
“Dek, kakak abis buat mie instan, kakak buatin kamu nih,”
Arani datang ke kamar tamu dengan membawa baki yang dimana ada dua mangkuk di atasnya. Ia serahkan satu buah kepada Ria yang langsung menerima dengan senang hati, dan Arani langsung duduk di sofa kamar tamu.
“Kakak, aku juga pengen duduk di sebelah kakak,”
“Nggak, jangan ke sini, Dek. Kaki kamu ‘kan lagi sakit,”
“Oh iya ya, tapi aku takut tempat tidur kotor gara-gara aku makan di sini,”
“Ya udah okay ayo kakak bantu kalau mau pindah ke sofa,”
“Yeayy kakak baik banget. Gitu dong, Kak. Aku bosan di tempat tidur mulu,”
“Baru juga bentar, Dek,”
Ria terkekeh memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Arani mengambil alih mie punya adiknya kemudian Ia letakkan di meja depan sofa berdampingan dengan mangkuk mie nya.
Arani membantu sang adik beranjak meninggalkan tempat tidur kemudian berjalan ke sofa dengan hati-hati.
“Sakit ya, Dek? Perih? Ngilu?”
“Nggak kok, Kak, aman,”
“Beneran?”
“Iya nggak sakit,”
“Alhamdulillah kalau emang nggak sakit, Dek,”
Arani membantu adiknya hingga duduk dengan nyaman di sofa kemudian mereka langsung menikmati mie bersama.
“Eh iya belum nganbil air minum. Bentar ya kakak ambil dulu,”
Arani keluar sebentar dari kamar tamu untuk mengambil air dingin kemudian Ia kembali lagi ke kamar tamu dimana adiknya berada.
“Gimana rasanya, Dek?” Tanya Arani pada adiknya.
“Enak banget,”
“Beneran?”
“Iya enak banget, makasih ya, Kakak,”
“Sama-sama,”
Arani dan Ria makan bersama sambil mengobrol. “Kakak kok tumben bikin mie?”
“Iya tiba-tiba kakak pengen,”
“Lagi galau ya?”
“Ih nggak, kok tiba-tiba mikir begitu?”
“Ya soalnya tiba-tiba masak mie,”
“Lah emang kalau bikin mie tanda-tanda galau gitu?”
“Ya…nggak tau sih,”
“Dih nggak jelas,” ujar Arani sambil tertawa.
“Kakak mau makan mie instan masa dibilang galau. Nggak lah, emang masih zaman galau?”
“Kirain kakak bikin mie karena galau,”
“Nggak, masa bikin mie dibilang galau sih, dek? Astaghfirullah kamu bener-bener deh,”
“Mie soalnya bisa bikin mood naik sama kayak puding buatan Mama,”
“Ya emang sih tapi bukan berarti kakak galau dong, Dek,”
“Baiklah aku salah, baiklah aku minta maaf,”
Arani terkekeh ketika Ria mengangkat salah satu tangannya, sementara tangan satu ya lagi memegang mangkuk mie yang Ia pangku.
“Dek emang nggak apa-apa ditaruh di paha begitu?”
“Nggak apa-apa, nggak panas kok, ‘kan ada piring alasnya,”
Baru juga beberapa detik Ria bicara seperti itu tiba-tiba Ria leletakkan mangkuknya di aa smeja yang berhadapan dnegan sofa. Dan Arani langsung tertawa.
“Tuh ‘kan, udah sok-sokan bilang nggak padahal panas. Taruh aja di meja ngapain di paha, kaki lagi sakit kalau misal tumpah, nambah lagi sakitnya. Kamu suka nyari-nyari deh,”
“Hehehe,”
Arani makan lagi setelah menasehati adiknya. Dua menit setelahnya ada panggilan masuk dari Areno. Ia segera menjawabnya.
“Assalamualaikum, kenapa, Ren?”
“Waalaikumsalam aku di bawha nih, bawain sesuatu buat kamu,”
“Duh kamu bawa apalagi? Ih kenapa sih repot-repot segala. Bukannya lagi di kafe lumpul sama teman-teman kamu?”
“Iya emnag tapi usah balik, nah aku beli sesuatu buat kamu jadi aku antar dulu ke sini sebelum aku pulang ke rumah,”
“Oh ya udah tunggu bentar ya, kamu belum ada yang bukain pintu ya?”
