
“Halo, Arani yang cantik jelita,”
Areno menyapa kekasihnya yang pagi ini datang menjemputnya. Arani menatap ke arah kendaraan yang dibawa oleh Areno. Seketika senyumnya langsung terbut.
“Asik bawa motor,”
“Iya dong,”
“Eh tapi bentar-bentar, itu kayaknya aku belum pernah liat deh. Motor baru ya?”
Arani baru sadar kalau motor kekasihnya itu terlihat beda dari biasanya. Arani tebak motor itu adalah motor baru.
“Iya aku baru aja abis beli motor,”
“Wah keren,”
“Tapi belinya pakai uang sendiri,”
“Ih serius?”
“Iya dong, aku serius,”
“Keren banget, kok bisa?”
“Pakai uang jajan aku yang nggak abis terus aku tabung, nah abis itu aku tambahin dari uang yang aku dapat dari kerjaan yang kemarin aku ceritain itu lho,”
“Keren keren, terus kata Mama Papa kamu apa pas tau kalau kamu beli motor?”
“Sempat dilarang, suruh tabung aja uangnya jangan dipakai buat motor dulu. Tapi aku bilang, kalau nggak ditabung susah, takutnya bakal abis, lagian ini udah jadi target aku. Tapi nereka nggak tau kalau aku pakai uang hasil kerja aku juga, mereka taunya uang hasil aku nabung dari jajan aja,” cerita Areno smabil terkekeh.
“Ya udah, kamu masuk dulu nggak?”
“Nggak usah, langsung berangkat aja yuk,” ajak Areno pada kekasihnya itu yang langsung menganggukkan kepalanya.
Arani segera pamit pada mamanya yang sedang berada di meja makan membereskan bekas sarapan bersama tadi.
“Mama, Areno udah datang aku bernagkat sekarang ya ke sekolah,”
“Areno nggak diajak masuk dulu?”
“Nggak mau dia, mau langsung bernagkat,”
“Ya udah hati-hati ya, Nak,”
Arani mencium tangan Helen yang ingin mengantarkan anaknya sampai ke depan pintu.
Areno tersenyum menyapanya “Pagi, Tante
“Pagi, Areno. Nggak masuk dulu nih?”
“Nggak usah, Tante. Aku langsung berangkat aja,”
“Oh gitu ya udah hati-hati ya, makasih udah jemput Arani ya,”
“Sama-sama, Tante. Aku berangkat ke sekolah dulu sama Arani, Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam,”
Helen baru sadar kalau motor yang diabwa oleh Areno masih bersih berkilau sekali, biasanya kalau menjmpyt Arani dengan motor, bukan itu motornya.
“Alhamdulillah motor baru ya, Ren?”
“Hehehe iya, Tante,”
“Katanya beli dari nabung uang jajan sama uang hasil dia sendiri, Ma. Uang jajan aku habis kemana ya, Ma? Kok aku nggak bisa beli motor sih?”
Helen dan Areno tertawa. Rupanya Arani iri karena uang jajannya entah habis beli apa, perginya kemana, kalau Areno uang jajannya bisa beli motor, kalau Ia belum bisa beli apa-apa.
“Areno ‘kan juga udah punya kerjaan,”
“Kok Tante tau?”
“Tau, kemarin Arani sama Ria cerita,”
Areno menganggukkan kepalanya sambil terkekeh, lantas Ia serahkan helm kepada kekasihnya itu, mempersilahkan Arani untuk menggunakan helm.
“Hati-hati,”
“Assalamualaikum, Mama,”
“Waalaikumsalam,”
Motor baru Areno melaju dengan kecepatan yang normal membelah jalanan ibukota yang padat seperti biasanya apalagi kalau pagi, waktunya orang pergi mencari uang dan mencari ilmu.
“Gimana naik motor ini, Ran? Nyaman nggak?”
“Nyaman kok,“
“Beneran?”
“Iya beneran,”
“Syukur deh kalau kamu nyaman, aku senang,”
“Kamu keren lho tau-tau bisa beli motor aja, lah aku mah uangnya habis buat jajan aja udah, beli skincare paling kalau ada sisa,”
“Ya aku maklum sih, namanya juga cewek ya,”
“Kalau cowok kayak kamu emang nggak pernah jajan?”
“Ya pernah lah, justru karena aku takut habis uangnya makanya aku beli motor, orangtua aku nyuruh uangnya ditabung aja, aku nggak mau takut habis soalnya ini uang target aku buat beli motor, nabung bisa mulai lagi dari awal,” ujar Areno.
