
“Wih kakak bawa makanan buat aku. Tumben baik, Kak,”
“Eh enak aja. Emang selama ini kakak pelit gitu?”
Ria senang sekali ketika kakaknya pulang membawa jajanan. Ia langsung menikmati ice cream yang ternyata sudah mencair dan Ia kecewa.
“Yah, harusnya masuk kulkas dulu ya,”
“Iya, kamu lagian semamgat banget. Sana dimasukin dulu ke dalam kulkas. Baru deh kamu minum. Jangan langsung diminum, Dek,”
Ria menghembuskan napas kecewa. Padahal Ia sudah ingin menikmati ice cream nya sekarang tapi karena sudah mencair jadi kurnag nikmat. Akhirnya Ia bekukan lagi di dalam freezer.
“Tolong sekalian simpan punya kakak di lulkas juga, Dek,”
“Okay,”
Arani menyerahkan cokelat dan juga ice cream kepada adiknya karena Ia minta tolong disimpan juga di dalam kulkas.
Setelah itu Arani ke ruang keluarga, sementara mamanya kendapur ingin membuat puding katanya. Tidak lama Arani duduk di ruang keluarga, tiba-tiba Ria duduk dia sebelahnya. Adik satu-satunya Arani itu membuka kemasan makanan ringan yang dipilihkan oleh kakaknya.
“Kakak sengaja ambil itu karena kakak tau kamu suka itu,”
“Makasih,”
“Sama-sama, eh tadi kakak nggak sengaja ketemu sama teman kakak pas belanja,”
Pria mengernyit kan Kening nya bingung setelah mendengar cerita dari kakak nya. Iya langsung duduk menghadap sang kakak sambil melipat kedua kakinya sehingga Ia duduk bersila menatap kakak nya Pertanda bahwa iya sudah siap mendengar cerita dari Sang kakak.
“Teman kakak yang mana kak cerita dong sekarang,” tanya Ria.
“Itu loh yang pernah kakak ceritakan teman baru kakak si Nara yang anak pindahan itu dek,”
“Oh kirain ketemu sama bang Arin ujar pria sambil tersenyum usia menata kakak nya arani langsung merotasi kan kedua matanya dan menatap Ria dengan kesal karena yang ada di pikirian Ria itu hanyalah idolanya saja yaitu Areno.
“Tadi kayaknya dia satu resto sih sama kakak dan mama tapi nggak ketemu dia nggak mau gabung,”
Pria langsung mandi Ijinkan kedua matanya iya langsung penasaran dengan cerita selanjutnya dari sang kakak menyenangkan ketika mendengar kakaknya bercerita sambil dia menikmati makanan ringan yang baru saja dibelikan oleh mamanya dan diberikan oleh kakak nya.
Arani langsung menceritakan dugaanNya bahwa tadi satu restoran dengannya tapi sayangnya Arina tidak bersedia untuk menghampirinya.
“Gimana ceritanya bang Aren nggak mau gabuung kak kakak tahu dari mana kalau bang Aren ada yang sama?”
“Ya soalnya dia bilang kayak gitu tapi kakak agak ragu juga sih soalnya dia nggak gabuung katanya nggak usah nyari dia karena dia juga nggak mau ganggu quality time kakak sama mama,”
“Iya sayang banget padahal seru tuh kalau makan bertiga,” ujar Ria sambil tersenyum.
“Nggak bertiga, tadi waktu mau masuk ke stor sengaja ketemu sama Gibran kebetulan mau makan juga jadi ya udah kita sekalian makan sama Gibran. Tadi nggak cuma kakak sama mama aja tapi sama Gibran juga,”
Setelah mendengar penjelasan samg kakak, Ria langsung memganggukkan kepala nya dan membulatkan seidkit mulutnya sambil berkata “Oalah pantesan aja bang Aren nggak mau gabung sama Mama dan Kakak,”
“Emang kenapa? maksud kamu gimana, Dek?” Arani tentu bingung ketika mendengar ucapan nya yang sepertinya mengetahui sesuatu.
