
“Eh Ren, coba lo telepon cewek lo. Dia bakal jujur nggak ya kita-kira,”
“Jujur soal apaan?”
“Ya jujur kalau dia lagi sama nyokapnya dan satu cowok yang kita nggak kenal. Lo nggak kenal ‘kan tuh sama cowok yang sekarang lagi sama Arani?”
Ya kalo gue kenal gua nggak bakal merasa cemburu kayak gini dong gua nggak tahu cowo siapa tapi kayaknya temannya Aran kali atau anak teman nyokap nya Rani udah lah biarin aja nggak usah dibahas mereka mungkin lagi mau bahas suatu hal yang penting dan gua rasa gua nggak perlu tahu karena Arani aja nggak mengajak gua nggak cerita ke gua ya artinya gua nggak perlu tahu lah,”
Ketiga teman arena tersenyum mendengar ucapan are no ternyata are no bisa mengendalikan rasa cemburu nya Dani langsung menepuk bahu Areno dan mengacungkan ibu jarinya.
“Bagis deh lo nggak langsung cemburu gitu ya emang ada baiknya ditanyakan dulu lah benar kata lo barangkali itu temannya Arani atau anak nyokapnya Arani dan mereka mungkin juga nggak sengaja ketemu jadi ya lo nggak harus cemburu lah,”
Mereka fokus makan tapi mata are no sesekali akan melirik ke arah arani mamanya dan satu laki laki yang tidak dikenali oleh karena itu.
Sejujurnya Areno tidak cemburu hanya saja Areno bingung siapa sosok laki laki itu, kenapa mereka bertemu, dan kira kira apa yang mereka bahas tapi Areno rasa kalau Ia mencari tahu tentang itu semua, Arani akan merasa tidak nyaman.
Setelah makan Areno menghabiskan air minumnya kemudian Areno membersikan sudut mulutnya menggunakan tisu setelah itu are no langsung bergegas meninggalkan kursi menuju kamar mandi karena ia ingin buang air kecil.
Setelah iya keluar dari bilik kamar mandi dia tidak sengaja bertemu dan dengan seorang laki laki yang tadi Ia lihat bersama Arani dan juga mamanya Arani Ia tersenyum tipis lalu iya pergi laki laki itu tidak mau menanggapi senyum Reno karena laki laki itu tidak merasa bahwa dirinya kenal dengan Areno.
Areno kembali duduk ditempatnya bersama teman temannya mereka sudah menghabiskan makan minum sekarang hanya mengobrol tapi sejujurnya arena tidak benar benar fokus mengobrol karena matanya sesekali akan melirik ke arah arani yang tiba tiba saja mengeluarkan ponsel nya lalu terlihat mengetik sesuatu di layar ponselnya tersebut dan tidak lama kemudian ponsel Areno bergetar, Areno langsung meraih ponsel nya yang ada di dalam saku celana kemudian Ia melihat ada pesan masuk dari arani setelah Ia buka pesan masuk itu ternyata Rani sedang menanyakan keberadaannya.
-Ren kamu di mana?-Tanya Arani.
Areno langsung tersenyum senang membaca pesan dari Arani tidak biasanya Aranu mengirimkan pesan seperti itu apakah ini pertanda bahwa Aranu akan cerita bahwa saat ini arani sedang bersama mamanya malam juga laki laki yang tidak Areno kenal kalau Areno cerita karena akan lebih senang.
Are no langsung mengetik balasan untuk pesan yang baru saja ia terima dari itu Ia menjawab -aku lagi di restoran, Ran-
-Oh restoran mana?- tanya Arani.
-Ada deh kamu sendiri lagi di mana?-
Lalu tidak lama kemudian arani membalas pertanyaan Areno itu. Are no tersenyum ketika mendapat balasan pesan dari arani yang mengatakan bahwa sekarang Arani lagi berada di restoran.
-Sama siapa?- tanya Areno.
