Kisah Anak Farmasi

Kisah Anak Farmasi
Bab 46


__ADS_3

Hari ini Arani dan teman-temannya pergi ke bogor dalam rangka merayakan hari pramuka. Di sebuah villa mereka akan menginap dan melaksanakan beberapa kegiatan yang berhubungan dengan pramuka. Mereka hanya menginap satu malam, jadi diperkenankan untuk membawa baju, perlengkapan tidur, mandi, dan lain-lain yang diperlukan


Arani antusias sekali. Sudah lama rasanya tidak pergi ke luar kota dengan teman-teman sekolah. Titik keberangkatan tentunya di sekolah, dan nanti ketika pulang pun semua murid diturunkan di dekolah dan irnagtua menjemput.


Kedua orangtua Arani mengantarkan Arani ke sekolah, bahkan adiknya yang libur di hari sabtu inipun ikut mengantarkan.


Arani membawa satu buah koper berukuran kecil. Di sana ada baju pramuka nya, jaket, baju tidur, baju olahraga, dan juga baju ganti ketika akan pulang. Tentunya tidak ketinggalan perlengkapan mandi, dan tidur. Arani juga emmbawa satu buah goodie bag berisi makanan rungan yang bisa Ia nikmati nantinya kalau sudah merasa lapar tapi makan berat dari pihak sekolah belum diberikan, atau misalnya malam hari tiba-tiba Arani lapar. Selama ini Arani sering seperti itu, walaupun sudah makan malam.


“Kakak, jangan lupa sering-sering kasih kabar ke aku ya,”


“Iya,”


“Jangan cuma ke Mama Papa aja, ke aku juga lho,”


“Iya, cerewet banget kamu ah,”


“Kak, adekmu itu khawatir makanya minta dikabarin terus, sama kangen mungkin,”


“Ih nggak ah, aku nggak khawatir nggak kangen tuh,”


Arani dan kedua orangtuanya terkekeh mendengar jawaban Ria yang suka gengsi mengungkapkan kalau Ia khawatir, Ia rindu, Ia sayang apda kakaknya.


“Baik-baik di sana ya, Nak. Jaga diri, ingat kepercayaan Mama Paoa itu harganya mahal sekali. Kalau udah rusak sekali kepercayaan itu, bakalan susah untuk dapetin kepercayaan lagi, atau bahkan bisa nggak akan dapet lagi,”


“Iya, Pa. Aku bakal jaga diri baik-baik,”


“Fokus sama kegiatan sekolahnya ya, jangan mikirin apa-apa,”


“Iya, Ma,”


“Kak, Bang Aren ikut? Terus sahabat-sahabat kakak pada ikut?”


“Ya ikut lah, Dek. Masa nggak ikut? Itu ‘kan kegiatan bersama,”


“Ih seru banget. Kapan ya aku bisa kayak gitu? Pengen juga,”


“Nanti juga ada saatnya. Sabar aja, kayak kakak nih tau-tau pergi aja, padahal nggak kepikiran. Tapi emang sering iri sih kalau liat ada yang pergi sama teman rame-rame kayak seru gitu, sedangkan di sekolah kakak ‘kan jarang ngadain kegiatan kayak gini. Kalaupun ada yang biasanya nggak semua. Ada yang cuma kelas sepuluh, ada yang cuma kelas sebelas. Ya pokoknya nggak nentu deh,”


“Lagian kamu mah di rumah aja dulu, Dek. Masih kecil tau,”


“Ih Papa, tapi aku itu udah SMP. Kenapa disebutnya anak kecil terus, Pa?”


Radi terkekeh sambil menatap anak keduanya itu melalui kaca di depannya saat ini yang sedang mengemudikan mobilnya ke sekolah anak pertamanya.


“Kamu sama kakak emang Papa Mama anggap masih kecil terus,”


“Nggak ada tumbuh kembang dong, Pa?”


“Hahaha ada lah, Sayang. Tapi ini khusus Mama Papa aja, kamu sama kakak itu sampai kapanpun bakal jadi putri kecilnya Mama Papa,”


“Hmm so sweet,”


“Nanti kalau kalian udah punya anak juga pasti bakal paham kok,” ujar Helen seraya menoleh ke belakang dimana dua anaknya duduk.