“Gini loh Kak, Pantesan aja abang aku nggak mau gabuung sama mama dan kakak ya karena ada bang Gibran bang Aren nggak enak banget kalian bertiga,” ujar Ria.
“Lah kenapa mesti enggak enak orang dia udah diajak kok kaka bahkan udah mengajak dia berkali-kali supaya gabung aja dan mama juga gitu nama biang kita tak ajak gabung aja karena sekalian nanya nggak mau,”
“Mungkin aja bang admin cemburu tuh kak,” Maria sambil tawa dan sengaja Mendarang kakak nya dengan tujuan menggoda kakak nya.
“Cie cie kaka cemburu sama bang haha ha ha ha ha lagian kok bisa ya nggak sengaja ketemu sama bang gimana ceritanya si kak?”
“Iya pas kakak mama mama mau masuk restoran tiba tiba ketemu sama dia kebetulan dia juga mau makan di tempat yang sama akhirnya ya udah dia di ajak mama untuk makan bareng,”
“Arti bang udah pulang ya dari di Bandung,”
“Ya udah tapi buktinya dia udah bisa udah bisa makan bareng sama kakak sama mama tadi,”
“ Jangan dekat dekat ya kak,” mendengar ucapan Ria, arani langsung mengernyit kan kningnya bingung. Arani tidak paham kenapa bicara seperti itu ada adiknya juga tahu kalau Gibran itu temannya kebetulan anak dari teman mamanya kalau dekat sebatas teman arani rasa itu adalah hal yang wajar. Arani langsung melontarkan pertanyaan “Lah emang kenapa nggak boleh dekat? kan dia teman kakak juga dan oh iya tadi dia sempat ngajakkin kakak juga tuh untuk ke toko buku bareng Tapi belum tahu sih kapan bisa nya tadinya dia ngajakkin besok cuma kakak bilang kakak belum belum bisa kasih kepastian soalnya kan nggak tahu besok di sekolah bakal ada apa misalnya ada tugas kelompok yang harus diselesaikan besok atau ada urusan sekolah jadi kakak Belu pastikan besok bisa atau nggak ke toko buku bareng sama Gibran,”
“Aku temenin besok kak kalau misalnya jadi pergi ke toko buku sama bang Gibran boleh kan aku ikut kakak?”
“Ya boleh boleh aja sih asal kamunya mau soalnya kan kamu suka mager ya kamu tuh sukanya di rumah aja di kamar setelah belajar sukanya nonton sukanya tidur sukanya makan kalau kamu mau ya syukur,”
Mendengar ucapan Arani, Ria langsung tersenyum senang dan iya bertepuk tangan pelan sambil berkata “Yeayy beneran ya kak aku boleh ikut besok kalau jadi?”
Arani langsung menganggukan kepalanya dan Ia membuka kemasan makanan ringan nya yang lain.
Sementara itu dia adalah tipe alamat yang harus mendengar jawaban langsung dari mulut tidak bisa hanya dengan menggelengkan atau menganggukan kepala karena itu belum membuatnya puas oleh sebab itu Ria kembali bertanya dengan tujuan memastikan barangkali saja kakak nya tidak benar benar mengizinkan iya untuk ikut.
“Kak ini aku beneran boleh ikut kan?” tanya Ria pada kakak nya.
Arani langsung mendengus kesal dan melirik adiknya dengan sorot mata yang sebal sambil menjawab iya iyalah masa kakak bohong kamu boleh ikut kok kapan aja kakak pergi sama Gibran ke toko buku kamu boleh ikut kakak nggak bakal larang justru malah kakak senang karena bakalan ramai kan ada kamu nggak cuma berdua sama Gibran,”
Tiba tiba Ria punya ide yang aneh tentu saja idenya ini mengundang reaksi mangejutkan dari kakak nya.
“Kak gimana kalau nanti misalnya kakak sama bang Gibran jadi ke toko buku bukan cuma aku aja yang ikut tapi kita ajak bang Arin juga menurut kakak gimana? kakak setuju nggak?”
