Puding cokelat atau buah?”


“Iya mau-mau, Ma,”


“Yang mana? Cokelat atau—“


“Buah aja, Ma,”


“Okay Mama bikin yang buah ya. Kamu tunggu sini bentar,”


“Iya, Mama,”


Ria menganggukkan kepalanya membiarkan sang Mama pergi ke dapur untuk membuat puding buah yang Ia sukai.


*******


“Eh udah nunggu ternyata,”


“Iya udah dari sepuluh menit lalu,” ujar Areno sambil menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.


“Okay ayo kita pulang,”


Areno sengaja menunggu Arani di depan pintu kelas, agak menyingkir supaya tidak menghalangi jalan para murid yang baru keluar, termasuk Arani.


“Kamu nggak mau kemana-mana ‘kan?”

__ADS_1


“Nggak, aku mau langsung pulang aja emang kenapa?” Tanya Arani apda kekasihnya itu.


“Nggak apa-apa, aku langsung antar kamu ke tumah terus aku mau kumpul sama teman-teman aku di kafe ya,”


“Ya,”


“Jadi nanti aku langsung cabut ya,”


“Okay, hati-hati,”


“Belum juga berangkat, Cantik,”


Arani dan Areno berjalan menuju area parkir begitu sampai di sana ternyata ada teman-temannya Areno yang sudah mau ke kafe.


“Jangan lupa ya, Ren,”


“Iya ini gue mau antar Arani pulang kok,”


Melihat Areno naik ke sbeuah notor yang maush bersih berkilau, tiga teman Areno langsung menggoda Areno.


“Cie yang abis beli motor baru,”


“Bagus bener tuh motkr, spill dong motornya beli dimana dan harganya berapa,”


Areno tertawa karena mereka bicara seperti itu. Biasalah, mulut paling tidak bisa diam kalau lihat teman punya barang baru.


“Arani, yang pertama jadi penumpang tuh motor cieee


Arani terkekeh mendengar ucapan Adib yang belum sleesai juga kemggoda Areno. “Iya dong, ‘kan pacar jadi harus yang pertama. Masa teman yang pertama,”


“Beraa lama butuh ACC supaya dibeliin sama orangtua lo, Ren?”


“Hmm sekitar sebulan lah,”


“Keren,”


“Dibeliin nyokap bokap ‘kan?”


“Iya,”


“Gue mau beli motor baru nggak dibolehin ah. Katanya ntar aja kalau udha lulus. Yah elah kelamaan kata gue,”


“Yah malah adu nasib hahaha,”


“Ya udah belu sendiri kalau gitu, Dib,”


“Iya ntar gue beli sendiri deh,”


“Areno juga beli sendiri, ada uangnya sendiri itu,” uajr Arani yang langsung membuat tiga teman-teman Areno membelalakkan kedua matanya.


“Seriusan, Ran?”


“Iya, dia beli pakai sisa-sisa uang jajannya sama uang hasil dia nge-desain,”


“Anjir keren banget lo, brody,”


“Ah bisa aja,” ujar Areno.


“Dia nggk bilang-bilang yak, kirain mah minta beliin sama nyokao bokap nya,”


“Ya emang ada uang nyokap bokap gue ‘kan gue maish dikaish uang jajan tuh nah uang jajannya nggak gue habisin tapi ada yang gue tabung. Nah terus hasil dari gue nge-desain gue tambahin deh ke tabungan uang jajan, jadilah gue beli motor,”


“Keren banget lo asli!”


“Thanks, udah ah gue mau antar Arani pulang dulu. Ini kita nggak berangkat-berangkat karena ngobrol,”


“Oh iya Astaga, kita ‘kan mau ke kafe, ya udah lo anterin Arani dulu deh hati-hati ya,”


“Okay sip,”


Areno menyuuh Arani untuk naik ke atas jok motornya setelah itu melaju ke rumah Arani sementara teman-teman Areno ke kafe.


******


“Kakak belum pulang ya, Ma?”