“Aku nggak nekan bel sih, kamu aja langsung turun ya, pengen ketemu kamu,”
“Iya okay,”
Sambungan telepon mereka berakhir dan Arani langsung meletakkan ponselnya di atas meja. Ia langsung ditatap bingung oleh adiknya.
“Kenapa, Kak? Bang Aren datang? Kakak mau diajak pergi ya?”
“Nggak kok, dia kayanya bawa sesuatu taoi kakak juga nggak tau apaan. Kakak mau nemuin dia dulu nih. Kakak tinggal bentar ya, Dek,”
“Okay, Kak. Tinggal lama juga nggak apa-apa, kali mau siajak jalan sama Bang Aren,”
“Nggak kok, dia nggak ngomong gitu. Lagian kalau emang siajak jalan kakak nggak kau, orang makanan kakak belum habis kok, kakak mau di sini temenin kamu,”
Setelah berlata seperti itu Arani langsung keluar dari kamar tamu, dan Ria tersenyum dengan hati yang menghangat.
“Kakak kenapa seweet banget sih kalau aku sakit?” Gumam anak itu sambil senyum-senyum sendiri.
Ria tetap makan sementara Arani membuka pintu rumah. Di depan pintu sudah ada Areno yang tersneyum menatapnya.
“Kamu kenapa repot-repot mulu sih?”
“Orang tuh disapa dulu tanunya bukan diomelin,”
“Ih gimana nggak ngomel orang kamu nya ngasih oleh-oleh mulu,”
“Ah lebay, ngasih mulu darimana. Lagian ini tuh cuma donat, aku beli di kafe tempat aku nongki tadi,” ujar Areno sambil memberikan dua buah kotak berisi donat kepada Arani.
“Ih kebanyakan ini, satu aja,”
Arani menolak semua pasti tidak akan semudha itu. Akhirnya Arani ambil satu kotak saja, sisanya satu kotak lagi untuk kekaishnya itu.
“Jangan lah, ambil semua buat kamu,”
“Kebanyakan ini, udah cukup satu kotak aja,”
“Ran, apa sih? Kok gitu? Ambil semua pokoknya! Jangan cuma satu,”
Areno memaksa kekaishnya itu supaya menerima dua kotak donatnya, jangan ada yang dikembalikan kepadanya.
“Ih Areno, ini kebanyakan. Satu aja udah cukup,”
“Nggak, Arani. Ambil semua orang aku beliin sengaja buat di sini kok,”
“Ya udha nggak usah semua deh kalau gitu ah,”
“Heh kok gitu? Nggak ya! Harus diambil, dan ambil smeuanya jangan cuma satu doang,”
“Ya tapi kebanyakan, Areno,”
”Nggak lah,”
Arani berdecak pelan mendengar jawaban Areno yang santai tangan Areno juga senagja menahan tangannya supaya tidak mengembalikan dua kota donat yang sudah diberikan.
“Kamu jajanin aku mulu ih mentang-mentang punya duit sendiri,”
“Hahahah jangan lebay ah. Orang nggak dijajanin mulu. Kalau dijajanin mulut tuh tiap hari, lah ini ‘kan nggak. Pokoknya ambil buat kamu ya,”
“Makasih banyak ya,” ucao Arani dengan tulus aambil menatap kelasihnya dengan sorot mata lembut.
“Kamu jangan jajanin aku mulu, tabung tuh uangnya, jangan dihambur-hambur,”
“Iya tenang, nggak usah diajarin aku juga udha nabung kok,”
“Jangan keseringan jajanin aku pokoknya ya!”
“Iya, Aranique yang cantik, lagian cuma sesekali soang, nggak sering juga kok. Kamu aja yang lebay,”
“Kamu abis dari kafe langsung ke sini?”
“Iya aku langsung ke sini antar buat kamu,”
“Oh, terus teman-teman kamu udah pulang?”
“Udah juga,”
“Sh iya aku sampai lupa nyuruh kamu masuk, ayo masuk dulu,”
“Nggak usah, aku langsung pulang aja. Tumben si cerewet fans aku itu nggak ada? Nggak kedengeran suaranya. Dia di kamar ya?”
