
“Udah belum?” Tanya Areno pada kekasihnya yang saat ini sedang memilih makanan ringan di dalam sebuah minimarket tak jauh dari sekolah mereka.
“Belum, aku lagi cari yang pedas asin gitu. Tapi banyak banget, aku bingung pilihnya. Bantuin aku pilih dong, Ren,”
“Kamu mau yang pedas-pedas? Jangan lah, nanti kamu sakit perut. Kita sebagai manusia tuh jangan cari penyakit, Ran. Orang yang sakit aja mau ngusir penyakitnya, lah kamu malah ngundang penyakit mau datang,” ujar Areno menasehati kekasihnya supaya menggagalkan niat untuk beli makanan yang pedas. Areno hanya takut Arani sakit perut.
“Tapi aku pengen, beli satu aja kok,”
“Ya udah deh terserah,”
“Nggak apa-apa ‘kan?” Tanya Arani pada Areno yang mengangkat kedua bahunya. Areno tidak memberikan izin. Tapi Arani tetap mau membeli makanan yang pedas.
“Aku anggap boleh ya,” ujar Arani seraya terkekeh sambil melanjutkan kegiatannya memilih makanan ringan yang pedas.
Setelah dapat keripik kentang dengan bumbu balado, Arani langsung tersenyum puas. Inilah yang Ia genari, Arani tertawa puas dalam hati. “Akhirnya dapat juga yang pedas dan keliatan enak,”
“Tau darimana kalau itu enak?”
“Keliatannya sih gitu dari gambar di bungkus,”
“Ya ampun, Ran. Gambar di bungkus-bungkus makanan emang selalu keliatan enak dan jumlahnya banyak. Tapi ‘kan sering dibohongi. Kamu masih polos aja,” ujar Areno.
“Iya sih, tapi ini feeling aku enak. Udah biarin aja lah aku maunya ini kok,”
“Ya udah deh terserah. Tapi aku nggak mau ya kamu sakit perut. Gambar di bungkusnya aja keliatan pedas banget,”
“Nah kamu juga liat dari bungkus. Awas hati-hati dibohongi lho,” ujar Arani yang membahas ucapan kekasihnya tadi dan itu membuat Areno tertawa. Dengan gemas Areno mencubit pipi Arani.
“Nggak usah ya? Aku nggak izinin, cari yang lain aja ya,”
Areno akan mengembalikan makanan ringan yang tadi sudah dimasukkan Arani ke dalam keranjang belanja yang dibawa oleh Areno.
“Ih kok begitu sih? Aku pengen banget, Areno,”
“Jangan, Ran. Ini pedas, mending yang sehat-sehat aja sih,”
“Tapi ‘kan cuma sekali-sekali aja,” ujar Arani yang masih bersikeras ingin menikmati makanan ringan dengan rasa pedas itu.
“Mending biskuit, atau roti tuh. Bikin kenyang daripada beginian bikin sakit perut,”
“Nggak, aku kuat tau,”
Areno menghembuskan napas pelan, kemudian merangkum kedua pipi Arani sambil menggeram gemas.
“Kenapa sih susah banget dikasih tau sama aku? Nggak ingat siapa nih yang ngasih tau kamu? Hmm?”
“Ingat,”
“Aku siapanya kamu?”
“Pacar,”
“Nah ya udah kenapa nggak mau dengar larangan aku? Jangan makan yang pedas-pedas, Ran. Nanti kamu sakit perut,”
“Nggak, aku orangnya kuat kok,”
“Hadeh kamu ini susah bener dikasih tau,” ujar Areno dengan jengah. Arani menanggapi dengan senyum lebar.
“Boleh ‘kan?”
“Tuh aneh banget. Udah dilarang masih aja tetap bandel. Tapi ujungnya nanya ‘boleh nggak?’ Udah jelas aku jawab nggak,”
“Jawab iya aja,”
“Nggak,”
“Iya, buruan jawab iya,”
“Nggak,”
“Ih Areno kok nyebelin sih? Aku pelototin terus nih? Kamu nggak takut liat mata aku melotot?”
“Hahaha biarin aja, ntar mata kamu capek sendiri,”
“Ih jahat banget. Ya udah pokoknya aku anggap kamu jawab iya,” ujar Arani dengan ketus.
Areno geleng-geleng kepala menghadapi keras kepala kekasihnya. Sudah dilarang, masih juga tetap pada keinginannya. Arani kalau sudah mode keras kepala memang menyebalkan sekali.