“Belum, oh iya puding lagi Mama masukin kulkas ya biar dingin dulu,”


“Iya makaish ya, Ma,”


“Sama-sama, Nak. Semoga puding buatan Mama bisa bikin kakinya smebuh deh, aamiin,”


“Aamiin, tapi kayaknya nggak ada hubungan deh ajtara puding sama kaki sakit, Ma. Tapi kalau untuk naikin mood sih emang puding Mama itu juara banget,”


“Tapi obat untuk patah hati bisa tuh, Ma,”


“Elang kamu udah pernah latah hati terus makan puding Mama gitu?”


“Ya nggak sih taoi kayaknya bisa deh,”


“Soalnya puding Mama itu naikin mood banget, yang tadinya lagi sedih atau capek gitu bisa hilang kalau makan puding Mama,”


“Ah kamu bisa aja deh,” ujar Helen sambil menjawil dagu anaknya.


Mendengar suara bel pintu, Ria dan Helen langsung diam tak bersuara dan slaing menatap satu sama lain.


“Siapa tuh, Ma?” Tanya Ria yang diajwab dengan gelengan kepala oleh mamanya.


“Mama juga nggak tau, Sayang. ‘Kan kita sama-sama di sini,”


“Mungkin teman Mama,”


“Ah kayaknya nggak deh, biasanya ngabarin kalau pada mau datang, coba deh Mama liat dulu. Bisa jadi itu kakak yang datang,” ujar Helen seraya beranjak meninggalkan ranjang dimana anaknya saat ini berbaring.


“Oh iya benar, ini jam pulangnya kakak ya,”


“Mama keluar dulu sebentar ya, Sayang,”


“Iya, Ma,”


Ria membiarkan Mamanya keluar dari kamar tamu yang saat ini ditempati olehnya untuk sementara waktu sampai keadaan kakinya membaik.


“Ketika Helen membuka pintu, Ia langsung berhadapan dmegan anaknya yang tersenyum dan juga Areno uang juga tersenyum menatapnya.


“Oh kakak yang datang, kirain siapa. Ayo masuk-masuk,”


“Aku mau langsung pergi ya, Tante,”


“Kok nggak masuk dulu, Ren?” Tanya Helen pada Areno yang langsung pamit kepadanya.


“Iya soalnya aku pengen kumpul sama teman,”


“Oh gitu ya udah hati-hati ya,”


“Iya, Tante,”


“Makasih banyak udah antar jemput Arani ya,”


“Sama-sama, Tante. Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam hati-hati, Ren,”


“Siap, Tan,”


Areno mengeluarkan ponselnya untuk melihat kafe mana yang sudah menjadi pilihan tiga orang sahabatnya itu. Setelah Ia tahu kafe mana yang harus Ia datangi, Ia langsung menyimpan ponselnya lalu melambai singkat pada Arani dan Helen yang memperhatikannya.


Setelah Areno melaju meninggalkan kediaman Arani barulah Arani dan Helen masuk ke rumah.


“Adek mana, Ma? Uda pulang ‘kan?”


Yang pertama Arani tanyakan ketika masuk rumah adalah Ria. Arani mengira adiknya itu sudah di kamar, karena biasnaya kalau tidak kedengaran suaranya tentu Ria ada di kamar lagi sibuk belajar, mengerjakan tugas, menonton atau main game.


“Adekmu abis jatuh dari tangga sekolah. Itu Mama ungsikan dulu di kamar tamu soalnya dia kalau bosan ‘kan suka mau keluar kamar jadi di kamar abwah aja, jadi kalau mau ke dapur mislanya atau mau kemana gitu lebih gampang. Nanti ‘kan dia pasti bakal sering jalan walaupun kakinya masih nyeri-nyeri juga,”


“Astaghfirulalh, adek jatuh dari tangga, Ma?”


“Iya tapi keadaannya udah baik-baik aja, Sayang. Dibawa ke rumah sakit sama pihak sekolah tadi,”


Arani langsung bergegas ke kamar tamu dimana adiknya berada. Ia langsung sedih melihat kakai adiknya ada yang diperban, telatnya di lutut dan juga punggung kaki.


“Eh kakak udah pulang ternyata,”


Ria langsung sumringah menyanbut kedatangan kakaknya yang masuk ke dalam kamar dengan wajah khawatir.


