
“Ria, kamu nggak perlu minta maaf. Kamu ‘kan nggak salah. Ini gara-gara kurang komunikasi aja,”
“Ya udah, Abang mau masuk dulu?”
“Nggak, makasih, Ri. Aku mau langsung berangkat aja. Kamu mau berangkat juga nih?”
“Iya, lagi nunggu ojek bentar lagi datang,”
“Lama nggak? Kalau lama, aku anterin ayo,”
“Eh nggak usah, Bang. Aku diantar ojek aja. Abang mending ke sekolah sekarang, nanti abang telat lho,”
“Beneran nggak mau dianterin?”
“Iya beneran, aku berangkat sama ojek aja,”
Areno merasa tidak tega kalau sampai Ria, adik dari kekasihnya terlalu lama menunggu ojek, atau terlambat masuk sekolah. Maka dari itu Ia menawarkan bantuan, yaitu mengantarkan Ria sampai di sekolahnya akan tetapi Ria menolak dengan alasan ojek yang Ia pesan sebentar lagi tiba.
“Serius nih? Aku sih nggak apa-apa telat, udah sering telat juga kok,”
“Serius, Bang. Nggak usah, makasih ya atas tawarannya. Tapi aku berangkat sendiri aja,”
Tidak mungkin Ria membiarkan Areno mengantarkannya ke sekolah. Areno juga harus segera berangkat ke sekolah sebelum terlambat.
“Ya udah kalau begitu, aku berangkat duluan ya?”
“Iya, Kak, hati-hati,”
“Iya, Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam,”
Areno melajukan motornya ke sekolah meninggalkan Ria yang menunggu kedatangan ojek.
“Kasian banget itu Bang Aren ya. Udah capek-capek ke sini mau berangkat bareng Kakak ke sekolah, eh nggak taunya kakak udah berangkat duluan. Mana kakak bohong lagi sama aku. Katanya Bang Aren nggak sekolah makanya mau berangkat sendiri. Lah nggak taunya Bang Aren sekolah tuh. Harusnya bilang aja sih ke Bang Aren kalau nggak mau dijemput, ‘kan jadi Bang Aren nggak sia-sia datang ke sini, buang waktunya aja. Seharusnya Bang Aren udah ke sekolah dari tadi,”
Ria tidak habis pikir dengan kakaknya. Ria rasa kalau dicoba dulu untuk bicara pada Areno bahwa Arani tidak mau diantar dengan menyebutkan alasan, rasanya Areno akan terima. Kalaupun Areno tetap datang, itu salahnya sendiri sebab Arani sudah berkata di awal bahwa Ia tidak ingin dijemput. Tapi masalahnya tak ada komunikasi apapun dari Arani. Jadi menurut Ria yang salah sekarang adalah kakaknya. Sengaja menghindar dengan cara berangkat pagi-pagi bersama papanya supaya tidak sempat bertemu dengan Areno.
******
“Arani, kamu kenapa udah berangkat duluan dan nggak bilang sama aku sih?”
__ADS_1
Areno meraih tangan Arani yang akan bergegas ke kantin di jam istirahat. Tadi Areno terlambat jadi belum bisa langsung bicara pada Arani tentang alasan Arani yang tidak mau berangkat bersamanya.
“Kamu kenapa nggak mau berangkat sama aku? Hmm? Kamu berangkat duluan, terus kamu bohong,”
“Aku lagi mau berangkat ke sekolah sama Papa, emang salah ya?”
“Ya nggak salah, Aranique. Tapi paling nggak, kamu ngomong dong biar aku nggak kaget gitu pas sampai rumah kamu. Tadi untungnya aku kebetulan ketemu sama Ria, dan Ria yang kasih tau aku kalau kamu udah berangkat sama Papa kamu, kata Ria, kamu juga punya alasan berangkat sendiri. Kamu bilang, aku lagi nggak sekolah. Kamu bohong banget. Jelas-jelas aku nggak ngomong gitu,”
“Ya makanya udah sih, nggak usah datang-datang ke rumah aku bisa nggak? Kita perginya sendiri-sendiri aja,”
“Tapi aku pengen antar jemput kamu. Emang kenapa sih? Kamu masih marah sama aku ya? Hmm? Aku ‘kan udah minta maaf. Iya aku salah udah ganggu waktu kamu sama teman-teman kamu. Okay, kalau kamu mau jalan sama mereka, aku nggak bakal ganggu lagi deh, aku janji. Tapi tolong jangan marah lagi ya ke aku,”
“Aku udah maafin, tapi jujur aku masih kesal tau,”
Areno menghembuskan napas kasar. Ia tidak tahu kalau Arani akan sekesal ini padanya, padahal kejadiannya kemarin, tapi kesalnya masih bertahan sampai sekarang.
