Kisah Anak Farmasi

Kisah Anak Farmasi
Bab 107


__ADS_3

“Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam, wuih papa udah sampai. Hampir barengan sama Areno ya. Areno lagi mandi tuh. Kehujanan dia, tapi pakai jas hujan sih,”


“Areno baru pulang? Pantesan itu pintu nggak ditutup rapat,”


“Pantesan papa bisa masuk juga ya,” ujar Qanita seraya terkekeh.


“Goreng kentang? Papa mau juga dong, Ma,”


“Iya sekalian pasti, Pa. Hot cappucino mau nggak?”


“Mau dong, yang kafein-kafein nggak bakalan nolak. Mandi dulu deh, ntar gabung ya,”


“Sip, silahkan bapak Ghali,”


Ghali terkekeh mengusap singkat lengan istrinya kemudian Ia bergegas ke kamar. Qanita kembali fokus menggoreng, tak lupa memastikan saus sambal masih tersedia. Ia menyiapkan piring, setelah kentang matang Ia langsung menyajikan kentang di atas piring datar tersebut dan Ia bawa ke meja makan, dan tentunya Ia tutup. Kemudian Ia ke dapur lagi untuk membuat minuman.


Qanita bawa satu persatu cangkir berisi cappucino yang panas ke meja makan. Berhubung suami dan anaknya masih mandi, jadi Ia menggunakan air panas semua, tidak campur dengan air yang dingin. Supaya tidak cepat dingin minuman buatannya itu.


*****

__ADS_1


Setelah mandi, Areno ke ruang makan, dan di sana sudah ada mamanya yang duduk sambil membaca buku resep makanan.


“Halo, Mama cantik,” Areno menyapa mamamya dengan hangat.


“Halo, udah selesai mandi ternyata,”


“Iya dong, aku mah cepat mandinya,”


“Papa juga,”


Areno dan Qanita menoleh ke sumber suara. Areno tersenyum ke arah papanya yang ternyata sudah pulang dan bahkan sudah mandi.


“Kapan papa sampai?” Tanya Areno pada Papanya yang kini bergabung bersamanya dan sang mama.


“Oh pas aku mandi kali ya? Pantesan aku nggak tau,”


“Ayo kita ngopi sama makan kentang,”


“Asyik kayaknya enak bener nih,”


Areno sumringah disajikan makanan dan minuman kesukaannya. Suasana mendukung untuk menikmati dua perpaduan itu karena masih hujan di luar sana.

__ADS_1


“Karena lapar jadinya keliatan enak ya, Ren?”


“Hahahah mama tau aja,”


“Sambil cerita dong, jadi tadi pulang sama Arani? Terus kehujanan ya? Kamu paksa Arani supaya mau pulang sama kamu ya? Hahaha” tanya Qanita usil yang langsung ditanggapi cepat oleh Areno.


“Nggak-nggak, aku nggak maksa Arani. Aku cuma ajak aja beberapa kali terus akhirnya Arani mau deh. Jadi aku sama dia pulang bareng gitu ceritanya. Aku antar dia langsung ke rumah di tengah rintik-rintik hujan, suasana jadi kayak orang pacaran gitu, Ma, Pa. Ciee pacaran ya ‘kan emang pacaran,”


Qanita dan Ghali tertawa mendengar ucapan Areno yang bercerita dengan ekspresi sumringahnya. Melihat Areno sebahagia itu karena pulang bersama Arani, mereka sebagai orangtua ikut merasa bahagia.


“Tapi kamu antar anak orang dengan aman dan selamat ‘kan?”


“Oh jelas dong, Pa. Nggak ada lecet itu anak pertamanya Om Radi, Pa. Aku nggak mau lah bikin dia kenapa-napa, nanti aku nggak dapat restu dari Mama Papanya, eh sama adiknya juga,”


“Hadeh, Nak…Nak, restu aja yang kamu pikirin, belajar yang bener! Bentar lagi udah mau lulus,”


“Ya apa salahnya sih mikirin restu, Pa? Kali aja jodoh sampai nikah ya ‘kan. Eh tapi kayaknya orangtua Arani udah restuin aku deh, soalnya mereka tuh baik ke aku, adiknya juga,”


“Ya belum tentu lah. Mereka emang dasarnya orang baik. Jadi baik belum tentu ngasih restu,”


“Bilang aamiin aja sih, Pa. Aku berharapnya langgeng sama Arani sampai nikah kalau bisa,”

__ADS_1


“Aamiin,”


__ADS_2