
Arani menghela napas kesal. Semalam sudah ada kesepakatan kalau pagi ini Ia akan pergi ke taman kota bersama teman-temannya untuk lari pagi.
Melihat Areno yang duduk di atas motornya dengan santai, Arani tidak sabar untuk memukul kepalanya.
"Gue udah bilang jangan datang ke sini!"
Areno yang sedang bermain dengan gawainya pun menoleh. Ia menilik penampilan Arani mulai dari bawah hingga atas. Walaupun hanya menggunakan kaus santai yang longgar dan celana traning tapi Arani tetap mempesona.
"Mau jalan-jalan pagi sama kamu," ucap Areno dengan kerlingan matanya.
"Gue--"
"Aku!" sela Areno dengan cepat. Arani masih keras kepala ternyata. Apa susahnya mengubah panggilan?
"Enggak bisa! teman-teman udah pada nunggu,"
Arani menggeleng dengan tegas. Minggu kemarin acara jogingnya bersama teman-teman sudah gagal karena Areno. Dan sekarang harus gagal lagi? Tidak akan dibiarkan oleh Arani!
"Itu mereka!" seru Arani senang. Oh akhirnya ada malaikat penolong. Kalau Ia sendiri yang berdebat dengan Areno dapat dipastikan Ia akan mengalami kekalahan.
Ketiga temannya keluar dari mobil jaz milik Defilla. Syena, dan Vevi memang sudah mengajak Arani untuk pergi pagi ini. Vevi akan menjadi anak baru di sekolah mereka. Tapi dalam hal pertemanan mereka sudah menjalinnya sejak lama. Keempat gadis itu sudah menjadi sahabat sejak mengenyam pendidikan sekolah dasar. Di jenjang sekolah menengah pertama, mereka berpisah karena Vevi harus mengikuti ayahnya kemanapun setiap bertugas atas nama negara.
Areno menatap kedatangan mereka. Kemudian beralih pada Arani.
"Emang kamu punya temen? bukannya enggak punya temen?"
"Kurang ajar mulut lo!" semprot Arani bersiap memukul kepala Areno yang masih dibalut helm.
"Di sekolah, aku jarang lihat kamu sama teman-teman. Aku kira cuma aku doang yang punya teman," Areno mengungkapkan alasannya mengejek Arani demikian. Selama mereka berpacaran memang Ia tidak pernah melihat Arani bersama temannya. Pacarnya itu selalu sibuk dengan dunianya sendiri. Seperti membaca novel diwaktu istirahat, atau makan bekal sendiri di kelas. Terlihat seperti tidak punya teman kan?
Atau memang ia tak pernah peka? padahal sebelum Syena dan Defilla mendapat hukuman, mereka berdua selalu menjadi ekor Arani.
"Mereka emang habis di skors dari sebulan yang lalu,"
mata Areno membelalak. Kenapa Ia baru tahu? kira-kira kesalahan apa yang mereka perbuat? kenapa sampai di skors?
"Ketahuan pacaran di mall pas jam istirahat,"
__ADS_1
mendengar itu Areno tak bisa lagi menahan tawanya. Ternyata mereka lebih nakal daripada Ia dan teman-temannya. Mereka tidak pernah pacaran di waktu pelajaran. Tapi selalu merokok diwaktu tersebut.
"Kamu enggak di skors?"
Arani menggeleng lalu mengisyaratkan teman-temannya untuk mendekat.
"Aku kan enggak punya pacar,"
Lalu dia dianggap apa?
"Terus aku...."
"Lama banget gue tungguin dari tadi,"
ucapannya belum selesai, Arani sudah menyela. Gadis itu merajuk pada Syena, Defilla dan Vevi.
"Ini yang lo bilang, Ran?" tanya Vevi melirik Areno. Wajahnya datar dan ilfill seolah bisa menebak bagaimana perangai pacar sahabatnya ini.
"Modelan playboy kenapa lo pacarin?" sambungnya lagi.
"Yeh bocah! songong banget sama gue. Kalau belum kenal, enggak sok tahu!" seru Areno dengan kesal. Ia menatap tajam Vevi. Sisi kelakiannya merasa tersinggung.
"Pacar lo banyak kan pasti? awas lo kalau nyakitin Arani. Gue patahin leher Lo!!"
Seolah menantang, Areno menyodorkan lehernya ke arah Vevi.
"Nih patahin sekarang! enggak takut gue,"
Vevi membuang arah pandangannya. Benar-benar cowok yang bisa bikin dia stres si Areno ini.
"Gue bilang, kalau Lo nyakitin Arani,"
Areno memutar bola matanya. Kenapa semua orang selalu curiga dengannya? segitu buruknya dia? Mungkin Arani memang terlalu baik untuk cowok pintar tapi badung macam dia.
"Gue enggak mau dengar pertengkaran pagi ini!" seru Arani yang tidak ingin dibantah. Pagi-pagi Ia harus sakit kepala melihat teman dan pacarnya bertengkar. Seharusnya mereka bisa menggunakan waktu libur ini untuk hal lain yang lebih bermanfaat.
Tangan Arani sudah ditarik oleh Syena. Mengajak gadis itu masuk ke dalam mobil, Namun Areno tak kalah cepat. Ia tidak akan membiarkan kekasih hatinya pergi tanpa Ia dan motor kerennya.
__ADS_1
"Kamu sama aku!"
Areno mulai menunjukkan sikap posesifnya yang mengundang decakan malas dari semua gadis itu. Mereka kompak memberikan tatapan maut pada Areno yang dibalas santai oleh cowok berperawakan tinggi tegap itu.
"Enggak usah alay deh. Udah kayak bucin tingkat dewa aja Lo. Arani enggak mau diboncengi sama Lo!"
"Emang bucinnya gue udah tingkat dewa. Masalah buat Lo?"
"Bodo amat, Malih!" Defilla menyerah untuk memperpanjang masalah ini.
"Kamu sama aku. Ayo naik ke motor!"
Areno menunjuk jok motornya dengan dagu. Mengisyartkan Arani yang masih diam untuk segera naik.
"Gue.."
"Aku, Sayang!"
Lagi-lagi Areno menyela ucapan pacarnya. Ia gerah mendengar kata lo-gue yang masih keluar dari bibir Arani.
"WAELAH SAYANG-SAYANG!! SAYANG NENEK LO SONO!! NGAPA SAYANG SAMA ARANI?!" teriak Syena dengan kesal. Ia ingin menggeram layaknya harimau. Tapi tidak lucu kan seorang cewek melakukan itu? semarah-marahnya cewek, hanya seruan manja yang seharusnya dikeluarkan.
"Dia cewek gue!"
"Lah baru cewek, Malih!! belum jadi bini Lo!!"
"Bentar lagi," jawab Areno sangat singkat, padat, dan jelas. Yang membuat mereka semua langsung mengerti. Bahwa cowok itu akan segera menjadikan Arani sebagai bini seperti kata Syena.
Aduh, ketiga cewek itu kenapa baper ya? kenapa mereka juga ingin menjadi Arani yang begitu disayang? eh, tapi Areno beneran sayang kan?
"HEI MANUSIA! SAYANGI IBUMU YANG MELAHIRKAN DAN MEMBESARKANMU!! DIALAH MANUSIA SATU-SATUNYA...." 🎵🎶
Defilla membuat Arani malu. Beberapa tetangganya di dalam komplek itu memperhatikan gilanya Defilla.
Arani menghentak kakinya ke aspal. Ia melihat bibir Defilla yang ingin kembali berteriak sambil bernyanyi itu.
"DEFILLA!! PULANG SEKARANG!!"
__ADS_1