“Okay aku minta maaf, serius deh aku nggak bakal ganggu quality time kamu sama teman-teman kamu lain kali,”
“Ya bagus, emang harusnya begitu,”
“Padahal aku cuma pengen temenin kamu doang kemarin, sekaligus jagain, eh kamu nya malah nggak mau. Ya udah lah kalau gitu,”
“Awas ya kalau ngulangin lagi. Kamu posesif banget sampai aku jalan sama teman aja kamu ikutin,”
“Ya udah saja, aku mau pergi ke kantin dulu,”
Areno langsung menghalangi langkah kaki kekasihnya. Arani langsung berdecak pelan. Sebenarnya apa lagi yang diinginkan Areno? Permintaan maaf sudah Ia terima, Ia juga tidak marah lagi, dan sekarang Ia ingin pergi ke kantin tapi dihalangi oleh Areno.
“Kenapa lagi sih? Aku mau ke kantin, lapar nih,”
“Ayo sama aku,”
Arani diam sebentar menatap Areno dengan tatapan datar. Melihat tatapan Areno yang sepertinya berharap sekali Ia mengangguk, Arani langsung berdecak.
“Ngapain mau ke kantin juga?”
“Ya makan lah, Cantik, masa mau—“
“Ya udah deh ayo,”
“Senyum dulu dong, masa cemberut sih mau makan sama pacar?”
__ADS_1
Arani merotasikan bola matanya yang mengundang tawa sang kekasih. Tanpa mengatakan apapun lagi Arani bergegas ke kantin.
Areno segera menyusul dengan cepat. Dan tanpa aba-aba merangkul bahu Arani namun Arani langsung mengusir tangan Areno dari bahunya.
“Ih emang kenapa sih? Kok nggak mau aku rangkul? Padahal aku rangkul doang,”
“Nggak mau, ngapain sih? Ini ‘kan di sekolah,”
“Eh iya lupa, lagi di sekolah ya?”
Areno langsung menjauhkan lengannya dari bahu sang kekasih kemudian terkekeh pelan. “Ya udah deh daripada tambah badmood ya ‘kan, lebih baik jalan sendiri-sendiri aja,”
“Aku nggak badmood. Tapi kalau kamu ganggu aku, ya aku bakal badmood lah,”
“Emang siapa yang mau ganggu sih, Ran? Duh kamu pikirannya negatif deh ke aku,”
“Udah ah, ngobrol sama kamu bisa nggak selesai-selesai. Perut aku udah lapar nih, mau ngisi perut di kantin,
Arani dan Areno berjalan ke kantin bersamaan. Arani duduk di salah satu kursi, dan Areno menyusul duduk berhadapan dengan Arani. “Mau pesan apa?” Tanya lelaki itu pada perempuan yang tiba-tiba Ia jadikan pacar karena membuatnya tertarik, walaupun mereka tidak dekat sama sekali di awal.
“Nasi goreng,”
“Nasi goreng aja? Terus minumnya apa?”
“Minumnya es teh,”
“Okay tunggu bentar ya, aku pesan dulu,”
“Eh aku mau takoyaki juga deh,”
“Iya aku pesenin,”
“Tapi bayar sendiri-sendiri aja, jangan kamu yang pesenin, tapi kamu juga yang bayar. Kalau kamu mau bayarin, berarti nggak usah pesenin aku. Biar aku sendiri yang pesan,”
“Heh jangan! Aku aja yang pesen, iya bayar sendiri-sendiri, tenang aja,”
“Jangan iya-iya doang kamu. Aku ikut deh pesannya,”
“Jangan, nanti kursinya diambil lho,”
“Ya nggak apa-apa, ambil aja, masih ada tempat lain,”
__ADS_1
Daripada lelaki itu yang membayar, lebih baik Arani ikut memesan, sekaligus membayar. Ia tidak mau Areno mengeluarkan uang terus untuknya. Semalam dibelikan brownies dan hampir saja seblaknya dibayarkan oleh Areno juga.