
Selepas sekolah, Arani langsung bergegas ke studio yang telah menjadi kesepakatan antara dirinya dan sang adik sebagai tempat untuk foto.
Arani diantar oleh Areno, sementara adiknya diantar oleh driver. Arani membawakan minuman untuknya tapi kali ini minuman sehat bukan minuman boba kesukaan Ria.
“Kok jus, Kak?”
“Ih bukannya bersyukur malah protes,”
“Iya ini aku bersyukur Alhamdulillah. Tapi kenapa jus? Kenapa nggak boba aja?”
“Boba mulu ah, sesekali yang sehat dong,” ujar Arani.
“Okay makasih, Kakak. Makasih, Bang Aren,”
“Itu bukan aku yang beliin, dia mau bayar sendiri tuh,” ujar Areno seraya melirik kelasihnya yang tadi minta berhenti di pinggir jalan ketika melihat penjual jus dan tidak mau dibayarkan jusnya.
“Oalah, ya udah berarti kakak lagi banyak duit, Bang,”
“Banyak duit? Aamiin aja deh,”
“Ayo kita mulai foto-foto sekarang,”
Mereka memilih studio yang fotonya tanpa fotografer alias foto sendiri menggunakan remot. Aremo memperhatikan sambil senyum-senyum sendiri.
“Seru ya punya kakak atau adik, lah gue boro-boro,” ujarnya zambil mengamati keakraban antara kekasihnya dan juga sang adik.
“Apalagi punya adik cewek, kayaknya seru aja gitu buat dikerjain,” tambah Areno sambil menatap Arani yang saat ini sengaja menekan kedua popi Ria yang duduk di depannya sheingga membuat Ria kesal dan wajah kesalnya itu berhasil diabadikan oleh kamera karena Arani sengaja menekan remotnya tanpa sepengetahuan adiknya itu.
“Tuh ‘kan kakak ah,”
“Pasti lucu,”
“Kakak lucu! Aku apaan tau bentukannya,”
“Hahahaha nggak kok, Dek, kamu juga lucu kok,”
“Yang bener ah jangan iseng,”
“Ya biar nggak monoton dong gayanya. Kita harus beda dari yang lain,”
“Beda-beda tapi yang wajar dong, masa aku nya lagi kesal difoto. Jangan iseng makanya, Kak. Aku nggak mau ah,”
“Ya udah okay-okay,”
Sekarang Arani meletakkan kedua tangannya di atas kepala Ria dan tersenyum manis menatap kamera. Kali ini pose mereka kembali wajar. Areno hanya menajdi oenganat saja, dan sesekali akan tertawa jalau Arani dan Ria bertengkar kecil.
“Bang Aren. Masuk kamera aja jangan cuma ngeliatin,”
“Nggak ah, udah kalian aja yang foto,”
“Jangan dong, sama Abang aja yok,”
“Tapi Anang nggak cocok ah,”
“Lah kok nggak cocok? Orang ganteng gitu kok mukanya, kenapa merasa nggak cocok? Ayok sini,”
Areno menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Ia termasuk laki-laki yang kurang percaya diri kalau di depan kamera.
“Ya udah kalau Areno nggak kau biarin aja,” ujar Arani.
Sekarang Arani mengajak adiknya untuk berdiri dan mereka bergenggaman tangan. Kali ini mereka terlihat akur di kamera berbanding terbalik dengan yang tadi.
“Abang ayo, bosan foto sama Kakak terus,”
Sekali lagi Ria mengajak kekasih dari kakaknya itu. Ria ingin juga ada foto bertiga dengan Areno.
“Ayo buruan, fans kamu udah maksa tuh,”
Arani juga mengajak kekasihnya itu yang sudah sekali diajak foto. “Mau atau nggak nih? Kalau nggak msu ya udha beneran nggak usah foto ya?”
“Ih jangan digituin dong, Kal. Dibujuk harusnya, bukan—“
“Ya abisnya dia nggak mau, udah ah biarin aja,”
Arani tidak mau-mau sekali foto dengan Areo tapi Ria mau supaya ada kenangan dan sejujurnya Ria punya rencana ingin nanti tiba-tiba keluar dari frame supaya Arani dan Areno saja yang difoto.
