
“Okay jadi kalian ‘kan udah dikasih waktu untuk istirahat ya tadi. Nah sekarang aku minta waktunya sebentar untuk jelasin kegiatan kita hari ini apa aja. Jadi setelah aku bicara ini, kita bakal langsung main game sedotan dan karet ya. Game yang biasa dimainin pas tujuh belasan itu. Berhubung bentar lagi hari kemerdekaan jadi kita main itu. Selanjutnya, ada lomba pecahin balon sambil joget berpasangan. Setelah main game, kita sholat dzuhur berjamaah, makan siang bareng, terus dikasih waktu istirahat lagi satu jam. Baru deh kita persiapan untuk api unggun nanti malam. Oh iya sebelum ada api unggun, kita bakal jalan-jalan malam dulu di sekitar villa ini. Baru deh kita balik ke villa untuk api unggun sambil nyanyi-nyanyi. Setelah api unggun kita istirahat, dan dilanjut kegiatan besok. Nah untuk apa-apa aja yang bakal kita lakuin besok bakal aku jelasin besok ya. Sampai sini ada yang mau ditanyain nggak?”
Setelah diberikan waktu untuk beristirahat sesampainya tiba di villa, Arani dan teman-temannya diminta untuk berkumpul mendengarkan pengarahan dari panitia.
Arani bisa fokus berusaha menjadi pendengar yang baik sementara Areno tidak bisa. Matanya akan sesekali mengamati Arani sambil tersenyum kecil. Karena kebucinannya itu, Areno mendapat teguran dari orang dis ebelahnya yang tak lain adalah Adib.
Adib sengaja menyenggol lengan Areno menggunakan sikunya dan itu berhasil membuat Areno tersentak kaget.
“Ah elah bikin kaget aja lo,”
“Yang mesti diperhatiin itu kakak panitia nya! Bukan cewek lo. Buset dah bucin amat lo ya,”
“Emang, baru tau?” Dengan santainya Areno menyahuti sambil menaikkan salah satu alisnya.
“Dih, Arani aja fokus tuh dengerin penjelasannya lah kenapa lo jadi nggak fokus?”
“Ya elah, gue juga fokus kok. Jangan sok tau lo,”
“Fokus dari Hongkong! Mata lo sini gue colok pake lidi,”
Areno tertawa dan itu berhasil membuat panitia menatap ke arahnya. Areno yang merasa telah berbuat kesalahan di tengah keseriusan murid-murid lain mendnegarkan penjelasan, seketika langsung kikuk. Areno mengusap tengkuknya salah tingkah. Jujur Ia malu menjadi pusat perhatian sekarang.
“Kenapa, Areno? Kamu Areno ‘kan?”
“Iya, Kak,”
“Ada yang mau ditanyain?”
“Oh nggak ada, Kak,”
“Terus kenapa ketawa? Kamu lagi ngeledekin siapa?”
“Nggak ada, Kak. Lagi ngobrol aja sama teman saya,”
“Emang saya persilahkan untuk ngobrol ya? Nggak ‘kan? Saya persilahkan untuk bertanya bukan mengobrol,”
Areno langsung melipat bibirnya ke dalam. Ia tidak seharusnya menjawab seperti tadi. Yang ada Ia dicap tidak sopan karena memang bikanw aktinya untuk mengobrol.
“Maaf, Kak,”
“Kalau dipersilahkan bertanya ya artinya hanya boleh bertanya ay, bukan mengobrol,”
“Iya, Kak,”
“Okay, jadi nggak ada yang mau ditanyain lagi ya? Semua udah jelas,”
“Sudah, Kak,”
“Kalau gitu kita mulai game nya sekarang ya,”
“Kak Kak Kak maaf mau nanya. Baru ingat pertanyaannya,”
“Okay boleh, apa yang mau ditanya, Afif? Eh, bener namanya Afif atau nggak? Nama kamu di name tag nggak keliatan jelas,”
“Benar, Kak,”
“Okay apa yang mau ditanya?”
“Tadi kakak bilang bakal ada lomba pecahin balon sambil joget ya?”
