
“Liat gajah yuk,”
“Ayo,”
“Ya udah kalian aja deh, Papa udah gempor nih, Ran. Papa duduk di sini aja boleh ya?”
Arani terkekeh dan langsung membungkukkan badannya sedikit di hadapan sang papa untuk memastikannya baik-baik saja. Arani mengusap bahu papanya itu dan tersenyum “Papa baik-baik aja?”
“Iya, Papa cuma capek aja. Pegal kaki Papa. Kamu liat gajah sama Areno deh sana, nanti ke sini samperin Papa ya kalau udah mau pulang,”
“Ya udah kita pulang aja yuk,”
“Lho kok pulang? Kamu puas-puasin aja dulu mengenang masa kecil. Papa nggak apa-apa kok, Nak. Udah sana liat gajah,”
Arani merasa tidak tega karena sudah membuat papanya lelah. Setelah melihat buaya, orang utan, dan rusa, Ia masih ingin melihat gajah. Tapi ternyata papanya sudah merasa lelah. Wajar saja, dari usia saja sudah beda dengannya. Belum lagi, tadi mereka harus mengayuh sepeda dari rumah ke ragunan.
“Om beneran baik-baik aja? Benar kata Arani mending kita pulang kalau Om udah nggak kuat,”
“Santai, Om baik-baik aja kok. Kamu aja sana temenin Arani liat gajah, dia kangen gajah kali. Terakhir ketemu pas kecil kayaknya,”
Arani dan Areno terkekeh. Areno senang-senang sekali dipercayai oleh papanya Arani untuk menemani Arani melihat-lihat satwa yang ada di ragunan. Tapi jujur Ia khawatir juga pada papanya Arani.
“Beneran, Papa baik-baik aja, cuma capek doang. Duduk bentar juga udah hilang capeknya. Kamu mendingan puas-puasin deh liat hewannya, nanti kangen lagi,”
“Beneran Papa nggak apa-apa?”
“Ya ampun, Iya nggak apa-apa, Anakku sayang. Papa tunggu di sini aja. Papa cuma pegal aja. Ya maklum lah udah tua abis sepedaan, terus liat-liat satwa tadi ‘kan. Kalau kalian ‘kan masih muda stamina lebih kencang,”
“Aku udah puas kok liat-liatnya, Pa,”
“Nggak, tadi kamu mau ketemu gajah, ya udah sana temuin si gajah,”
Mana mungkin Hadi pulang disaat anaknya masih nyaman di ragunan. Lagipula Hadi merasa baik-baik saja. Hadi bisa melihat seantusias apa Arani ketika Ia bersedia menemani Arani bersepeda dan mengunjungi satwa-satwa di ragunan. Tapi sayangnya kaki tidak bisa diajak kompromi sehingga tak bisa menemani Arani sampai Arani puas melihat-lihat satwa yang ada.
“Ya udah deh kalau gitu aku liat gajah bentar terus kita langsung pulang ya?”
“Nggak usah cepat-cepat, santai aja. Kamu mau liat yang lain juga boleh. Papa ‘kan udah duduk di sini jadi nggak pegal lagi, kamu bisa santai jalan-jalannya, nggak usah mikirin Papa. Insya Allah Papa aman di sini, nunggu kalian ke sini samperin Papa terus kita pulang,”
“Okay kalau gitu aku pergi dulu ya, Pa. Papa di sini duduk aja istirahat, jangan kemana-mana lagi. Kalau ada apa-apa langsung telepon aku, okay?”
“Sip, tenang aja. Hati-hati ya. Kamu sendiri?”
“Nggak, sama aku boleh ya, Om?”
Arani dan Hadi papanya langsung saling bertatapan satu sama lain. Hadi tidak masalah, Ia membolehkan. Tapi entah dengan Arani yang mungkin saja tidak mau bila ditemani oleh Areno. Ya walaupun mereka sepasang kekasih tapi terkadang Arani ini suka tidak mau juga ditemani.
“Terserah sama Arani, dia mau nggak ditemani sama kamu,”
__ADS_1
“Mau nggak, Ran? Aku temenin kamu biar nggak sendirian. Jadi aku yang jagain kamu, papa kamu di sini aja,”
“Ya udah ayo,”
“Yess! Makasih ya,”
Arani dan Hadi menahan senyum mereka. Melihat ekspresi senangnya Areno, mereka merasa kalau itu lucu. Sebahagia itu Areno ketika Arani bersedia ditemani olshnya untuk melohat satwa yang lainnya..