“Jawab iya ‘kan?”
“Arani, aku udah jawab nggak, kamu kenapa bandel sih? Aku tinggalin di sini kamu ya,”
“Ancamannya kayak ke bocah aja,”
“Ya abisnya nyebelin banget,”
“Udah pokoknya iya,”
Arani meraih keranjang belanjaan yang ada di tangan Areno kemudian Arani bergegas ke kasir. Areno menghembuskan napasnya dengan kasar setelah itu geleng-geleng kepala mengamati kekasihnya yang sudah berjalan membawa belanjaan mereka ke kasir.
Areno langsung bergegas untuk menyusul. “Sini aku aja yang bawa, Ran,”
“Nggak usah, aku aja,”
“Aku aja, itu lumayan berat lho, ada minuman satu liter nya,”
“Ya nggak apa-apa, aku ‘kan kuat orangnya,”
“Ngaku kuat mulu ya padahal mah nggak juga,”
“Eh enak aja, aku kuat kok,”
“Ya udah coba taruh keranjang itu di kepala kuat beneran nggak,”
Tanpa mengeluarkan suara Arani langsung mengangkat keranjang hendak Ia taruh di kepala dan Areno yang panik padahal sebelumnya Areno yang menantang. Tapi sehujurnya itu tidak sungguhan; tapi ditanggapi dengan sungguh-sungguh oleh Arani. Areno heran dibuatnya.
“Eh jangan-jangan! Aku cuma bercanda,”
Areno langsung menahan lengan kekasihnya dan tanpa menunggu waktu lama Areno mengambil alih keranjang belanjaan yang semula ada di tangan sang kekasih.
“Kamu aneh-aneh aja sih, Ran. Ngapain coba mau dilakuin beneran?”
“Aku tuh suka ngelakuin tantangan,”
“Apaan sih? Suka sih suka, tapi pikirin hal positifnya juga dong, ada atau nggak?”
“Ada,”
“Apa?”
“Itu ‘kan tantangan dari kamu, nah aku mau lakuin karena aku kuat, sekalian latih otot juga,” kata Arani seraya tertawa.
“Ada-ada aja. Kalau mau latih otot ya olahraga bukan angkat keranjang belanja,”
“Itu bukannya termasuk olahraga ya?”
“Ya kalaupun beneran olahraga, jangan ngelakuin di minimarket juga dong, Ran. Malu ‘kan diliat orang, mereka yang lagi belanja ngiranya kamu mau jualan kue,”
Arani tertawa mendengar ucapan Areno sambil memegangi perut yang terasa sedikit sakit karena Ia tertawa.
“Iya juga ya. Ngapain aku olahraga di tempat umum begini. Lagian sih kamu, Ren. Kamu ‘kan yang nantang aku untuk taruh keranjang di atas kepala. Aku suka tantangan jadi mau langsung aku lakuin tuh tadi,”
“Ran, aku ‘kan cuma bercanda, masa mau dilakuin sih? Aduh aku nggak paham deh sama kamu. Walaupun aku nantang begini begitu, kamu harus pikirin dulu ada hal positifnya nggak? Kalau nggak ada ya ngapain dilakuin? Aku lagian cuma bercanda, malah kamu anggap serius,”
“Aku mau nunjukkin kalau aku kuat, nggak deh bercanda,”
“Jadi kamu nggak serius mau angkat keranjang nya ke atas kepala kamu?”
“Nggak serius, cuma bercanda juga,”
“Halah bohong, pasti serius deh,” areno mencubit hidung bangir kekasihnya itu.
“Nggak, aku cuma bercanda aja kok,”
“Bohong, pasti mau beneran dilakuin. Iya ‘kan? Jujur aja deh, Arani. Jangan bohong sama aku,”
“Dih, orang aku nggak serius, aku juga kayaknya nggak kuat deh angkat keranjangnya,”
“Kalau aku sih udah pasti kuat. Angkat kamu aja kuat,”
“Yee nggak nyambung banget. Masa larinya ke aku?”
“Nyambung lah, aku angkat kamu aja kuat apalagi keranjang kecil begitu. Yah elah, gampang banget itu sih,”
“Iya deh yang kuat perkasa,” ledek Arani
“Iya dong aku ‘kan gagah tiada tertandingi,” kata Areno sambil tersenyum menatap Arani yang terkekeh dan langsung mendorong wajah Areno.
