
“Ayolah masuk aja, Ran. Di teras gini hawanya panas, mending di dalam nggak sih? Kita bisa ngadem. Ruang tamu Areno adem tuh tadi udah sempat gue rasain, ketimbang di teras panasnya luar biasa. Ini neraka bocor atau gimana sih?”
“Gerutu aja ini bocah ya. Ya udah lo masuk aja duluan, Vi,”
Defilla dan Syena tertawa karena Vevi mendapat teguran dari Arani. Yang paling semangat untuk segera masuk ke dalam rumah Areno adalah Vevi.
“Kayaknya ada yang dia taksir deh di antara teman-temannya Areno,”
“Dih sok tau lo, Def!”
Vevi tidak terima ketika Defilla beranggapan Ia menyukai salah satu teman Areno makanya semangat mau bergabung dengan mereka di ruang tamu rumah Areno.
“Jujur aja deh, Vi,”
“Kalau iya emang kenapa kalau nggak emang kenapa?”
“Dih jawabannya bikin bingung,” ujar Defilla sambil menggaruk pelipisnya yang sebenarnya tidak gatal, hanya Ia bingung dengan jawaban sahabatnya itu.
“Gue tuh panas di teras, sumpah. Lo pada mau nganggap ini di Bali atau gimana deh? Pada mau berjemur? Hah?”
__ADS_1
Cuaca ibukota sedang terik sekali. Dan itu membuat Vevi tidak nyaman di teras rumah Areno yang meskipun ada atap tapi tetap saja intinya di luar rumah bukan di dalam rumah jadi masih bisa merasakan hawa panas.
Ketika Arani dan tiga sahabatnya diam tak ada obrolan lagi tiba-tiba ada beberapa orang keluar dari dalam.
Teman-teman Areno termasuk Areno sendiri bingung mendapati Arani, Syena, Defilla dan Vevi di teras rumahnya alih-alih langsung masuk ke dalam padahal pintu rumahnya dibiarkan terbuka begitu saja.
“Hai, ternyata ada Arani. Gue duluan ya, Ar,”
Arani tersenyum membalas teman Areno yang menyapanya sekaligus pamit pulang. Tidak hanya Arani, tiga sahabat Arani juga disapa sebelum akhirnya para lelaki itu meninggalkan kediaman Areno.
“Kalian kenapa nggak langsung masuk aja sih? Ayo sini duduk di ruang tamu,”
“Eh iya ini lupa belum dikasih. Maaf ya cuma bawa itu,”
Arani nenyerahkan parsel buah dan kue kepada Areno sambil meminta maaf dan ditanggapi dengan senyuman Areno.
“Kok minta maaf sih? Ini udah lebih dari cukup. Kalian harusnya nggak perlu repot-repot,” ujar Areno yang merasa senang sekali Arani membawa tiga orang temannya untuk menjenguk.
“Kalian peduli banget, thanks ya,”
__ADS_1
“Yoi sama-sama. Eh sebenarnya kita tuh udah sampai dari tadi. Cuma karena Arani nggak mau masuk jadi ya udah kita nunggu di ruang tamu,”
Mendengar penjelasan dari Vevi, Areno mengernyitkan kening dan menata kekaishnya dengan kedua mata memicing penasaran.
“Lho emang kenapa nggak langsung masuk aja? ‘Kan pintunya dibuka tadi,”
“Ya aku nggak enak lah ada teman-teman kamu,” jawab Arani yang normal, karena versi tidak normalnya berasal dari mulutnya Syena yang malah berkata jujur. Apa yang diucapkan Arani tadi, sekarang diulang oleh Syena. Benar-benar menyebalkan sekali Syena. Yang seharusnya Areno tak perlu tau akhirnya jadi tau.
“Kata Arani, dia males basa-basi sama temen lo,“
“Astaga, basa-basi gimana sih? Nggak perlu lah, duduk aja, ntar juga lama-lama kebawa sama obrolan kami kok,”
“Obrolan tentang apa? Tentang taruhan ya?”
“Nggak ada yang taruhan, Syena,”
“Tapi tadi kita sempat dengar. Apa lo jadiin sahabat gue bahan taruhan? Awas ya kalau lo macam-macam,”
“Eh Syena nggak gitu. Gue nggak pernah jadiin siapapun bahan taruhan apalagi Arani. Gue beneran sayang sama dia,”
__ADS_1