-Sama mama aku- Tidak lama kemudian arani sudah mengirimkan jawaban tapi Areno tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh arani karena menurutnya masih kurang yang Ia yang Ia lihat sekarang adalah Arani tidak hanya bersama mamanya saja melainkan dengan satu orang laki laki asing yang tidak Areno kenali.
-Oh terus sama siapa lagi tanya Areno lagi-
Arani sempat mengerut kan Kening nya karena ia merasa bingung tiba tiba Areno bertanya seperti itu seolah Areno tahu bahwa ia sedang bersama dengan satu orang lainnya, Ia tidak hanya bersama mamanya saja.
-Sama anaknya teman mama nih tadi nggak sengaja ketemu pas mau masuk resto-
-Oh cewek atau cowok?-
-Kenapa nanya gitu sih aneh banget jangan jangan kamu liat aku ya hahaha kamu mata-matain aku ya? Jujur aja deh sekarang-
Are no tersenyum membaca pesan dari araniArani yang ternyata sudah tahu bahwa iya tengah memata-matai tapi itu terjadi secara tidak sengaja.
Areno bahkan hampir saja tidak tahu bahwa ia berada di tempat yang sama dengan kalau saja temannya yaitu tidak memberitahu bahwa ada arah siapa tahu kalau dia ada di tempat yang sama dengan arah kamu juga tidak bisa tahu kalau arani sedang makan bersama mamahnya dan juga anak dari teman mamanya.
-Ha ha ha ha kok kamu tahu coba tebak aku duduk disebelah mana?-
Melihat Areno senyum senyum sendiri sambil menatap layar ponselnya tentu saja tiga teman Areno itu mengerutkan kening mereka masing masing mereka bingung karena Arenk tersenyum menatap ponsel seolah sedang melihat sesuatu yang membahagiakan padahal di seberang sana kekasihnya sedang makan dengan laki laki lain dan juga mamanya.
“Woi lo kenapa senyum senyum?” tanya Dani.
Argantara terkejut ketika Dani tiba tiba saja melemparkan gumpalan tisu ke arahnya. Harga antara langsung melotot tajam ke arah dan sambil menunjuk dan dengan telunjuk kanannya “Eh Dan kurang asem lo ngapain lo lempar lempar tisu ke gue?”
“Iya abisnya lo senyum senyum ke orang benar aja loh kenapa sih kalo senyum senyum sendiri lo sehat ‘kan? kalau udah mulai nggak sehat mending pulang atau nggak, gue antarin ke rumah sakit yuk,”
“Gue sehat lagi gila lo masa iya gue gila ha ha asal lo tahu ya gue tersenyum tanda baca chatnya bukan karena gue gila sinting lo ah!”
Tentu saja penjelasan Areno itu membuat tiga temannya merasa penasaran alih-alih kesal Areno justru tidak terjadi kesalahpahaman antara Areno dengan arani.
“Emang apa yang ngobrolin sama arani?” Tanya Adib yang penasaran sekali dengan topik obrolan Areno dan juga Arani.
“Idih najis kepo banget ini itu urusan gue sama arah ngapain nanya nanya gua mau senyum kek mau nangis ke urusan gua itu,”
Mendengar jawaban Areno, Adib langsung tertawa wajar saja ia bertanya karena Ia benar benar bingung sebenarnya apa yang sudah membuat Areno tersenyum menatap layar ponselnya.
“Berarti Areno sama Arani nggak berantem tuh,” ujar Dani lalu Areno langsung menjawab
“Ya emang nggak berantem gua ngapain berantem sama Arani? orang gak ada masalah apa apaan dia udah jelasin kok kalo dia lagi makan sama nyokapnya terus nggak sengaja ketemu sama anak nyokapnya jadi ya udah cuma sebatas itu doang,”
Tentu saja ketiga temannya itu langsung kompak meledek Areno
“Cie yang nggak jadi cemburu hahaha untung aja ya lo belum marah-marah ternyata emang mereka nggak sengaja ketemu,”
Tidak lama kemudian masuk lagi pesan yang dikirimkan oleh Arani yang ternyata masih penasaran sebenarnya posisi Areno saat ini ada di mana.
