
“Udah dengar jawaban aku ‘kan? Aku nggak taruhan sama sekali, apalagi jadiin kamu bahannya. Ya nggak mungkin lah,”
Vevi langsung menyenggol lengan Arani supaya Arani dibuka mata dan hatinya. Areno sudah menegaskan barusan bahwa tidaka da yang namanya taruhan dan menjadikan Arani sebagai bahan dari taruhan itu.
“Kalian kenapa nggak langsung masuk aja? Teman-teman gue asyik kok orangnya,”
“Ya abisnya kamu kagi ngobrol serius sama mereka jadi kita mundur aja deh,”
“Ya ampun, nggak penting-penting banget sebenarnya,”
“Arani tuh nguping bentar doang tadi, Ren. Terus abis itu nggak nguping lagi karena takut denger yang nggak-nggak dari mulut lo,”
“Nggak-nggak maksudnya gimana?”
“Ya…takutnya lo ngubah jawaban lo ‘kan soal taruhan tadi,”
“Nggak lah, jawaban gue udah paling bener itu. Gue nggak taruhan, apalagi— ya elah. Masa iya sih,”
“Ya udah sekarang kita pulang yuk,”
Arani mengajak tiga sahabatnya untuk meninggalkan kediaman Areno. Tadi mereka sudah sepakat untuk tidak lama-lama karena Areno masih belum begitu membaik kondisinya.
“Kok cepat sih?”
“Ya nggak mau lama-lama di sini. Kamu ‘kan harus banyak istirahat,” ujar Arani pada Areno yang tidak rela kekaishnya cepat pulang dari rumahnya padahal Ia masih ingin mengobrol dengan Arani.
__ADS_1
“Baru juga ngobrol, Ran,”
“Ya udah lo di sini aja dulu, Ran. Kita bertiga pulang,” ujar Defilla yang disetujui oleh Vevi maupun Syena. Mereka tidak keberatan kalau harus pulang lebih dulu daripada Arani.
“Ah nggak deh. Gue mau pulang bareng kalian aja,” ujar Arani mengelak. Ia tidak mau kalau sampai mengganggu Areno yang seharusnya istirahat, nanti kalau Ia masih ada di rumah Areno tentu kekasihnya itu tidak akan istirahat.
“Cepat banget pulangnya, Ran,”
“Eh kamu tuh harus banyak istirahat. Emang mau izin nggak sekolah terus?”
“Seru sih di rumah,”
“Yee jangan gitu. Kamu tuh pelajar, jadi ya harusnya belajar di sekolah, bukan seru-seruan di rumah,”
“Lagian ya, rugi kalau nggak sekolah terus. Sayang uang tau,”
“Iya emang, tapi aku ‘kan lagis akit ini, bukan lagi main-main,”
“Iya aku tau nah makanya jangan kelamaan sakit supaya nggak lama juga izin nggak sekolahnya,”
“Siap, Bu apoteker,”
“Kamu yang rugi tau. Bayar uang sekolah jalan terus tapi kamu nggak sekolah-sekolah,”
Areno menganggukkan kepalanya sambil bersikap hormat. Arani langsung berdevak pelan dan merotasikan bola matanya.
__ADS_1
“Aku serius, Areno,”
“Iya aku juga serius kok dengerin kamu,”
“Ya udah aku sama teman-teman aku mau pulang dulu ya,”
“Sebenarnya berat sih, cuma ya udah nggak apa-apa deh kamu ikutan pulang,”
“Dia masih mau ditemenin sama lo kali tuh, Ran,”
“Yang ada nggak istirahat kalau ada gue,”
“Bye, hati-hati ya. Kabarin kalau udah sampai rumah,” ujar Areno seraya mengusap rambut Arani yang sudah berjalan keluar dari rumah.
“Thanks udah datang ke sini,”
Arani menganggukkan kepalanya. Kemudian Areno juga mengucapkan rasa terimakasihnya kepada tiga sahabat Arani.
“Thanks ya, Vevi, Defilla, Syena, udah datang ke sini. Maaf ngerepotin kalian semua. Semoga kebaikan kalian dibalas dnegan berlipat ganda aamiin “
“Aamiin, iya sama-sama, Ren. Semoga cepet smebuh soalnya Arani galau lo nggak sekolah,”
“Emang iya?”
“Apaan sih? Gue nggak galau,”
__ADS_1