
Areno tidka bisa menyembunyikan raut kebahagiaannya usai dua kali dihubungi oleh Arani. Pertama saat Ia masih di jalan pulang. Arani bertanya Ia sudah dimana? Apa masih lama smapai rumah. Lalu yang kedua tak lama Ia sampai di rumah Arani kembali menghubungi untuk menyuruhnya istirahat, tak lupa makan dan juga minum obat.
Arani yang biasanya cuek, bis aperhatian juga ternyata. Terlalu senang mendapatkan perhatian Arani sampai Areno kepikiran mau sakit terus, tapi setelah Ia sadar kalau keinginannya itu adalah hal bodoh, Ia langsung berucap istighfar. Disaat orang lain menginginkan badan yang sehat, tanpa penyakit, Ia malah sempat-sempatnya mau sakit terus demi mendapatkan perhatian dari kekasihnya. Itu benar-benar bodoh.
Keluar dari kamar pun Areno tidak bisa menghentikan senyumnya sampai sang mama bingung.
“Kenapa turun-turun senyum begitu?”
“Mau makan, Ma,”
“Ya udah makan dari tadi Mama suruh makan nggak nurut, mau diantar ke kamar katanya bakal turun eh udah sejam dulu baru turun,”
“Main game bentar tadi, Ma,”
“Iya terus aja lanjutin main game nya. Bikin kamu jadi cepat kaya, atau sukses juga nggak bakalan. Yang ada malah bikin waktu habis,”
Areno terkekeh sudah biasa mendengar mamanya menegur soal Ia yang gemar sekali sibuk dengan game.
Areno akan mengambil nasi dan lauk pauk, diawasi oleh mamanya yang ingin memastikan Areno makan dengan benar setelah sebelumnya Qanita mengambilkan obat untuk anaknya itu.
Areno tak jadi mengambil makanan karena mendengar suara bel. Areno dan mamanya langsung saling menatap satu sama lain.
“Siapa itu ya, Ma?”
“Ya mana Mama tau. Coba Mama cek dulu,”
“Aku aja deh, Ma,”
“Eh kamu ‘kan mau makan. Udah makan aja sana,”
__ADS_1
Akhirnya Areno duduk lagi padahal sebelumnya Ia sudah bersnjak dari kursi yang Ia duduki karena ingin menemui tamu yang datang.
****
Setelah Qanita membuka pintu, ternyata ada dua orang gadis yang wajahnya mirip. Di tangan salah satu dari mereka membawa parsel buah, dan satu lagi membawa kotak cake.
“Assalamualaikum, Tante. Maaf ganggu waktunya. Ini aku bawain buah sama kue buat Areno semoga dia suka,” ujar Arani seraya menyerahkan satu persatu yang Ia dan adiknya bawa ke rumah Areno.
“Waalaikumsalam, ya Allah, makasih banyak ya, Nak. Kebetulan Areno lagi makan tuh. Masuk dulu yuk,”
“Maaf, Tante. Lain kali aja ya, soalnya aku sama adek mau langsung pulang,”
“Oh begitu, kenapa buru-buru?”
“Soalnya kata Mama nggak perlu lama, langsung pulang biar nggak ngerepotin,” jelas Arani seraya terkekeh meringis. Entah salah atau tidak Ia menyampaikan alasan seperti itu tapi yang jelas apa yang Ia sampaikan adalah kejujuran.
“Kami langsung pulang ya, Tante,”
“Iya, sekali lagi makasih banyak, semoga makin berkah, salam untuk Mama Papa ya,”
“Siap, Tante nanti aku sampaikan. Aku pamit dulu, Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam, hati-hati ya, Nak,”
Setelah Arani dan Ria mencium punggung tangan Qanita, barulah mereka langsung naik motor dan pergi.
Qanita langsung membawa apa yang dibawakan Arani dan adiknya barusan ke meja makan, tentu anaknya langsung bingung.
“Ma, itu dari siapa?”
__ADS_1
“Dari pacar kamu,”
“Hah? Maksudnya Arani ya, Ma?”
“Heh! Memangnya pacar kamu ada berapa? Jangan macam-macam kamu ya!”
Areno terkekeh mendengar peringatan dari mamanya. Padahal Ia bertanya seperti itu untuk memastikan saja, barangkali mamanya salah bicara.
“Arani, Ma?”
“Iyalah, Areno. Masa iya yang lain, kamu harusnya jangan tanya kayak gitu kalau merasa punya pacar cuma satu,”
“Astaga, Ma aku cuma punya satu pacar doang. Aku nanya gitu untuk mastiin aja, Ma,”
“Ya bagus kalau begitu. Nggak boleh ya kamu macam-macam. Kalau memang nggak sayang lagi, nggak nyaman lagi ya putus baik-baik jangan malah cari yang baru disaat masih sama yang lama,”
“Iya, Mama. Tenang aja, aku orangnya setia
“Okay Mama pegang omongan kamu. Ngomong-ngomong tadi Arani datang ke sini sama adiknya,”
“Oh ya?”
“Iya, mereka perhatian banget. Cewek-cewek kakak beradik kompak nganterin ini. Kamu harus bersyukur, pacar kamu dan calon adik ipar kamu baik,”
“Cie calon adik ipar hahaha,” Areno tertawa setelah mengulangi perkataan mamanya.
“Lah ‘kan emang calon adik ipar. Semoga nggak cuma calon tapi ke depannya benar-benar bisa jadi adik ipar kamu,”
“Aamiin, semoga jodohku Arani,”
__ADS_1