-Jangan jangan kamu beneran ada di dekat aku ya sekarang kamu ada di mana lagi coba dong tunjukkin muka kamu jangan ngumpet-kata Arani dalam pesannya.
Areno langsung membalas dengan kalimat -siapa yang ngumpet? orang aku dari tadi aku di sini coba cari yang benar,”
Arani langsung mengedarkan pandangannya kepalanya ke kanan ke kiri dan ke belakang iya berusaha mencari keberadaan are no tapi matanya tidak berhasil menemukan posisi Areno.
-Sebenarnya kamu di mana sih kok aku nggak bisa nemuin kamu?-
-Ayo coba tebak lah masa nanya sih coba tebak tebak aku di mana hahahaha- Areno senang sekali membuat Areno jadi penasaran sekaligus kesal.
Arani Berdecak pelan hal itu membuat mamanya penasaran lalu namanya itu bertanya
“kenapa kak? kamu lagi ngelihatin apa? kenapa kelihatan kesal?”
Arani langsung terkekeh salah tingkah dan canggung kemudian Ia mengedarkan pandangannya lagi alih-alih menjawab pertanyaan sang mama, Arani kembali sibuk mencari keberadaan arena yang iya kini berada di sekitarnya karena dari balasan pesan Areno, Ia sudah bisa menebak hal itu.
“Ran, kamu ngelihatin apa sih?”
Mendengar pertanyaan sang mama, Arani langsung menatap mamanya itu. Ia segera memberikan jawaban “Ini loh mama kayaknya Areno ada di sini juga deh tapi kok aku nggak bisa temuin ya,”
“Hah karena ada di sini juga coba kamu tanya benar atau nggak kalo emang benar ya suruh gabuung aja di sini biar kita makan bareng bareng ujar Helen kepada anaknya Arani langsung menganggukan kepalanya dan iya kembali mengirimkan pesan untuk arena yang entah di mana keberadaannya.
-Kamu sebenarnya di mana? ada di tempat yang sama kaya aku ya? kata mama aku kalo emang benar, kamu ke sini aja gabung kita makan bareng bareng-
Areno langsung tersenyum membaca pesan dari arani kemudian Ia segera membalas pesan Arani, Ia hanya tidak ingin mengganggu waktu Arani bersama mamanya ya putuskan untuk tetap bertahan di posisinya saja, Ia tidak mau bergabung dengan Arani, mamanya dan juga anak dari teman mamanya itu, lagi pulaIa juga tidak enak kalau meninggalkan ketiga temannya.
-Kamu lanjut makan aja nggak usah cari aku lagi ya nanti kita lanjut ngobrol udahan dulu ya bye-
-Loh kok gitu sih aku tuh penasaran kamu sebenarnya di mana? Tapi kayaknya beneran ya kamu ada di resto yang sama kaya aku sekarang gabuung aja sih kan mama aku juga udah bilang gitu-
Areno yang membaca pesan dari Arani itu hanya tersenyum saja Ia tidak ingin bergabung, Ia memiliki untuk duduk bersama teman temannya saja karena tidak enak juga meninggalkan mereka. Tadi mereka datang bertiga niatnya ingin makan bertiga juga jadi Ia tidak mau tiba tiba pergi meninggalkan meja.
“Lo diajakin gabung sama Arani, Ren?” Tanya Dafa pada Areno yang langsung menjawab dengan anggukan kepalanya.
“Ya udah ke sana aja jangan sama kita kita dulu,” Ujar Dani kepada are no yang lagi lagi menolak dengan menggelengkan kepalanya Areno ingin tetap bersama teman temannya walaupun saat ini iya bisa saja bersama dengan Arani karena kebetulan posisi Arani berada di satu tempat yang sama dengannya.
