Kisah Anak Farmasi

Kisah Anak Farmasi
Bab 106


__ADS_3

“Tadi bilangnya lagi sama teman-teman, tapi ternyata lagi sama yang lain. Jadi yang mana nih yang benar? Pengakuan kamu atau apa yang aku liat barusan?”


Arani tak sengaja melihat Areno di sebuah restoran. Arani datang sendiri setelah pulang sekolah. Ceritanya, Ia ingin me time. Tiba-tiba matanya tak sengaja melihat keberadaan sang kekasih bersama Nara. Ia biarkan saja, sampai kemudian Nara pergi. Dan Ia pangsung menghampiri Areno dengan wajah santainya dan itu kedatangannya berhadil membuat Areno terkejut.


“Astaga, Ran. Kaget aku, kok tiba-tiba kamu di sini?”


Arani hanya tersenyum tipis saja. Padahal sebelumnya Areno bilang kalau Ia sedang bersama teman-temannya tapi ternyata yang Arani lihat, Areno bersama Nara. Mereka hanya berdua saja. Maka dari itu, Ia langsung membahasnya.


“Emang aku barusan sama teman-teman aku kok, Ran. Cuma merekq udah balik duluan. Jadi kan ceritanya aku lagi nongki sama trman aku ya, nah tiba-tiba si Nara gabung. Kebetulan dia lagi mampur juga di sini terus gabung deh sama aku dan teman-teman aku. Nah mereka pulang, tinggal si Nara,”


“Hmm?”


Melihat Arani mengangkat salah satu alisnya dan dari wajah tampak meragukan, akhirnya Areno terkekeh.


“Kamu nggak percaya nih ceritanya? Aku serius lho. Aku emang sama teman-teman aku. Nih ya aku chat mereka buat nanya,”


“Eh nggak usah-nggak usah. Kamu nggak perlu lakuin itu, Areno. Ya, aku percaya kok. Jadi kamu nggak usah sampai hubungin teman-teman kamu lho, ntar yang ada kamu diledekin,”

__ADS_1


“Dih nggak lah, santai aja. Kayak mereka nggak pernah bucin aja,”


Melihat Areno mengambil ponsel dari saku celana, Arani langsung menahan tangan Reno dan itu membuat Areno segera menatapnya sambil bertanya “Kenapa sih?“


“Jangan ngapa-ngapain udah! Kamu nggak perlu hubungin teman-teman kamu. Kan aku udah bilang barusan. Aku percaya kok,”


“Nggak, Ran. Nih ya biar kamu percaya tadi tuh aku sama teman-teman aku, nah tiba-tiba di Nara datang terus dia ntamoerin dan ikut gabung deh. Aku pikir ya nggak masalah, dia ‘kan teman aku, teman sekolah maksudnya, teman sekolah ksmu juga, teman sekolah teman-teman aku juga jadi ya udah tadi dia dibiarin gabung rerus ikut ngobrol-ngobrol. Nah teman-teman aku balik duluan, tinggalah dia sama aku. Tapi itupun nggak lama kok. Dia nyusul pulang juga,”


“Ya udah aku percaya jadi ngapain sih harus hububgin teman kamu segala? Nggak perlu tau,”


Areno lansgung membuka riwayat chat grupnya bersama teman-temannya yang tadi sempat membuat kesepakatan untuk bertemu di tempat saat ini. Mungkin dengan menunjukkan itu, Arani bisa percaya.


“Nih liat deh room chat di grup,” ujar Areno seraya menyerahkan ponselnya kepada sang kekasih.


Setelah itu Areno juga bertanya di grup dengan kalimat yang singkat saja walaupun Ia yakin itu akan menimbulkan kebingungan teman-temannya. Tidak masalah, yang penting Arani percaya.


-Eh tadi kita abis darimana?-

__ADS_1


-Aneh lu, kenapa nanya gitu? Lupa ingetan apa gimana?-


-Udah jawab aja-


-Ya resto lah-


Yang menjawab adalah Dafa. Setelah mendapat jawaban dari Dafa, Areno langsung menyerahkan ponselnya kepada sang kekasih lagi.


“Tuh liat deh,”


Arani lagi-lagi diberikan bukti yang membuatnya semakin percaya. Arani menganggukkan krpalanya lalu menatap Areno yang tersenyum.


“Bener ‘kan? Aku tuh nggak jalan sama Nara. Ya kali jalan berdua sama dia,”


“Dih yang ngomong gitu siapa? Yang aku sindir barusan tuh kamu bohong. Bilang sama teman ternyata yang aku liat sama Nara,”


“Tapi kenyataannya nggak bohong ‘kan? Cuma salah paham doang. Kamu tuh kebetulan ngeliatnya si Nara doang, karena teman-teman aku udah pada cabut,”

__ADS_1


__ADS_2