Kisah Anak Farmasi

Kisah Anak Farmasi
Bab 30


__ADS_3

“Eh lo mau kemana? Buru-buru anat. Nongki yuk,”


“Gue mau nyamperin Arani di toko buku,”


“Ah elah bucin banget lo,”


Areno terkekeh mendnegar ejekan Dani. Memang Ia tidak bisa jauh-jauh dari Arani. Selagi ada kesempatan bertemu, akan Ia gunakan sebaik mungkin.


“Soalnya kalau dia udah di rumah ‘kan nggak enak tuh, Bro. Ada orangtuanya. Gue takut ganggu mereka gitu. Nah mumpung dia lagi di ouar, ya gue samperin aja, sekalian gue jemput dia itupun kalau dia belum pulang sih. Mau gue cek dulu,” ujar Areno seraya meraih ponselnya. Jas labrotorium milik Arani yang Ia pinjam dan menjadi bahan olokan teman-temannya sudah Ia lipat dan simpan di dalam tas barusan.


“Cie jas lab nya ada nama pacar. Nggak bawa nih? Apa sengaja nggak bawa supaya pakai punya Arani? Ah elah modus lo gede bener,”


“Gue nggak bawa, njir, makanya gue pinjam punya dia,”


“Punya siapa?”


“Punya Arani, si pelit. Tadi aja gue diomelin dulu sebelum berhasil pinjam,”


Penjelasan Areno membuat teman-temannya yang ada di kanan kiri tertawa. Areno sambil membuat obat, bercerita soal jalan cerita kenapa Ia bisa mengenakan jas laboratorium milik kekasihnya. Teman-teman Areno di kanan kiri sesekali akan mengajaknya mengobrol karena memang meja praktek mereka benar-benar dekat. Mereka salah fokus ketika melihat nama Arani di dada kanan Areno.


“Yah, dia udah balik. Gue nggak jadi nyampeirn dia berarti. Ayo deh kita nongkrong dimana,” ujar Areno setelah mendapatkan balasan pesan dari Arani yang mengatakan bahwa Arani sudah di rumah.

__ADS_1


“Kafe lah, ngopi kita di sana,” ajak Iyon.


“Okay ayok,”


“Lo nggak apa-apa ‘kan? Nggak mau nge-date sama Arani ‘kan?” Tanya Dani.


“Nggak, dia udah balik ke rumah. Gue nggak enak nyamperin ke rumah dia,“


“Nggak enak kenapa?” Tanya Iyon.


“Ya takut orangtuanya mikir gue datang mulu, walaupun mereka selalu nyambut gue dnegan baik sih cuma gue nya nggak enak bertamu mulu. Ntar disangkain gue nggak ada kegiatan selain pacaran,”


“Ya bener sih cuma ‘kan jangan terllau jujur juga dong. Gue di rumah tuh suka bingung mau ngapain makanya gue gangguin cewek gue,”


“Sama, ngajakin dia jalan, makan, ke mall. Abis itu balik-balik hati berbunga-bunga ye ga?”


Areno menaik turunkan alisnya menjawab pertanyaan Dani. Areno sudah menyimpan semua peralatan prakteknya di dalam tas, begitupun Dani setelah itu mereka bergegas ke area parkir.


*******


“Kakak, kok nggak pulang sama Bang Aren? Kenapa emangnya? Berantem ya? Gara-gara apa? Tumben banget nggak pulang sama pacar,”

__ADS_1


“Habis jalan ke toko buku sama bestie, emang kenapa sih nanya-nanya?”


“Oalah abis pergi sama teman-teman?”


Ria mengikuti kakaknya yang duduk di ruang tamu dan langsung menghembuskan napas lega.


“Akhirnya sampai rumah juga, kaki sama pinggang pada pegel rasanya,”


“Kenapa emang?”


“Ya karena abis jalan, terus sebelumnya juga praktek ‘kan. Eh iya ingetin kakak ya, jas lab kakak sama si Areno tuh. Ingetin mintain ke dia ,”


“Dih kok bilangnya ke aku?” Ria bertanya sambil mulutnya terus mengunyah popcorn caramel di dalam mangkuk yang Ia pegang sekarang.


“Ya bantuin ingetin, Dek,”


“Pasti dibalikin kok sama Bang Aren, ‘kan Bang Aren bukan pencuri. Dia cuma minjam ‘kan?”


“Dia kebiasaan banget. Kalau aja dia lebih teliti ‘kan nggak mungkin ketinggalan punya dia,”


“Ya udahlah, Kak. Nggak bakal dicuri juga sama Bang Aren. Orang cuma jas lab kok. Bang Aren itu cuma mencuri hati kakak aja,”

__ADS_1


__ADS_2