“Nggak ah, gue mau di sini aja dama kalian. Biarin aja Arani lagi quality time sama mamanya,”
__ADS_1
“Tapi ‘kan ada si cowok itu,”
“Ya udah biarin aja gue nggak mau ikut campur,” jawab Areno dengan santai sambil melipat kakinya.
“Nanti lo bisa kenalin deh diri lo siapa,”
Mendengar ucapan Adib tentu saja Areno bingung maksudnya Ia harus berkenalan dengan siapa dan Ia harus menyebut dirinya sebagai apa ya tidak paham dengan ucapan Adib.
“Gimana sih maksudnya? Gie kenalan sama siapa? ‘Kan gue udah kenal sama lo pada,”
“Ya elah bukan itu maksud gue, Ren. Nih ya, kalau lo gabung di mejanya Arani, lo ‘kan otomatis bakal ketemu sama cowok itu, dan lo kenapan aja sama dia. Ntar lo bilang deh kalau lo itu pacarnya Arani. Jadi, kalau mislanya dia mau deketin Arani, ya dia udha mikir ribuan kali dulu. Yang penting dia tuh tau kalau lo pacarnya Arani,”
“Kenapa mikirnya kayak gitu sih, Dan?” Tanya Argantara dengan kedua mata yang memicing ke arah Dani.
“Ya nggak apa-apa sih, gue takutnya diq naksir aja sama cewek lo,”
“Ya nggak lah gila, maksud gue belum tentu. Jangan langsung nilai kayak gitu. Orang si Arani nya aja bilang itu anak dari teman nyokapnya,”
Tiba-tiba Dafa menjentikkan jarinya tepat di sepan wajah Areno. Dan itu membuat Areno terkejut juga bertanya tanya Areno langsung menggerutu “kenapa sih? bikin kaget aja lo, Daf,”
“Jangan jangan karena dia anak dari teman mamanya Arani bisa jadi itu cowok bakal dijodohin sama arani keren hahaha siap-siap patah hati lo, Ren,”
“Ah elah lo tuh jangan ngomong yang aneh aneh deh bikin gua mikir negatif aja orang arani udah bilang mereka nggak sengaja ketemu,” Areno menatap Dafa dengn sorot matanya yang kesal. Areno merasa diuji sekarang. Punya teman yang suka membuat suasana tegang memang sulit sekali. Bukannya dibuat berpikir positif, yang ada malah dibuat berpikiran negatif.
“Wah iya nih kayaknya mau dijodohin fix dijodohin,”
Areno langsung Menggelengkan kepalanya dengan perasaan panik tidak iya tidak mau kalah sampai arani dijodohkan oleh siapa pun itu karena iyalah kekasihnya arani jadi tidak boleh ada yang memiliki Arani kecuali orang tuanya dan juga keluarganya.
“Eh coba dong lo jawab kalau misalnya nih Arani dijodohin sama laki laki itu atau siapa pun itu gimana tanggapan lo padahal posisinya lo itu pacarnya Arani,”
“Gua samperin terus gua marahin lah,” saja jawaban arena itu mengundang tawa teman temannya Areno yang dengan tegas mengakui kepemilikannya atas Arani dan itu manis sekali ketika didengar dengan lantangnya Areno mengatakan bahwa iya akan memarahi siapa pun yang mendekati Arani karena Arani itu adalah kekasihnya.
“Buset Posesif amat, itu kan perjodohan ya nah biasanya perjodohan itu kan dibuat sama orang tuanya masa iya lo bakal marah ke orang tanya Arani hahaha nggak mungkin lah,“
“Gue bakal ngomong baik-baik dulu sebelumnya, gue nggak marah ke mereka cuma kecewa aja. Karena apa? Mereka ‘kan udah tau gue itu pacaran sama anaknya mereka. Gue cuma pengen tau aja alasan mereka jodohin Arani,”
“Ya karena ada hubungan sahabat sih biasanya,”
“Udah ah kenapa jadi ngomongin ginian sih? Nggak penting, njir,”
“Penting lah, kata siapa nggak penting? Kita cuma pengen tau tanggapan lo,”
“Ya elah, udah kayak artis aja gue dimintain tanggapan,”
Mereka sama-sama terkekeh. Tapi Areno langsung sigap mengambil ponsel dari saku celananya dan berhenti terkekeh. Ia membaca pesan yang dikirimkan oleh Arani.
