Kisah Anak Farmasi

Kisah Anak Farmasi
Bab 101


__ADS_3

Areno menyebrang untuk menghampiri penjual lolipop senentara Arani di dalam mobil bingung karena Areno tak kunjung masuk ke dalam mobil, dan begitu Ia menoleh ke belakang ternyata Areno kelihatan menghampiri penjual gulali.


“Hah? Aremo ngapain ke sana? Kok dia nggak langsung masuk ke mobil sih?” Batin Arani bertanya-tanya ketika melihat Areno tak langsung masuk ke mobil usai jajan bersamanya di minimarket.


Tapi Arani biarkan saja Areno menyelesaikan urusannya sendiri. Ia yakin tidak akan lama lagi Aremo akan masuk ke dalam mobil.


Setelah menunggu kurang lebih sepuluh menit, akhirnya Areno datang juga. Alih-alih membuka pintu bagian pengemudi, Areno justru membuka pintu mobil tempatnya.


“Tebak aku bawa apa buat kamu? Bisa nebak? Atau emang udah tau ya?”


“Aku nggak tau, kamu abis ngapain sih?”


“Tebak yang ada di belakang aku sekarang apa?” Tanya Areno yang sengaja melipat kedua tangannya di belakang punggung menyembunyikan sesuatu.


“Tadi kamu nyamperin tukang gulali bukan?”


“Udah buruan tebak aja,”


“Nggak tau ah,”


Areno terbahak mendengar Arani menjawab dengan ketus. Arani menyerah sebelum berusaha menebak.


“Ah payah nggak mau nebak dulu,”


“Ih aku males ah. Emang apa sih itu?”


Areno langsung memberikan dua plastik lolipop kepada Arani dan tanggapan Arani langsung kelihatan bahagia sekali.


“Wah ini serius, Ga?” Tanya Arani pada Areno yang langsung menganggukkan kepalanya.


“Iya buat lo semoga lo suka. Maaf ya kalau telat banget. Waktu itu ‘kan lo pernah bilang kalau lo pengen gulali, tapi gue cuek aja, gue malah suruh lo beli sendiri dengan ketusnya gue ngomong ke lo. Nah sekarang gue mau beliin itu buat lo, ya walaupun gue tau udah telat banget, lo mungkin udah langsung beli waktu itu, tapi ini tolong diterima ya,” ujar Areno sambil tersenyum hangat menatap tunangannya itu.


Mata Arani berkaca, tentu saja Ia menerima dengan senang hati. Ia sangat bersyukur Areno mau repot membeli lolipop itu untuknya. Tidak peduli terlambat atau tidak yang Ia lihat adalah niat baik Areno.


“Makasih banyak ya, Ren,”


“Iya sama-sama, semoga lo suka,”


“Suka dong pasti,” ujar Arani sambil tersenyum.


Setelah itu Areno langsung masuk mobil dan melajukan mobilnya ke rumah Arani. Di sebelahnya Arani sedang menatapi lolipop yang dibeli oleh Areno. Terlalu senang dibelikan lolipop oleh Areno, sampai Ia sayang-sayang gulali itu.


“Kenapa nggak dimakan?”


“Sayang mau makan nya,”

__ADS_1


“Lah, terus mau lo apain kalau nggak dimakan?”


“Aku pajang kali ya?”


“Hahahaha lebay banget masa dipajang,”


“Ya saking aku senangnya dapat inid ari kamu,”


“Makan aja sekarang,”


“Hmm sayang,”


“Ya udah lah terserah, tapi masa iya sih didiemin doang atau dipajang? Itu ‘kan makanan ya harusnya masuk ke mulut lah bukan masuk ke dalam lemarin pajangan,”


“Hmm okay deh,”


Akhirnya Arani mulai membuka kemasan lolipop tersebut dan Ia segera mengambil sedikit dengan jari tangan kanannya kemudian Ia lahap.


“Hmm enak banget,”


“Kayak bocah,”


“Biarin, emang yang boleh makan ini cuma bocah doang?“


“Ya nggak sih, itu buktinya lo makan,”


“Suka,”


“Oh ya? Sama dong berarti,”


“Ya pantesan kita dijodohin ternyata ada yang sama dari kita berdua,” ujar Areno.


“Sama-sama suka lolipop hahaha,” ucap Arani.


“Kalau sekarang masih suka nggak?”


“Nggak, ‘kan bukan bocah lagi,”


“Ah masa sih?”


“Iya,”


“Coba ak dulu dong,”


Arani mengambil gulali setelah itu Ia dekatkan ke mulut tunangannya itu. Areno langsung berdecak pelan.

__ADS_1


“Udah dibilang gue nggak suka lagi, ‘kan gue udah nggak bocah,”


“Ih nggak apa-apa, ayo buruan buka mulutnya langsung hap,”


“Lalu ditangkap,”


Arani tertawa ketika ucapannya disambung dengan sepenggal lirik lagu masa kecil mereka. Arani masih mendekatkan gulali itu dengan mulutnya.


“Ayo buruan buka mulut kamu, ntar aku paksa nih,”


“Emang bisa?”


“Bisa,”


“Gimana cara—hmmp,”


“Hahahaha bisa ‘kan aku? Kehebatan aku emang tiada lawan,” dengan bangganya Arani berkata seperti itu setelah Ia berhasil memasukkan gulali ke dalam mulut tunangannya yang kebetulan sedang bicara.


“Untung aja aku tetap fokus nyetir, kalau nggak bahaya buat kita, Ran,”


“Biar kita makan bareng-bareng. Jangan nolak dong kamu,”


“Ya aku sih sebenarnya senang ya disuapin sama kamu cuma kan aku beliin itu buat kamu. Masa aku juga ikut makan? Ntar aku busuk sikut lagi hahaha,”


“Ya nggak dong, masa busuk sikut. Ini kan bisa dimakan bareng-bareng, aku ikhlas kok. Makasih ya kamu udah beliin aku gulali, mood aku jadi nambah nih,”


“Sama-sama, sekarang cuma bisa beliin gulali, ntar bisa beliin apa kira-kira ya? Rumah? Aamiin,”


“Bahaya nih,”


“Kok bahaya?”


“Ya bahaya, itu kejauhan ngomongnya. Kita aja masih sekolah, masih tinggal sama orang tua, yang harusnya kamu beliin rumah ya orangtua kamu dulu, Ren,”


“Itu sih udah pasti. Cita-cita aku kayak gitu, tapi aku juga mau lah beliin rumah buat pasangan aku di masa depan ya semoga aja kita sampai masa depan ya,”


“Aamiin,”


“Eh di aamiin nih?”


“Ya itu doa baik ‘kan? Kalau doa baik harus bilang aamiin, dikabuli atau nggak itu urusan belakangan,”


“Aku mau maksa ah, masa depan aku ya kamu,”


“Sstt heh nggak boleh ngomong gitu. Kamu nghak berhak ngatur Tuhan, Ren!”

__ADS_1


Areno terkekeh mendengar ucapan Arani. Kemudian Ia menganggukkan kepalanya. Ia langsung dibuat sadar oleh Arani bahwa Ia hanyalah manusia biasa.


__ADS_2