“Iya betul,”
“Itu berpasangan? Maksudnya cewek sama cowok gitu, kak?”
“Oh nggak dong, peremluan sama perempuan. Biar aman terkendali. Maaf ya lupa jelasin lebih rinci,”
“Oh kiran joget-joget sama cewek ‘kan nggak lucu kalau tiba-tiba besok masuk berita, Kak. Sangkainnya sekolah kita macam-macam nggak tau batasan,” ucap Afif yang langsung mengundang kekehan dari semua orang yang ada di sana. Beruntungnya Afif punya inisiatif untuk bertanya supaya lebih jelas maksud berpasangannya itu lawan jenis atau yang sesama jenis.
Berhubung yang di sini belum ada yang menikah, jadi tidak baik kalau berpasangannya laki-laki dan perempuan. Panitia sudah memikirkan itu tentu saja. Tidak akan mungkin laki-laki dan perempuan dibuat bersinggungan. Benar kata Afif, bisa heboh dunia pemberitaan sekolah esok hari.
Dari kelas Arani, untuk bermain memindahkan karet melakui pipet alias sedotan dipilih Arani dan Dinda. Sementara untuk game memecahkan balon sambil bergoyang itu adalah Defilla bersama Anita.
Areno tidak dipilih memainkan game apa-apa jadi Ia bisa santai alias leha-leha. Areno dan tiga temannya itu menjadi pendukung. Anehnya ketika Arani bermain, alih-alih memberi dukungan untuk kelas sendiri, Areno justru memberikan dukungan untuk Arani.
“Ayo Arani semangat!” Seru Arani menyemangati kekasihnya itu.
“Eh kampret! Arani tuh bukan anak kelas kita, napa lo dukung Arani?” Tegur Dani seraya menarik ujung rambut di dekat telinga Areno hingga Areno meringis kesakitan.
“Sakit, Dongo!”
__ADS_1
“Dukungnya kelas kita dong,”
“Biasa lah, Arani ‘kan ceweknya,” sahut Adib.
“Dih parah banget, masa dukung kelas lain,”
Ketua kelas langsung menyoraki Areno yang diikuti pleh teman-teman yang lain. Areno langsung tertawa, disoraki malah kesenangan.
“Nggak punya hati dia. Masa dukung kelas ceweknya,”
“Iya-iya ini gue dukung kelas gue. Ayo semangat Vega! Semangat kalahin Arani, Vega! Go go go!”
“Sekalinya nyemangatin bikin warga setempat budek kupingnya,”
Ucapan Adib membuat Areno kali ini menjadi bahan tertawaan, tadi sudah menjadi bahan sorakan.
“Ya elah salah mulu deh gue,”
“Ya salah lah. Lo tuh dukung sih dukung tapi jangan bikin kuping budek juga dong,”
“Ya udah maaf-maaf,”
“Semangat Vega! Ayo semangat kalahin Arani sama Dinda ayo ayo ayo!”
Tapi ternyata Arani yang keluar sebagai pemenang. Arani dan Dinda berhasil menciptakan jumlah karet terbanyak di antara epserta lomba yang lain. Karet yang berhasil mereka berdua kumpulkan paling banyak di antara yang lainnya.
“Yah tuh ‘kan Vega kalah. Lo sih dukungnya setengah hati.”
“Eh kenapa gue yang disalahin?”
“Lagian elo dukungnya setengah-setengah sih,”
“Ya udah maafin deh. Tapi emang takdirnya cewek gue yang menang,”
“Duh ileh cewek gue nggak tuh,”
“Ya ‘kan emang cewek gue,”
Areno menaik turunkan alisnya dan itu menyebalkan di mata Adib yang baru saja mengejek Areno. Karena Areno dengan tegas mengakui kalau Arani itu kekasihnya.
Sekarang waktunya lomba joget memecahkan balon. Dua orang bekerja sama untuk memecahkan balon dengan posisi saling memunggungi dan mereka kompak berjoget mengikuti iringan musik. Game ini yang paling mengundang tawa karena ada yang takut dengan balon, ada yang benar-benar ambisi ingin menjadi pemenang.