Tidak terasa mereka sudah sampai di sekolah Arani yang sudah ramai dengan siswa dan juga orangtuanya. Mereka keluar dari mobil bersamaan. Ria labgsung meraih tangan mamanya, suasana yang cukup ramai membuatnya takut tertukar.


“Mama, kok rame banget sih?”


“Ya namanya juga mau pergi, Sayang. Ada anak dan ada orangtuanya juga. Wajar lah kalau rame,”


“Aku pegang tangan Mama ya takut ketuker,”


Helen terkekeh mendengar ucapan anak bungsunya itu yang kelewat polos. Seharusnya memang Ria itu tidak ikut, tapi karena ingin melihat kakaknya berangkat, anak itu keras kepala ingin ikut padahal Arani sendiri sudah menyuruh adiknya di rumah saja, lanjut tidur karena hari ini adalah hari libur.


Radi membawa dua tas anaknya dan Radi juga yang mencari tahu dimana bus tempat anaknya nanti. Berhubung ada lima bus jadi Radi sempat bingung. Arani hanya mengekori, begitupun Helen dan Ria.


Setelah melihat kaca bertuliskan kelas Arani barulah Radi menghampiri petugas bus yang sedang menyusun bagasi. Di dalam bagasi sudah terdapat koper-koper. Radi menyerahkan koper milik anaknya itu.


“Terimakasih ya, Mas,”


“Sama-sama, Pak,”


Koper Arani sudah aman. Sekarang Arani mengajak Papanya untuk masuk ke dalam bus. Arani ingin dibantu oleh papanya itu mencari kursi yang tepat untuknya.


“Kakak, jangan terlalu belakang ya, Nak?“


“Iya nggak mau, tengah aja, Pa,”


Arani duduk di salah satu kursi yang masih kosong. Radi langsung meletakkan goodie bag yang ada di tangannya itu di bawah kursi Arani.


“Ransel sama goodie bag isi makanan ringan ini sama kakak aja, jangan masuk bagasi, nanti pas pulang juga gitu ya,” pesan Helen yang tentunya ikut masuk juga ke dalam bus.


“Iya siap, Ma,”


“Ya udah sekarang turun aja dulu ketemu teman-temannya, ransel tetap bawa, goodie biar tinggal ujar Radi seraya menatap goodie bag yang Ia letakkan di bawah kursi anaknya itu.


“Susah kamu mau lalu lalang, Nak. Taruh aja di bagasi atas deh,”


“Oh iya ada tempat tuh, Pa. Taruh situ aja,”


Radi baru sadar ada bagasi di bagian atas. Radi langsung meletakkan tas berisi makanan ringan anaknya di sana.


“Yuk turun dulu yang lain juga masih di bawah,”


Helen merangkul anaknya yang akam pergi ke Bogor hari ini bersama teman-temannya itu. Mereka berempat memutuskan untuk keluar dari bus dan bertepatan dengan itu datanglah Areno yang hendak memcari kekasihnya di dalam bus.


“Hai, Tante, Om. Aku baru aja mau cari Arani di dalam bus,”


“Halo, diantar siapa, Ren?” Tanya Radi pada Areno.


“Sama Papa Mama juga, Om. Itu mereka lagi di delan bus aku,”


“Kamu bus berapa?” Tanya Helen.


“Dua, Tante,”


“Oh gitu, ya udah selamat berkegiatan pramuka deh, semoga menyenangkan, semoga kalian semua pulang ke sini dalam keadaan baik-baik aja, sehat selamat semuanya aamiin,”


“Aamiin makasih doanya, Tante,”


“Kakak, nggak mau ketemu orangtuanya Bang Aren?” Ria menyenggol kakaknya dengan siku sambil berbisik di dekat telinga sang kakak.


Arani langsung berdecak dan menatap tajam adiknya itu. Ia tidak mengerti kenapa adiknya ini hobi sekali menggodanya yang tujuannya membuat kesal. Disaat tidak bercanda pun hobinya seperti itu.


“Mama, kakak ‘kan belum makan,”


“Eh iya Astaghfirullah lupa Mama. Ya udah kakak mau makan apa, Nak?”


