
“Mau foto nggak, Ran?” Tawar Vindra.
“Foto sama siapa?” Tanya Arani yang bingung dnegan ucapan kekasihnya.
“Sama penganten,”
Jawab Areno dengan asal awalnya. Lagipula kenapa harus ditanya foto dengan siapa? Jelas-jelas yang saat ini sedang mereka perhatikan adalah gajah. Mereka sedang berada di kebun binatang lagi, dan yangs ekarang inis edang mereka lihat adalah gajah.
Mana mungkin ada penganten di kandang gajah ‘kan? Areno jadi gemas sendiri ketika Arani bertanya seperti itu. Sudah jelas Ia menawarkan Arani untuk foto dengan gajah. Jarang bisa foto dengan satwa apalagi yang besar seperti gajah.
“Ya foto sama jaha lah mumpung dia lagi ada nggak jauh dari kamu tuh,” ujar Areno.
Ria yang ikut nersama mereka terbahak. Kakaknya lama menafsirkan ucapan Areno sementara Areno tidak sabaran.
“Hmm…boleh deh,” jawab Arani.
“Ya udah ayo aku fotoin ya,”
Kebetulan salah satu gajah yang ada posisinya dekat dengan Arani. Maka Areno menawarkan Arani untuk foto bersama gajah itu dan Arani tidak menolak.
“Okay pose ya,” suruh Areno.
“Ayo dek kamu juga foto sama gajah,” Areno menyuruh Ria namun Ria menggelengkan kepalanya.
“Nggak ah,”
“Lho emang kenapa?”
“Nggak mau, Bang,”
“Kenapa? Takut ya? Orang dia nggak gigit kok, Dek,”
__ADS_1
“Tetap aja aku nggak mau ah, kakak aja aku mau liat gajah yangs atunya aja tuh dis ana,” ujar Ria sambil menu juk satu ekor gajah yang sedang menyendiri.
“Ya udah kamu aja, Ran,”
Arani menganggukkan kepalanya. Ia langsung tersenyum menghadap kamera dan Areno langsung memotretnya dengan kamera ponsel miliknya sendiri. Areno akan menyimpan foto Arani di galeri ponselnya dan memastikannya aman. Karena itu kenang-kenangan. Kapan lagi Arani mau difoto dengan kamera ponselnya dan sepertinya Arani tidak menyadari kalau Ia berpose bukan dengan kamera ponselnya.
“Ganti gaya ya,”
“Satu,”
“Dua,”
“Tiga,”
“Gaya apalagi aku?” Tanya Arani sambil memggaruk pelipisnya.
“Ya terserah kamu. Tapi nggak usah gaya juga sebenarnya nggak apa-apa,”
“Ya udah gaya peace aja deh,”
“Hadeh, udah deh gombalnya,”
“Lah emang bener. Kamu cuma pose diam kayak patung juga nggak apa-apa,”
Arani tertawa mendengar ucapan Vindra dan saat itulah Areno memotret Arani yang sedang tertawa. Ketika melihat hasilnya Arani tak bisa menahan senyumannya. Ia benar-benar mengagumi ciptaan Tuhan di depannya ini yang luar biasa. Arani cantik sekali.
“Cantik banget ya ampun. Saking cantiknya gue sampai nggak bisa kalau nggak senyum,” batin Areno.
“Ayo buruan, Ren. Udahan nih fotoin akunya?” Tanya Arani yang mulai mati gaya.
“Ya terserah kamu. Udah atau belum?”
__ADS_1
“Hmm sekali lagi deh. Aku fotonya pakai gaya saranghae,”
“Gajah aja dikasih saranghae, lah manusia di depan kamu nggak dikasih juga apa?” Tanya Vindra sambil menaik turunkan alisnya.
Arani berdecak pelan dan menatap Areno dengan sorot mata yang kesal. Areno langsung terkekeh menunjukkan susunan gigi-gigi rapinya.
“Bercanda, Ran. Jangan kesal gitu dong, nanti cantiknya hilang, lagian tanpa dikasih saranghae aku tau isi hati kamu, cieee,”
“Erghh gombal mulu kerjaan kamu. Ayo fotoin aku sekali lagi,”
Arani berpose dengan love finger nya atau saranghae seperti yang tadi sudah Ia niatkan. Setelah itu sesi pemotretan mendadak selesai.
“Udahan nih? Beneran?”
“Iya udah, aku udah kehabisan gaya,”
“Kamu nggak gaya aja udah cantik aku bilang,”
“Udah deh jangan gombal terus, aku nggak girang digombalin,”
“Tapi dalam hati senang ‘kan pasti?”
“Nggak, aku biasa aja tuh,”
“Sebenarnya yang tadi tuh bukan gombal sih, tapi tulus dari hati aku yang paling dalam,”
“Ssttt udah ngomongnya. Sekarang aku mau samperin Papa Mama aku dan kita bakal pulang,”
“Aku juga dong,”
“Ya udah ayo buruan,”
__ADS_1
“Dek, udahan yuk, kita samperin Papa Mama, mereka udah nungguin kita selesai liat-liat hewan deh kayaknya,”
Ria langsung menganggukkan kepalanya dan menghampiri Arani serta Areno. Kemudian mereka berjalan bersama menuju tempat dimana orangtua Arani memutuskan untuk menunggu saja ketimbang harus ikut melihat satwa-satwa karena mereka takut kelelahan. Biarlah yang muda-muda yang semangat melihat satwa.