“Di kamar tamu, kakinya lagi luka-luka karena jatuh dari tangga sekolah, tapi alhamdulillah udha membaik sih,”
“Ya ampun, kok bisa sih? Kejadoannya kapan?”
“Tadi pas sekolah langsung diantar sama pihak sekolah ke rumah setelah dilbatin di rumah sakit,”
“Ya ampun, semoga makin membaik ya,”
__ADS_1
“Aamiin makasih doanya,”
“Aku titip salam aja buat Ria ya,”
“Iya nanti aku sampein ke dia, makasih banyak,”
“Sama-sama aku pulang dulu, Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam,”
“Eh kamu kok wangi parfum cewek sih?”
Areno yangs emula akan memutar badannya dan berjalan menuju motor, langsung mwngurungkan niat karena ucapan Arani yang kini menatapnya dengan kening mengernyit.
“Hah? Aku wangi parfum cewek?”
“Iya, apa hidung aku yang salah ya?”
Arani langsung mendekatkan hidungnya ke bahu Areno dan ternyata memang benar ada aroma parfum peremluan dan Arani yakin itu bukan parfum kekaishnya, karena Ia hafal aroma parfum Areno.
“Kamu pakai parfum cewek?” Tanya Arani dnegan nada biasa saja, tidka mengintimidasi
“Nggak kok, kayaknya karena abis bonceng cewek aja sih,” ujar Areno yang memilih untuk jujur karena Ia tidak mau Arani beprikir yang macam-macam.
“Hah? Kamu abis bonceng cewek? Kamu sekarang narik juga?”
“Narik apa?”
“Narik—ojek maksu aku,”
“Hah? Narik ojek? Buset, nggak sama sekali woy!”
Arani semakin bingung. Barusan Ia dengar sendiri kalau kekaishnya itu baru saja membonceng perempuan. Makanya Ia pikir Arani menjadi ojek sekarang. Kalau benar, keren sekali Areno. Benar-benar mau mandiri walaupun orangtuanya punya uang.
Tapi ternyata Areno membantah dan kini menggusar rambutnya dan wajah Areno frustasi.
“Bisa-bisanya mikir aku jadi abang ojek,”
“Kamu bilangnua abis bonceng cewek. Ya aku pikir kamu jadi driver ojek. Kalau beneran, keren banget! Kamu keren, benar-bsnar mau mandiri,”
“Lah nggak, Aranique. Aku abis bonceng teman aku, si Nara itu lho. Aku udah pernah cerita ke kamu ‘kan?”
“Ya teman SD kamu itu bukan sih?”
“Iya bener,”
“Kenaoa kamu bonceng?” Tanya Arani dengan salah satu alis yang terangkat. Areno langsung terkekeh dan menunjuk wajah Arani.
Arani tentu bingung, kenapa kekasihnya tiba-tiba tertawa, lalu tangannya menunjuk wajahnya.
“Kamu kenapa sih? Waras?”
“Ya iyalah, gila aja aku nggak waras,”
“Jadi gimana? Aku penasaran, kamu nggak jadi driver ojek?”
“Nggak, aku bonceng dia karena kebetulan dia ketemu aku si kafe tadi sama teman-teman aku. Nah dia ‘kan nggak bawa kendaraan tuh, jadi ya sekalian aja aku bonceng, aku antar ke rumahnya,”
“Oalah jadi gitu ceritanya, aku pikir kamu udah narik sekarang,”
“Bisa-bisa ya mikir kalau gue narik ojek,” ujar Areno yang mengundang tawa Arani.
“Ya maaf, aku pikir begitu,”
“Eh tapi emang keren sih jadi abang ojek tuh, jadi pengen deh,”
“Halah udah deh jangan aneh-aneh. Keren sih keren, badai, angin topan, angin ****** beliung tetap di jalanan cari uang, itu keren, tapi kamu ‘kan maish belajar. Ya mending fokus belajar aja dulu. Lagian ya, Mama Papa kamu kalau smapai tau, bisa marah lho ke kamu. Nge-desain aja kamu dimarahin apalagi narik ojek,”
“Tapi seru, keren juga,”
“Udah jangan ngomong kayak gitu. Jangan bikin Mama Oaoa kamu marah deh. Akalu nereka tau kamu maish nge-desain aja aku yakin mereka bakal marah,”
“Ya nggak apa-apa aku tetap bakal nelakuin hobi aku yang menghasilkan uang itu. Ntar lama-lama Mama Paoa aku bakal ngerti kok,”
“Ya udah kamu mau pulang atau mau masuk dulu nih?”