“Nggak, aku nggak nafsu. Nanti aja kalau udah bernagkat, pasti nafsu. Sekarang deg-degan,”


“Kenapa deg-degan?” Tanya Areno.


“Ya karena mau pergi, tapi deg-degan yang exited gitu lho maksud aku, bukan karena yang lain,”


“Sampai nggak nafsu makan?”


“Kadang, Arani memang begitu, Ren. Jangan heran ya, menjelang pergi jauh nih, dua kebiasaan Arani. Jadi nggak nafsu makan, sama sering bolah balik kamar mandi buang air kecil,”


“Hahahaha kok lucu sih kebiasaannya?”


“Iya memang begitu kadang. Jadi jangan heran. Aneh ya Arani? kebiasaannya lebih aneh lagi,”


“Ih Mama kok aneh sih? Itu nggak aneh lah, Ma,”


“Walaupun aneh, tapi kamu unik kok, Ran,”


“Eh sama satu lagi biasnaya semalam sebelum keberangkatan dia tuh jadi gelisah susah tidru, usah mikirin mau pergi mulu,”


“Mama bongkar kartu aku terus ah,”


Areno tertawa mendengar cerita Helen. Areno senang Helen tidak sungkan berbagi cerita dengannya. Itu berarti mereka memang sudah bisa dikatakan cukup akrab, sehingga topik obrolannya sudah semakin luas. Tidak sekedar tanya cita-cita atau hobi saja. Kali ini Ia dilibatkan dalam cerita yang akhirnya Ia tahu kalau kekaishnya itu punya kebiasaan yang aneh.


“Eh sama satu lagi, Bang Aren. Aku boleh nambahin ya?”


“Boleh-boleh, apa tuh?”


“Eh Dek jangan nambah-nambahin. Kamu amu kakak beliin boba nggak nanti pas kakak pulangd ari Bogor? Mau dong pasti? Ya udah sekarang diam aja y, nggak usah ikut-ikutan bikin kakak malu!”


Areno dan kedua orangtua Arani semakin tidak bisa menahan tawa mereka. Radi mengusap puncak kepala Arani smabil berkata “Ya nggak apa-apa adek kamu cerita. ‘Kan berbagi cerita itu nggak dilarang, boleh-boleh aja,”


“Ya tapi aku malu, Papa,”


“Ran, ngapain malu? Aku juga punya kebiasaan-kebiasaan aneh tau, emang kamu aja?”


“Apa dulu kebiasaan kamu? Coba sebutin lah jangan cuma kebiasaan aku aja,”


“Hmm….apa ya kebiasaan aneh aku? Ntar aja deh, biar Ria cerita dulu,”


“Ih curang,”


Arani tidak terima ketika rasa penasarannya tentang kebiasaan aneh Areno tidak terjawab. Areno malah ingin mendengar cerita Ria dulu.


“Kakak itu kalau punya barang baru suka dicoba-cobain mulu. Sampai kadang bosen aku liatnya. Mislanya nih punya baju baru nah itu dicobain mulu di delan kaca berulang kali,”


“Eh kamu juga ya. Sama aja kamu mah, kenapa cuma ngomongin kakak,”

__ADS_1


“Ih tapi aku nggak serajin kakak. Nyobain barang baru mulu,”


“Ya beginilah, Ren, kalau punya anak dua. Tante sama Om ya tiap hari ngeliat yang kayak gini,”


“Seru ya, Tante. Aku malah pengen punya saudara biar hidup tuh nggak bosan. Jadi sepi di rumah,”


“Yakin mau punya saudara? Aku aja mau jadi anak tunggal lho. Karena denat mulu sama si bocil ini,”


Arani tidak yakin Areno benar-benar ingin punya saudara. Karena punya saudara itu memang menyenangkan tapi ada sisi menyebalkannya juga. Selalu ada saja perdebatan, apalagi untuk mereka yang usianya tidak beda jauh seperti halnya Arani dan Ria.


“Iya yakin aku pengen punya saudara biar hidup nggak bosan. Soalnya klau cuma sendiri tuh bosan, sepi,”


“Tuh denger, Kak. Nggak enak tau jadi anak tunggal. Kok kakak malah mau sih?”


