Kisah Anak Farmasi

Kisah Anak Farmasi
Bab 35


__ADS_3

“Cie pulang diantar Bang Areno,”


Arani berdecak pelan ketika Ria menggodanya. Baru pualng sekolah sudah mode on keusilannya.


“Kakak, kok Bang Aren nggak disuruh masuk dulu?”


“Nggak usah, dia lagi sakit,”


“Siapa yang lagi sakit?”


Begitu mereka masuk ke dalam rumah, Hellen menyambut kedatangan mereka dengan senyum hangat dan tak sengaja Hellen mendengar perkataan bahwa ada yang sakit tapi Ia tidak tahu siapa orangnya.


“Kalian berdua ada yang sakit, Nak?”


“Oh bukan, Ma. Maksud aku, itu si Areno lagi sakit. Dia demam tinggi makanya langsung pulang. Adek ‘kan tadi nanya kenapa nggak disuruh masuk dulu? Ya udah aku jawab begitu. Aku nyuruh dia untuk pulang supaya istirahat dan minum obat,”


“Kelelahan mungkin, Ran. Kenapa kamu diantar pulang sama Areno? Dia harusnya pulang duluan aja tadi,”


“Iya itu dia masalahnya, Ma. Dia nggak pulang duluan malah ngajakin aku pulang bareng padahal ‘kan dia lagi sakit. Hatusnya dia izin aja ke guru piket kalau dia sakit pasti dibolehin pulang duluan kok. Aku aja pernah kayak gitu karena udah nggak kuat lagi nahan sakit di sekolah,”

__ADS_1


“Perhatiin dong, Kak,”


“Ya aku harus gimana coba?” Tanya Arani yang bingung ketika adiknya meminta Ia untuk perhatian. Menurutnya dengan menyuruh Areno untuj istirahat yang cukup, makan teratur dan minum obat sudah cukup menjelaskan bahwa itulah bentuk perhatiannya.


“Kakak nggak ada ngasihin makanan atau apa kek buat Bang Aren?”


“Nggak ada, dia ‘kan banyak duitnya jadi bisa beli sendiri lah,”


“Ealah si kakak kok ngomong gitu sih? Benar kata adikmu itu. Paling nggak beliin parsel buah, bawain ke rumahnya, Kak,”


“Duh aku baru sampai rumah, Ma,”


“Ya udah deh nanti aku ke sana,”


“Gitu dong, jangan cuek ke orang terdekat yang sakit apalagi dia ‘kan teman dekat kamu,”


“Pacar, Ma. Bang Aren pacarnya Kakak, sebutnya jangan teman dekat,”


“Iya pacar maksud Mama. Tapi kalau disebut teman dekat juga nggak apa-apa ‘kan? Orang belum nikah,”

__ADS_1


“Iya bener kata Mama. Terserah Mama lah mau nyebutnya apa, Dek,”


Ria membungkam mulutnya sambil menganggukkan kepala. “Okay-okay, nanti aku temenin kakak beli parsel dan antar parselnya ke rumah Bang Aren ya,”


“Iya makasih. Sekarang mau ganti baju, rebahan dulu deh,”


Hellen menganggukkan kepalanya mempersilahkan sang putri untuk bergegas ke kamarnya beristirahat. Seperti biasa kalau sudah pulang sekolah pasti Arani kelihatan lelahnya.


“Kamu juga istirahat, Dek,” hellen juga menyuruh anak bungsunya untuk segera istirahat.


“Okay siap, Mama. Kalau seandainya aku ketiduran bilang aja sama Kakak bangunin aku di kamar ya,” jawab Ria sambil bersikap hormat.


“Sip nanti Mama bilangin ke kakak,”


Ria menyusul kakaknya istirahat juga. Ketika tak sengaja melintasi kamar Arani, Ria melihat Arani sedang menempelkan ponselnya di telinga.


Sambil melangkah, mulut Ria bergumam “Kayaknya kakak lagi telepon Bang Aren tuh, paling dia mau tanya Bang Aren dimana? Udah sampai rumah belum? Ya belum lah, emang Bang Aren terbang pakai roket? Orang baru juga nganterin kakak. Tapi orang khawatir emang suka gitu sih. Nggak tenang kalau nggak tanya lagi dimana,”


“Halo kamu belum sampai rumah? Lagi dimana?”

__ADS_1


Mendengar suara Arani bicara seperti itu, Ria langsung menahan tawa sambil bicara “Tuh ‘kan bener. Kakak perhatian banget ternyata. Baru juga pisah bentar udah nanyain lagi dimana?”


__ADS_2