“Nggak-nggak aku langsung pulang aja. Salam buat Mama papa kamu sama adek kamu ya. Semoga cepat sembuh kakinya,”
“Aamiin, makasih doanya, kamu hati-hati,”
“Okay, yang abis cemburu,”
“Eh eh eh tunggu!”
Areno akan berbalik lagi-lagi tidak jadi karena Arani menarik lengannya. Ia langsung tersenyum manis dan bertanya “Kenapa sih? Kamu nggak bisa ya aku tinggalin?”
“Dih geer banget sih kamu! Tadi kamu ngomong apa?“
“Ngomong apa?”
“Tadi banget,”
“Oh cie yang abis cemburu. Tadi aku ngomong gitu deh kalau nggak salah,”
“Cie cemburu,”
“Nggak, aku cemburu darimana sih? Jangan ngarang deh,”
“Halah jujur aja deh, tadi hidungnya tajam banget tau-tau nyium parfum cewek,”
“Lah orang kecium makanya aku tanya. Kalau nggak ya nggak bakal aku tanyain lah,”
“Iya hidung kamu tuh tajam banget. Kamu cemburu tau, aku bisa liat tadi dari mata kamu,”
“Aataga, ngarang banget. Orang aku ngga cemburu kok,”
“Halah masa iya?”
“Iya, kamu nggak percaya banget,”
“Iya-iya aku percaya deh,”
“Aku nggak cemburu pokoknya!”
“Iya percaya,”
“Aku biasa aja,”
“Iya aku percaya, Aranique yang cantik,” jawab Areno sambil menahan senyumnya dan itu menyebalkan di mata Arani.
“Pokoknya aku nggak cemburu ya,”
“Hahahaha diulang-ulang mulu kapan aku pulangnya?”
“Ya usah sana pulang tapi kamgan bilanga ku cemburu lagi,”
“Ya lagian kalaupun kamu cemburu emang kenapa sih? Nggak ada yang larang juga kok. Cemburu ‘kan tanda cinta, tanda sayang,”
“Ya tapi aku nggak cemburu,” lugas Arani dnegan mata melotot. Alih-alih takut, Areno justru terbahak.
“Yah, aku jecewa deh jadinya,”
“Kok kecewa?” Tanya Arani dnegan tatapan bingung..
“Iyalah aku kecewa soalnya kamu nggak cemburu, berarti kamu nggak sayang sama aku,”
“Emang nggak,”
“Ih serius?”
“Serius dong,”
“Oh kalau aku terjun dari jurang boleh ya?”
“Ya jangan oneng dong jangan orang, ngapain coba terjun ke Jurang,”
“Kamu bakal bantuin aku kalau misal tiba-tiba aku kepleset di jurang?”
“Iya bakal nolongin,”
Areno tersneyum, Ia harus menggunakan cara lain supaya Arani yang gengsi itu meluapkan perasaannya tanpa disadari.
“Kenapa nolongin?”
“Karena aku manusia yang baik,”
Areno terbahak kendnegar jawaban sederhana Arani tapi cukup arogan kedengarannya. Araeno menggunakan cara lain lagi.
“Kalau misalnya ada dua orang cowok, dan kami sama-sama kepleset di jurang, nah yang bakal kamu tolongin pertama siapa?”
“Ya kamu lah,”
“Kenapa?”
“Nggak tau alasannya taoi aku bakal tolong kamu pertama kali,”
“Ya itu berarti kamu sayang sama aku,” ujar Areno sambil menaik turunkan alisnya.
“Tapi kamu nya gengsi. Ya udah nggak apa-apa,”
“Udah sana pulang,”
“Aku tau sih kamu salah tongkah tapi jangan nguruh pulang juga dong,” ujar Areno smabil terlekeh dan setelah itu berlari menuju motornya karena Ia tahu Arani akan protes tidka terima lagi. Barusan tidak tetima dibilang cemburu, dan sekarang pati akan protes tidak terima dibilang salah tingkah.