“Ya daripada punya adek cerewet kayak kamu, mending jadi anak tunggal deh. Tapi sayang udah nggak bisa lagi, itu cuma sekedar harapan. Kamu mau dimasukin lagi ke perut Mama juga udah nggak mungkin,”


“Duh, anak ini,” Radi tertawa sambil mengusap puncak kepala Arani. Sama saja dengan Ria. Gengsi Arani itu tinggi. Terlepas dari ketidakinginan Arani memiliki adik, tapi selama menjadi kakak untuk Ria, Arani adalah kakak yang terbaik. Arani selalu berusaha menjaga adiknya, menyayangi, mengayomi, dan menang itulah yang diajarkan oleh Radi maupun Helen.


“Tapi emang nggak enak lho hidup sendjri tuh, apalagi kalau orangtua sibuk kerja. Beuhh kamu bakal ngerasain banget yang namanya kesepian, bosan. Main sama teman juga kadang nggak seasik itu,”


“Iya memang, yang paling asyik itu ya main sama suadara sendiri menurut Om,”


“Bukan main, Pa. Tapi berantem.”


“Eh kak kita tuh nggak berantem mulu tau. Kita sering sweet nya kok, kadang kita nonton drakor bareng, main game bareng. Ya benar kata Papa lah, Kak,”


“Nggak ah,”


“Ih nggak ngaku. Biar Bang Aren nggak kepengen punya saudara lagi ya?”


“Iya biar mikir ulang dia hahahaha,”


“Tetap aja sih, Ran. Aku pengen punya saudara, mau laki atau perempuan nggak apa-apa deh. Cuma masalahnya udah nggak bisa. Mama Papa aku udah cukup satu katanya,”


“Nah ya udah terima keputusan Mama Papa kamu berarti,” ujar Radi sambil tersenyum dan mengusap bahu Areno.


“Beban anak tunggal itu berasa banget lho. Jadi ekspektasi terbesar orangtua. Tapi jangan dijadiin beban deh kalau bisa. Bawa enjoy aja biar nggak berasa berat. Usaha terus sambil doa supaya cita-cita orangtua dan kamu bisa tercapai,”


“Aamiin,”


“Nah kalau beban anak pertama beda lagi. Selain jadi ekspektasi paling utama dari orangtua, dia harus bisa jadi role model buat adeknya,”


Sekarang Radi mengusap bahu Arani dengan lembut, tak lupa mencium puncak kepala anak sulungnya itu.


“Hebat kamu. Dua jempol buat kamu,” puji Areno sambil mengangkat dua ibu jari tangannya. Arani tersenyum sambil berkata “Iya-iya tau aku hebat makasih ya pujiannya,”


“Ih sombong!”


Ria langsung mencubit lengan kakaknya itu. Areno terkekeh melihat Arani melemparkan tatapan tajam ke arah adiknya.


“Bener-bener ya, oh liat aja nanti. Nggak akan kakak beliin boba lagi kamu ya, bodo amat mau ngerengek kayak apa juga,”


“Eh jangan gitu dong kakakku yang cantik jelita, cantik hatinya, nggak boleh pelit sama adik. Kalau pelit jadi apa? Iya benar jadi cicak,”


Arani menggelengkan kepalanya jengah menanggapi adik satu-satunya itu. “Dek, ikut kakak ke Bogor aja yuk,”


“Emang boleh?”


“Boleh, ntar pas pulang, kakak tinggal aja kamu di sana,”


“Ih kok jahat sih, Kak,”


“Ya lagian nyebelin,”


“Terus aja debat aku suka liatnya,”


“Dek, diem ya. Satu dua tiga diem. Biar nggak malu depan Areno,”


Arenk tertawa menyaksikan Arani menyuruh adiknya untuk jaga sikap di depannya, padahal Ia tidak masalah sama sekali. Melihat perdebatan adik dan kakak itu menyenangkan ternyata.


“Mama Papa cariin ternyata kamu di sini,”


Tiba-tiba datang sepasang suami istri yang tak lain adalah orangtua Areno. Mereka berdua menunggu Areno yang katanya mau mencari kekasihnya tapi tidak kembali juga.


“Ma, Pa, ini orangtuanya Arani sama adiknya Arani,”


Radi dan Helen langsung memperkenalkan diri mereka, begitupun orangtua Areno. Arani tidak menyangka kalau ini akan menjadi momen pertemuan mendadak antara kedua orangtuanya dan juga orangtua Areno.