“Ih kakak jangan begitu,”
“Ayo foto, Bang,”
“Ya udha okay foto nih sekarang,”
“Nah gitu dong,”
Ria langsung mengarahkan Areno untuk berdiri di sisi kiri sementara kakaknya di sisi kanan. Jadi Ria berada di tengah-tenga antara kakak kandung dan juga calon kakak iparnya.
Mereka tersenyum menatap kamera kemudian Arani sebagai pemegang remot menekan remot dan kamera berhaisl mengabadikan mereka.
Setelah itu Ria minta remotnya ada di tangannya saja tentu itu hukan gampa maksud. Dan Arani tidak mempermasalahkan itu. Arani berikan remot pengendali kameranya pada sang adik.
Pose selanjutnya adalah Ria dirangkul oleh Rani dan Areno hanya pose peace. Pose berikutnya tanpa persetujuan sebelumnya tiba-tiba Arani dan Areno kompak seolah meninju muka Ria tapi tentunya hanya sekedar pose supaya pose mereka kebih berwarna tidak monton, dan Ria memasang ekspresi seperti ornag ketakutan. Setelah itu Ria pindah di sebelah Arani. Mereka pose pagi dengan kompak tersenyum menampilkan susunan gigi masing-masing. Lalu tiba-tiba Ria pergi meninggalkan Aranid an Areno yang kebingungan menatap dirinya menjauh, dan saat itulah Ria memotret mereka.
“Dah kalian beruda foto sekarang,” ujar Ria.
“Nggak ah, nggak bisa, aneh,” ujar Arani saat akan menjauh dari kamera namun Areno langsung merangkul bahunya.
“Foto aja nggak sih? Sayang udah bayar studio, udah siauruh sama adik kamu juga tuh,”
__ADS_1
“Ih aneh!”
“Ya bikin jadi nggak aneh lah,”
“Canggung, kaku, bingung mau pose apaan kalau berdua sama kamu,”
“Yang wajar-wajar aja bagus kok, nggak harus aneh-aneh,”
“Tuh Bang Aren aja mau difoto berdua kok kakak nggak mau sih,” ujar Ria pada kakaknya itu.
“Ya udah okay-okay,”
Arani diserang kanan kiri jadi Ia ikut saja sekarang. Areno juga tak mengizinkan Ia pergi kemana-mana. Areno masih merangkul bahunya dan sekarang sengaja mendekatkan kepala mereka lalu tersenyum menatap kamera.
“Nah gitu dong jangan malu-malu,” ujar Ria seraya tersneyum menatap kakak dna kekaishnya itu.
Sekarang Areno mencengkram pelan dagu Arani dan tersenyum menatap Arani, Ria kangsung mengabadikan momen itu.
“Jadi Ria yang bertugas ya ini?”
“Nih pegang remot sendiri, biar lebih pas,” ujar Ria seraya memberikan remot kamera kepada Areno yang langsung menerimanya.
“Sekarang kamu duduk, aku di belakang kamu aku rangkul kamu,”
“Okay,”
Areno mengambil kuris yangs ebelumnya disingkirkan oleh Arani. Lalu Areno duduk dan menatap kamera, di belakangnya ada Arani yang beridri tegap tapi tangannya merangkul bahu sang kekasih.
“Yeayy jeren lho, kayak bukan pscaran, tapi bestie gitu, tapi ada undur-unsur so sweet nya,”
“Apaan sih dek? Undur-unsur? Emang kamu pikir ini lagi belajar kimia,”
“Iya pokoknya itu deh, Kak. Ada bumbu-bumbu romantisnya tapi nggak lebay gitu lho, keliatan kayak sahabatan aja kalian yapi ada manis-manisnya,”
“Kita dianggap cokelat sama adek kamu, Ran,” ujar Areno ambil tertawa.
“Nah itu dia,”
Karena sudah bingung mau pose apalagi akhirnya mereka putuskan untuk mengakhiri sesi foto-foto ini.
Setelah file foto mereka simpan ada juga yang dicetak, mereka langsung keluar dari studio. Termasuk sebentar mereka menggunakan studio itu dan kebetulan memang hanya mereka saja yang datang, belum ada pengunjung yang lain.