“Ayo-ayo semangat,”
“Hai, kamu keren banget tadi,”
“Hai, makasih,”
Areno mengusap puncak kepala Arani yang maish kelihatan lelahnya. Tadi lari-larian mengambil karet, lalu memindahkan karet itu ke sedotan yang ada di Dinda.
“Sini aku bukain minumnya,”
Areno tidak mengizinkan kekaishnya untuk membuka botol minum sendiri. Ia lah yang melakukannya. Setelah itu barulah Ia serahkan botol minum itu kepada Arani.
“Kayaknya kamu capek,”
“Iya lumayan,” jawab Arani setelah menyeruput air minum.
“Soalnya aku takut kalah,”
“Kepengen banget menang ya?”
“Heem. Pengen menang, soalnya disemangatin sama teman-teman jadi semangat deh,”
“Eh tadi aku semangatin kamu juga lho, nyampe nggak ke kuping kamu?”
“Nggak lah, nyaru sama suara yang lain,”
“Yah, sayang banget. Padahal aku tadi kencang suaranya nyemangatin kamu sampai aku disorakin sama teman-teman sekelas aku. Bodo anat nggak peduli hahaha,”
“Ih lagian kenapa dukung aku? Harusnya kamu dukung teman sekelas kamu dong, si Vega sama Agnes. Kenapa malah dukung aku sama Dinda?”
“Lah, ‘kan yang namanya mendukung itu harus dari hati, Ran,”
“Tapi nggak boleh gitu, hargai anak sekelas kamu,”
“Iya setelah disorakin aku langsung dukung kelas aku kok. Lagian mereka juga nyorakinnya nggak serius, Ran. Cuma bercanda doang kalaupun serius ya udahlah bodo amat, dianggap pengkhianat juga bodo amat,”
“Lain kali nggak boleh gitu tau. Kamu harus dukung kelas kamu, kecuali kalau lombanya tuh sekolah kita sama sekolah lain, dan kebetulan yang msju lomba kelas aku, ya harus kamu dukung karena kita satu sekolah. Nah kalau lombanya antar kela sharus dukung kelas sendiri dong,”
__ADS_1
“Siap, Tuan putri. Kamu baik banget ya ngaish tau sku yang bener, rajin-rajin nasehatin aku ya,”
“Emang nggak mual?”
“Ya nggak dong, justru senang dengar kamu nasehatin aku berasa diperhatiin banget gitu,”
“Halah padahal mah nggak. Pasti mual kalau aku ngoceh ‘kan?”
“Nggak lah,”
“Ya udah sana balik ke kumpulan teman-teman sekelas kamu, jangan di sini,”
“Emang kenapa sih?”
“Ini teman-teman aku semua, nggak enak,”
Areno langsung menghembuskan napas kasar dan akhirnya memutar tumit dan melangkah ke barisan teman-teman sekelasnya lagi. Ia terpaksa meninggalkan Arani padahal masih ingin mengobrol dengan Arani.
“Arani, cowok lo bucin amat ya. Nggak bisa banget jauh dari lo kayaknya,”
Arani terkekeh mendengar ucapan Indira sambil menjawab “Nggak kok, Ndi. Biasa aja dia mah,”
“Lo harus bersyukur sih kalau ada cowok yang bucin ke lo. Asal bucinnya jangan toxic! Ih cowok toxic usir aja jauh-jauh dari hidup lo,”
“Bucin tapi nggak toxic?”
“Iya, yang red flag lah bisa dibilang. Over protective, posesif kebangetan, kasar suka main tangan, cemburuan bukan main, tapi dianya sendiri nggak bisa jaga hati, suka main perempuan, friendly ke semua perempuan. Dih toxic banget yang kayak gitu,”
“Sadis!”
Arani langsung geleng-geleng kepala. Ia juga benci dengan tipe lelaki seperti yang disebut oleh Indira barusan.
“Lo setuju nggak sama gue?”
