Kisah Anak Farmasi

Kisah Anak Farmasi
Bab 24


__ADS_3

“Hai Arani cantik,”


Arani menaikkan salah satu alisnya mendengar Areno menyapanya dengan hangat seperti itu. Melihat reaksi Arani yang biasa-biasa saja, Areno langsung berdecak pelan.


“Kenapa sih? Kok mukanya gitu?”


“Muka aku gimana? Biasa aja deh perasaan,”


“Yang kayak ilfeel gitu aku sapa Arani cantik,”


“Ya lagian ngapain nyapa begitu ih. Geli malah dengarnya,


“Kok geli sih? Itu malah so sweet tau,”


“Udah deh jangan ngomong mulu. Ayo kita berangkat nanti telat,”


“Okay, Tuan putri. Eh Aku senang banget deh karena kamu nggak kabur lagi,”


“Maksudnya? Emang aku pernah kabur?”


“Ya karena ngambek sama aku, kamu nggak mau berangkat ke sekolah bareng sama aku, dan kamu berangkat sama Papa kamu,”


“Oh itu ‘kan karena aku lagi kesal, kalau kamu baik, nggak mancing aku kesal, aku bakal baik juga,” ujar Arani seraya tersenyum tipis.


“Makanya jadi orang tuh yang normal-normal aja bisa nggak sih? Kamu jangan nyebelin!”


“Emang selama ini aku nggak normal ya?”


“Pikir aja sendiri,”


Tawa Areno pecah seketika. Ia menyadari kalau Ia sering menyebalkan. Jadi memang wajar kalau Arani membalas perilaku menyebalkannya.


“Kakak, hati-hati ya,”


Roa berseru pada kakaknya yang akan masuk ke dalam mobil. Arani melambai pada adiknya yang akan diantar oleh sang papa yang masih berada di dalam rumah.


“Papa kamu mana? Kok nggak keliatan, Ran?”


“Masih di dalam,”


“Kamu udah pamit?”

__ADS_1


“Udah kok,”


“Aku pamit dulu deh,”


“Ya udah sana turun dulu kalau mau pamit,”


“Emang mau turun, Aranique,”


Areno langsung melepas seatbelt, dan setelah itu keluar dari mobil. Ketika Ia keluar dari mobil, Ria menatapnya bingung.


“Kenapa Bang Aren turun? Apa ada yang ketinggalan ya?”


“Nggak, aku mau pamit aja sama Om,”


“Oalah, tunggu bentar ya, Papa aku lagi belum selesai siap-siap,”


“Okay, kamu diantar sama Papa?”


“Iya, Bang,”


“Nggak sama Abang ojek?”


Radi keluar dan cukup terkejut melihat Areno. Ia pikir Areno sudah berangkat dengan Arani ke sekolah.


“Eh Areno,”


“Assalamualaikum, Om. Aku mau pamit berangkat sekolah bareng sama Arani ya, Om,”


“Waalaikumsalam okay, hati-hati ya,”


“Siap, Om, makasih,”


Setelah mencium tangan Radi, Areno langsung bergegas kembali ke dalam mobil. “Udah pamitnya?” Tanya Arani seraya mengangkat kepalanya yang semula menunduk fokus menatap ponsel.


“Udah kok, berangkat sekarang ya,”


“Okay, takut telat,”


“Kamu anak rajin takut telat mulu deh perasaan. Santai aja, Aranique, nggak bakal telat kok,”


“Ya takut aja, aku nggak mau dihukum,”

__ADS_1


“Ya emang kamu kira aku mau dihukum? Hmm? Ya nggak lah, aku juga nggak mau kali dihukum, capek dihukum tuh,”


“Disuruh bersihin toilet, atau berjemur di bawah tiang bendera, atau bantu-bantu bersihin perpus, ih pokoknya nggak enak deh,” ujar Areno.


“Iya kamu langganan ya?”


“Nggak juga, tapi pernah,”


Arani akan menyimpan ponselnya di dalam tas namun karena ada pesan masuk, Ia mengurungkan niatnya itu. Denting dari ponsel Arani membuat Areno menoleh sebentar.


“Siapa tuh?”


“Nomornya aku nggak kenal,”


Arani membuka pesan yang masuk itu dan ternyata dari Rafa, teman sekelas sekaligus ketua kelompok tugas Farmakologi.


“Oh si Rafa,”


“Kenapa?”


“Ngasih tau nanti pulang sekolah mau ngerjain tugas kelompok,”


“Ya elah, ‘kan bisa kasih tau nanti pas di sekolah,”


“Ya ‘kan lebih cepat, lebih baik, makanya dia kasih tau sekarang,”


“Kayak nggak bisa aja di sekolah ngasih taunya?”


“Barangkali dia ngira aku nggak masuk sekolah kali ya,”


“Masa iya seorang Arani nggak masuk sekolah? Nggak mungkin lah,”


“Sih kata siapa nggak mungkin? Mungkin-mungkin aja sih, ‘kan namanya manusia kadang ada hal yang nggak terduga bisa terjadi dan akhirnya itu bisa bikin sku nggak sekolah,”


“Ya tapi ‘kan kamu udah pasti ngabarin dari tadi pagi-pagi buta ke ketua kelas, sama ke guru, nggak mungkinlah baru ngasih tau sekarang,”


“Nggak kok, kadang aku kalau mau izin ya ngasih taunya pas udah mau bel masuk, nggak pagi buta juga,”


“Halah itu mah emang mau caper makanya ngechat kamu aja,”


“Apaan sih? Kok malah kesel?”

__ADS_1


__ADS_2