Kisah Anak Farmasi

Kisah Anak Farmasi
Bab 6


__ADS_3

"Emang iya sekarang Ulangan Farmakognosi?"


"Iya,"


Dengan kesal Syena mendartkan tangannya pada lengan Defilla.


"Aduhh. Sakit tau! Kenapa sih kok mukul gue?"


"Ya abisnya lo gak bilang ke gue kalau hari ini mau ulangan Farkog. Harusnya kasih tau gue semalem. Kan lewat Chat bisa. Lo mah gitu sih,"


"Lah?"


"Udah tau gue orangnya pelupa. Bukannya di ingetin,"


"Ya Maaf gue kira- -"


"Percuma minta maaf. Gak bakal bikin nilai gue nanti bagus juga kan?"


"Makanya lo nyatet dong di buku kecil gitu, lho. Supaya kalau ada tugas atau ulangan lo bisa catet di situ. Jadi gak lupa kayak sekarang,"


Syena hanya mencibir nasihat Defilla.


"Udah daripada debat terus mendingan sekarang lo belajar deh. Masih ada waktu kok. Kan pelajaran Farkog di jam Terakhir,"


Arani yang memang memiliki pemikiran lebih dewasa dibanding kedua temannya memberi solusi terbaik.


"Gue minta maaf sekali lagi sama lo. Gue juga gak kepikiran untuk ngasih tau lo kalau hari ini ada Ulangan. Gue juga sibuk belajar, Syen. Maaf ya," Ucap Arani dengan tulus.


"Kalau lo yang jadi gue sekarang mah gampang aja. Pelajaran apapun itu cepet lo tangkep. Lah gue? Gue kan Lemot,"


Kalau Syena bukan temannya, Rasanya tidak masalah kalau Arani tertawa mendengar kalimat Frontal cewek yang sedari SMP sudah bersahabat dengannya itu.


"Kata siapa lo lemot? Lo juga pinter, Keleus"


Arani mengangguk setuju atas ucapan Defilla.


Syena menarik telinga Defilla hingga membuat Cewek tomboy itu menjerit histeris.


"Sakit, Sayton!"


"Orang pinter gak pernah lupa kalau ada ulangan. "


****** ******


"Eh Ryan materi ulangannya bu Novi apaan?"


"Farkog?"


"Yaiyalah Beloon. Emang lo pikir Bu Novi ngajar apaan selain Farkog?"


"Lah? Lo lupa kalau dia ngajar Matpel lain juga,"


Syena terkekeh seraya menggaruk dagunya yang kecil itu.


"Lupa gue,"


"Pokoknya tentang Ekstrak deh. "


"Doang?"


Defilla melempar sedotan yang ada di meja ke arah Syena.

__ADS_1


"Sok bisa lo. Ngomong Doang kayak udah hapal semuanya aja."


"Udah sih, Mampus"


Syena menjulurkan lidahnya ke arah Defilla. Hanya mereka berdua yang sibuk bertengkar di dalam kantin itu. Tidak ada yang memikirkan Debat karena makan adalah hal yang paling penting sekarang.


"Terus?"


Ryan kembali menatap Syena yang ada di seberang mejanya bersama kedua temannya yang tak kalah cantik.


"Udah Ekstrak aja. Mulai dari Definisi, Cara pembutan, Cairan penyari sampe bagian tanaman yang di pake juga ada," Jelas Ryan panjang lebar. Supaya gadis Repot itu tidak bertanya lagi.


"Kok lo ngasih tau sih? Ntar dia keenakan dong. Gak dipelajarin semua nanti sama dia. Dia cuma belajar materi yang lo kasih tau doang,"


"Gigi lo Tattoan. Gue udah pelajarin semua materi Ekstrak jadi Lo jangan ngeremehin gue ya!"


Arani menghela nafas panjang. Mereka yang bertengkar tapi ia yang sakit kepala.


Jika saja ini bukan di sekolah, sudah ia pastikan bahwa tangannya tak akan segan-segan mendobrak meja untuk meluapkan kekesalannya.


"Udah jangan ribut! Berisik banget lo semua!!"


Arani mengalihkan pandangannya pada Areno yang menatap teman-temannya dengan marah.


"Ya Mangap, Boss"


Jojo langsung melanjutkan acara makan siang nya. Kalau sudah begitu, semua teman-teman Tongkrongan Areno pasti akan diam. Karena Areno itu jarang marah. Kalau dia sudah marah, tandanya cowok itu menganggap suatu hal yang terjadi di depan matanya telah melampaui batas.


