
“Eh tau nggak sih Laura pindah lho, nggak di sekolah kita lagi,” ujar Areno ditengah makan siangnya bersama Arani di kantin.
“Oh ya? Sejak kapan?”
“Mulai hari ini,” jawab Areno sambil terlekeh.
Arani menganggukkan kepalanya. Pernah ada konflik dengan Laura beberapa hari lalu karena Laura tak sengaja menumpahkan kuah bakso dan tidak minta maaf malah marah-marah tidak menjadikan Arani sekarang senang mendapat kabar dari Areno bahwa Laura pindah sekolah lagi. Padahal bisa dibilang, dia adalah anak baru di sekolah.
“Kok bisa dia pindah? Maksud aku, emang sebabnya apa?”
“Nggak tau juga deh, Ran. Aku nggak ngrusin. Aku juga taunya dari wali kelas aku sih,”
Arani menganggukkan kepalanya paham lantas menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya.
“Ntar aku nggak pulang bareng sama kamu dulu ya, soalnya aku mau kerjain tugas kelompok di rumah Defilla,”
“Hah? Hari ini?”
“Nggak, taun depan, terus taun depannya lagi,” jawab Arani dnegan nada sebal dan itu mengundang tawa Areno.
“Hahaha ketus amat sih cantik,”
“Ya abisnya udah aku bilang tadi di awal,”
“Di rumah siapa?”
__ADS_1
“Defilla,”
“Tanya sekali lagi, aku teriakin nih,”
Areno kembali tertawa mendengar ucapan Arani yang tentu tidak serius. Arani itu hanya kesal kalau Ia tidak bisa langsung dengar atau paham ketika mengucap pertama kali. Arani adalah tipe orang yang malas mengulang.
“Aku antar ya?”
“Eh nggak usah. Aku sama Defilla, Syena, Vevi dari sekolah langsung ke rumah Defilla,”
“Oh kalian berempat satu kelompok ya?”
“Yup, betul,”
“Terus ntar kamu pupang sama siapa?”
“Aku aja yang jemput gimana?”
“Hah?”
“Iya aku aja yang jemput dari rumah Defilla terus aku antar deh ke rumah kamu, boleh ‘kan?”
“Ya udah boleh deh,”
Aremo menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Ia sena g karena Arani tidak menolak ketika Ia bersedia menjemput Arani di rumah Defilla nanti dan Ia mengantarkan Arani ke rumahnya.
__ADS_1
“Tapi rmangnya kamu nggak sibuk? Lagi nggak ada tugas atau desain gitu?”
“Nggak kok, aku kosong,”
“Beneran nggak nih? Jalau sibuk ya bggak usah lah. Aku gampang bisa pulang sama siapa aja, Ren,” ujar Arani yang tidak mau merepotkan Areno. Ia bisa meminta tolong pada kedua orangtuanya atau supir di rumah.
*****
“Ih si Areno kenapa nggak jawab-jawab telepon sama chat sih? Dia kemana coba? Kayanya mau jemput,”
Arani menggerutu ketika waktunya pulang, dan Ia menunggu Areno menjemputnya tapi ternyata Areno susah dihubungi padahal Areno sendiri yang mau menjemputnya.
“Eh Ran, lo pulangs ama Areno ‘kan?”
“Iya,” jawab Arani setelah Syena bertanya kepadanya.
“Dia udah okay?”
“Tadi di sekolah dia bilang kalau dia yang mau jemput gue tapi sekarang belum datang dan gue telepon sama chat nggak ada jawaban. Nggak tau deh itu kemana. Gue udah capek lagi pengen istirahat eh dia nya nggak nongol-nongol,”
“Ya udah balik sama gue sama Vevi aja,” ajak Suena.
“Tapi kalau dia datang terus gue nya udah nggak ada di sini gimana?”
“Ya bilang aja lo udah balik sama gue, bilang sekarang,”
__ADS_1
“Tapi nggak enak. Gue udah iyain tadi, takutnya dia udah di jalan gitu ‘kan,”
“Cie yang nggak mau bikin pacarnya kecewa,”