Kisah Anak Farmasi

Kisah Anak Farmasi
Bab 48


__ADS_3

Gane telah selesai dilaksanakan, saatnya untuk melaksanakan ibadah sholat dzuhur berjamaah. Bagi yang beragama muslim dan tidak berhalangan.


Arani dan tiga sahabatnya kebetulan tidak ada yang berhalangan jadi mereka kompak mengikuti sholat berjamaah. Setelah itu, mereka semua dioersilahkan untuk makan siang.


“Abis capek teriak-teriak dukung mereka yang main game, waktunya ngisi bensin,” ujar Vevi setelah mereka mengambil makanan dan duduk bersama tiga sahabatnya


“Lo capeknya teriak doang, lah si Arani tuh capek main game nya, lari bolak balik ngambil karet,” ujar Syena.


Arani tertawa ketika diingatkan dengan momen perlombaan tadi. Benar-benar seru tapi cukup melelahkan juga sebenarnya.


“Kalau disuruh lagi buat main kayak tadi, gue mau lagi tau,”


“Dih emang nggak capek?”


“Capek sih, tapi ya seru aja gitu. Gue pengen lagi deh rasanya,”


“Tau nggak sih, gue dengar si Areno sekangatin lo, njir. Bukannya semangatin teman kelasnya dia ya. Eh malah semnagatin lo yang beda gelas. Emang rada-rasa tu bocah,” ujar Syena.


“Jujur gue nggak dengar, tapi kata dia sih dia emang semangatin gue terus dia disorakin sama teman-temannya,”


“Hahahaha rasain, lagian nggak adik banget. Dia anak kelas seberang, eh yang dia semangatin malah lo,” ujar Syena.


“Ya wajar lah, namanya juga pacar. Pasti yang didukung yang pacar, bukan yang teman,” sambung Defilla


“Tapi gue nggak membenarkan itu sih. Gue nggak kau dia jadi nggak menghargai teman sekelasnya. Ini ‘kan perlombaan antar kelas ya harusnya dia dukung teman sekelasnya karena temannya itu yang bawa nama kelas ‘kan. Nah kecuali kalau lomba antar sekolah dan kebetulan kelas lain perwakilannya baru deh dia boleh dukung karena intinya ‘kan satu skeolahan,” ucap Arani.


“Keren! Lo kasih tau dia kayak gitu?” Tanya Vevi.


“Iya udah gue omongin. Ya semoga aja dia paham,” jawab Arani.


“Nggak enak sama teman-teman sekelas dia jadinya ‘kan,” ujar Defilla.


“Nah itu dia, gue didukung sama teman sekelas sendiri juga nggak masalah kok. Daripada ada bete-betean mending dukung kelas masing-masing aja deh,”


“Eh tapi sebenarnya yang tadi ‘kan cuma game biasa doang, bukan game penting. Jadi nggak apa-apa juga sih dia mau dukung pacarnya. Toh cuma lomba mindahin karet pake sedotan. Lagian ya, kita tuh dukung orang yang emang pengen kita dukung, itu ‘kan hak masing-masing orang,”


“Iya gue tau, Vi. Tapi akan lebih baik dukung teman sendiri lah yang satu kelas sama dia. Nih ya, teman sekelas itu kayak keluarga sendiri ibaratnya. Kalau ada apa-apa, ‘kan yang bantu teman sekelas. Jadi harus saling dukung sama teman sekelas,”


“Nah bener, ntar dia kebiasaan kalau ada apa-apa yang libatin Arani, masa dia mau dukung Arani mulu, sedangkan teman sekelas dia butuh suport. Areno kebucinan tapi ya nggak gitu juga,” sahut Defilla.


“Hahaha emang aneh sih tu cowok,” ujar Syena sambil terkekeh dan geleng-geleng kepala.


Disaat mereka sedang makan, tiba-tiba Arani dihampir. Siapa lagi kalau bukan Areno orangnya.


“Hai, aku cuma mau mastiin kamu udah makan,”


“Nih udah makan, sendirinya kok nggak makan?”


“Udah ngambil, tuh di meja aku sama teman-teman aku,”


“Ya udah sana makan jangan ditinggal-tinggal makanannya, Areno,”


“Okay, kalau gitu aku balik ke meja, bye, oh iya abisin ya makanan kamu,”


“Tenang aja pasti habis kok,”


Areno menganggukkan kepala lantas bergegas kembali ke mejanya. Arani langsung menjadi bahan ledekan tiga sahabatnya itu.