“Nggak usah senyam-senyum kayak orang stres deh, Ar. Aku takut liatnya lho, serius,”
“Aku emang kuat, perkasa, gagah, berani. Pokoknya semua deh,”
__ADS_1
Areno langsung mengambil ponselnya yang bergetar tiba-tiba. Terpaksa Ia dan Arani mengakhiri obrolan, tapi kaki mereka tetap melangkah mendekati kasir.
Kening Areno mengernyit ketika Nara menghubunginya. Dalam hati Areno bertanya-tanya.
“Kenapa Nara telepon gue?”
“Halo, Nar,”
Areno segera menerima panggilan dari Nara dan Nara kedengarannya senang ketika panggilannya diterima.
“Pagi sibuk nggak? Ngopi kuy, ngajakin Arani juga nggak apa-apa,”
“Hmm lain kali aja ya, Nar,”
“Oh gitu ya udah deh, besok bisa nggak? Pulang sekolahs ama Arani,”
“Ya kalau Arani mau. Kalau dia nggak mau, gue kayaknya juga nggak deh,”
“Ya elah si bucin hahaha,”
“Ya lo tau lah,”
“Hmm okay deh coba ajakin dia ya besok,”
“Okay sip,”
*******
Qanita buru-buru membuka pintu mendengar suara motor anaknya ditengah suara gemuruh petir dan aliran hujan yang deras.
“Ya Allah, Nak. Basah kuyup kamu,”
“Nggak, Ma, ‘kan pakai jas hujan, cuma dingin banget,”
“Lagian kenapa nggak stop dulu sih?”
“Tiba-tiba deras pas di tengah jalan, malas ah berhenti dulu, jadi aku lanjut aja,” ujar Areno seraya melepaskan jas hujan, setelah helm Ia tanggalkan lebih dulu.
“Tadi udah sempat reda banget, petir juga nggak ada lagi pas aku sampai di rumah Arani, eh deras lagi, petir lagi pas aku udah jalan ke sini,”
Mendengar penjealsan anaknya, kening Qanita mengernyit bingung. Ia langsung penasaran dengan alasan Areno ke rumah Arani.
“Kamu dari rumah Arani? Ngapain, Ren?”
“Antar Arani, Ma. Jadi tadi aku pulang bareng sama dia, senang banget aku, Ma,” ujar Areno seraya menaik turunkan alisnya menatap sang mama sambil tersenyum lebar. Dari ekspresi wajahnya kelihatan kalau Areno benar-benar bahagia.
“Cie yang pulang bareng Arani ihiw” goda Qanita apda puta semata wayangnya itu.
“Iya karena aku paksa, Ma,”
“Hah? Kok kamu paksa sih? Aduh anak ini benar-benar keterlaluan. Kamu nggak boleh dong maksa Arani untuk pulang sama kamu. Suka-suka Arani mau pulang sama siapa. Bukannya kata kamu, Arani dijemput sama papanya?”
“Hahahaha nggak dipaksa sih, Ma. Aku ajakin aja, eh tapi ngajaknya emang agak maksa juga sih hahahaha,” ujar Areno seraya terbahak, dan kakinya melangkah masuk ke dalam rumah.
“Gimana sih ceirtanya? Mama penasaran, ceritain dong,”
“Ya nanti aku cerita tapi sekarang aku mau mandi dulu ya, Ma,”
“Iya mandi dulu deh, nanti mama bikin kentang goreng sama hot cappucino kesukaan kamu biar kamu hangat,”
“Asyiik makasih ya, Mama cantik,”
“Sama-sama, udah sana naik ke atas. Mandi dan langsung turun ya kalau udah. Cerita-cerita sama mama sambil kita minum cappucino dan makan kentang goreng,”
“Siap, Ma,”
Areno langsung bergegas ke kamarnya untuk bersih-bersih badan. Sementara mamanya sendiri ke dapur untuk menggoreng kentang dan membuat hot cappucino untuk Ia dan putra semata wayangnya itu.
Ketika Ia sedang asyik menggoreng, terdengar suara suaminya yang baru pulang bekerja mengucapkan salam. Ghali mendapatkan aroma masakan dari arah dapur dan Ia segera menghampiri karena Ia menebak istrinya di sana.
“Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam, wuih papa udah sampai. Hampir barengan sama Areno ya. Areno lagi mandi tuh. Kehujanan dia, tapi pakai jas hujan sih,”
“Areno baru pulang? Pantesan itu pintu nggak ditutup rapat,”
“Pantesan papa bisa masuk juga ya,” ujar Qanita seraya terkekeh.