“Keren, udah bisa nge-desain, bisa nabung. Pokoknya keren banget,”
“Makasih, jangan muji terus ah. Ntar aku terbang kayak yang kamu bilang kemarin terus aku nyangkut di pohon nggak bisa pulang deh, nggak bisa ketemu orangtua aku, nggak bisa ketemu kamu, ah jangan sampai deh,”
“Hahaha aku bayangin kamu beneran nyangkut di ataa phon gara-gara terbang dipuji mulu,”
“Ada-ada aja ngebayanginnya,”
“Tapi lucu juga ya,”
“Lucu-lucu, iya bagi kamu lucu, bagi aku musibah, Ran,”
“Hahahahah iya sih bagi kamu itu musibah, tapi pasti lucu tau, aku bayangin kamu nggak bisa pulang karena nyangkut, kotcak banget,”
“Terus nanti kamu merasa kesepian deh nggak nisnaketemu aku, kamu pasti galau berat hisa-hisa sekinggu nggak makan dan nggak tidur,”
“Ah lebay!”
“Hahahah lah emang gitu pasti, liat aja nanti,”
“Nggak ah, jangan bikin karangan sendiri, aku ditinggal kamu nggak hakal galau tau,”
“Oh ya? Kok bisa?”
“Ya bisa lah,”
“Kalau aku ditinggal kamu kayak ke luar kota nih misalnya, kayaknya aku bakal galau banhet deh,”
“Emang kenapa?”
“Ya karena—-aku tuh nggak bisa jauh dari kamu. Hmm…gimana ya, susah lah jelasinnya,”
“Halah, mulut lelaki emang manis banget ya,”
“Lho, aku serius ini, Ran,”
“Iyain deh,”
“Soalnya udah nyaman banget sama kamu jadi kalau jauh rasanya tuh hampa banget,”
“Yeee ni anak, dorong juga nih,”
“Dorong aja, nyar kalau kita kenapa-napa gimana?”
“Ya abisnya itu mulut manis amat,”
“Namanya juga Areno. Tapi aku serius kok, aku kalau jauh dari kamu bawaannya tuh galau banget,”
“Kalau aku sih biasa aja ya,”
“Coba nanti kita buktikan,” tantang Areno yang langsung mengundnag tawa Arani.
Motor Areno akhirnya sampai juga di area parkir sekolah. Setelah menempatkan motor di posisi yang sesuai, Areno dan Arani turun dari motor dan menanggalkan helm masing-masing.
“Yuk masuk kelas,” ajak Areno yang langsung diangguki oleh Arani.
Areno mengantarkan Arani hingga tiba di delam kelasnya setelah. “Semangat belajar, Arani,” ujar Areno pada kekaishnya itu.
“Kamu juga ya,”
“Cielah yang pagi-pagi udah ngebucin depan kelas, agak minggir dulu boleh nggak?”
“Silahkan,” jawab Arani seraya menyingkir apdahal sebenarnya Arani dan Areno tidka menghalangi siapaoun untuk keluar masik kelas akan tetapi Renald usil saja mengganggu mereka.
“Kurang geseran dong,”
“Ah ribet lo! Jangan ribet aoa, orang udha minggir juga maish aja aurih geseran,”
Renald terbahak mendengar omelan Areno. Renald menaik turunkan alisnya menatap Areno yang sorot matanya kelihatan kesal. Setelah itu Renald masuk ke dalam kelas meninggalakn Arani dan Areno yang masih berdiri hadap-hadapan.
“Ntar oulang sama aku ya kalau misal udah oulang duluan ya tungguin sku lah, jangan sampai kamu pulang sendirian deh atau sama orang,”
“Okay nanti aku tungguin sekarang aku masuk kelas dulu,”
“Sip, semangat belajar,”
“Iya kamu iuga semangat! Jangan males-males, ingat masa depan mesti cerah,”
“Baik, Ibu apoteker yang terhormat,”
Arani terkekeh sebelum Ia melangkah masuk ke dalam kelas meninggalkan Areno yang tersenyum menatap Arani sampai Arani duduk dan menatapnya harulah Areno pergi. Tadinya masih betah menatap Arani tapi Arani sudah melotot ke arahnya, mau tidak mau Ia langsung oergi. Daripada buat Arani akhirnya keluar kela slagi demi menegurnya. Menatap Arani itu adalah hal yang disukai oleh Areno entah sejak kapan.