“Cie-cie yang diperhatiin sampai segitunya. Jadi mau punya pacar juga deh,” ujar Defilla sambil menjawil dagu Arani.


“Cari gih,“


“Cari yang modelan Areno dimana, Ran? Yang mirip kayak dia maksud gue, bukan dianya. Jangan salah paham nih,”


“Nggak tau ya. Gue juga dapat nemu itu,”


“Heh! Anak orang tuh. Nemu-nemu, lo kira barang?”


Arani terkekeh mendapat ketika Defilla menegurnya sambil melotot. Ia tidak pernah mencari kekasih, tapi tiba-tiba dipertemukan oleh Areno si pemaksa. Jadi tidak salah ‘kan kalau Ia bilang hasil temuan.


“Care banget. Sampai mau mastiin pacarnya udah makan. Duh mau jungkir balik deh jadinya,” ujar Vevi.


“Lebay lo ah,”


“Iya, pengen guling-guling di lantai deh saking saltingnya liat Arani diperhatiin sama pacarnya,” sambung Syena yang makin gila lagi. Perkara melihat Areno perhatian pada Arani sampai kau guling-guling di lantai.


“Ini malah pengen guling-guling. Ya udah saja, asal nggak malu aja. Ntar pada ilfeel sama lo, Syen,”


Arani menikmati makanan bersama teman-temannya, tentunya sambil mengobrol sehingga tidak terasa tau-tau makanan dudah habis.


Arani ingat belum mengabari orangtuanya. Terakhir berkomunikasi saat Ia baru sampai di villa. Ia memberitahu bahwa Ia dan teman-temannya sudah sampai di villa dengan selamat.


Sekarang Ia akan memberitahu kalau Ia sudah sholat dan makan siang, habis sibuk dengan game juga.


Setelah berkomunikasi dengan orangtuanya, Arani memadamkan layar ponselnya dan Ia meletakkan ponselnya di atas meja dimana Ia makan bersama teman-temannya.


Tidak lama kemudian ponseknya bergetar ada panggilan masuk. Ternyata Ria yang menghubunginya.


“Assalamualaikum kok kakak nggak chat aku sih?”


“Eh iya lupa,”


“Ih orang udah aku bilang chat aku dong,”


“Lah ‘kan udah ngabarin ke Mama Papa,”


“Ya tapi ke aku belum,”

__ADS_1


“Ya udah maaf-maaf. Ini baru abis makan,”


“Nah gitu, laporan sama aku, Kak,”


“Hmm, kamu lagi ngapain?”


“Abis ngerjain tugas,“


“Mama Papa kemana?”


“Baru pulang abis dari rumah tetangga yang meninggal,”


“Innalilahi roji’un, tetangga blok mana, Dek?”


“Blok J, jadi Mama Papa ke sana untuk ngelayat,”


“Semoga kesalahannya diampuni, amal ibadah diterima dan masuk surga, Aamiin,”


“Aamiin, ya udah aku tutup ya teleponnya. Enjoy, Kakak! Abis ini mau ngapain?”


“Istirahat dulu, abis itu siap-siap buat api unggun deh kayaknya,”


“Nanti malam api unggungnya?”


“Nggak, tahun depan,” celetuk Arani asal dan itu mengundang decakan kesala adiknya.


“Ih kakak orang aku serius juga,”


“Ya nanti malam lah, masa tahun depan sih?”


“Seru banget mau ada api unggun. Pengen ikutan dong,”


“Ya udah ikut sini, tapi nanti pas pulang kakak tinggal kamu, biar di rumah kakak nggak ada teman berantem,”


“Oh jadi Kakak mau kehilangan aku ya?”


“Heheheh canda kok canda, baper amat. Nggak dong, kakak sepi kalau nggak ada kamu. Kakak ngaku tuh, nggak gengsi ‘kan?”


“Aku juga, sepi nih nggak ada kakak berasa mau nyusul deh aku. Tapi ngagk mungkin. Ya udah deh kakak enjoy ya di sana. Baik-baik ya, Kak,”


“Okay, Dek,”


Sambungan telepon berakhir. Ria langsung tersenyum pada mama dan papanya yang sedang menjadi temannya menikmati pizza.


