Kisah Anak Farmasi

Kisah Anak Farmasi
Bab 87


__ADS_3

Selama menonton bioskop, Areno sebenarnya was-was, Ia khawatir papanya membahas tentang klien nya tadi yang menyapa dan membahas desain buatannya. Tapi ternyata tidak sama sekali. Ghali benar-benar tutup mulut soal itu. Padahal Areno sudah menebak akan ada pembahasan itu, bahkan bisa jadi papanya langsung marah.


Tapi sebenarnya Areno yakin, ada waktu yang menurut papanya tepat untuk mereka membahas ini. Mungkin tidak di bioskop. Setelah menonton, Areno diajak papanya untuk makan di sebuah restoran. Kurang lebih satu setengah jam mereka di sana setelah itu Ia langsung pulang.


Ketika Ia akan masuk ke dalam kamar tiba-tiba Ia dipanggil oleh papanya. Sejak saat itu detak jantungnya tidak beraturan. Ia sudah bisa menebak apa yang akan dibicarakan oleh papanya itu.


Jujur Ia gugup sekali tapi Ia harus menghadapinya. Ia tidak boleh larid ari pembahasan ini walaupun rasanya belum siap untuk memberikan jawaban yaoi mau tidak mau Ia harus siap dalam dua hal. Memberikan jawaban dan juga dimarahi.


“Kamu jangan ke kamar dulu karena ada yang mau bapak bicarakan sama kamu,”


Areno langsung menganggukan kepalanya dan iya diajak oleh papanya duduk di sofa yang berada di ruang keluarga tepat di depan televisi yang dalam keadaan mati.


“Tadi waktu kita mau masuk ke studio bioskop, papa dengar ada orang yang menyapa kamu dan dia bahas design yang kamu buat dia juga memuji hasil design kamu nah pertanyaan papa adalah apa kamu masih buat design? Bukannya udah jelas ya larangan papa dan mama, Ren?”


Areno langsung menghembuskan nafas kasar kemudian menatap apanya yang mulai kelihatan kesal. Tentu saja gali merasa kesal sebab tidak hanya satu atau dua kali gali menasehati Areno supaya fokus dengan pendidikan nya saja tidak perlu memikirkan hal yang lain akan tetapi tanpa sepengetahuan Ghali ternyata Reno masih juga membuat desain.


“Pa, aku minta maaf tapi sebenarnya design yang bapak tadi maksud itu udah lama aku buat apa sebelum papa dan mama larang aku untuk buat design nah kalau sekarang aku kan udah nggak buat design lagi,”


Reno pikir masih ada celah untuk berbohong maka ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Iya tidak juga jujur kepada papanya tentang hal yang sebenarnya. Kalau Ia jujur, Ia belum siap mendengarkan amarah papanya yang sudah berulang kali menegaskan supaya iya fokus dengan belajar saja tidak perlu fokus untuk membuat sesuatu yang tujuannya untuk mendapatkan uang.


“Oh ya apa Papa bisa pegang omongan kamu? Tapi kok bapak itu kayaknya udah akrab ya sama kamu apa dia sering pakai jasa kamu untuk buat design?”


“Aku serius, design yang dimaksud bapak tadi itu udah lama banget aku buat nah setelah mama dan papa larang aku untuk pegang design aku nggak pernah design lagi karenw Mama Papa udah larang ‘kan, jadi aku nggak berani untuk tetap desain,” ujar Areno yang jeals berbohong.


“Apa harganya murah?”

__ADS_1


“Hmm tergantung. Pa, bisa dibilang sesuai dengan permintaan, sulit atau mudah nya itu kan tergantung masing masing orang ya. Tapi aku sangat bersyukur untuk juslan kayak gini, dan lain lain aja aku udah bersyukur banget,”


Tiba tiba Galih berdeham lalu menatap Areno yang masih juga gugup sebab Areno tahu obrolan di antara Ia dan ayahnya belum benar benar berakhir.