“Awas ya kamu!”
“Hahahahaha i love you,”
Setah berkata seperti itu, Areno langsung tancap gas meninggalkan kediaman kekaishnya itu.
Arani mendengus kesal. Ia langsung masuk ke rumah dengan membawa dua buah kotak donat. Satu kotak Ia letakkan di meja makan, satu kotaknya lagi Ia bawa ke kamar tamu.
“Kok lama sih, Kak? Itu mie nya keburu dingin lho, eh itu donat dari Bang Aren ya, Kak?”
“Iya, lama karena ngobrol dulu sama dia, biasalah, Dek. Kayak nggak tau Areno aja. Dia ‘kan suka cerewet,”
__ADS_1
“Kayak aku juga dong hahaha,”
“Nih kamu cobain donatnya, kakak mau lanjut makan mie dulu,”
“Mie aku sampai udah habis duluan lho, Kak. Maaf ya, Kak,”
“Iya nggak apa-apa, ngapain harus minta maaf segala sih? Kamu nggak salah. Santai aja santai,”
“Aku nggak sabaran nungguin kakak akhirnya ya udah aku habisin aja punya aku,”
“Iya kakak juga lupa bilang sama kamu nggak usah nungguin kaakk, lanjut makan aja. Soalnya akkak pasti lumayan lana karena ngobrol dulu sama Areno. Tapi untungnya kamu nggak nungguin kakak, kalau nggak mie kamu udha keburu dingin juga deh,”
“Aku coba ya donatnya, Kak,” ucap Ria sebelum meraih donat pemberian Areno.
“Iya, Dek,”
“Oh iya Areno titip salam buat Mama Papa sama kamu. Dan dia doain kamu cepat sembuh kakinya,”
“Bang Aren baik banget sih. Waktu itu aku pernah sakit kaki jatuhd ati tangga sekolah juga kalau nggak salah Bang Aren pernah datang bawa makanan deh, terus kalau nggaks alah donat juga. Masya Allah baik banget ya, Bang Aren tuh,”
*****
“Makasih ya, Areno. Lain kali kota harus ngopi lagi sih, tadi seru ngobrolnya dan belum puas,”
“Iya lain waktu,”
“Kamu hati-hati, sekali lagi makasih udah antar aku ke rumah dengan selamat,”
“Sama-sama, gue langsung balik ya,”
Nara menganggukkan kepalanya. Setelah Areno melaju pergi, barulah Nara membuka gerbang eumahnya dan Ia masuk ke dalam.
“Cie cie cie dianterin siapa tuh? Kok Mama nggak tau sih kamu udah punya pacar baru?”
“Ih Mama hahahah,”
Nara langsung tertawa ketika Mamanya tina-tiba menggoda dirinya yang baru saja menutup pintu rumah.
“Mama ngintip ya?”
“Iya Mama ngintip, hehehe. Siapa itu? Ksnalin dong sama Mama? Kapan-kalan agakik ya ke sini,”
“Ma, dia itu teman SD aku lho, namanya Areno. Jadi tadi aku sama dia nggak sengaja ketemu di minimarket gitu terus aku langsung sadar kalau dia tuh Areno teman SD aku yang penrah nolongin aku pas aku ketabrak sepeda. Untungnya sih dia masih ingats ama aku ya walaupun tadi dia berusaha ngingat-ngingat dulu sih. Nah setelah dia ingat aku, kita langsung pergi ke kafe. Kita minum hot matvha sama makan kentang goreng di sana sambil ngobrol-ngobrol,”
Nara bercerita dengan antusiasnya. Karena itulah mamanya sudah bisa langsung menebak kalau Ia bahagia sekali bisa bertemu denahn teman semasa Ia sekolah dasar.
“Jadi kalian belum lacaran?”
“Ya nggak lah, Ma,”
“Bukan nggak, Tapi belum,”
Nara hanya menanggapi dengan senyumannya saja. Setelah itu Nara melanjutkan ceritanya.
“Oh iya, Ma. Aku kayaknya nanti bakal pindah ke sekolahnya Areno aja deh, Ma,”
“Lho, emang Areno sekolah dimana?”