Arani langsung menggelengkan kepalanya tidak setuju dan itu membuat adiknya bingung kenapa Arani tidak setuju padahal bukannya lebih menyenangkan ya ada empat orang yang nantinya akan datang ke toko buku lebih ramai lebih menyenangkan lebih seru tapi anehnya arani tidak setuju.
“Kenapa kakak nggak setuju padahal kan lebih seru kak kalau misalnya kita pergi berempat ada kakak ada bang Gibran ada aku ada bang Arin malah justru bagus bang Arin maka kenal sama bang Gibran terus nanti mereka bisa jadi sahabat deh iya kan,”
“Duh ribet dek kalau misalnya mengajak are no dia tuh ribet udah mendingan nggak usah deh sama Areno soalnya ini tuh ada cowok lain takutnya nanti dia ribet?”
“Padahal aku mau ajak idola aku lho kak,”
“Udah kalo mengajak are no itu kita cuma pergi bertiga aja nggak usah ada Gibran kalo ada di belahan takutnya si Areno ribet,”
Ria menganggukan kepalanya. Ia mulai paham dengan apa yang dikatakan oleh kakak nya itu. “Maksud kakak bang Aren bakal merasa cemburu ya kak?“
“Nah itu kamu tahu makanya nggak usah mengajak dia kalo mengajak dia tuh ribet mendingan kita pergi bertiga aja sama Gibran kalaupun Areno mau di aja nggak usah mengajak Gibran,”
“Ya udah deh kak aku ikut kakak aja gimana baik nya ujar ya dan setelah itu tidak ada lagi topik obrolan di antara kakak beradik itu karena Rani meraih remote televisi dan iya mulai mencari saluran televisi yang menyajikan siaran menarik untuknya.
Kurang lebih tiga puluh menit Arani dan Ria menikmati siaran bulu tangkis tiba tiba Arani mendapatkan telepon dari arena tidak menunggu waktu lama Arani langsung menerima telepon dari kekasihnya itu.
“Halo kenapa Ren?” tanya Arani.
“Nggak papa aku cuma pengen ngasih tahu kalau aku udah di rumah dan apa kamu juga udah di rumah, Arani?”
Arani langsung menganggukan kepalanya dia terlalu sibuk menikmati makanan ringan sampai iya lupa bahwa saat ini ia tidak sedang berbicara langsung dengan Areno melainkan bicara dengan sambungan telepon jadi mana mungkin Areno melihat Ia menganggukan kepalanya karena hal itu Ria langsung menegurnya.
“Kak, gimana caranya Bang Aren tau kalau kakak ngangguk? Kakak tuh ngomong sama Bang Aren lewat telepon. Kenapa malah angguk-angguk doang? Kalau ngomong sama orang di telepon itu harus pakai suara, Kak, nggak bisa pakai bahasa isyarat. Ih si kakak ada-ada aja deh,”
__ADS_1
Arani tertawa karena tiba-tiba diingatkan oleh adiknya seperti itu. Ia benar-benar bodoh sekali. Seharusnya memang Ia menjawab dnegan perkataan. Kalau hanya dnegan anggukkan kepala, mana mungkin Areno bis atahu.
“Iya-iya maaf. Kaka lupa,”
“Bang Aren, maafin kakak ya, soalnya dia lagi sibuk ngunyem mulutnya jadi nggak fokus deh,” ujar Ria seraya mendekatkan mulutnya dengan telepon genggam kakaknya itu.
Areno di seberang sana tertawa mendnegar penjelasan Ria. Hampir saja Ia over thinking. Tadi Ia sempat beprikir kalau Arani sedang merjauk makanya tidak menjawab dnegan benar. Tapi tenryata Arani lahi sibuk makan makanya jadi tidka fokus menjawba pertanyaan. Arani sibuk dengan makanan ringan yang ada di tangannya sejarang.
“Kakak lagi ngemil, Bang, jadi maklum aja ya. Kakak emang dika gitu kalau lagi makan nggak bisa diganggu,”
“Hahahaha okay, Dek. Paham abang,” jawab Areno.