“Areno, Papa akan sangat kecewa kalau kamu bohong sama Papa ya, Ren,”


“Nggak kok, Pa. Aku nggak bohong seriusan deh. Emang aku udha nggak nge-desain lagi,”


Tiba-tiba Qanita datang menghampiri mereka dan tentu merasa penasaran dengan pembahasan antara Areno dan suaminya makandari itu Ia langsung duduk siap mendengarkan cerita.


“Ada apa nih? Kok kayaknya ada yang beres ya,”


“Ini lho, Ma. Tadi waktu mau masuk bioskop Papa sama Areno nggak sengaja ketemu sama bapak-bapak. Intinya dia bilang kalau dia puas sama desain buatan Areno, dan ngajakin Areno sesekali makan bareng kalau nggak salah, terus Areno iyakan,“


Mendengar penjelasan sang suami tentunya Qanita memicingkan kedua mata menatap putra semata wayangnya itu.


“Udah tadi, Ma. Aku udah ngomong ke Papa, aku udah jelasin semuanya,”


“Ya itu ‘kan ke Papa, dan Mama belum dengar apapun. Coba kamu jelasin ke Mama sekarang,” ujar Qanita.


Areno akhirnya menganggukkan kepalanya patuh. Ia segera membuka mulut siap untuk menjelaskan. Sekali lagi Ia mencari celah untuk berbohong sebab Ia tidak mau kehilangan hobi seklaigus mata pencahariannya. Ia ingin belajar hidup mandiri akan tetapi kedua orangtuanya belum setuju. Mereka ingin Ia fokus sekolah dulu. Tapi susah untuk lepas setelah menceburkan diri ke dalam dunia kerja. Walaupun maish pekerja lepas tapi setidaknya Areno sudah tahu bagaimana sudahnya mencari uang, dan itulah sebabnya harus hemat karena cari uang tidak mudah. Itu poin penting yang langsung Areno dapatkan setelah menjadi seseorang yang mendesain apapun itu keperluan kliennya.


“Desain yang Bapak tadi maksud tuh adalah desain yang udah lama banget,“


“Benar begitu?”

__ADS_1


“Iya bener, Ma,”


“Jadi kamu udah stop bikin desain ‘kan?”


“Udah dong, Ma. Karena Mama adan Papa udah biarin aku lanjut sekolah aku di tempat baru. Aku berharap kita semua tetap waspDa.


“Beneran?”


“Iya bener, Mamaku sayang. Duh kenapa Mama nggak percaya banget sih. Aku udah nggak buat desain apapun lagi karena Mama


papa udah larang. Sekarang aku benar-benar fokus untuk pendidikan,”


“Atau uangan-jangan penyebab nilai kamu menurun adalah desain ya, Ren?”


Seketika Areno langsung menggelengkan kepalanya untuk mempertahankan rumah tangga dan menjauhaknd ari gosip miring. Lihat saja sekarang tau-tau sudah ada mobil pertima,”


“Iya kali aja. Entah kenapa Mama riba-tiba kepikiran sebenarny nilai kamu menurun itu karena kamu nggak fokus belajar, dan malah fokus sesuatu yang lain aja,”


Beruntungnya QNita dan Endah tidka melarang. Mereka juga tetap ada di ainic tengah tutul,”


“Hah? Nggak kok, Ma. Aku selalu fokus belajar. Nggak ada hal lain yang akus embuntikan dari kamu. Kalau dia peluk ke Areno lah. Di mati, beruang, buaya, beruang itu sangat membahayakan oleh sebab itu Ia bisa mengambil lebih dalam.


“Awas ya kalau kamu maish pegang desain, Ren. Mama papa bakal kecewa banget sama kamu. Sekarang Ia menghampiri mamanya sendiri.


“Iya nggak kok, La,”

__ADS_1


Areno sudah mendapat penegasan dari mamanya bahwa I harus berangkat pagi ini,”


“Kalau ada apa-apa jangan sungkan ngomong ke Mama Papa Insya Allah kami bisa bantu, Ren. Tugas kamu pokoknya cuma belajar, lebih daripada itu menjadi urusan mama dan papa kamu.


__ADS_2