“Tenang aja, Kak. Udah nggak begitu sakit kayak tadi kok, tadi tuh emang sakit banget sampai aku nangis. Soalnya aku nggak sekuat kakak jadi lebay deh hehehe,”


“Kok bisa sih, Dek? Apa kamu hercanda ya sama teman kamu makanya kamu jatuh dari tangga? Hmm?”


“Nggak kok, Kak. Aku nggak bercanda sedikitpun, beneran deh,”


“Terus kok bisa jatuh, Dek?”


“Iya aku juga nggak tau, Kak. Pokoknya tiba-tiba kaki aku tuh keserimpet terus aku jatuh deh,”


“Ya ampun, Dek,”

__ADS_1


“Tapi kakak tenang aja, aku udah nggak sakit lagi kok kakinya,”


“Kamu beneran nggak lagi bercanda ‘kan?”


“Nggak, sumpah aku nggak bercanda, Kak. Aku nggak lagi ngobrol juga kok, beneran deh,”


“Memang adekmu itu lagi mau dapat musibah aja, Kak. Musibah ‘kan nggak ada yang tau kalan datangnya,”


“Kasian banget adek, Ma,”


“Nggak apa-apa, Kak. Aku udha membaik banget kok ini,”


“Ya udah bener kamu di sini dulu. Kalau mau jalan-jalan jadi gampang. Kaki kamu ‘kan suka nggak bisa diam,”


“Tadinya adek mau ke kamarnya sendiri tuh, Kak. Tapi setelah Mama jelaisn baru deh ngerti. Tadi mau minta tolong Papa gendong katanya,”


“Jangan, udah paling bener kamu di sini, kalau di kamar ‘kan kalau bosan kamu nggak bis akemana-mana selain balkon, ruang nonton atau kamar kakak, kamar tamu. Nah kalau di lantai bawah ‘kan bisa ke dapur, ke taman, ke teras, ya suka-suka kamu aja lah,”


“Iya makanya itu aku di sini aja deh,”


Arani langsung mengusap pipi adiknya itu dengan lembut dan tersenyum, “Kamu tenang aja, ini mudah-mudahan cepat smebuhnya kok,”


“Aku tadi takut nggak sekuat kakak nahan sakitnya tapi ternyata aku bisa, nah ini udha mendingan banget,”


“Iya makanya harus sabar, sakitnya smang harus dirasain. Namanya juga abis jatuh ‘kan,”


“Kalau kakak ‘kan kuat banget tuh, nahan sakit abis ketiban kayu,”


“Hahaha itu sebenarnya juga nggak kuat-kuat banget sih,”


“Kakak hebat tapi,”


“Kamu juga hebat, pokoknya kamu tenang aja, ini cepat kok smebuhnya orang kaki kakak aja celat ‘kan sembuhnya. Nah kamu kalau butuh apa-apa jangan sungkan minta tolong kakak. Waktu itu kamu baik banget sering nolongin kkak pas kaki kakak lagi sakit, nah sekarang gantian kakak yang bakal nolongin kamu,”


“Makasih ya, Kak,”


“Kakak temenin deh di kamar ini ya? Bair kamu kalau—“


“Nggak usah, kakak tetap di kamar kakak aja. Aku nggak butuh apa-apa kok, aku ‘kan maish bisa ke kamar mandi sendiri,”


“Iya nanti Mama yang udah jagain adekmu, Kak. Kamu tenang aja udah. Ntar mama yang antar makan nya ke kamar, mama yang bantu semua, kakak nggak perlu khawatir,”


*****


“Kamu lama banget online nya. Aku perhatiin terus dari tadi, ada kali setengah jam online tapi nggak bales chat aku. Lagi ngapain sih? Lagi ngobrol sama siapa di whatsapp?”


Areno langsung melampiaskan rasa kesalnya ketika Arani baru membalas pesan yang sudah Ia kirim sejak beberapa jam lalu. Tidak kunjung dibalas oleh Arani, padahal sejak tiga puluh menit lalu Areno perhatikan Arani online terus. Karena penasaran dan kesal pada Arani akhirnya Areno menghubungi Arani. Beruntungnya tidak ada kata-kata “Nomor yang anda tuju sedang berada di panggilan lain”. Kalau saja Ia dengar kalimat itu, pasti rasa penasarannya kian meningkat.