“Ih kamu kenapa nyebelin banget dih? Kakak tuh lupa, bukan keasikan makan tau!”
“Ah nggak, kakak emang begitu kalau lahi makan duka nggak fokus diajak ngobrol. Ya tapi bagus juga deh, ‘kan kalau makan itu emang nggak boleh kebanyakan ngobrol. Harus fokus sama makan. Iya ‘kan, Kak? Jadi ada bagusnya juga jakak begitu,”
“Yang bikin aku ketawa itu, Ria bilang kamu lagi adik ngunyem. Aku tau apa itu artinya tapi aku bingung itu sebenarnya bahasa darimana sih? Hahaha,”
“Nggak tau dia, emang duka random aja kalau nhomong. Aku kadang nggak tau apa yang dia omongin. Ya biasalah, anak remaja mada kini, bahadanya kadang duka susah untuk dipahami. Ria ‘kan anak muda zaman sekarang,”
“Lah kita jyga anak muda,”
“Ya tapi sku duka berasa tua kalau udha ngomong sama Ria. Suka ada aja bahasa baru ya?”
“Itu kayaknya bahasa dari Jakarta deh,” jawab Ria dengan santai. Ia sering dnegar temannya bicara ‘ngunyem’ kalau lagi makan. Jadi tidka sengaja Ia ikuti barusan.
“Eh kamu lagi ngemil aja nih sekarang?” Tanya Areno pada kekasihnya itu.
“Iya cuma lagi ngemil aja ini sama dia emang kenapa Ren?”
“Nggak papa cuma nanya aja,”
“Iya aku mau cerita tadi aku nggak sengaja loh kamu sama marah waktu aku belanja bulanan sama mama,”
Karani pada Nara itu teman dan mereka sama akrab supaya obrolannya dengan arena tidak membosankan maka dari itu iya tiba tiba membahas Nara yang memang kebetulan tadi tidak sengaja bertemu dengannya iya belanja bulanan dengan mamanya.
“Oh ya ketemu di supermarket berarti?” Tanya Areno yang lagi lagi dijawab dengan anggukan oleh Arani.
Tapi arani langsung sadar kalau dia harus menjawab dengan mulut lagi tapi entah kenapa barusan malah jawab dengan anggukan kepala saja padahal sebelumnya sudah mendapat teguran dari adiknya.
“Tuh kan lupa lagi aku mau jawab iya malah cuma angguk angguk doang,”
“Ha ha ha ha nggak apa-apa kok manusia lupa itu aja,”
“Iya jadi aku nggak sengaja ketemu sama Nara waktu aku mau belanja terus ya udah deh kita bisa pas udah mau pulang ke rumah masing-masing,”
“Eh kamu nggak mau nanya soal yang di restoran tadi ujar Areno tiba-tiba.
“Oh iya coba dong cerita sekarang kamu beneran nggak sih ada di rasanya sama kaya tempat aku tadi makan?”
Kebetulan are no membahas momen saat di restoran tadi jadi sekalian saja Arani menuntaskan rasa penasarannya.
“Iya kok beneran aku emang abis itu ada di restoran yang sama kaya kamu merasa kamu nggak percaya sih entar deh Aku kirim ya foto yang tadi aku ambil diam-diam,”
Tidak lama Areno berbicara seperti itu tiba tiba ada pesan masuk dari nomor Areno berupa gambar dan ketika melihatnya arani terkejut iya langsung bicara pada Areno.
“Oalah kamu ada di seberang aku ya ternyata ya aku nggak sadar si padal aku udah nyari nyari kamu loh tapi emang nggak semuanya kelihatan jelas sih soalnya kan banyak pelanggan yang lain juga dan kamu kayaknya posisinya membelakangi aku ya jadinya aku nggak sadar,”
“Iya aku yang ada di seberang kamu tapi posisi aku memang membelakangi tamu dan aku diam diam foto kamu deh,”
“Ya soalnya pakai hati, Kak, jadinya tau deh,”
Sebelum Areno yang menjawab, Ria dudha mengambil pertanyaan itu. Dan Areno yang mendnegarnya langsung tertawa sementara Arani mendengus kesal.