“Dia di farmasi, Ma,”
“Wah itu ‘kan pengennya kamu ya?”
“Iya, Ma. Dan aku liat alamat sekolahnya juga nggak jauh-jauh dari rumah kita yang belum jadi itu,”
“Ya udah, Nak. Mama dukung kamu sebagai orangtua Mama dukung aja apa cita-cota kamu. ‘Kan kamu pengen belajar farmasi karena mau jadi apoteker ya udah Mama turutin,”
“Yeayy makasih ya, Ma,”
“Sama-sama, Nak,”
“Kamu mau sekolah di sana karena ada Areno juga ya? Hmm?”
“Hmm nggak juga sih, Ma. Aku dmang langsung tertarik pas aku tau kalau dia sskolah di farmasi. Aku ‘kan dmang kepengen banget tuh pindah ke farmasi. Eh jebetulan di di sana jadi ya udah tadi aku lumayan banyak nanya-nanya soal sekolah dia itu,”
“Terus gimana? Kamu merasa tertarik nggak?”
“Iya, Ma. Aku tertarik banget makanya mau pindah ke sana nanti,”
“Okay Mama dukung seratus persen,”
********
“Hai, aku udah dirumah nih,”
“Okay, abis darimana?”
“Sh tau nggak, aku tadi ke minimarket. Terus aku nggak sengaja ketemu sama teman lama aku. Awalnya aku nggak ingat dia siapa. Bahkan setelah dia ngenalin namanya aku tuh masih lupa. Nah setelah usaha untuk nginget akhirnya aku ingat juga dia siapa. Terus aku sama dia ke kafe deh ngobrol-ngobrol. Jadi maaf ya kalau misalnya aku baru hubungin kamu swkarang,”
“Ya ampun nggak usah minta maaf, kamu nggak salah kok,”
“Kamu lagi ngapain?”
“Lagi makan bakso, kamu udah makan?”
“Udah makan kentang goreng di kafe tadi,”
“Abis ngumpul sama teman?”
“Iya, sekalian ngilangin mumet. Tau nggak sih hari ini aku udah mulai bimbel. Biar kembaliin nilai aku. Duh pusing tau, Ar. Mama Papa segala ngasih bimbel ke aku, jadi aku mumet banget,”
Arani tersenyum mendnegar keluh kesah Areno. Kalau saja Areno ada di sampingnya sekarang, Ia sudah tepuk-tepuk bahu Areno untuk menguatkan sekaligus membuatnya percaya diri bahwa semua bisa Ia lewati walaupun rasanya sangat melelahkan.
“Kamu ‘kan hebat, jadi jangan khawatir. Semua bisa dilewatin kok, aku yakin,”
“Tapi Mama Papa aku kenapa harus nyuruh aku bimbel segala ya? Padahal aku bisa kok ngembaliin nilaiku ke semula,” ujar Areno dnegan nada bicara yang masih tidak terima dnegan keputusan orangtuanya yang mengharuskan Ia untuk mendapatkan pelajaran tanbahan.
“Jadinya aku tuh makin padat kegiatannya, Ran,”
“Ya justru bagus kalau disuruh bimbel, Ren. Nggak smeua anak bis aikut bimbel dan kamu adalah salah satu yang beruntung jadi harus bersyukur. Banyak anak yang mau dapat pelajaran tambahan di puar sekolah, jangankan bimbel, banyak anak yang pengen banget sekolah tapi nggak bisa, kamu nggak liat mereka? Sekarang coba kamu bandingins ama diri kamu sendiri. Harusnya kamu lebih bersyukur,”
Areno menghembuskan napas kasar lalu menggaruk keningnya yang tidak gatal. Sebenarnya Ia bukan tidak bersyukur tapi Ia tidak menyangka saja kalau orangtuanya akan menambah kesibukannya.
“Aku jadi makin bingung harus gimana bagi waktunya,”
“Hmm gini deh aku bantu untuk atur jadwal kamu tiap hari, gimana?”
“Ya udah boleh deh, kamu catat coba,”
“Hah? Dicatat? harus ya?”
“Iya catat aja, terus kirim ke aku foto catatannya sekarang,”
“Beneran?”