“Sering banget Areno cerita ke kami tentang Arani. Aku yang udah pernah ketemu langsung waktu Arani datang bawain makanan buat Areno yang lagi sakit. Ternyata cantik banget, mana sopan. Duh langsung tau deh alasannya Areno jadi bucin banget,” ujar Qanita yang menceritakan bagaimana pengalaman ketika pertama kali bertemu dengan Arani.


“Udah kenal juga sama si cantik ini. Kalau nggak salah ikut kakak antar makan waktu itu ke rumah ‘kan?” Tanya Qanita sambil menjawil dagu Ria yang menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


“Nggak kalah cantik dari kakaknya,”


“Oh iya aku lupa Mama udah pernah ketemu langsung ya. Kalau Papa ini pertama kali ‘kan ketemu Arani?”


“Harus bersyukur punya Arani,” pesan Ghali pada anaknya itu.


“Arani juga harus bersyukur ya, karena Areno juga laki-laki yang baik kok, iya nggak?”


Arani menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ketika Radi tidak mengalahkan Areno dan meninggikan putrinya sendiri.


“Kapan-kapan kita ngumpul dimana gitu ya, makan bareng, ngobrol-ngobrol yang agak lamaan gitu. Biar makin akrab aja kita,” ujar Ghali yang langsung diangguki setuju oleh Radi dan Helen. Mereka tidak keberatan bila orangtua Aremo ingin lebih akrab dengan mereka. Justru bagus, biar mereka bisa saling menikai satu sama lain. Memang belum ada niat lebih jauh, mengingat usia Arani dan Areno masih muda sekali, tapi tidak ada salahnya akrab dengan keluarga dari pasangan anak.


Kebersamaan mereka harus terhenti sejenak karena suara panitia penyelenggara menyuruh mereka untuk berkumpul karena akan memanjatkan doa bersama sebelum berangkat.


Setelah doa bersama, para siswa diminta untuk berpamitan apda orangtua masing-masing.


“Nanti kita sambung lagi ngobrolnya ya,” ujar Radi pada Ghalih dan Qanita.


“Iya semoga ada kesempatan di lain waktu,” jawab Ghalih.


Mereka harus melepas keberangkatan anak mereka maka obrolan pun benar-benar berakhir, mengingat bus Arani dan Areno juga berbeda.


“Kakak, hati-hati ya ingat semua pesan Mama


Papa ya. Baik-baik di sana, jaga diri, jangan lupa kasih kabar,”


“Siap, Ma,”


Arani mencium tangan Mama dan Papanya lagi sesaat sebelum masuk bus, Ia juga tak lupa memeluk orangtua dan juga adiknya itu.


“Bye, Kak. Semoga selamat sampai tujuan, dan pulangnya juga selamat. Aamiin, besok aku ikut jemput Kakak ya. Eh sama satu lagi jangan lupa sering chat aku lho!”


“Iya, cerewet,” ujar Arani sambil mencubit pipi adiknya itu.


“Baik-baik di rumah, awas kalau kangen,”


“Iya kangen, aku kali ini ngaku,”


“Haahaha ngaku dia,”


Arani mencium singkat pipi adiknya itu lalu Ia masuk ke dalam bus. Arani duduk dengan Vevi, sementara Defilla bersama Syena.


“Yah kakak mau berangkat,”


“Sedih nih ceritanya?”


“Iya, nggak ada teman berantem di rumah,”


“Ya udah ntar jadi teman berantem di video call aja. Lagian kakak cuma sehari kok, Nak,” ujar Helen sambil mengusap puncak kepala anak bungsunya itu.


Bus mulai melaju dan para orangtua melambai ke arah jendela bus, begitupun dengan siswa yang berada di dalam bus.


“Cie yang pisah sama adek,” ledek Vevi.