Ia kemudian menarik daun telinga adiknya dmabil mengomel “Kakak tuh nggak ngomong sama kamu tau. Ngapain kamu yang jawab sih? Bener-bener ya kamu, Dek,”
“Hahahaha, ya maaf deh. Aku ‘kan cuma asal nyeletuk aja. Taoi ksyaknya dih beneran ya, karena pakai hati, jadi tau deh Bang Aren kalau kakak ada di resto yang sama. Jadi hari kalian itu ‘kan ibaratnya maghnet, ketika berdekatan saling tarik menatik satu sama lain,”
“Halah sok gede kamu!”
Ria tertawa karena ucapan itu. Ucapannya memang seperti orang dewasa saja. Padahal usianya masih remaja.
“Tapi apa yang dibilang sama Adek kamu emang beenr deh, Ran. Kayaknya karena hati kita udah kayak maghnet ajdinya tuh sulit untuk dipisahkan,”
“Masa iya sih kamu tau aku di resto itu? Atau jangan-jangan kamu ngikutin aku sama mama aku ya? Huh?”
“Hahahaha ya kali. Itu mah udah nggak beres sih kalau ngikutin tanpa izin yanjecuali aku udah izin mau ngawal kamu sama mama kamu, mau jagain ceritanya. Lah orang aku nggak ada ngomong apa-apa masa iya aku ngikutin? Nggak mau lah, aku tau semua manusia itu punya ranah hidupnya masing-masing, punya privasi ngapain aku ngikutin kamu coba? Aku aja nggak mau diikutin sama orang kalau tujuannya nggak jelas, berasa dimata-matain aku nanti,”
“Ya terus kamu gimana caranya bisa tau kalau aku di resto yang sama kayak kamu?”
Areno langsung berdehem. Ragu juga mau cerita atau tidak, karena barusan Ia sudah bawa-bawa hati yang seperti maghnet. Kenyataannya Ia diberitahu oleh Dani yang tidak sengaja melihat kedatangan Arani.
“Eh kok diam sih? Cerita dong. Tadi kamu yang bahas itu duluan apdahal aku tadinya udha lupa tau,”
“Jadi sebenarnya—-“
Areno sengaja menggantung ceritanya dan itu membuat kekaishnya berdecak kesal. “Buruan ngomong jangan lama-lama ih. Aku nungguin ini lho,”
“Cieeee yang nungguin aku hahahaha,”
“Dih nyebelin banget,”
“Bruan cerita. Kamu kok bisa liat aku sih?”
“Ya bisa dong,”
“Gimana ceritanya?”
“Hmm sebemarnya sih aku dikasih tau sama Dani ya. Dia tiba-tiba aja bilang ada kamu dan begitu aku nengok ternyata beneran,”
“Oh ternyata dikasih tau sama teman kamu?”
“Iya, aku kaget sih dan awalnya ragu juga tapi ternyata beneran dong ada kamu. Jujur aku senang sih, tapi aku ngeliat ada cowok lain,”
“Kamu cemburu nggak?” Tanya Arani sambil memahan senyumnya. Ia sudah bisa membayangkan wajah ketus Areno sekarang.
“Iyalah, jujur aja aku cemburu sih. Tapi ya bggak smapai marah juga. Cuma cemburu dikit sama bingung sebenarnya. Sebebarnya dia siapa. Terus kenapa bisa sama kamu, dan mama kamu. Eh tau nggak sih teman-teman aku ngiranya kalian baha sperjodohan lho, makanya bertiga makan bareng,”
“Lah?”
Arani terperangah mendengar ucapan kekaishnya itu kemudian terbahak. Bisa-bisnaya berpikir jauh ke sana.
__ADS_1
“Terus kamu kebawa mikir gitu juga nggak?” Tanya Arani yang peansaran dnegan isi kepala kekasihnya setelah melihat Ia bersama Gibran dan Helen mamanya.
