
“Mau foto nggak, Ran?”
“Foto sama siapa?”
“Sama gajah,”
“Hmm…boleh deh,”
“Ya udah ayo aku fotoin ya,”
Kebetulan salah satu gajah yang ada posisinya dekat dengan Arani. Maka Areno menawarkan Arani untuk foto bersama gajah itu dan Arani tidak menolak.
“Okay pose ya,”
Arani menganggukkan kepalanya. Ia langsung tersenyum menghadap kamera dan Areno langsung memotretnya dengan kamera ponsel miliknya sendiri. Arani akan menyimpan foto Arani di galeri ponselnya dan memastikannya aman. Karena itu kenang-kenangan. Kapan lagi Arani mau difoto dengan kamera ponselnya dan sepertinya Arani tidak menyadari kalau Ia berpose bukan dengan kamera ponselnya.
“Ganti gaya ya,”
“Satu,”
“Dua,”
“Tiga,”
“Gaya apalagi aku?”
“Ya terserah kamu. Tapi nggak usah gaya juga sebenarnya nggak apa-apa,”
“Ya udah gaya peace aja deh,”
“Okay boleh, kamu cantik mau gaya apaan aja,”
“Hadeh, udah deh gombalnya,”
“Lah emang bener. Kamu cuma pose diam kayak patung juga nggak apa-apa,”
Arani tertawa mendengar ucapan Areno dan saat itulah Areno memotret Arani yang sedang tertawa. Ketika melihat hasilnya Areno tak bisa menahan senyumannya. Ia benar-benar mengagumi ciptaan Tuhan di depannya ini yang luar biasa.
“Cantik banget ya ampun. Saking cantiknya gue sampai nggak bisa kalau nggak senyum,” batin Areno.
“Ayo buruan, Ren. Udahan nih fotoin akunya?”
“Ya terserah kamu. Udah atau belum?”
“Hmm sekali lagi deh. Aku fotonya pakai gaya saranghae,”
“Gajah aja dikasih saranghae, lah manusia di depan kamu nggak dikasih juga apa?”
Arani berdecak pelan dan menatap Areno dengab sorot mata yang kesal. Arani langsung terkekeh menunjukkan susunan gigi-gigi rapinya.
“Bercanda, Arani sayang. Jangan kesal gitu dong, nanti cantiknya hilang,”
“Erghh gombal mulu kerjaan kamu. Ayo fotoin aku sekali lagi,”
Arani berpose dengan love finger nya atau saranghae seperti yang tadi sudah Ia niatkan. Setelah itu sesi pemotretan mendadak selesai.
“Udahan nih? Beneran?”
“Iya udah, aku udah kehabisan gaya,”
__ADS_1
“Kamu nggak gaya aja udah cantik aku bilang,”
“Udah deh jangan gombal terus, aku nggak girang digombalin,”
“Tapi dalam hati senang ‘kan pasti?”
“Nggak, aku biasa aja tuh,”
“Sebenarnya yang tadi tuh bukan gombal sih, tapi tulus dari hati aku yang paling dalam,”
“Ssttt udah ngomongnya. Sekarang aku mau samperin Papa aku dan bakal pulang,”
“Aku juga dong,”
“Ya udah ayo buruan,”
Arani berjalan mendahului Areno, tapi Areno dengan sabar mengikutinya. “Pelan aja, Ran. Jangan buru-buru,”
Baru juga Areno selesai bicara seperti itu tiba-tiba ada yang menabrak Arani, yaitu dua orang anak kecil yang sedang berlari-larian. Perut Arani langsung sakit karena kejadian itu.
“Astaga, kamu nggak apa-apa?”
“Aku nggak apa-apa,”
Arani berkata bahwa Ia tidak apa-apa, tapi Areno bisa melihat Arani menyentuh perutnya sendiri dan ekspresi wajah Arani juga menunjukkan kalau Ia sedang kesakitan. Areno langsung menatap dua anak itu dan memberi mereka teguran.
“Dek, hati-hati ya lain kali. Jangan lari-lari, di sini ‘kan banyak orang, takutnya kalian juga jatuh,”
“Mba, maaf ya. Anak saya nggak sengaja,”
Orangtua mereka langsung meminta maaf. Sang ibu merasa bersalah menatap Arani dan juga Areno yang baru saja menegur kedua anaknya.
“Iya, tapi lain kali diperhatikan anaknya ya, Bu,”
Areno menahan geram. Ia tidak suka ketika dijawab seperti itu. Bukannya diam saja setelah minta maaf malah menjawab.
“Udah, Ren. Aku nggak apa-apa kok,” kata Arani menepuk lengan Areno yang ekspresi wajahnya kelihatan kesal.
“Kami permisi,” ujar Arani seraya menarik lengan hoodie yang dikenakan oleh Areno sehingga Areno berjalan di sebelahnya.
