
“Arani, kamu kok kesel gitu sih sama aku? Nggak senyum, aku panggil-panggil ceritanya nggak denger, alias budeg. Maunya gimana sih?”
“Ya kamu ngapain posesifin aku sih? Aku nggak nyaman. Aku bebas dong mau berteman sama siapa aja. Jangan kayak tadi pagi lagi ya,”
Arani bicara sambil menuang kecap ke dalam mangkuknya yang berisi bakso. Dan Areno duduk di depannya sedang berusaha untuk membuat hubungan mereka kembali baik-baik saja usai tadi pagi Ia bermasalah dengan temannya Arani perkara mereka mengobrol yang tidak tahunya adalah obrolan tentang meinjam buku.
“Ya udah aku minta maaf, jangan kesel dong,”
“Aku nggak kesel lagi kok, cuma aku nggak mau aja ya kamu ngelakuin hal kayak tadi pagi lagi. Aku bebas dong berteman sama siapa aja, mau ngobrol sama siapa aja. Jangan ngatur aku, Areno,” ujar Arani setelah Ia keletakkan botol kecap di atas meja, sekarang Ia menuang sambal. Begitu hampir mau tiga sendok tapi tangannya langsung ditahan oleh Areno.
“Jangan macam-macam ya kamu. Aku nggak mau kamu sakit. Udah cukup dua sendok aja sambalnya. Lagian itu udah pedes banget lho,”
“Nggak ah, sok tau kamu. Aku masih kurang sambal ini. Mana ada rasa pedas kalau cuma dua,”
“Astaga, Arani, kamu apa-apaan sih? Udah dua aja! Jangan kebiasaan jelek yang di pelihara. Kamu harus biasain hidup yang sehat,”
“Emang kamu nerapin pola hidup sehat? Makanan kamu juga pasti sembarangan,”
“Ya tapi setidaknya aku tidak seperti kamu yang gila makan sambal,”
“Okay cuma dua,”
__ADS_1
Areno tersenyum mendengar jawaban Arani. Sekarang wadah sambal tidak lagi di tangan Arani. Sudah ada di dekatnya. Kalau sewaktu-waktu Arani mengambilnya maka Ia akan lebih tegas lagi melarang Arani.
“Areno ingat ya kamu jangan over posesif ke aku. Kita ini cuma pacaran. Jadi jangan berlebihan deh,”
“Aku cemburu tadi. Sorry deh kalau aku—“
“Cemburu juga yang wajar dong. Masa iya sih kamu cemburu segitunya? Bisa-bisa kamu bermasalah sama semuanya kalau kamu cemburuan kayak begitu. Aku kan mau berteman sama siapa aja,”
“Iya aku minta maaf,”
“Nanti kalau kamu berlebihan cemburuannya, aku bisa-bisa nggak ada teman tau!”
“Iya okay aku minta maaf. Jangan diungkit lagi,”
“Aku nggak akan ngulangin itu, aku janji,”
“Arani,”
Disaat Arani dan Areno sedang bicara tiba-tiba ada yang memanggil Arani. Dia adalah Deri.
Deri datang menghampiri Arani di mejanya dengan menjinjing buku catatan milik Arani. Ia langsung meletakkan buku itu di atas meja lalu tersenyum menatap Arani.
__ADS_1
“Ini gue balikin bukunya, makasih ya. Jangan kapok minjemin gue ya,”
“Okay sama-sama, udah kelar semua?”
“Udah Alhamdulillah,”
“Syukur deh kalau gitu,”
“Gue balik ke kelas ya, sekali lagi makasih,”
Areno yang sedang menyeruput minuman milik Arani tiba-tiba terbatuk. Niat hati mau berdehem supaya obrolan Arani dan Deri berakhir, tapi berujung tersedak.
“Nggak usah ngamuk kali, ini gue mau ke kelas kok,”
Setelah berucap seperti itu, Deri langsung bergegas pergi. Sementara Arani langsung mencubit lengan Areno.
“Kamu kenapa minum punya aku sih? Kamu beli sendiri dong,”
“Udah terlanjur haus,”
“Kamu sengaja ya supaya Deri buru-buru pergi? Katanya tadi nggak bakal ngulangin lagi. Belum juga lima menit ngomong gitu, eh ini diulangin. Deri sampai kabur tuh,”
__ADS_1
“Niatnya emang gitu, cuma aku kesedak beneran ini,”
“Ya makanya punya niat tuh jangan jelek,”