"Maaf, Keleus"


Koreksi Syena yang mengundang cubitan kecil Arani mampir di lengan kanannya.


Ucap Arani penuh tekanan. Ia tak ingin melihat Areno keluar tanduk lagi. Karena itu juga membuatnya Sedikit Takut.


****** ******


"Tidak ada Apapun di atas meja kecuali alat tulis dan lembar jawaban!"


Pesan yang di utarakan Bu Novi setiap kali ulangan akan di mulai.


"Dan tidak ada Tulisan apapun di meja kalian, Termasuk di tembok!"


Bu Novi berjalan seraya memberi masing-masing anak soal ulangan. Dengan mata yang setia menjadi CCTV.


Semuanya mengisi lembar jawaban dengan tenang. Tidak ada yang bisa berkutik. Bu Novi memang guru perempuan yang paling di takuti oleh murid-murid sekolah itu. Ketegasannya dalam menegakkan kejujuran memang patut diacungi jempol. Ia tak akan segan-segan merobek kertas ulangan anak yang tertangkap basah menyontek atau bahkan mengeluarkan anak tersebut dari kelas sehingga tidak bisa mengikuti ulangan hingga usai.


Mulutnya yang tajam mampu membuat Beberapa siswa yang malas belajar pasrah atas nilai yang mereka peroleh. Beda dengan anak yang rajin belajar. Tentu saja, Tidak ada masalah dengan apa yang dilakukan Bu Novi.


Persepsi tentang Bu Novi dalam masing-masing Pikiran Anak pun berbeda. Jika sudah pernah tertangkap basah oleh Bu Novi sedang menyontek maka mereka akan menganggap Bu Novi adalah Musuhnya. Karena Bu Novi tidak ada Toleran sama sekali dalam hal ini.


Pikiran Guru yang berasal dari Sumatra Selatan ini sangat Kritis. Lagi-Lagi untuk membangun generasi bangsa yang memiliki kemampuan bersaing tanpa adanya unsur kebohongan yang di tutupi.


Kejujuran adalah Harga mati, Begitu katanya.


****** ******


" Tadi lo Ulangan Farkog?"


Arani merasa risih saat Areno membawa anak rambutnya yang dibawa semilir angin ke belakang telinganya. Keduanya jalan beriringan menuju area parkir sekolah.


Arani mengangguk.

__ADS_1


"Gimana? Bisa kan?"


"Bisalah. Gue gitu, Lho" Arani mengibaskan Rambut tebalnya dengan Sombong. Hal yang disukai Areno.


"Beneran bisa? Awas kalau nilai lo Jelek ya. Gue hukum lo,"


"Makan dulu, yuk"


Areno mengulurkan tangannya untuk membantu Arani menaiki motor besar kesayangannya.


"Makan aja di rumah. "


Areno yang sedang menggunakan Helmnya menoleh ke belakang.


"Rumah lo ya?"


"Gak Lah. Lo makan di rumah sendiri. Emang lo gak punya rumah?"


Areno mencubit sesaat pipi gadisnya.


"Punya. Tapi kan lebih enak makan di rumah pacar."


Arani Reflex menepuk punggung tegap cowok itu.


"Bilang aja lo mau numpang makan."


Areno tertawa lalu bersiap mengendarai motornya.


"DULUAN WOYY," Teriak Areno pada teman-temannya yang masih menggunakan jaket dan Helm mereka.


"IYA TAU YANG UDAH GAK TAHAN MAH,"


Areno mengarahkan kepalan tangannya pada Ryan yang baru saja berbicara asal.


Semua teman-temannya langsung menyemburkan gelak tawa saat melihat Areno yang Sewot.


Areno meninggalkan lingkungan sekolah dengan laju motor yang santai.


"Mau makan di mana jadinya?"


Areno mengencangkan sedikit Volume suaranya agar Arani bisa mendengar.


"Hah?"


Areno berdecak lalu menggenggam tangan Arani yang entah sejak kapan sudah melingkari pinggangnya.


"Mau makan di mana?" Ucapnya sambil bermain-main dengan tangan mulus cewek itu.


"Modus, Lo!"


Arani menarik tangannya dengan pipi merah merona. Hal itu tak luput dari perhatian Areno yang sejak tadi mengawasinya dari kaca spion.


"Lo duluan yang modus sama gue. Tadi yang tangannya megang gue duluan, Siapa? Lo kan?"


Arani mencubit keras pinggang Areno yang langsung meringis kesakitan.


"Sakit, Sayang"


*****


Farmakognosi --> Pelajaran mengenai Tanaman obat Indonesia

__ADS_1


__ADS_2