Areno tiba di kelasnya dan langsung disambut oleh tiga orang Dani, Dafa, dan Adib yangs edang menikmati sarapan mereka berubah bubur ayam.
“Asek asek asek ada yang udah datang nih,” goda Dani.
“Buset pada makan,” ujar Areno yang kaget teman-temannya kompak makan bubur.
“Laper, brow. Lo udah makan belum?” Tanya Dafa.
“Udah, gue udah makan sereal,”
“Seriusan?”
“Iyalah, emang kalau gue belum makan kenapa? Lo pada mau nyuapin gue?”
“Dih, minta suapin sama cewek lo sono,”
“Hahaha mana mau Arani, orangnya gengsi, cuek gitu,”
“Ya makanya manja-manjaan ntar juga luluh,”
“Pala lo peyang, yang ada gue ditempeleng kali,” ujar Areno pada Adib yang punya saran aneh. Mana mau Arani menyuapinya. Yang ada juga Ia dipukul.
“Pernah sih gue disuapin, tapi ya gitu, agak nggak ikhlas dianya,”
“Hahahaha kesian ya lo,” ejek Adib.
“Nanti juga lama-lama biasa. Dia malu kali kalau mesra-mesraan depan umum,”
“Ya emang, dia anti banget. Kayak malu jadi pacar gue,”
“Hahahah sabar, brow,”
“Lo ntar balik sekolah kau kemana?”
“Nggak kemana-mana sih kayaknya, emang kenapa?”
“Nongki yuk, di kafe,”
“Boleh tapi gue antar cewek gue dulu ke rumahnya,”
Mendengar kata ‘cewek gue’ terlontar dari mulut Areno, teman-teman Areno langsung bereaksi. Mereka langsung menggoda Areno habis-habisan.
“Siap cewek gue,”
“Ya ‘kan enang beneran cewek gue, masa cewek orang,”
“Iya Mas posesif,”
“Abis gue antar Arani ke rumahnya gue langsung samperin kalian ya. Share lokasi kalian aja ada di kafe mana,” ujar Arani yang langsung ditanggapi dengan anggukan oleh Dani, Dafa, dan Adib.
Mereka sudah lumayan lama tidak kumpul di kafe sambil minum kopi, tentunya mengobrol. Melepas penat di hari terakhir sekolah karena besok libur berakhir pekan.
“Lo sama Arani nggak ada rencana mau jalan ntar pulang sekolah ‘kan?”
“Nggak ada, gue antar dia ke rumahnya aja, abis itu gue bisa nyamperin kalian,”
“Okay, ntar ya balik sekolah, jangan lupa lo,”
“Iya tenang aja gue nggak lupa,”
********
“Duh, Nak. Kamu ada-ada aja deh,”
Helen khawatir sekali ketika mendapat kabar kalau anak bungsunya terjatuh di tangga yang menyebabkan kakinya berdarah. Setelah sempat dibawa ke rumah sakit untuk diberi pengobatan, Ria dipulangkan oleh pihak skeolah supaya bisa istirahat.
__ADS_1
Untuk sementara waktu Helen menempatkan anak bungsunya itu di kamar tamu kamtai dasar karena Ia khawatir kalau Ria naik ke kamarnya sendiri kakinya belum kuat.
“Sakit banget, Mama,”
“Iya orang berdarah kayak gini. Makanya hati-hati, Nak. Kamu jangan bercanda kalau naik turun tangga tuh, kamu aja sering bercanda atau sambil debat sama kakak naik turun tangga,”
“Tapi aku tadi tuh nggak lagi bercanda sama teman, aku, Ma. Orang aku nggak lagi ngapa-ngapain kok cuma naik turun tangga biasa aja,” ujar Ria.
“Berarti ini memang musibah yang nggak dipancing. ‘Kan ada musibah yang datangnya tuh dipancing alias diundang. Ya salah satu contohnya tadi, bercanda atau ngobrol di tangga, padahal itu nggak boleh karena bahaya banget. Ngobrol apalagi bercanda sambil naik turun tangga itu bisa mengurangu fokus dan akhirnya bisa jatuh deh,”
“Tapi aku nggak kayak gitu, Mama. Serius deh aku nggak lagi bercanda, tiba-tiba aja kaki aku keserimpet deh,”
“Ya udah sekarang kamu istirahat ya,”
“Iya, Ma,”
“Kamu mau makan apa? Biar Mama bikinin,”
“Nggak mau, aku nggak mau makan apa-apa, aku cuma pengen istirahat,” ujar Ria yang mukanya kusut dengan jejak air mata yang masih ada. Helen merasa tidak tega. Ia langsung mengusap wajah Ria dan mengecup keningnya.