“Aku udah telpon kakak. Senang deh rasanya,”


“Alhamdulillah, senang dong abis telepon kakak?”


“Senang banget, kakak abis makan katanya, terus sekarang istirahat dan nanti persiapan buat api unggun,”


“Iya makanya aku jadi pengen ikutan deh tapi ‘kan nggak mungkin,”


“Hahaha sabar, Sayang. Nanti kita kapan-kapan deh bikin api unggun ya, barengan sama Kakak,”


“Enaknya tuh di daerah-daerah yang dingin, Pa. Ya di puncak itu,”


“Iya, Sayang. Nanti ya kita kapan-kapan kalau ke puncak kita bikin api unggun,”


*******


“Cara nyusun kayunya gimana sih? Gue nggak ngerti tau,” keluh Vevi.


“Itu liat yang lain, ikutin aja udah,”


Nanti malam akan dibuat tiga api unggun, dibagi kelompok untuk menyiapkan semuanya, mulai dari memindahkan kayu dari truk pembawa kayu.


“Gue capek nih,”


“Ya ampun, baru juga disuruh nyiapin api unggun, gimana nanti kalau udah nikah lo, udah jadi istri. Beuh ngeluh mulu kali,” ejek Syena pada Vevi.


“Yee itu mah udah lain cerita lah. ‘Kan kalau udah jadi istri dan ibu, tandanya udah siap,”


“Nah kalau ini nggak siap?”


“Nggak, gue nggak pernah megang kayu,”


“Kalau lo tinggal di pedalaman, megang kayu mulu buat masak, Vi. Ini pengalaman buat kita. Ini malah maish mending cuma untuk api unggun, lah kalau yang di pedalaman itu ‘kan nyiapin kayu buat masak. Capek double tuh, udah harus nyiapin kayu, harus masak juga,” ujar Arani.


“Ya iya sih, lo bener,”


“Ya udah makanya jangan ngeluh, Sayang,”


“Arani, awas-awas!”


Arani memutar badannya hendak mengambil kayu lagi, namun tiba-tiba ada yang menabraknya dan semua kayu yang dibawa oleh teman yang menabraknya itu jatuh mengenai kakinya.


Arani spontan terjatuh karena kakinya kesakitan. “Duh, sakit banget,”


“Astaga, Ran. Sorry-sorry. Gue udah bilang awas tadi,”


“Ih Salsa! Lo telat ngomong awasnya, keburu Arani muter badan,” Vevi mengomeli Salsa yang benar-benar tidak sengaja menyakiti Arani.


“Udah jangan berantem, gue nggak baik-baik aja kok,”


“Baik-baik aja gimana? Itu kaki lo merah semua,”


Vebi, Syena, Defilla dan Salsa langsung menyingkirkan semua kayu yang menindih kaki Arani.

__ADS_1


“Astaga, maaf banget, Ran. Gue benar-benar nggak sengaja,”


“Iya santai aja, Sal. Gue nggak apa-apa kok,”


“Ada apa ini?”


Salah satu panitia menghampiri lima orang yang sedang berkumpul dan tidak melanjutkan tugas mereka. Tahu ada yang tidak beres maka dari itu mereka dihampiri.


“Ini, Kak, aku nggak sengaja jatuhin kayu ke kakinya Arani,”


“Nggak apa-apa, Kak. Nggak sakit kok,”


“Eh kamu abis ketimpa kayu, jangan dianggap sepele. Bentar ya, aku pangill teman aku untuk ngajak kamu ke klinik,”


“Kak, nggak usah. Aku baik-baik aja, ini cuma kecelakaan kecil yang nggak disengaaj. Aku juga teledor, Salsa nggak salah sepenuhnya. Dan aku nggak perlu dibawa ke klinik, kaki aku sehat kok,” ujar Arani yang masih duduk di bawah.


“Ya udah aku ambil minyak dulu deh,”


Panitia bernama Dewi itu langsung menghampiri teman-temannya yang sedang memantau.


Guys guys guys, Arani kena timpa kayu, minta minyak yang bisa ngeredain sakitnya ada ‘kan?”


Informasi dari Dewi tidak sengaja didnegar oleh Areno yang langsung merasa cemas. Ia segera menghampiri Arani yang masih terduduk.


“Ran, kamu kenapa? Kaki kamu ketimpa kayu itu benar?”