“Ya awalnya sih sempat ikutan mikir begitu tapi lama-lama nggak. Aku mikir positif aja. Mungkin kalian temenan, atau tetanggaan,”
“Dia anak teman Mama. Tetangga juga sih, rumahnya nggak jauh banget dari rumah aku ini,”
“Oh ya? Terus sering ketemu dong kalian?”
“Justru itu dia baru balik ke Jakarta abis sekolah,”
“Oalah, dia seumuran sama kamu?”
“Iya seumuran, Ren, kenapa emangnya?”
“Nggak apa-apa cuma nanya doang,”
“Bang Aren cemburus am Bang Gibran? Udah tenang aja, Bang. Kakak nggak bakal macam-macam krang gantengan Bang Aren kok, lebih baik Bang Aren juga, iya ‘kan, Kak?” Tanya Ria pada kakaknya yang memicingkan kedua mata. Ria memenangkan idolanya lagi.
“Ah masa sih, Dek? Jangan bikin calon abang ipar kamu ini salah tingkah deh,”
“Duh gini deh kalau adek sama pacar satu frekuensi. Kayak bestie banget mereka ya,” batin Arani.
“Beneran, orang lebih ganteng dan lebih baik Bang Aren kok aku yakin, iya ‘kan, Kak?”
“Udah ih ngomong mulu kamu dek, pusing kakak ah,”
“Ih galak amat sih, orang aku ngomong kenyataan kok,”
“Ya udah jangan debat kakak adek semuanya. Jadi ceritanya kayak gitu, Ran. Aku nggak sengaja aja gitu tau kamu ada di resto yang sama kayak aku,” ujar Areno.
“Taunya dari teman kamu?”
“Iya bener, si Dani tadi kalau nggaks alah yang bilang kr aku. Terus mereka langsung ngomoorin aku gitu. Bilangnya kamu mau dijodohin. Emang pada kampret banget itu orang ya,”
“Hahaha terus kamu kebakaran?”
“Ya iyalah, aku sempat kebakaran tapi untungnya tetap santuy,”
“Beneran tetap santuy? Hahahaha,”
“Iya aku tetap santuy, ya tapi agak deh-dehan juga sih sebenarnya. Aku takt kamu beneran dijodohin tau,”
“Hahahaha bisa-bisanya mikir kayak gitu,”
“Ya bisalah. Soalnya layak lagi baha sperjodohan beneran sihe mang. Soalnya ngumpul gitu ‘kan,”
“Ya nggak lah, jangan mikir gitu. Orang aku sama Mama tuh nggak sengaja aja ketemu sama si Gibran,”
“Terus kamu nggak sengaja juga ketemu sama Nara?”
“Iya tiba-tiba aja pas aku lagi milih-milih, ada yang manggil aku. Jelas aja aku kaget ‘kan. Aku pikir siapa. Ternyata Nara lho,”
“Areno, kamu belajar?”
Tiba-tiba pintu kamar Areno diketuk okeh mamanya. Tanpa menungguw aktu lana Ia langsung menjawab “Nggak, Ma, lagi ngobrols ana Arani,”
“Oh, kirain lagi belajar. Tuh Papa ngajakin jalan,”
“Okay bentar, Ma,”
Tidak terdengar suara mamanya lagi. Areno labgsung izin mengakhiri sambungan telepon bersama kekasihnya.
“Nanti kita smabung lagi ya zekarang aku lagi diajakin pergi nih sama Papa aku, Ar,”
“Okay-okay,”
Sambungan telepon mereka berakhir dan Areno langsung mempersiapkan dirinya untuk pergi dengan papanya.
Areno keluar dari kamar setelah berganti baju setelah itu memghampiri sang ayah yang sudah menunggu di ruang tamu.
“Pa, aku udah siap nih. Emang Papa mau ajakin aku kemana?”
“Ya sekali-kali lah jalannya sama Papa aja. Jangan sama teman mulu ya ‘kan, atau sama pacar,”
Areno terkekeh dan mengangguk tidak keberatan. Justru Ia senang sekali karena papanya kengajak Ia pergi. Hitung-hitung menyrgarkan otak.