“Ya utalah, Arani cantik,”
“Okay-okay, aku mesti tau dulu nih kamu tiap pagi bangun jam berapa terus kalau tidur biasanya jam berapa?”
“Tidur sih bisa jam sebelas atau paling malam seringnya jam dua belas,”
“Ya ampun itu malam banget, terus kalau bangun?”
“Bangun ya jam lima, pas adzan, kadang agak telat dikit setengah enam. Abis itu dimarahin deh sama Papa aku, dijewer karena telat sholat,”
“Nah kenaoa bangun telat ya karena tidurnya terlalu malam. Paling malam tuh tidur jam sembilan aja,”
“Suka susah tidur, Ran. Apalagi nih ya, kalau ada tugas, ada desain yang harus aku kerjain susah pasti nggak bakal kepikiran untuk tidur deh,”
“Ih jangan begitu. Sebisa mungkin kamu harus istirahat yang cukup, Ren. Supaya besok paginya kamu tuh siap untuk jalanin banyak aktifitas,”
“Ya tapi kalau sibuk ‘kan bakal susah tidur, eh tapi kalau lagi nggak sibuk juga susah tidur sih,”
“Pokoknya kamu harus istirahat yang cukup! Nggak boleh kurang-kurang tidur. Makanya diatur waktunya yang bagus, jangan berantakan pola tidur dan pola makan kamu,”
“Iya, Arani cantik,”
“Ya udah sekarang aku buat catatannya ya?”
“Iya. Boleh aku tungguin. Hahaha kamu sebagai pacar benar-benar mau turun tangan banget ya? Makasih lho, Arani cantik,”
“Ya sama-sama,”
“Mama Papa aku tuh ngiranya aku punya waktu kosong padahal mereka nggak tau aku ada kerjaan,”
“Ya makanya jujur,”
“Terus kalau aku jujur bakal dibiarin gitu aja? Mana mungkin aku dibolehin desain, Ran,”
“Ya taoi kamu emang belum bisa bagi waktu, pantas aja mama papa kamu larang kamu banget untuk kerja walaupun desain yang cuma kerja di rumah aja, nggak di kantor,”
“Duh, Ran. Aku tuh pengen banget cari duit sendiri dari desain. Tapi kenapa sih Mama Papa aku nggak mau pahamin aku?”
“Duh, Ren. Mereka cuma mau yang terbaik untuk kamu. Jangan nyalahin gitu dong. Aku sebagai orangtua juga pengennya anak tuh belajar aja yang benar selagi aku bisa biayain anak aku nggak usah mikirin yang lain-lain. Karena berat banget emang untuk barengin pendidikan sama karir. Kamu sendiri udah ngerasain itu ‘kan,”
“Aku udah hampirnketahuan kalau aku nge-desain,”
“Hah? Kok bisa? Gimana ceritanya bisa hampir ketahuan?”
“Waktu aku nonton sama Papa tiba-tiba ada bapak gitu yang nyapa aku teus muji hasil desain aku, pas Papa Mama aku nanya, aku maish bisa ngelak sih. Jujur aku nggak siap kalau disuruh stop dari hobi aku yang menghasilkan uang itu. Berasa lama banget
“Lulus sekolah ya ampun, udah pengen bebas aja gitu,”
“Emang kalau kamu udah kuliah, kamu bakal dibolehin kerja ya sama mama papa kamu? Bakal dibolehin nge-desain?”
“Ya nggak tau sih dibolehin atau nggak. Tapi kayaknya udah dibolehin deh kan soalnya udah kuliah, bahkan mau nikahin kamu aja kayaknya udah boleh,”
“Heh sembarangan kamu! Pikirin tuh kuliah, abis lulus SMA bukan malah mikirin nikah,”
“Hahahaha sensi amat sih, aku ‘kan lagi berdoa itu. Katanya ucapan adalah doa ya udah aku ucap aja deh biar jadi doa, terus jadi kenyataan,”
“Kayaknya udah boleh sih. Soalnya kalau kuliah itu ‘kan nggak begitu terikat lagi ya nggak kayak waktu sekolah, nikah aja udha dibolehin deh kayaknya,”
“Kamu kayaknya kebelet nikah ya?”
“Hahahaha aku bercanda. Nggak kok. Mama Papa aku pesan supaya aku kuliah dulu,”
__ADS_1