“Goreng kentang? Papa mau juga dong, Ma,”
“Iya sekalian pasti, Pa. Hot cappucino mau nggak?”
“Mau dong, yang kafein-kafein nggak bakalan nolak. Mandi dulu deh, ntar gabung ya,”
Ghali terkekeh mengusap singkat lengan istrinya kemudian Ia bergegas ke kamar. Qanita kembali fokus menggoreng, tak lupa memastikan saus sambal masih tersedia. Ia menyiapkan piring, setelah kentang matang Ia langsung menyajikan kentang di atas piring datar tersebut dan Ia bawa ke meja makan, dan tentunya Ia tutup. Kemudian Ia ke dapur lagi untuk membuat minuman.
Qanita bawa satu persatu cangkir berisi cappucino yang panas ke meja makan. Berhubung suami dan anaknya masih mandi, jadi Ia menggunakan air panas semua, tidak campur dengan air yang dingin. Supaya tidak cepat dingin minuman buatannya itu.
********
-Areno, maaf ganggu. Kamu udah sampai rumah ‘kan?-
Areno sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk, sebelum turun ke lantai dasar. Satu tangan bekerja mengeringkan rambut, sementara tangan yang satunya lagi Ia gunakan untuk mengisi daya baterai ponselnya. Bertepatan saat Ia menyambungkan charger dengan ponsel, ada pesan masuk dari Arani. Hal itu membuat Areno tersenyum senang.
“Ini beneran Arani chat gue duluan? Anjir, tumben banget gila gila gila! Gue senang banget ini woy! Mana ditanyain udah sampai rumah atau belum lagi,”
Reaksi Areno langsung berlebihan karena memang selama ini Ia yang senang mengirim pesan ke Arani walaupun Arani lama menanggapi atau bahkan tidak menanggapi sama sekali.
“Nggak nyangka gue njir. Kok tumben banget, mana ada acara nanyain gue udah sampai rumah atau belum, ‘kan sweet banget itu menurut gue,”
-Udah sampai rumah, Ran. Baru kelar mandi-
Areno segera mengetik balasan. Dan tak lama kemudian pesan dari Arani masuk lagi. Senyum Areno makin lebar sebab Ia berpikir cukup satu kali saja Arani mengirim pesan, ternyata masih berlanjut.
-Syukurlah kalau gitu. Aku disuruh mama nanyain itu-
“Bodo amat mau nyokapnya kek yang nyuruh, atau kemauan diri dia sendiri, gue nggak peduli. Intinya dia udah chat gue duluan dan nanyain hal yang menurut gue tuh sweet,” gumam Areno.
-Selamat istirahat ya, Ran-
Setelah mengetik balasan itu, Areno meletakkan ponselnya di atas nakas, sambil tangannya tetap mengeringkan rambut dengan handuk. Ia menunggu balasan dari Arani tapi tidak ada lagi. Pesan yang Ia kirim itu hanya dibaca oleh Arani saja, tanpa dibalas.
Tidak apa-apa, Areno tidak mempermasalahkan hal itu. Ia segera meletakkan handuk di tempatnya, kemudian Ia bergegas ke lantai dasar tak lupa membawa ponselnya. Ia masih berharap Arani mengirimkan balasan lagi.
Areno ke ruang makan, dan di sana sudah ada mamanya yang duduk sambil membaca buku resep makanan.
“Halo, Mama cantik,” Areno menyapa mamamya dengan hangat.
“Halo, udah selesai mandi ternyata,”
“Iya dong, aku mah cepat mandinya,”
“Papa juga,”
Areno dan Qanita menoleh ke sumber suara. Areno tersenyum ke arah papanya yang ternyata sudah pulang dan bahkan sudah mandi.
“Kapan papa sampai?” Tanya Areno pada Papanya yang kini bergabung bersamanya dan sang mama.
“Hampir barengan sama kamu, Ren,” jawab mamanya.
“Oh pas aku mandi kali ya? Pantesan aku nggak tau,”
“Ayo kita ngopi sama makan kentang,”
“Asyik kayaknya enak bener nih,”
Areno sumringah disajikan makanan dan minuman kesukaannya. Suasana mendukung untuk menikmati dua perpaduan itu karena masih hujan di luar sana.