“Iya agak galau sih tapi nggak apa-apa ‘kan cuma sehari aja,”


“Cie pisah bus juga sama pacar,”


“Ih apa sih, Vi? Kenapa jadi Areno yang dibahas? Barusan Ria, langsung tiba-tiba ke Areno,”


“Nggak apa-apa dong. Eh tapi jangan kangen kalau ke Areno, ‘kan nanti bakal ketemu kalau udah turun bus,”


“Astaga siapa juga yang kangen? Jangan ngaco ya,”


“Ah masa sih? Kangen kali,”


“Dih jangan ngaco gue bilang, Vi,”


*******


“Ren, lo pasti pengen satu bus sama Arani, ngaku aja lo,”


“Nggak juga sih. Gue ikut aturan aja. Kalau aturan nya gue pisah sama Arani ya gue ngikut lah,”


“Ah beneran nih?”


“Iya lah. Toh sampai di sana juga bisa ketemu ‘kan? Cuma beda bus doang, tapi vila, kegiatan, dan lain-lain nanti ya sama aja,”


“Heh tapi beda kamar juga ya! Jangan ngadi-ngadi lo,”


“Ya iyalah, ogeb. Gue juga tau. Masa iya satu kamar. Ah lo yang ngadi-ngadi,”


Saat berangkat ini yang menjadi teman duduk Areno adalah Dani. Di belakang mereka ada Dafa dan Adib.

__ADS_1


Baru juga memulai perjalanan, Dani mulai usil dengan Areno dengan menjadikan Arani sebagai topik obrolannya.


“Ya kirain gue, lo lupa kalau lo tuh beda kamar sama Arani,”


“Astaga, ya kali gue lupa. Keterlaluan amat kalau gue lupa,”


Tiba-tiba ada yang menjawil lengan Areno dari belakang dan itu ulahnya Adib. “Ada apaan sih?” Tanya Adib penasaran. Ia mendnegar suara Areno dan Dani dari kursinya dan Ia penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.


“Nggak apa-apa. Dia aja nih bawel banget,”


“Sumpel aja mulutnya pakek sepatu,”


Areno terkekeh mendnegar saran Adib. Sementara Dani langsung mengangkat kepalan tangannya ke atas kursinya, mengarah ke Adib dan itu mengundang Adib untuk tertawa.


“Dasar ibu-ibu rempong. Ngoceh mulu lo berdua,”


“Yang mulai si Dani nih nggak jelas banget. Segala ke kamar lah dibahas. Dikira gue nggak tau aturan apa? Gue tau lah kalau gue tuh nggak boleh sekamar sama Arani,”


“Cie-cie so sweet deh kalian,”


“Yee lo lebih nggak jelas daripada Dani, njir. Au ah gelap,”


Areno langsung memilih untuk memejamkan mata daripada terlibat obrolan lagi dengan dua temannya yang di sebelah dan di belakangnya itu.


******


Setelah bus berjalan, memang benar rasa gugupnya Arani langsung hilang. Dan Ia mulai merasa lapar, sekentara di rumah Ia tidak merasa lapar. Disaat adik dan kedua orangtuanya sarapan, Ia memilih absen sarapan karena rasanya mulas saat akan pergi, gugup tidak tertolong.


Arani langsung mencari roti dan juga susu kotak untuk mengisi perutnya. Disaat Ia mulai mengunyah, tiba-tiba ada pesan masuk dari Mamanya.


-Kak, makan dulu, Sayang-


-Iya ini aku lagi makan roti sama minum susu, Ma-


-Oh, Alhamdulillah kalau gitu, Nak. Kalau udah sampai tolong kasih kabar ya, Nak-


-Siap, Ma-


Arani melanjutkan makannya setelah memberitahu mamanya kalau Ia sedang makan roti.


Mamanya mengingatkan Ia untuk makan karena khawatir perutnya masih kosong ketika berangkat.


*****


“Kakak belum kasih kabar, Ma?”


“Belum nih, Pa,”


Setelah mengantarkan Arani yang pergi ke Bogor bersama teman-temannya, Helen mengajak suaminya dan juga anaknya ke taman komplek perumahan, tidak langsung pulang ke rumah. Di sana Ria menggunakan kesempatan untuk jajan karena melihat banyak jajanan di sekitar taman. Melihat anak bungsunya makan pisang cokelat, Helen langsung ingat kalau anak pertamanya tadi belum makan.


Maka dari itu Ia langsung mengingatkan Arani untuk makan dan Ia lega setelah mengetahui Arani sedang menikmati roti dan juga susu yang dibekali olehnya.