“Eh kok di sini? Sana jalanin tugas bukan di sini,”


“Kamu jawab dulu. Beneran kaki kamu ketimpa kayu,”


“Iya tapi nggak apa-apa kok,”


“Kenapa kamu nggak hati-hati sih, boleh kerja, tapi jangan bahayain diri sendiri gini, Ran,”


“Ini gara-gara gue nggak sengaja, Areno. Jangan nyalahin Arani,”


“Lo yang jatuhin kayunya? Beneran nggak sengaja?”


Arani langsung menegur kekasihnya itu supaya menjaga ucapan. Areno tidak seharusnya bicara seperti itu. Mana mungkin Salsa sengaja menyakiti temannya sendiri. Arani percaya kalau Salsa tidak senaja. Memang kejadiannya begitu cepat. Tidak ada yang di sengaja dalam kehadian ini.


“Ya masa gue sengaja sih, Ren? Nggak mungkin kah. Gue udah ngomong awas-awas tapi keburu Arani putar badannya jadi yang gue bawa jatuh semuanya karena gue sama Arani tabrakan,”


“Ya udah gue minta maaf. Gue nggak maksud nuduh lo kok. Cuma gue mau kastiin aja lo beneran nggak sengaja atau gimana? Maksud gue kalau lo ada masalah sama Arani ‘kan bisa diselesain baik-baik,”


“Gue nggak ada masalah apa-apa. Ini emang musibah,”


“Udah, Areno. Daripada kamu di sini mendingan kamu bantu-bantu lagi tuh,”


Dua perempuan yang menjadi panitia datang menghampiri Arani dengan membawa kompres dan juga obat balur.


“Tahan ya kalau agak sakit dikit. Kamu ‘kan nggak mau dibawa ke klinik, jadi ya harus kita obatin di sini,”


“Iya makasih banyak, Kak,”


“Yang lain, lebih hati-hati lagi ya. Arani baru aja kecelajaan kecil nih,”


Dewi berpesan pada teman-teman Arani baik yang satu kelas maupun beda kelas, yang sedang bergotong royong mempersiapkan api unggun supaya mereka lebih hati-hati ketika melaksanakan tugas.


“Siap, Kak,” jawab mereka semua.


“Kalian lanjut nugas aja lagi, gue nggak apa-apa kok, nggak usah khawatir,” ucap Arani pada tiga sahabatnya, Areno dan juga Salsa.


“Kak, izin nugas lagi,” ujar Vevi pada dua panitia yang langsung menganggukkan kepalanya.


“Iya silahkan, hati-hati ya, santai aja ngerjainnya jangan buru-buru yang akhirnya malah nyelakain diri kalian sendiri,”


“Iya, Kak,”


“Arani, gue lanjut nugas lagi ya, sekali lagi gue minta maaf banget. Gue nggak sengaja sedikitpun,”


“Iya, Salsa, nggak usah minta maaf, santai aja,”


Salsa tersenyum dan menggenggam tangan Arani sebentar sebelum akhirnya Ia bergega smelaksanakan tugasnya lagi. Dan yang maish bertahan di dekat Arani adalah Areno. Padahal sudah jelas Arani mempersilahkan meIa untuk bertugas, begitupun panitia.


“Kamu kenaoa masih di sini, Ren?” Tanya Dewi. Sebelum Arani yang bertanya, sudah Dewi yang mewakilkan.


“Mau liat Arani dulu,”


“Ngapain diliatin? Udah tinggal aja,”


“Tapi saya khawatir, Kak,”


“Tenang aja, Arani nggak apa-apa kok Insya Allah,”


“Nggak usah ngeliatin, Areno. Sana pergi, nugas!” Ucap Arani dengan lugas sambil kenggerakkan kepalanya menyuruh Areno untuk pergi.


“Beneran nih nyuruh aku pergi, Ran?”


“Ya iyalah, kamu nggak ngapa-ngapain kalau di sini,”


“Ya udah, emang kamu paling nggak bisa liat orang nganggur kayaknya,”


“Iya dong, apalagi cowok,” ujar Arani seraya tersenyum. Dan ucapan Arani itu mmebuat Dewi dan temannya terkekeh.


“Okay aku pergi dulu kalau gitu, lanjut nugas,”


Arani menganggukkan kepalanya membiarkan sang kekaish melaksanakan kewajibannya. Sementara kakinya masih diobati.

__ADS_1


__ADS_2