-Yakin nih nggak mau gabung aja?-
-Nggak, Ran. Udah nikmatin quality time kamu ya-
-Ok, kalau mau gabung ya gabung aja. Tapi sebenarnya kamu dimana sih? Aku penasaran deh, belum ketemu nih aku. Banyak laki-laki di sini, jadi aku dusah banget untuk ngenalin kamu, Ren-
-Nggak usah dicari. Ngapain nyari aku sih?-
-Ya karena aku penasaran aja gitu, kamu senenarnya dimana?-
-Di hati kamu eakk-
Arani mendnegus ketika membaca pesan dari kekasihnya itu. Bukannya menjawab malah menggombal. Dasar laki-laki.
“Arani, masih suka baca buku nggak?” Tanya Gibran yang langsung membuat Arani menatap ke arahnya. Menganggukkan kepalanya sambil menjawab “Hmm? Masih dong, kalau sempat aku bakal baca buku,”
“Iya boleh kok, atur aja kapan waktunya,”
“Kalau besok bisa?”
Arani langsung mengangkat salah satu alisnya mendengar ajakan Gibran arani pikir waktunya tidak besok tapi ternyata Gibran langsung mengajaknya ke toko buku Arani rasa Ia belum bisa menjawab untuk saat ini maka dari itu Ia tersenyum menatap Gibran.
“Nanti aku pastikan dulu ya Gibran soalnya aku takut besok ada tugas kelompok atau aku ada urusan sekolah yang harus aku selesaikan aku belum bisa janji ya tapi yang jelas kita bakal ke toko buku kok kebetulan koleksi novel aku juga udah menipis nih,”
Mendengar jawaban Arani Gibran langsung tersenyum senang dan menganggukan kepalanya Gibran tidak masalah kalau belum bisa esok hari yang terpenting Ia bisa ke toko buku bersama Arani.
“Iya kalian sesekali pergi keluar jangan lupa ajak Areno juga Rakan supaya makin seru kan lebih ramai itu. Berhubung Gibran baru balik dari Bandung ke sini jadi emang enaknya itu jalan jalan dulu di sekitar sini supaya terbiasa lagi Gibran,”
“Iya Tanta makanya aku mengajak arani ke toko ya sekalian jalan jalan aja maksudnya,”
“Iya Ran sekalian ya ajak Areno dam boleh juga tuh ajak adik kamu,”
Setelah makan sambil mengobrol, Arani dan mamanya ingin belanja bulanan sememtara Gibran memutuskan untuk langsung pulang ke rumah.
Melihat Arani beserta mamanya dma juga laki-laki aisng itu beranjak pergi, Adib langsung memberittahu Areno yangs edang bermain game.
“Eh Ren, cewek lo udha balik tuh,”
Are nol menoleh restoran untuk ucapan yang baru saja memberi tahu dirinya bahwa sang kekasih sudah bergegas pupang. Areno menicingkan kedua matanya melihat Arani dan mamanya memasuki mobil, begitupun laki-laki itu.
“Ternyata benar mereka nggak sengaja ketemu. Tuh naik mobil yang beda,” batin Areno sambil menganggukkan kepalanya.
“Lo nggak mau ikut pulang juga Ren?” tanya Dani. Are no langsung menggelengkan kepalanya iya masih nyaman berada di kafe tersebut dan dia masih ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersama tiga temannya oleh sebab itu ia memiliki untuk tetap bertahan dan mungkin setengah jam lagi dia akan pergi.