“Aku heran deh sama Kakak. Kenapa coba susah banget disuruh makan kalau mau pergi. Emang apa ngaruhnya sih, Ma, Pa?”


“Ya ngaruh lah, Sayang. Orang kalau udah gugup tuh emang suka aneh jadinya. Sampai nggak nafsu makan karena mau pergi itu ya wajar-wajar aja sebenarnya. Cuma emang keliatan jadi lucu,”


“Iya padahal cuma ke Bogor ya, Ma. Coba kalau liburan bareng teman ke luar negeri, beuh gimana tuh si kakak. Saking senangat dan gugup canpur jadi satu, bisa-bisa seminggu sebelum keberangkatan kakak udah nggak bisa makan enak dan tidur nyenyak,”


“Sstt kamu ngeledekin kakaknya banget,” tegur Helen.


Radi tertawa mendengar anaknya itu membicarakan kakaknya yang sedang dalam perjalanan menuju Bogor. Kalau saja Arani mendengar adiknya mengolok, pasti Arani tidak terima.


“Jangan begitu, tiap orang ‘kan beda-beda. Ada yang biasa aja kalau mau pergi jauh gitu, ada yang semangat, ya mungkin karena kakak jarang kali ya pergi jauh-jauh,”


“Ya makanya suruh kakak sering liburan sama temannya, Pa. Biar nggak jarang lagi,”


“Ah jangan dulu deh, masih remaja. Papa Mama khawatir. Kecuali kalau pergi liburannya sama Mama Papa,”


“Sebenarnya nggak tergantung jarang atau sering pergi-pergi jauh, Sayang. Memang ada orang yang kayak kakak. Jadi bawaannya tuh nggak bisa tenang kalau tau mau pergi. Ya anak kecil aja senang bukan main ‘kan kalau diajak orangtuanya ke rumah saudara misalnya atau ke tempat bermain, bisa-bisa dari sehari sebelumnya udah tanya terus terus tuh ke orangtuanya. Kapan pergi? Jadi kepikiran mulu, nggak sabaran mau segera pergi. Nah kakak juga begitu. Excited banget kalau mau pergi tapi ada gugupnya juga. Jadi ya gitu deh, dari malam udah nggak bisa tidur nyenyak lagi si kakak. Makan udah nggak bisa ketelen, ya karena udah kebayang di kepalanya nanti bakal begini-begini,”


“Hihihi kakak lucu banget, sampai nggak mau makan tinbang pergi ke Bogor,”


“Udah lama nggak pergi sama teman-teman seangkatan jadi bahagianya nambah,”


“Aku juga nanti kayak gitu kali ya,”


“Pasti sih, kamu kayaknya seminggu sebelum berangkat udah nggak bisa tidur,”


“Hahahaha Papa berlebihan deh. Masa seminggu? Ya paling semalam sebelumnya, Pa,”


“Oh gitu? Papa kirain seminggu sebelum berangkat udah gugup,”


“Hahahah ya nggak dong, Papaku sayang,”


“Eh Ma, Pa, orangtuanya Bang Aren keliatannya baik ya?”


“Iya memang baik. Ya sama kayak anaknya,”


“Kalau bisa akrab sama Mama Papa gimana?”


“Ya nggak gimana-mana, Sayang. Bukannya justru bagus ya kalau misal kita akrab,”


“Iya bagus sih, jadi nanti gampang buat nikahnya


“Heh ssst! Ngomong apa sih, Dek? Kakakmu itu masih sekolah, udah ngomong nikah aja. Kalau kakak denger, dijewer kuping kamu tau nggak,”


“Hahahaha bercanda, Ma,”


“Orang kakak kamu aja lagi sekolah, masa udah ngomongin nikah,”


“Iya bercanda, Mamaku sayang. Nggak serius kok aku,”


“Ngomongin jodoh mah ntar-ntar aja dulu,”


“Iyalah, Pa. Kakak aku harus jadi ‘orang’ dulu. Kan Kakak sendiri juga sering ngomong gitu karena harapan Mama Papa. Tapi aku berdoa semoga kakak dapat jodoh yang baik, yang nerima kakak dan keluarga kita apa adanya, yang bikin kakak nyaman, tanggung jawab harus pokoknya!”