“Karena lapar jadinya keliatan enak ya, Ren?”
“Hahahah mama tau aja,”
“Sambil cerita dong, jadi gimana ceritanya kamu sama Arani bisa pulang bareng? Beneran kamu paksa Arani?”
Qanita, Areno, dan Ghali mulai menikmati kentang goreng dan cappucino yang disajikan oleh Qanita di meja makan.
“Jadi ‘kan aku mau nungguin dia sampai Om Radi papanya Arani datang jemput Arani di kampus. Dia udah nyuruh aku pulang, tapi aku nggak mau. Aku pengen nungguin dia sampai Om Radi datang, terus hujan ‘kan. Nah akhirnya kami berdua nunggu di pos satpam tuh sama Pak Agung yang kebetulan lagi jaga di pos. Papanya Arani nggak datang-datang, ternyata kejebak macet karena banjir, nah Arani akhirnya mau pulang sendjri aja. Dia nggak mau ngerepotin papanya. Karena papanya ‘kan lagi kena macet, terus banjir pula. Dia minta papanya untuk langsung pulang aja. Nah dia bilang bakal naik ojek, tapi papanya nggak bolehin karena khawatir. Terus dia bilang bakal naik transportasi yang mobil bukan yang motor. Pokoknya Arani nggak mau dijemput papa nya deh, biar papanya langsung pulang aja. Dari situ aku bujuk supaya bisa pulang bareng. Awalnya nggak mau, tapi akhirnya mau juga karena aku paksa,”
Qanita dan Ghali menatap Areno dengan tajam. Areno langsung tertawa dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
“Nggak-nggak, aku nggak maksa Arani. Aku cuma ajak aja beberapa kali terus akhirnya Arani mau deh. Jadi aku sama dia pulang bareng gitu ceritanya. Aku antar dia langsung ke rumah di tengah rintik-rintik hujan, suasana jadi kayak orang pacaran gitu, Ma, Pa. Ciee pacaran ya ‘kan emang pacaran,”
Qanita dan Ghali tertawa mendengar ucapan Areno yang bercerita dengan ekspresi sumringahnya. Melihat Areno sebahagia itu karena bisa pulang bersama Arani, mereka sebagai orangtua ikut merasa bahagia.
“Tapi kamu antar anak orang dengan aman dan selamat ‘kan?”
“Oh jelas dong, Pa. Nggak ada lecet itu anak cewek Om Radi, Pa. Aku nggak mau lah bikin dia kenapa-napa, nanti aku makin susah dapat restu,”
“Hadeh, Nak…Nak, restu aja yang kamu pikirin, belajar yang bener! Bentar lagi udah mau lulus,”
“Ya apa salahnya sih mikirin restu, Pa? Kali aja jodoh sampai nikah ya ‘kan. Eh tapi kayaknya orangtua Arani udah restuin aku deh,”
__ADS_1
“Pasti Arani nyesal tuh pulang sama Areno,”
“Enak aja mama nih kalau ngomong. Ya nggak lah, Arani nggak bakal nyesal. Aku yakin dia malah senang. Terus tadi sempat ketemu mamanya bentar, tapi kalau Om Radi kayaknya belum sampai rumah deh,” ujar Areno.
“Terus apa reaksi Tante Helen?” Tanya Qanita pada anaknya itu.
“Nggak ada reaksi apa-apa, Ma. Tapi keliatan senang aja anaknya udah pulang, kaget juga keliatannya karena diantar sama aku. Terus aku sempat diajakin masuk dulu tapi aku nggak mau takutnya hujan deras lagi eh beneran kejadian, di jalan ke sini hujan deras sama ada petir lagi. Tapi aku nggak mau berhenti, aku tancap gas terus,”
“Harusnya stop dulu, cari tempat aman. Untuk apa sih buru-buru sampai rumah. ‘Kan prinsipnya yang penting selamat sampai di rumah,”
“Soalnya aku malas berhenti, Pa. Udah terlanjur kena juga. Jadi tanggung kalau mau berhenti,”
“Kamu ngebut-ngebut ya?”