“Kalian mau pulang jam berapa?” Tanya Areno.
“Gue sih terserah kalian aja,” ucap Adib menjawab pertanyaan Areno.
“Lah kok jadi terserah gue kalau gue ikutin kalian aja di situ gua masih nyaman makanya gua masih duduk aja sambil main game walaupun Arani udah pulang,”
“Iya sama kalo gitu gua juga masih nyaman di sini kira kira satu jam lagi lah ya kita pulang gimana?” Tanya Dafa yang langsung diangguki oleh Areno, Dani, dan juga Adib sebagai bentuk persetujuan mereka.
******
“Ran, emang beneran Areno ada di resto yang sama kayak kita?” Tanya Helen pada putri sulungnya yang duduk di sebelahnya. Hari ini Arani menemaninya makan di luar sekaligus belanja bulanan.
Arani langsung mengangkat kedua bahunya smabil bergumam. Jujur Ia tidak tahu pasti juga, tapi sejujurnya ada rasa yakin Areno ada di restoran yang sama dengannya walaupun Areno tidak memberitahu dia duduk dimana.
“Aku juga nggak tau pasti sih, Ma. Tapi kayaknya iya deh, cuma si Areno nya kayak nggak seorus gitu. Aku nanya dimana dia bilang nggak usah cari tau. Lah aku ‘kam penasaran ya, Ma,”
“Beneran kali, Kak. Sayangnya kenapa Areno nggak gabung aja sama kita ya?”
“Dia nggake nak kali, Ma. Lagi quaity tine kita nya, dia takut ganggu mungkin,”
“Ya ampun padahal Mama malah senang kalau bareng-bareng gitu, tadi ‘kan ada Gibran juga,”
“Aku udha ajakin dia gabung tapi dianya nggak mau jadi ya udah aku biarin aja deh, dia lagi pengen quality time juga mungkin, Ma,“
Mereka tiba di tempat biasa Helen belanja bulanan. Tanpa banyak memghabiskan waktu mereka langsung keluar dari mobil dan mengambil troli begitu masuk tempat belanja. Setelah itu mulai berkeliling mencari apa saja yang diperlukan.
“Aku mau iauan, Ma. Mau beli cokelat doang, boleh nggak kira-kira, Ma?”
“Boleh, ambil aja sana,”
__ADS_1
“Yes! Beneran nih, Ma?”
“Iya lah masa Mama bohong,”
“Yeayyy makasih Mama sayang,”
“Aku mau beli buat adek juga boleh ya, Ma?”
“Boleh, ambil aja,”
Arani senang sekali diizinkan untuk membeli cokelat oleh mamanya. Ketika Ia sibuk memilih cokelat tiba-tiba ada yang memanggil namanya dan itu tentu membuatnya menoleh.
“Eh Nara. Kok bisa kebtulan ketemu di sini sih? Hahaha, kamu pasti lagi belanja bulanan juga ya,”
Arani tidak menyangka bertemu dengan Nara di sini. Ia langsung hangat menyapa Nara yang baru bergabung di sekolahnya menjadi siswi karena cita-citanya sebagai apoteker.
“Kamu ke sini sendiri?” Tanya Nara.
“Aku sama Mama aku, itu lagi milih-milih. Kalau kamu datang sendiri juga?”
“Iya,” jawab Nara.
“Belanja bulanan?” Tanya Arani
“Nggak, lagi mau jajan aja. Aku pikir kamu sama Areno, Ran,”
“Oh nggak kok. Aku sama Mama aku aja. Emang kenapa, Nar?”
“Nggak, kalau sama Areno ayo kita sekalian makan,”
“Aku udah makan barusan,”
“Oh ya?”
“Iya kamu belum makan?”