“Mama nggak bisa bayangin kalau kakak nanti udah izin mau berkeluarga. Kamu kayak apa ya reaksinya? Bakal posesif banget deh kayaknya. Ya jelas sih, orang kakak satu-satunya,”


“Iya, Ma. Aku pasti nangis tujuh hari tujuh malam deh, berat ngelepas kakak. Ih nggak-nggak, udah nggak usah baha sini dulu dej, aku galau jadinya, padahal masih lama juga,”


Helen terkekeh lalu merengkuh bahu anak bungsunya itu. Helen dan Radi bisa melihat kedua mata Ria yang berkaca. Walaupun gengsi bilang sayang dan rindu tapi anak bungsunya itu benar-benar memyayangi kakaknya, menjadikan kakaknya sebagai panutan. Apa saja hal positif yang dilakukan oleh Arani, berusaha Ria ikuti.


“Terus sayang kakak ya, Nak?”


“Pasti dong, Ma,”


“Kalau di depan kakak kok nggak pernah bilang sayang sih? Gengsi banget deh,”


“Ya abisnya kakak juga gengsi,”


“Jadi kamu ikutan gengsi ya?”


“Iya, Mama. Aku ikutan kakak deh jadinya,”


“Jangan gengsi terus tau, sesekali boleh kok bilang sayang ke kakak, peluk kakak, bilang kangen kalau misal lagi pisah,”


“Nggak bisa, aku sama kakak orangnya gengsian. Nggak diucapin juga nggak apa-apa kok, Pa. Yang penting sikap aku ke kakak udah nunjukkin kalau aku tuh sayang sama kakak,”


*******


“Okay silahkan turun, hati-hati ya turunnya,”


Arani dan teman-temannya sudah tiba di vila yang ada di Bogor. Mereka diperkenankan untuk menyimpan barang bawaan di kamar masing-masing, dan diberikan kesempatan untuk istirahat selama satu jam sebelum berkumpul di aula nantinya.


Arani satu kamar dengan tiga sahabatnya, Vevi, Syena, dan Defilla. Pembagian kamar tidak ada aturan, yang terpenting satu kamar harus satu jenis kelamin semua. Tentu saja ini merupakan bagian dari kegiatan yang diselenggarakan oleh sekolah bukan acara pribadi. Jadi meksipun diberi kebebasan memilih teman sekamar, tetap saja ada aturan yang membatasi.


“Ah mantap banget nih ranjang. Pinggang gue lumayan pegal duduk tiga jam kurang lebih di bus,”


“Tapi itu termasuk cepat nggak sih?”


“Nggak tau deh normalnya berapa dari Jakarta ke Bogor. Tadi ada macetnya juga dikit ‘kan?”


“Iya kali, gue aja tidur mana gue tau kalau ada macet,”


“Dasar Vevi si kebo!”


“Yeee gue tuh ngantuk. Tau nggak semalam gue nggak bis atidur, gue gelisah,”


“Kenapa tuh?” Tanya Arani yang penasaran dengan alasan Vevi tidak bisa tidur.


“Karena kepikiran mau pergi, excited banget parah!”


“Ih kok sama sih kayak gue?”


Arani merasa senang sekali karena ada temannya. Ternyata bukan hanya Ia sendiri yang merasa gelisah semalam.


“Iya ‘kan?! Gue nggak sabaran mau pergi,”


“Sama, gue juga gitu,”


“Padahal timbang ke Bogor ya? Hahaha aneh banget kita, Vi,”


“Iya woy, apalagi kalau pergi ke tempat yang kebih jauhan lagi ya? Misal Bali gitu, ah pasti udah ngebayangin serunya deh. Makin nggak bisa tidur gue,”


“Apalagi ke luar negeri,” sambung Syena.

__ADS_1


“Nggak usah jauh-jauh ke luar megeri, Syen. Ke Bali aja gue pasti udah gelisah banget menjelang keberangkatan. Di kepala gue tuh udah ada bayang-bayang serunya kita di Bali. Ih nggak sabar perpisahan deh. Nanti perpisahan kita ‘kan ke Bali ya?”


“Insya Allah, semoga aja jadi ya,” ujar Arani.


__ADS_2