“Dikit,”
“Halah dikit-dikit nggak taunya ngebut mulu. Jangan ngebut dong, Ren, apalagi kalau bawa penumpang,”
“Iya tenang aja, Pa. Aku nggak ngebut-ngebut kok kalau pas bawa Arani, pas sendiri ya dikit ngebut sih,”
“Ih jangan cari bahaya kamu ah! Apalagi kamu bawa anak orang,”
“Hehehe iya lain kali nggak gitu deh, Pa, aku janji,”
*********
Siang ini Areno datang ke rumah Arani membawa sesuatu. Niat utama datang tentunya ingin bertemu Arani, tapi niat kedua tentunya memberikan makanan untuk Arani dengan harapan Arani suka dengan apa yang Ia bawa.
“Ayo, Areno. Kamu kebanyakan mikir,”
Arani mengajak Areno untuk makan bersama. Areno binbang. Satu sisi senang diajak makan bersama tapi di lain sisi Ia malu. Memberi tapi ikut makan. Itu kedengaran aneh.
“Nggak usah, Ran. Aku makan di rumah aja. Di rumah ada kok martabak itu,” kata Areno yang akhirnya memilih untuk menolak.
“Kenapa kamu nggak mau?”
“Ya karena aku nggak enak aja, masa udah ngasih, eh ikutan makan pula,”
“Ih kok ngomong begitu sih?”
“Kamu makan aja ya, aku mau pulang,”
“Jadi kamu mau pulang nih?” Tanya Arani seraya mengangkat salah satu alisnya. Arani hanya ingin kekasihnya ikut makan apa yang dia bawa ke rumahnya.
“Yoi, aku mau langsung pulang aja. Kamu makan sama mama, papa, dan Ria aja ya, Aku pulang, maaf udah ganggu,”
“Ih kamu nggak ganggu malah harusnya aku yang minta maaf. Kamu repot-repot mulu bawa makanan,”
“Nggak repot lah,”
********
Arani bertepuk tangan riang saat masakannya dengan sang mama selesai dan terhidang dengan menggoda di atas meja makan.
"Enak kelihatannya," komentar Reina menatap tumpukkan pempek dan juga perkedel kentang.
"Semoga aja Papa juga suka,"
Rasa lelahnya tergantikan dengan hasilnya. Antusiasnya kian menggunung karena sebentar lagi Hadi akan pulang. Lelaki itu tidak tau kalau Arani dan Helen sama-sama pulang lebih cepat.
Bunyi ponsel Helen yang berdering mengalihkan perhatian Arani. Kebetulan posisi Arani lebih dekat dengan ponsel mamanya, oleh karena itu Ia yang meraihnya.
"Papa yang telepon," ujarnya pada Helen seraya menyerahkan ponsel itu.
Helen langsung menekan tombol hijau yang ada di sana.
"Hallo? Assalamualaikum," sapanya pada Hadi di sebrang sana.
Helen mengaktifkan loudspeaker agar Arani juga bisa mendengarkan.
"Waalaikumsalam, Sayang. Aku cuma mau kasih tau kalau aku pulangnya sedikit malam ya. Ada yang harus aku selesaikan di sini,"
Arani langsung menatap mamanya sedih. Bahunya luruh ketika mendengar ucapan papanya. Arani tidak menyangka kalau Hadi pulang lebih lama. Biasanya lelaki itu tidak memaksakan segala sesuatunya. Namun sekarang Hadi memilih untuk bekerja di kantor sampai sedikit malam katanya. Artinya masakan itu sudah dingin dan kurang membuat nafsu siapapun yang ingin memakannya.
"Arani udah masak buat kamu, lho," jawab Helen membuat Suaminya berubah pikiran.
"Benarkah? masakan pertama untukku dong ya?"
Helen mengangguk walaupun Hadi tidak melihatnya. Ia tidak tega melihat perubahan di raut wajah yang biasanya berseri itu.
"Kamu masih mau pulang malam? dia udah semangat banget masakin kamu, Pa," Helen mengatakannya dengan mata melirik Arani yang kini meletakkan kepalanya di atas meja makan. Gadis itu langsung terlihat lesu.
"Maaf, Ma. Kerjaan ini gak bisa aku tunda. Setelah semuanya beres, aku janji akan langsung pulang,"
Bukan hanya Arani. Helen bahkan juga kecewa dengan Radi yang bisa dibilang kurang menghargai mereka berdua. Memangnya sepenting apa pekerjaan tersebut sampai harus menunda waktu kebersamaan mereka?
Helen langsung mematikan sambungan teleponnya tanpa mengatakan apapun lagi. Ia duduk di kursi sebelah Arani dan mengusap puncak kepalanya dengan penuh kasih sayang.