“Belum, ntar-ntaran aku biasanya,”
“Janga telat makan, Nara. Nanti kamu salit. Harus yang teratur makannya,”
“Iya maksih perhatiannya,”
Arani memilih cokelat sebanyak emoat buah. Dua untuknya dan dua lagi untuk adiknya. Setelah itu Ia menawarkan Nara. “Nar, ambil cokelat gih, aku traktir aja,”
“Nggak deh, aku lagi agak sakit nih giginya,”
“Ya udah yang lain aja. Ambil apa yang kamu pengen,”
“Hahaha nggak usah, Ran. Aku bawa uang kok,”
“Iya aku tau pasti kamu bawa uang, aku juga bawa, tapi ini sih aku minta Mama hahahaa,”
“Nggak usah, Ran. Makasih ya,”
“Beneran?” Tanya Arani sambil mengangkat salah satu alisnya.
“Iya beneran, nggak usah ya,”
“Hmm ya udah kalau gitu aku ke Mama aku dulu ya, mau naruh cokelatnya nih,”
“Iya,”
“Eh iya Mama aku gelum kenalan sama kamu deh kayaknya. Belum pernah ketemu langsung ya? Ayo kenalan sama mama aku,”
“Boleh-boleh,”
Nara langsung antusias ketika akan dikenalkan oleh mamanya Arani. Ia mengikuti langkah kaki Arani yang akan menghampiri sang mama yang saat ini sedang memilih bahan makanan mentah.
“Mama,nininaku mau nenalin Mama sama teman yang aku ceritain itu, Ma. Yang anak pindahan aku bilang,”
“Oh iya-iya, ini yang namanya Nara?”
Nara langsung mencium tangan Helen dan memyebutkan namanya. “Halo, Tante salam kenal. Nama aku Nara,”
“Hai, Nara. Senang kenalan sama kamu. Arani udah ngenalin kamu sebenarnya cuma memang Tante belum pernah liat langsung. Ternyata cantik ya,”
“Dih jadi malu, jangan dipuji kayak gitu, Tante. Takutnya aku malah terbang,” sontak Arani dan Helen tertawa mendnegar ucapan Nara.
“Ah masa sampai terbang. Oh iya kamu ke sini sendirian aja?”
“Oya, Tante. Aku cuma sendiri ke sini. Lagi pengen jajan-janan aja terus nggak sengaja ketemu Arani. Jadi ya udah deh sekalian aku sapa,”
“Mau jajan apa? Pilih gih, nanti Tante traktir, sekalian Tante traktir Arani,”
“Aku mahe amng ditraktir mulu, walaupun punya duit, ‘lan anaknya Mama,”
“Iya sekarang Nara pilih jajan an apa yang Nara mau?”
“Nggak usah, Tante. Aku udah beli nih,”
“Ya amlun idha beli ternuata?”
“Iya tadinya tuh udah mau pulang cuma balik lagi karena ada yang ketinggalan,”
“Apa itu?”
“Aku mau beli permen karet,” ujar Nara seraya menunjukkan salah satu makanan yang Ia suka.
“Pilih jajanan lain gih, biar Tante traktir. Ayo-ayo Tante temenin milih ya,”
Helen menunda untuk mencari kebutuhan bulanan. Ia justru memaksa halus Nara supaya mau Ia traktir.
“Sama Mama aku santai aja, Nara,”
“Iya jangan malu-malu. Ayo beli yanh mana,”
“Duh Tante nggak udah, aku ini udah jajan,”
“Nggak apa-apa ayo pikih, Tante temenin,”
“Mama, kakak nggak ditawarin juga ya?” Tanya Arani yang sejujurnya hanya bercanda. Dan berhasil mengudnang tawa Helen dan juga Nara.
“Boleh dong, kskak juga milih aja jangan lupa milihin adeknya juga,”
“Kapan-kalan aku mau main sama adek kamu, masih kecil ya, Ran?”
“Udah remaja dia, Nar,”
“Oh ya? Eah enak dong punya adek udah remaja, mana perempuan lagi,”
__ADS_1
“Iya enak banget, berantem terus sukanya,”