“Kita jalan-jalan yuk,”
“Kemana? Udah ah langsung pulang. Jalan-jalan mulu,”
“Oh iya kakak kakinya masih belum sehat banget ya. Okay deh kita langsung pulang aja,” ujar Ria yang sebenarnya ingin pergi dengan Aranid an Areno sesekali tapi berhubung kaki kakaknya itu belum normal sepenuhnya jadi Ia tidak mungkin menuruti keinginannya itu sekarang.
“Makan yuk, aku traktir. Terserah mau makan dimana,”
“Yee jangan salah, aku gini-gini udah punya uang sendiri ya ealaupun receh sih haha,”
“Oh ya? Kok bisa?”
“Ya suka desain dikit-dikit, Mama Papa aku nggak tau, soalnya suka dimarahin suruh belajar aja, padahal aku pengen nyetak duit sendiri. Mereka marah karena mereka ‘kan masih bisa biayain aku ssjauh ini, tapi aku malah mikiriin uang bukan pendidikan,”
Arani dan Ria langsung terperangah mendengar cerita Areno yang ternyata sudah punya keinginan untuk mencari uang sendiri disaat orangtuanya mampu membiayai hidupnya.
“Ya ampun, pacar kakak keren banget, Kak,”
“Nggak juga, orang cuma desain dikit-dikit doang. Siapa yang butuh aku, ya aku bantu. Bayarannya lumayan lah, ya walaupun nggak sama kayak uang jajan dari Mama Papaku sih, Hahah,”
“Tapi Bang Aren keren tau. Udah bisa cari uang sendiri. Mana desain lagi, itu ‘kan nggak mudah, ditambah lagi Bang Aten maish sekolah udha gitu sekokah jurusannya kesehatan, kerjanya di desain. Itu nggak nyambung ‘kan ya? Tapi Bang Aren bisa. Keren banget,”
“Suka belajar-belajar aja dikit di internet terus nyangkut di otak ya udah coba-coba terus ada hasil. Jalanin deh tanpa sepengetahuan orangtua soalnya dimarahin,” ujar Areno sambil tertawa.
“Jadi sekarang aku mau traktir kalian berdua, mau ‘kan?”
Ria langsung menatap kakaknya yang sekarang bimbang mau menerima ajakannya Arenoa tau tidak. Dan jujur Arani merasa tidak percaya diri. Areno hebat sekali, sudah bisa cari uang sendiri. Sementara Ia masih dipusingkan dengan keinginan itu hanya saja belum tercapai.
“Ayl ikut aja, mau makan dimana kita?”
“Kakak, mau nggak?”
“Kamu jangan habis-habisin uang kamu, Arenk, itu ‘kan hadil kerja skeras kamu,”
“Ya elah, orang cuma sesekali aja kok. Emang kita makan bareng tiap hari apa? Hmm? Aku nggak traktir kalian tiap hari ‘kan, jadi aman lah. Ayo buruan mau makan dimana. Jangan kelamaan mikir,”
“Aku sih terserah kakak ya, kalau kakak mau ya aku mau juga kalau kakak nggak mau ya aku nggak mau juga,” ujar Ria.
“Ayo mau aja,” ajak Areno pada kekaishnya itu.
“Terus naik apa?”
“Ya naik mobil aku lah ini, SIM aman tenang aja,”
“Terus Lak Jo ‘kan mau jemout akus ama adek nih, itu gimana? Masa iya kita suruh pulang,”
“Lah emang Lak Jo udha jalan ke sini belum?”
“Dia paling maish di sekitar sini,”
“Ya udah ajak aja sekalian. Kamu hubungi deh coba ntar aku yang ngomong,” ujar Areno pada Arani.
“Berbagi kebahagiaan itu indah, aseek. Lagian kalsu ada kenapa harus pelit sih? ‘Kan kita nggak tiap hari juga makan bareng ujar Areno pada Arani yang kelihatan masih bimbang.
“Ayo telepon Pak Jo,” suruh Areno sekali lagi.
__ADS_1
Arani menganggukkan kepalanya, lantas meriah ponsel untuk menghubungi drivernya ketika dijawab, Ia langsung memberikan ponsel genggamnya pada Areno yang minta supaya Ia diberikan kesempatan untuk bocara pada Pak Jo.
“Halo Pak Jo, ini Areno mau ngajak Arani sama Ria makan dulu, Pak Jo ikut yuk, sekarang Pak Jo ada dimana?”