"Kita berdoa aja semoga papa bisa secepat mungkin menyelesaikan pekerjaannya. Papa juga senang kamu masakin,"
Arani menggeleng. Ia tidak mendengar itu dari mulut Radi.
"Papa gak ngomong apa-apa tadi, Ma. Kerjaannya sekarang lebih penting daripada aku,"
Hati Helen sedikit ngilu mendengarnya. Ia tidak menyangka kalau gadis itu akan sesedih ini ketika tau papanya akan pulang lebih lama.
"Hei jangan ngomong kayak begitu, Arani! Nggak ada yang lebih penting dari kamu. Mama dan papa sayang banget sama kamu,"
"Tapi papa..."
Helen membimbing anaknya untuk bangkit kemudian menarik sudut bibir Arani agar tersenyum.
"Papa memang lagi sibuk, Sayang. Tolong pahami papa, ya. Secepat mungkin papa akan pulang untuk mencoba masakan pertama anaknya," hibur Helen pada putri pertamanya.
Arani kini tersenyum dengan anggukannya. Baiklah, Ia sudah dewasa. Jadi harus bisa memahami persoalan kecil seperti ini.
*********
Radi terkejut begitu melihat Helen yang ternyata belum terpejam. Ia menghampiri Istrinya yang duduk seraya menonton di ruang keluarga. Radi meletakkan perlengkapan kantor yang dibawanya di atas sofa membuat Helen menoleh kaget.
"Kok gak minta bukain pintu, Pa?"
"Papa bawa kunci,"
Helen menepuk dahinya pelan. Ia melupakan hal itu.
"Kamu belum tidur?"
"Belum, nungguin kamu. Kalau Arani udah tidur,"
Jawaban Istrinya membuat Radi menghela napas sesal. Putrinya pasti kecewa.
"Pasti Arani sedih. Aku mau minta maaf dulu deh,"
"Gak usah, dia ngerti kok. Sekarang kamu makan aja ya? belum makan malam kan?"
Helen melirik jam dinding. Sudah pukul sembilan malam. Radi yang terlalu sibuk pasti melewatkan dinnernya.
Radi mengangguk semangat.
"Aku siapin dulu makannya. Kamu lebih baik ganti baju," saran Istrinya di lakukan oleh Radi.
Lelaki itu langsung berjalan ke kamar. Untuk mandi dan berganti pakaian. Radi benar-benar lelah hari ini. Tapi sebisa mungkin Ia tidak mengeluh. Kewajibannya memang sudah digariskan seperti itu.
Radi tersenyum begitu keluar dari toiletnya. Ia menatap setelan pakaian tidurnya yang sudah ada di atas ranjang. Ia tidak tahu pasti kapan Istrinya menyiapkan itu. Yang jelas, Radi bahagia diperlakukan semulia itu oleh Helen.
"Arani udah makan malam? Ria udah juga?” tanya Radi di sela mulutnya yang mengunyah.
Mereka hanya makan berdua. Karena semua penghuni rumah sudah makan malam terlebih dahulu. Helen sengaja menunggu Suaminya pulang untuk makan bersama.
"Udah, Pa. Gimana kerjaan kamu? lancar? kayaknya sibuk banget,"
Helen bukan menyindir tapi Radi menganggapnya berbeda.
"Maaf, Ma. Kerjaan lagi banyak banget," jelas Radi dengan singkat.
Helen hanya mengangguk karena Ia tidak terlalu paham masalah itu.
"Semoga aja kembali membaik," ujar Helen penuh harap.
Radi pun menginginkan hal itu. Ia tidak ingin terlalu lama menyelam dalam kesibukannya. Radu menyadari kalau akhir-akhir ini perhatiannya pada Helen dan Arani jadi berkurang karena pekerjaannya luar biasa banyak.
"Aku akan perbaiki semuanya,"
"Aku selalu dukung kamu,"
Melihat senyum Istrinya, Helen merasa energinya untuk menyelesaikan semua itu kian bertambah.
"Arani dan Ria juga dukung kamu,"
Radi mengangguk. Setelah menyelesaikan kegiatan makannya, Ia mengusap puncak kepala Istrinya.
__ADS_1
"Kalian semua dukung Papa. Selalu mengerti bagaimana keadaan Papa. Terimakasih banyak ya, kalau nggak ada kalian, nggak tau deh hidup Papa sehampa apa. Hanya ada kerja dan kerja, nggak berwarna hidup Papa tanpa Mama, dan anak-anak,”