“Iya, gue juga nggak mau deh berurusan sama cowok kayak gitu. Kalau mau berlebihan ya mending ke laut aja. Gue nih baru pacar, bukan istri, nggak berhak ngatur gue, posesif ke gue, cemburuan berlebihan ke gue. Ogah gue dikekang sama cowok,”
“Nah! Sama prinsip kita! Tos dulu dong,”
Indira langsung mengajak Arani untuk kenyatukan tangan mereka karena kesamaan prinsip yang mereka punya tentang laki-laki.
“Jadi selagi dia bucinnya positif ya nggak masalah, harus bersyukur. Tapi kalau udah toxic mah buang aja dah ke laut,”
“Jangan ke laut deh, ke comberan aja sekalian,” ujar Indira seraya berekspresi jijik. Arani terkekeh melihatnya.
“Lo pernah ketemu cowok kayak gitu nggak, Ndi?”
“Pernah anjir, dan gue nyesel pernah bucin ke dia, tolol banget gue,”
“Serius? Kok bisa? Lo dibaca-baca kali tuh,”
“Iya kali ya. Gue juga nggak paham deh. Intinya gie bicin banget ke dia, najis! Kek apa aja yang dia mau tuh gue iyain gitu. Tapi akhirnya gue sadar sih pas dia mau ngapa-ngapain gue. Untungnya gue bisa lari,”
Arani langsung membelalakkan kedua matanya sambil memegang bahu Indira. Arani baru kali ini mendengar kisah percintaan teman sekelasnya yang membuat Ia ikut merasa prihatin.
“Lo serius?”
“Iya, plis jangan kasianin gue ya. Gue pernah hampir diapa-apain sama mantan gue. Waktu itu statusnya sih masih pacar ya. Gue benar-benar bucin banget sama dia, Ran. Gila gue dulu tuh. Apa aja yang dia mau, dia omongin, gue turutin. Dia cemburuan, dia over protektif, posesif, semuanya gue ladenin pakai cara baik-baik. Nah giliran gue nggak boleh cemburu ke dia yang friendly le semua cewek. Daris itu aja dia udah nggak bisa jaga perasaan gue ‘kan? Tapi anehnya gue tetap aja cinta sama dia. Ih bego banget gue dulu, sumpah. Lo semoga nggak bego kayak gue deh kalau urusan cinta,”
“Jangan sampai dong, gue nggak mau, kasian orangtua gue udah hidupin gue nggak mudah, nggak murah, eh guenya dibuat bego sama cinta,”
“Nah itu poin yang harus lo ingat! Orangtua gedein lo effort nya nggak main-main. Masa iya lo kau bucin ke cowok yang notaben nya adalah oranga sing dalam hidup lo, udah gitu nggak ada effort nya lagi. Idih amit-amit,”
Arani langsung meraih tangan Indira dan menggenggamnya dengan erat. “Terus sekarang lo udah move on belum?”
“Gue udah sembuh dari luka gue sih tapi gue nggak mau dulu buka hati. Gue nggak mau pacaran dulu deh.”
“Gue juga tadi ya gitu tau. Tapi Areno malah jadiin gue pacarnya. Awal-awal gue benci banget sama dia, tukang maksa, nggak jelas tuh anak! Eh tapi makin ke sini gue nyaman sih punya hubungan yang kebih dari teman sama dia,”
“Hahahaha lucu lo berdua. Hubungan kalian lucu,”
“Kenapa ketawa sih?”
“Lucu, awalnya benci terus lama-lama nyaman, jadi pacarnya,”
“Iya, bodoh ya gue?”
“Nggak dong, itu sajar kok. Karena Areno nya bikin lo nyaman. Ya bagus lah kalau lo merasa nyaman artinya dia cowok yang bawa dampak positif buat lo. Kalau udah mulai belok-belok nih, udah mulai ke negatif, putusin aja!”
“Kata sahabat-sahabat gue juga gitu sih, thanks ya untuk pelajarannya. Dari pengalaman lo gue bakal belajar,”
__ADS_1
“Iya, gue doain hubungan lo sama Areno damai-damai aja deh, dan kalian nggak saling bawa dampak negatif untuk satu sama lain. Punya hubungan yang positif aja lah, kalau yang negatif tuh bikin mumet mending nggak usah punya hubungan apa-apa sekalian,”
“Iya, lo bener,”