Kisah Anak Farmasi

Kisah Anak Farmasi
Bab 72


__ADS_3

Selesai menuntut ilmu, Arani dan kekasihnya, Areno sepakat untuk belanja di supermarket dan rencananya akan singgah di tempat makan. Dari sekolah, mereka langsung ke supermarket yang tak jauh dari sekolah dan sudah menjadi langganan mereka kalau hendak beli jajanan.


“Ren, abis itu kita makan nasi padang ya?” Arani meminta pendapat kekasihnya yang langsung menganggukkan kepala tidak keberatan


“Iya boleh, Zel. Kayaknya udah agak lama ya kota nggak makan nasi padang?”


“Iya bener, tapi kamu mau nggak? Atau kamu mau menu yang lain? Aku ikut kamu aja,”


“Kebalik, aku yang mau ikut kamu. Terserah kamu mau apa, aku ngawal kamu aja,”


“Ngawal? Emang aku presiden dikawal?” Tanya Arani seraya terkekeh.


“Ya maksud aku, kamu mau makan apa aja, mau makan dimana aja terserah kamu, Wahai ratu Arani ku. Aku ikut kamu, ngejagain kamu, sama bayarin makanan nya. Udah aku begitu aja,” ujar Areno menjelaskan sambil fokus mengemudikan mobilnya dengan fokus.


“Nggak bayarin juga sih, aku yang jajan masa kamu yang bayar, oh iya habis itu kita langsung pulang?”


“Iyalah, mau kemana lagi, Ran?”

__ADS_1


“Ya nggak ada tujuan lagi sih,”


“Aku pikir kamu mau ngajakin aku staycation gitu di hotel puncak atau Bali gitu yang jauhan,”


“Ngaco! Orang kita belum nikah masa mau staycation, sembarangan aja kamu kalau ngomong,”


Areno geleng-geleng kepala. Tak ada angin dan hujan, mendadak kekasihnya kepikiran dengan staycation. Yang benar saja bisa diusir mereka dari rumah kalau berani melakukannya.


“Ada-ada aja kamu. Emang kita biasa sebebas itu? Nggak ya! Jangan ngaco deh, bisa diarak rame-rame sama satu komplek kalau tau kita staycation,”


”Hih amit-amit,” ujar Areno sambil mengangkat kedua kakinya.


Areno mengusap pipi kanan Arani yang saat ini duduk menatap lurus ke depan. Setelah mendapat sentuhan di pipi, Arani langsung menoleh menatap Areno.


“Ya tapi nggak nginap dong! Jalan-jalan pulang pergi aja. Kira-kira kita kemana ya? Karena nginap nggak mungkin sih,” ujar Arani.


“Aku ajakin Mama Papa aku aja ah. Kamu juga ajakin Mama Papa kamu liburan kemana kek gitu, kalau emang kamu ngebet banget pengen liburan, habisin uang tapi kalau liburan itu hahaha,” panjut Arani.

__ADS_1


“Ya nggak apa-apa lah, Ran. Selagi ada kesempatan, entah itu umur, kesehatan, uang. Kita nikmatin lah yang ada, kalau mau liburan ya tinggal berangkat. Apalagi kita belum nikah pasti orangtua senang hanget kalau liburan sama anaknya,”


“Iya bener kamu, Ren,”


“Ya udah terserah kamu deh tapi aku tuh pengennya libur sama kamu,” ujar Areno.


“Apa aku izin sama Mama Papa ajak kamu liburan ke villa aku? Boleh kali ya? Kan mereka ikut,” gumam Arani


“Ih mau, pasti seru banget,”


“Iya emang, suasana masih desa gitu,”


“Cari suasana beda di perkampungan atau desa emang paling enak sih, Ran. Bisa jalan-jalan di sekitar vila nanti. Misalnya pagi kita jalan cari sarapan di dekat vila, terus siang juga gitu,”


“Aku tanya Mama Papa aku coba ya hahaha, boleh atau mggak. Hmm tapi kayaknya nggak boleh deh soalnya masih pacaran beda cerita kalau udah nikah,”


“Nggak usah deh nggak enak juga liburannya sendiri-sendiri aja, ntar tinggal video call ceritanya lagi ldr jauh ya walaupun mislanya cuma sekedar ke puncak tapi itu anggap aja jauh,” ujar Areno.

__ADS_1


Arani menganggukkan kepalanya. Bagi dirinya yang jarang keluar dari rumah, Ia setuju kalau ada orang bilang Jawa Barat itu jauh. Ternyata Areno tahu yang seharusnya dilakukan adalah bukan liburan bersama melainkan liburan masing-masing akan tetapi masih komunikais terjalin baik nantinya.


__ADS_2