“Saya lagi di warkop kira-kira sepuluh meter dari studio tadi, Bang aren,”
“Oh ya udah kita bareng-bareng ke tempat makannya ya?”
“Eh nggak usah, Bang Aren,“
“Nggak apa-apa nanti tapi Arani sama Ria naik mobil aku, Pak,”
“Kalau gitu saya langsung pulang aja ya, Bang? Saya nggak usah ikut, berarti Kak Arani sama dek Ria pulang sama Bang Areno aja ya?”
“Iya nanti aku antar pulang kok, aman tenang aja, Pak,”
“Ya udah kalau gitu saya langsung pulang aja,”
“Lho, makan aja dulu sama kami bertiga,”
Arani dan Ria saling menatap satu sama lain ketika Areno maish belum menyerah juga mengajak Pak Jo untuk makan bersama mereka.
“Maaf, Bang. Saya nggak usah ikut deh, langsung pulang aja, tapi Bang Aren tolong pastiin Kak Arani sama Dek Ria nya langsung diantar pulang ya,”
“Siap, Pak,”
“Soalnya mereka ‘kan amanahnya Bapak sama Ibu buat saya,”
“Iya, nanti aku izin juga kok sama Mamanya Arani, Pak Jo tenang aja,”
“Siap, saya langsung pulang kalau gitu. Saya nggak usha ikut, tapi sebelumnya makasih banyak ajakannya,”
“Pak Jo serius nih?”
“Iya, Bang,”
“Oh gitu, ya udah hati-hati pulangnya ya, Pak,”
“Siap, Bang Aren hati-hati juga ya baw amobilnya,”
“Iya, Pak,”
Setelah bicara dengab Pak Jo, Areno langsung mengenbalikan ponsel milik kekasihnya itu. “Aku udah ngomong sama Pak Jo, beliau nggak mau ikutan makan sama kita, sekarang coba kamu telepon Mama kamu. Aku mau izin dulu,”
“Aku aja yang izin, bentar ya,”
Arani langsung menghubungi nomor mamanya. Areno langsung minta ponsel Arani lagi namun Arani menggelengkan kepalanya.
“Biar aku aja,” kata Areno.
“Aku aja,”
“Dih, aku juga mau ngomong,”
“Nggak—“
“Ya udah aku deh sini,” ujar Ria yang tidak mau Arani dan Areno malah jadi berdebat.
“Halo Mama, Assalamualaikum,”
Ketika teleponnya diangkat oleh sang Mama, Arani langsung mengucapkan salam ya g langsung dijawab oleh mamanya itu “Waalaikumsalam, udah di studio ketemu adek, Kak?”
“Ma, aku sama adek usah selesai foto-foto, tadi aku ke studio diantar sama Areno. Terus sekarang Areno ngajakin aku sama adek makan bareng, boleh atau nggak?”
“Dimana?”
Arani langsung menatap Areno dan Ria bergantian dan keduanya kompak mengangkat bahu mereka masing-masing.
“Aku terserah kamu sama Ria aja,” ucap Areno.
“Dek mau dimana?” Tanya Arani yang dijawab dengan gelangan kepala oleh Ria.
”Terserah kakak aja deh,”
“Ya udah, terserah aku berarti ya? Makan mie ayam aja tuh yang didekat rumah,” kata Arani dengan telepon yang masih menempel di telinga.
“Ya udah itu aja,”
Arani mengangguk setelah terbitlah keputusan mau makan dimana. “Jadi mau makan di mie ayam Pak Yatno itu, Ma, yang sebelum masuk komplek,”
“Oh iya-iya, okay deh kalau gitu hati-hati ya. Pangsung pulang ‘kan habis itu?”
“Iya, Ma,”
“Soalnya kaki kamu belum pulih banget. Ya udah Mama tunggu di rumah. Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam,”
Areno langsung merebut ponsel Arani dan mengajak Helen untuk bicara. Areno ingin izin langsung, tidak hanya mengandlakan Arani.
“Tante, maaf aku mau minta isin ajak Arani sama Ria makan bareng sebentar ya,”
“Iya boleh kok, Ren. Hati-hati ya,”
“Siap, Tante, makasih izinnya, Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam,”
__ADS_1