“Papa tau nilai kamu menurun. Papa nggak tau apa sebabnya ya semoga aja setelah Papa ajakin jalan-jalan, kamu punya motivasi yang kuat lagi untuk belajar ya, Nak,”
“Aamiin; tapi sebenarnya tanpa diajak jalan-jalan juga aku udah punya motivasi untuk ngembaliin nilai aku kok, Pa,”
Ghali langsung menepuk pundak anaknya. “Ya bagus aklau begitu. Memang itu yang Papa mau. Iangan malas belajar, motivasi harus kuat, okay?”
“Siap, Pa,”
“Ya udha yuk kita pergi sekarang. Kamu mau kemana? Nonton bioskop nggak?”
“Ya boleh, Pa,”
“Papa bakal sering ajakin kamu jalan deh, Papa emang belakangan ini sibuk banget. Mungkin kamu kurang eprhatian juga dari Papa, kurang sering ngabisinw aktu sama Papa, kita quality time berdua ya ‘kan,”
“Papa jangan ngomong gitu. Orang Papa udha perhatian kok. Perhatian itu ‘kan nggak harus tiap detik dis amping aku, tapi dengan tanya kanar aku lewat chat, nanya kapan pulang, udah makan atau belum, dan lain-lain itu udha ternasuk perhatian yang besar banget buat aku dan aku bersyukur, jadi bukan kaena kurang perhatian kok, Pa. Jadi Papa tenang aja,” ujar Areno sambil tersenyum menenangkan Papanya. Areno harus menegaskan pada papanya bahwa yang salah itu adalah dirinya. Ia belum bisa membagi eaktu antara desiand an juga pendidikan. Akhirnya ada salah satu yang menjadi korban yaitu nilainya sendiri.
Mereka pakit pada Qanita sebelum meninggalakn rumah. Setelah itu mereka masuk mobil. Ghali yang menyetir mobil tentunya. Tujuan mereka adalah ke mall yang paling dekat dnegan rumah dan pengakp sekali. Di sana ada smeuanya termasuk bioskop.
“Pernah nontons ama Arani di mall langganan kita ini nggak, Ren?”
“Hmm kataknya belum sih Pa,”
“Ya udah ntar kapan-kapan ajakin ke sini,”
“Okay, Pa,”
Mereka membeli tiket. Setelah itu menunggu dulu, tudka langsung masuk studio, smabil menikmati pop corn dan minuman. Setelah sudah waktunya barulah mereka bergegas ke dalam studio. Bertepatan dnegan penonton lain yang baru saja selesai menonton di studio yangs aka tapi dengan judul film yang berbeda. Tiba-tiba ada yang menyapa Areno dnegan hangat. Laki-lak yang sudha tidka begitu nuda lagi, bersama anak kecil yang Ia genggam tangannya.
“Eh Areno ya? Kok bisa kebetulan kita ketemu di sini? Gimana kanarnya? Maish sihuk nge-desain? Oh iya, saya sampai sekarang amsih suka banget sama desian logo yang kamu buat untuk bisnis makanan saya. Makasih banyak ya, bawa hoki. Kapan-kapan kita makan bareng ya,”
“Duh mampus gue, pake bahas desain segala. Bokap ‘kan nggak tau kalau gue maish organg desain,” batin Areno yang mendadak panik sendiri karena salah satu kliennya tiba-tiba menyapa dan membahas doal desain yang pernah Ia buat.
“Lain kali kita makan abreng ya, Ren,”
Areno tersenyum canggungd an menganggukkan kepalanya “Iya, Pak,”
__ADS_1
jawab Areno dengan perasaan panik yang semakin tidak terkendalikan karena Ia lihatd ari ekor matanya, raut wajah papanya sudah berbeda.
“Duh gue kayaknya bakal diomelin nih karena ketahuan masih pegang desain. Gue pakai alasan apa ya? Ayo mikir, Ren!”