“Kalian hati-hati ya, jangan lupa samperin Papa di sini kalau udah mau pulang,”
“Siap, Pa,”
“Iya, Om aku nggak akan lupain Om. Nanti kalau Arani udah puas jalan-jalannya, aku sama Arani bakal ke sini samperin Om,”
“Okay baik-baik kalian ya,”
Arani dan Areno menganggukkan kepalanya kompak. Setelah itu mereka langsung berjalan ke tempat gajah. Arani benar-benar mengenang masa kecilnya di sini.
“Abis liat gajah, kamu mau liat apa lagi?”
“Nggak ada, gajah aja,”
“Beneran? Kata Papa kamu, puas-puasin aja dulu liat hewan-hewan di sini,”
“Nggak deh, liat gajah aja abis itu kita pulang,”
“Kenapa kamu mau temenin aku? Emang kamu nggak capek apa?”
“Nggak, aku mana pernah capek kalau buat kamu, Ran,”
Arani merotasikan bola matanya mendengar ucapan Areno. Menurutnya ucapan Areno berlebihan.
“Lebay kamu ah,”
“Lho kok lebay sih? Aku serius, Ran. Aku malah senang banget bisa temenin kamu,”
“Makasih,”
“Sama-sama, Cantik,”
Melihat wajah Arani yang tanpa ekspresi membuat Areno tertawa keras dan karena gemas tanpa sadar tangannya menepuk lembut puncak kepala Areno yang memiliki tinggi sebatas bahunya saja.
“Kamu lucu banget sih. Geli ya denger aku ngomong gitu?”
“Tuh tau, kamu nggak geli emangnya?”
“Nggak, kamu ‘kan emang beneran cantik,”
__ADS_1
“Aku nggak salting kamu puji gitu, Ren,”
“Ya nggak apa-apa, yang penting hati aku lega udah mengungkapkan apa kata hati aku. Kamu emang beneran cantik kok!”
“Satu dua tiga kamu diam! Soalnya kita udah mau sampai di dekat kandang gajah,”
“Okay sip Aranique,”
Arani menoleh ke arah Areno dan menatap Areno dengan sorot mata kesal. Sementara Areno memasang ekspres tengil yang menyebalkan di mata Arani.
“Sekali lagi manggil aku begitu, aku—“
“Pacarin, lah ‘kan smang udah pacaran hahahaha,” belum selesai Arani bicara, Areno sudah memotong dengan satu kata singkat yang membuat Alyla membelalakkan kedua matanya.
“Berisik ih ketawa mulu, ntar aku putusin lho,”
“Nggak mau, jangan dong. Kamu jangan ngomong gitu, aku sedih dengarnya tau,”
“Ya makanya jangan ketawa berisik,”
“Aku tuh bahagia sama kamu tau,”
“Ya ampun gajahnya sweet banget,” ujar Arani setelah tiba di dekat tempat tinggal gajah. Di sana ada beberapa pengunjung yang sedang mengamati gajah juga.
Arani menatap dua ekor gajah yang berdiri sebelahan. Posisi mereka cukup dekat. Arani tidak tahu mereka betina dan jantan atau justru sama jenis kelaminnya. Tapi yang jelas melihat mereka akur dan dekat seperti itu membuat Arani senang.
“Itu mereka pacaran? Ya ampun bikin iri aja, aku sama kamu aja nggak pacaran—eh maksud aku belum pacaran,”
“Mana aku tau mereka pacaran atau nggak. Jenis kelamin nya aja aku nggak tau apaan,”
“Kayaknya jantan sama betina deh, makanya mau mepet-mepet begitu,”
“Sok tau deh, kalau bukan gimana?”
“Aku nebak aja, Ran,”
“Kalau seandainya mereka sama-sama betina terus sahabatan gimana?”
“Nggak, kayaknya betina sama jantan deh,”
“Kamu sok tau,” ujar Arani.
“Ya abisnya itu romantis, Arani. Kayaknya ya jantan betina,”
“Coba tanyain langsung sana ke penjaganya,”
“Ogah, ntar dikira mau adopsi,”
__ADS_1
Arani tertawa dan menggelengkan kepalanya. Mana mungkin penjaga mengira seperti itu. Areno yang terlalu jauh berpikirnya.