“Aku abis bahas tugas farmakognosi nih. Ada tugas presentasi,”


“Oh, tugas kelompok ya? Perlu bantuan aku nggak? Aku udah nih. Cie sombong, mentang-kentang tugas kelompok udah selesai,”


“Nggak usah, ini ‘kan tugas kelompok aku, kalau tugas kelompok kamu beda lagi,”


“Ya nggak apa-apa aku bantu kalau emang kamu mau,”


“Nggak usah, sekarang kamu ngapain telepon aku? Aku penasaran nih,”


“Aku ganggu nggak?”


“Ganggu banget ya ampun, aku lagi mau buat tugas presentasi nya nih,” ujar Arani sengaja melebih-lebihkan alias mendramatisir supaya Areno kesal.


Tapi anehnya Areno tidak kesal, malah tertawa. “Dih kok malah ketawa sih?” Tanya Arani.


“Lebay banget kamu. Sini makanya aku bantuin, biar aku nggak cuma ganggu doang tapi juga ada bantuannya,”


“Nggak usah,”


“Kamu beneran udah cinta sama aku atau belum?”


Arani spontan memundurkan kepalanya menjauh dari ponsel setelah mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Areno.


“Kenapa tiba-tiba nanya kayak gitu?“


“Ya abisnya aku ragu aja gitu. Kok kamu cuek banget ya? Nggak kayak cewek-cewek kebanyakan,”


“Ya kamu udah jadi pacar aku mau nggak mau harus naksir lah,”


“Ya aku tanyain cinta, Sayang. Bukan naksir doang,”


“Itu jujur aku masih bingung sih. Cinta tapi aku ngerasa biasa aja, nggak cinta tapi aju ngerSa nyaman sama kamu. Jadi aku harus jawab apa?”


“Ya udah lah nggak apa-apa, yang penting pacaran ya ‘kan, kamu punya aku dan aku punya kamu,”


“Kamu ribet sih pake bahas itu segala tiba-tiba,”


“Aku penasaran, Sayang. Makanya aku nanya, soalnya kamu itu cuek, katanya cinta gimana sih?”


“Emang aku pernah ngomong gitu ya?”


“Nggak tau ah,”


“Ya kalaupun pernah, kenapa kamu nanya lagi? Aku emang gini orangnya, cuek. Lagian kalaupun kita belum saling cinta, aku rasa nggak apa-apa sih, ‘kan masih muda juga. Masih terlalu dini kalau kita bahas cinta karena kita masih SMK,”


“Hmm….iya sih. Ya udah deh, sekarang kita ngobrolin apa nih? Eh iya, kiriman pizza dari aku belum datang apa? Kok lama sih?”


“Hah? Kamu kirim pizza? Ya ampun, buat apa? Maksud aku, aku ‘kan nggak minta,”


Areno terkekeh mendnegar pertanyaan Arani. Buat apa katanya? Ya tentu untuk makan. Ia suka membuat hati Arani senang walaupun hanya dengan mengirimkan makanan yang sederhana.


“Dimakan ya, martabak itu untuk kamu makan,”


“Tapi aku udah—eh belum sih. Aku belum makan malam emang kebetulan,”


“Nah ya udah dimakan deh. Aku bukan sekedar cowok yang suka nanya udah makan atau belum aja tapi nggak ada action, aku nggak nanya tau-tau ngirimin makanan. Pacar kamu emang beda, makanya kamu jangan berpaling ya, Sayang?”


“Ih jangan manggil-manggil sayang deh, manggilnya pakai nama aja lebih enak didengar gitu,”


“Mau sayang aja,”


“Dih, geli ah, nama aja lebih—“


“Sayang sayang sayang,”


“Alay lo ah,”


*****


“Eh lo sama Areno gimana hubungannya? Abis lulus mau nikah?”


Saat ini Arani sedang bersama teman-temannya menghabiskan waktu bersama, dan tiba-tiba mereka membahas kelanjutan hubungan dengan Areno.


“Sembarangan kalau ngomong. Ya mau lanjut kuliah dulu lah. Main nikah-nikah aja lo,” Arani menegur Dafilla yang tiba-tiba membahas hubungannya dengan Areno.


