Kisah Anak Farmasi

Kisah Anak Farmasi
Bab 60


__ADS_3

“Udah lama nggak ke ragunan. Papa temenin aku ke sana ya? Plis, aku pengen banget ke ragunan,”


“Boleh dong,”


“Tapi naik sepeda ya, Pa?”


“Hah? Kamu yakin? Permintaan kamu ke ragunan aja udah agak aneh sih menurut Papa. Secara kamu ‘kan udah dewasa, kok mau ke ragunan? Padahal yang diliat cuma hewan-hewan doang, kenapa nggak ke mall aja gitu ‘kan? Nah ini, tambah lagi permintaan aneh kamu, Ran Kamu yakin ke ragunan naik sepeda?”


“Yakin, Pa, boleh nggak?”


Arani menatap papanya dengan sorot mata memohon. Hari ini tidak ada jadwal kuliah jadi Arani ingin mencari kegiatan yang berguna. Tidak hanya sekedar jalan-jalan, tapi sekalian mengeluarkan keringat juga.


“Ya boleh aja, Nak. Mana mungkin Papa nggak bolehin. Apa sih yang nggak buat anak Papa?”


“Asyik, makasih ya, Pa,”


“Iya sama-sama. Ya udah sekarang kamu siap-siap,”


“Aku siap-siapnya cepat kok, Pa. Pakai celana sama baju olahraga aja,”


“Bagus sih, kamu mau olahraga. Cuma olahraganya lumayan jauh ya,”


Arani tertawa, memang terkadang Ia suka aneh. Pasti papanya tidak mengira kalau Ia minta ditemani ke ragunan dengan menggunakan sepeda.


Arani akan melangkah ke kamarnya, tak sengaja bertemu dengan sang ibu di anak tangga. “Eh kok buru-buru banget, Ran?”


“Mama, aku sama Papa pagi ini mau ke ragunan naik sepeda ya,”


“Hah? Jauh lho itu, kok naik sepeda?”


“Nggak jauh-jauh banget, Ma. Sekalian olahraga gitu ceritanya,”


“Ya kenapa ke ragunan? Jauh itu, Nak,”


“Aku pengen liat-liat dalamnya ragunan, ‘kan udah lama tuh,”


“Oh ya udah, hati-hati ya. Kalau nggak kuat gowes, jangan lupa angkat tangan ke kamera,”


“Hahahha Mama ada-ada aja sih, emangnya aku lagi syuting apa?”


“Kalau nggak kuat minta jemput sama Mama, nanti Mama jemput pakai mobil,”


“Terus gimana sepedanya?”


“Ya udah masukin dalam mobil kalau muat,”


“Kalau nggak muat?”


“Gampang lah,”


“Ya udah aku mau siap-siap dulu ya, Ma,”


“Okay, Sayang,”


Arani bergegas cepat menuju kamarnya sendiri untuk berganti baju. Begitupun dengan papanya. Tidak membutuhkan waktu lama, keduanya selesai bersiap-siap.


“Eh udah kelar juga ternyata. Kirain Papa mesti nunggu dua puluh menit lagi sampai kamu keluar dari kamar, Kak,”


“Hahaha nggak dong, Pa. Aku ‘kan nggak pernah lama kalau siap-siap,”


“Bisa kompak gitu ya keluar kamarnya. Ya udah yuk kita langsung berangkat aja. Jangan lupa kita pamit sama Mama,”

__ADS_1


“Okay, Pa,”


Arani mendengar suara mamanya dari arah luar. Ketika Ia dan papanya menghampiri ternyata sepeda miliknya dan juga sang papa sudah siap untuk digunakan.


“Lho udah disiapin sama mama,”


“Minta tolong dikeluarin sepedanya sama Pak Egi. Biar kalian langsung berangkat gitu. Hati-hati ya, nggak udah lama-lama lah di ragunan. Orang nggak ada yang menarik cuma liat hewan doang,”


“Tapi aku kangen suasana itu lho, Ma. Terakhir ke sana ‘kan aku masih kecil, kangen liat-liat binatang di tengah keramaian,”


“Ya udah tapi hati-hati, jangan jauh dari Papa ya, Kak. Takutnya kamu ilang,”


“Ya ampun, emang aku bocil, Ma,”


“Kamu ‘kan tetap Mama Papa anggap bocil walaupun udah gede,”


“Putri kecilnya Mama Papa, bener tuh kata Mama,”


“Okay kalau gitu aku sama Papa pamit ya, Ma,”


Arani mencium punggung tangan sang mama. Setelah pamit Ia segera naik ke atas sepeda, disusul oleh papanya. Mereka membawa sepeda masing-masing.


“Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam,”


Arani dan papanya mulai mengayuh sepeda meninggalkan rumah. Ketika mereka akan keluar dari komplek perumahan, bertepatan dengan masuknya sebuah mobil dan mobil itu langsung membunyikan klakson nya.


Tentu saja Arani dan papanya berhenti mengayuh sepeda dan menoleh penasaran ke arah mobil. Arani dan papanya tidak tahu siapa orang di mobil itu.


Pengemudi dari mobil itu keluar dan ternyata adalah Areno. Lelaki itu berlari kecil ke arah Arani yang mengernyitkan keningnya bingung.