“Aku tuh paling kesal ya kalau aku kasih tau tapi malah disautin kayak gitu. Apanya yang diperhatiin? Orang jelas-jelas aku liat orangtuanya tadi sibuk ngobrol, mereka nggak sadar anak mereka lari-larian dan akhirnya nabrak kamu,”
“Ya udah lah nggak usah diperoanjang masalahnya. Namanya juga anak kecil kadang ‘ken emang suka nggak bisa diam,”
“Ya tapi orangtuanya malah sibuk ngobrol tadi, udah tau dua anaknya masih kecil, bukannya ditegur gitu supaya jaga sikap,”
“Mungkin udah ditegur sebelumnya,”
“Ya udah nggak usah nyaut ketus kayak gitu dong, cukup minta maaf aja. Udah bagus minta maaf, eh pas nyautin aku malah kayak jutek gitu,”
“Nggak, itu cuma perasaan kamu aja kali. Nggak usah dibahas lagi, aku baik-baik aja kok,”
“Kamu beneran baik-baik aja? Perut kamu gimana?”
“Aman,”
“Serius? Mau dioleh minyak dulu nggak? Kamu bawa minyak nggak?”
“Minyak jelantah? Ya nggak bawa lah,”
__ADS_1
“Ran, aku serius. Aku takut lho kamu kenapa-napa. Maksud aku minyak kayuputih atau apa gitu,”
Arani terkekeh karena Areno kelihatannya malas menanggapi candaannya. Padahal Ia sengaja mencairkan suasana supaya Areno melupakan rasa kesalnya akibat insiden tadi.
“Aku nggak bawa, Ren,”
“Lain kali kalau kemana-mana bawa, Ran,”
“Kamu emangnya bawa sekarang?”
“Kalau aku sih cowok,”
“Ya tapi ‘kan itu bentuk kewaspadaan kita kalau kenapa-napa di jalan bisa dibalurin. Nggak untuk cewek aja, tapi cowok juga aku rasa pelru deh bawa kayak gitu,”
“Iya-iya nanti lain kali aku bawa minyak-minyakan deh. Berasa jadi orangtua deh aku,”
“Hahahha emang yang bawa minyak-minyakan gitu cuma orangtua aja?”
“Ya ‘kan biasanya begitu,”
“Makasih udah temenin aku, Ren,”
“Iya sama-sama, Ran. Kamu happy nggak hari ini?”
“Banget dong, akhirnya aku bisa nostalgia masa kecil. Dulu aku sering main ke sini, tapi pas udah gede nggak pernah lagi,”
“Aku juga senang liat-liat binatang pas kecil, pas udah segede ini mana pernah. Udah sibuk sama sekolaj, sekalinya libur ya paling ngumpul sama keluarga di rumah atau teman,”
Areno tersenyum seraya menolehkan kepalanya ke samping. Ia bisa melihat Arani yang berkeringat, sambil memperbaiki kunciran rambutnya.
“Kamu nggak mau istirahat dulu?”
“Nggak, istirahat di tempat Papa duduk tadi aja,”
“Beli minum dulu ya, aku haus. Minum kita masing-masing udah habis juga ‘kan,”
Sebenarnya Areno tidak haus tapi Ia yakin Arani haus. Dan minum mereka berdua kebetulan sudah habis maka dari itu Ia ingin membeli air minum. Sambil mereka berjalan, ada beberapa tempat menjual minuman dan Areno berhenti sebentar untuk membeli beberapa botol minuman.
Ia menyuruh Arani untuk memilih akan tetapi Arani hanya ingin air mineral saja. Akhirnya Areno membeli air mineral sebanyak tiga botol, dan jus tiga botol.
“Kamu banyak banget beli minuman nya,”
“Nggak lah, kali aja kamu sama papa kamu mau minum jus selain air putih,”
“Makasih, Ren,”
“Sama-sama. Aku tau kamu haus, minum dulu deh mendingan,”
Areno mengajak Arani untuk berhenti berjalan sebentar. Kemudian Dafin menyerahkan botol air mineral kepada Arani.
“Minum dulu ya,” ujar Areno seraya membuka tutup botol kemudian Ia berikan kepada Arani. Perlakuan yang sederhana tapi sempat membuat Areno terkesima.
“Makasih ya,”
“Iya sama-sama, Arani yang cantik. Kamu tuh harusnya nggak usah bilang makasih segala tau,”
“Ya harus dong, apapaun kebaikan yang diterima dari ornag lain itu harus dibalas dengan terimakasih,”
“Ya karena aku bosan aja gitu dnegar kamu suka ngomong makasih. Ya kalau ngomong ‘Makasih ya Areno gantengku’ sih nggak apa-apa,”
__ADS_1
“Ih kepedean!”
“Hahahaha,”