“Oh kirain langsung mau kawin,”


“Heh! Nikah dulu baru mikirin kawin. Otak lo kawin aje yang dipikirin,”


“Hahaha kampret lo,” Dafilla mendorong Syena yang baru saja mengejeknya.


Arani tidak ada niat untuk menikah muda, apalagi menikah dengan Areno yang masih belum bisa dewasa, sebenarnya Ia pun sama. Ia ingin membuat bangga orangtuanya dengan pencapaian setinggi mungkin yang Ia bisa capai. Orangtuanya sudah meletakkan harapan besar kepadanya Ia bisa menyelesaikan pendidikan dengan baik. Bangku sekolah menengah atas ini masih kurang menurut Arani yang syukurnya difasilitasi dengan baik oleh orangtua jadi Ia tidak mau membuang kesempatan itu sia-sia.


“Ya sayang sih kalau buru-buru nikah. Ntar masa muda lo jadi direbut sama suami dan anak. Ih gue juga ogah sih. Cuma gue nggak menyalahkan juga yang mau nikah muda. ‘Kan semua orang punya pandangan masing-masing, dan punya hak juga untuk milih jalan hidupnya,” ujar Vevi dnegan pelan tapi matanya fokus pada novel yang sedang Ia baca.


“Iya bener! Gue—“


“Defilla bisa pelan nggak suaranya? Berisik deh! Sana pulang gih. Malu-maluin aja suaranya,”


Arani menegur Defilla yang suaranya cukup mengganggu, takut orang-orang di toko buku merasa terganggu. Mereka sedang sibuk memilih buku, ada juga yangs ambil memcanaya, lalu Defilla berisik. Arani takut Defilla diusir, kalau Defilla pergi pasti Arani, Syena, dan Vevi ikut pergi juga. Tidak mungkin mereka tetap bertahan di toko buku itu sementara teman mereka pergi.


“Iya-iya maaf,” Defilla langsung meminta maaf dnegan suara yang amat pelan.


“Iya gue juga sama, nggak mau nikah muda. Males tau, belum siap juga,”


“Males kenapa lo? Males ngurus rumah, ngurus laki, sama ngurus anak ya? Hmm?” Vevi bertanya seraya mengangkat salah satu alisnya. Vevi sudah bisa menebak karena memang Ia kenal Defilla seperti apa. Sering bangun terlambat, malas membantu pekerjaan di rumah.


“Iya, kok lo tau?”


“Ya tau lah, gue ‘kan temen lo. Bangun aja suka kesiangan ya? Ngerjain tugas sekolah suka lupa, suka ada aja yang ketinggalan entah itu buku lah, laptop lah, ya gimana mau nikah muda? Belum siap banget itu mah. Mending emang jangan dulu. Lo masih kekanakan soalnya. Belum dewasa,”


“Tapi umur gue udah dewasa tau, tujuh belas udah mulai dewasa ‘kan? Nggak remaja lagi maksud gue,”


“Umur boleh keliatan dewasa, tapi pemikiran, sikap, itu belum sama sekali. Liat aja barusan, masa ngomongnya berisik banget padahal ini di toko buku. Lo tuh bukan anak kecil lagi. Jadi harus jaga sikap,”


“Iya gue lupa kalau di toko buku, Sayang,” ujar Defilla seraya menjawil dagu temannya itu.


“Ih jangan pegang-pegang! Genit banget sih. Nggak genit sama laki, genitnya sama gue,”


Defilla terkekeh menutup mulutnya karena Vevi memarahinya dengan mata melotot tajam.


“Udah paling bener nggak mikirin nikah dulu, mikirin sekolah aja yang bener. Nikah mah ntar-ntar aja, gue juga dipesenin sama mama papa aku kayak gitu soalnya,”


“Iya, orangtua kita masih sanggup biayain, jadi gas lah. Bersyukur masih bisa dikuliahin. Lah di luaran sana banyak yang nggak bisa dikuliahin sama orangtua karena satu dan lain hal, ada juga yang banting tulang sendiri demi bisa kuliah,” ujar Defilla yang setuju dengan Arani.


“Eh tapi kalau Areno mau nikahin lo abis sekolah gimana, Ar?”

__ADS_1


__ADS_2