“Halo Assalamualaikum, Om,”


Areno langsung mencium tangan papanya Arani. Kemudian Areno menatap Arani dengan senyum hangatnya.


“Hai, Ran. Kamu mau kemana? Tumben naik sepeda,”


“Mau olahraga ke ragunan, kenapa?”


Bukan Arani yang menjawab melainkan papanya. Entah kenapa papanya Arani punya dugaan Areno ini rencananya mau datang ke rumah mungkin ingin mengajak Arani pergi, tapi malah bertemunya di dekat gerbang komplek perumahan. Akhirnya Areno menghentikan laju mobilnya.


“Oh, aku boleh ikut nggak, Om, Ran?”


“Hah? Ikut? Kamu naik mobil, terus kami naik sepeda, definis olahraganya tuh dimana, Ren? Om sama Arani ‘kan niatnya mau olahraga sambil liat-liat ragunan makanya naik sepeda, ini kemauannya si Arani,”


Areno langsung salah tingkah. Kalau tahu akan bertemu dengan Arani yang akan bersepeda ke ragunan, Ia pasti akan membawa sepeda sendiri dari rumah.


“Coba kamu bilang mau ke ragunan naik sepeda, pasti dari rumah aku udah bawa sepeda semdiri, Ran,”


“Ya ngapain aku bilang-bilang ke kamu? Aku ‘kan emang pengennya pergi sama Papa aku, Ren,”


“Plis, aku mau ikut dong ke ragunan. Nggak apa-apa deh naik mobil, yang penting bisa liat-liat isi ragunan juga. Aku udah lama nggak ke sana,”


Arani menghembuskan napas kasar dan menatap Areno kesal. Tak ada sepeda, mobil pun jadi. Yang penting bisa bersama Arani, itu prinsip Areno.


“Ya udah terserah kamu deh ini temannya mau diapain, Papa duluan,”


“Yah Papa,”


Arani memanggil papanya yang kembali mengayuh sepedanya meninggalkan Ia bersama Areno.

__ADS_1


“Ayo buruan, Ran,” seru papanya sambil menoleh sebentar ke belakang.


“Jadi gimana? Kamu mau naik mobil aja?”


“Iya, tapi kalau boleh sih aku pengen naik sepeda,”


“Lah terus kamu pakai sepeda siapa? Sepeda aku? Terus aku naik apa?”


“Ya aku bonceng lah,”


“Berarti yang olahraga bukan aku dong, tapi kamu,”


“Gini aja, nanti pas pulang kamu yang bawa, gimana menurut kamu?”


“Ih kamu kenapa sih rusuh banget deh. Ganggu rencana aku tau nggak!”


“Ya maaf, aku ‘kan pengen ikutan juga ke ragunan temenin kamu. Plis jangan kesal sama aku ya,”


“Kenapa sih kamu ganggu aku? Ih aku Heran banget deh sama kamu, Ren,” Arani membatin sambil menggertakkan giginya kesal.


“Ran, boleh ya?”


Bahu Arani disentuh oleh Areno dan itu membuat Arani yang semula menatap Dafin dengan sorot mata yang kesal akhirnya luluh juga karena Areno tersenyum lebar tapi matanya memohon.


“Ya udahlah mau nggak mau,”


“Kamu baik banget, jadi aku boleh ya naik sepeda kamu?”


“Iya, aku naik mobil kamu,”


“Yah, itu bukan berduaan namanya,”


Areno tidak bisa melontarkan protesnya secara langsung, hanya bisa bicara di dalam hati saja. Padahal yang Ia inginkan adalah satu sepeda dengan Arani, Tapi ternyata Arani malah mau menaiki mobilnya. Itu berarti mereka tidak bisa berduaan. Tapi tidak apa, Areno harus paham kalau Arani tidak senang kalau mereka terlalu dekat.


“Gimana? Boleh aku pakai mobil kamu?”


“Iya boleh deh, yang penting judulnya ke ragunan bareng,”


“Nggak-nggak, aku cuma bercanda. Ya udah nih kamu yang bawa sepeda aku, terus kamu bonceng aku. Kalau capek jangan protes ya,”


Ekspresi wajah Areno langsung berubah seketika. Areno sumringah sekali ketika Arani mengizinkan Ia untuk menggunakan sepeda Arani dan Ia akan membawa Arani di jok belakangnya.


“Serius?”


“Ya iyalah, itu mau kamu ‘kan?”


“Iya betul, pengertian banget sih kamu,”


“Kasian aku sama kamu, udah niat mau ke rumah aku, eh malah ketemunya di sini, terus kalau aku ke ragunan sama papa aku aja, kamu sia-sia dong datang nyamperin aku,”


“Nah itu dia, untung aja masih sempat ketemu kamu dan kamu nggak masalah aku ikut ke ragunan,”


“Ya udah ayo buruan, Papa aku udah makin jauh tuh,”


“Nggak apa-apa, aku bakal kejar. Restunya aja bakal aku kejar, Ran,”


“Ah udah deh jangan bahas restu-restu segala. Kamu tuh kayak udah mau kawin besok aja,”


“Hahahah bukan kawin dong, nikah dulu baru kawin,”


“Ya iya itu maksud aku, ngapain coba bahas restu sekarang,”

__ADS_1


__ADS_2