“Udah jangan sedih lagi ya, Sayang. Insya Allah secepatnya sembuh,”
“Ngulu banget kaki aku, Ma,”
“Iya Mama tau, Nak, tapi yang penting udah diobatin,”
“Kenaoa sih aku harus jatuh,”
“Hei nggak boleh ngomong begitu, ini cobaan. Jadi harus dilalui, kakak aja udah pernah kakinya sakit ‘kan, tapi Alhamdulillah sembuh, Nak,”
“Tapi aku takut nggak sekuat kakak,”
“Kuat kok, ‘kan anak Mama semuanya kuat, nggak ada yang nggak kuat,”
“Mana aku nggak bisa ke kamar aku dulu,”
“Iya sabar, Sayang, kalau kamu butuh sesuatu kamu tinggal ngomong sama Mama, nanti Mama yang ambil di kamar kamu,”
“Bosan di sini,”
“Cuma bentar, mudah-mudahan besok bisa naik ke atas ya,”
“Nanti aku minta gendong sama Papa deh biar aku bisa ke kamar aku,”
Helen terkekeh karena anaknya ini tidak rela kalau Ia tidak diam di kamarnya melainkan kamar tamu.
“Padahal kamar tamu juga nyaman banget nih kalau bosan tinggal nyalain tv, terus ada ac juga, kenapa nggak mau di sini?”
“Mau sih tapi aku lebih mau di kamar aku sendiri, Mama,”
“Ya udah ntar apa kata Papa deh,”
“Kakak aja waktu kakinya sakit di kamar sendiri, Ma. Kalau nggak salah dibawa Papa ke kamarnya ya?”
“Ya udah ntar apa kata Papa deh. Soalnya kamu itu beda dari kakak. Kamu gampang banget bosannya. Kalau kakak lagi bosan waktu itu main handphone, baca novel, nonton, lah kamu kalau bosan ‘kan seringnya keluar kamar. Itu gimana ceritanya mau keluar kamar kalau kaki lagi sakit kayak gitu,”
“Ya udah deh, Ma. Aku di sini aja,”
“Tuh ‘kan cepat banget berubah pikiran,” ujar Helen seraya terkekeh.
“Nanti aku kalau mau ke dapur, mau ke depan jadi gampang, kalau di kamar aku sendiri susah deh,”
“Nah itu dia. Kamu kalau bosan ‘kan suka keliling dimah ngeliatin apa aj ayang dilakuin sama orang rumah. Kalau kakak sih bosan bisa baca buku, nonton tv, main handphone, kamu agak susah untuk itu,”
Ria menganggukkan kepalanya. Pada akhirnya, Ia setuju dengan mamanya. Daripada Ia merasa terjebak did alam kamar karena kakinya yang sakit akan sulit digerakkan nantinya maka lebih baik Ia di kamar tamu saja. Setidaknya kalau ke dapur, ke teras rumah masih jauh lebih mudah ketimbang bila Ia diam di kamarnya sendiri.
“Kamu mau dibuatin apa nih? Puding ya?
“Mau puding nggak?”
Untuk menghibur anaknya yang baru saja jatuh dari tangga, Helen ingin membuatkan suatu makanan untuk anaknya itu yang sekiranya disukai.
“Hmm aku pengen apa ya?”
“Puding mama mau nggak? Puding cokelat atau buah?”
“Iya mau-mau, Ma,”
“Yang mana? Cokelat atau—“
“Buah aja, Ma,”
“Okay Mama bikin yang buah ya. Kamu tunggu sini bentar,”
“Iya, Mama,”
Ria menganggukkan kepalanya membiarkan sang Mama pergi ke dapur untuk membuat puding buah yang Ia sukai.
*******
“Eh udah nunggu ternyata,”
“Iya udah dari sepuluh menit lalu,” ujar Areno sambil menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Okay ayo kita pulang,”
Areno sengaja menunggu Arani di depan pintu kelas, agak menyingkir supaya tidak menghalangi jalan para murid yang baru keluar, termasuk Arani.
“Kamu nggak mau kemana-mana ‘kan?”
“Nggak, aku mau langsung pulang aja emang kenapa?” Tanya Arani apda kekasihnya itu.
“Nggak apa-apa, aku langsung antar kamu ke tumah terus aku mau kumpul sama teman-teman aku di kafe ya,”
“Ya,”
“Jadi nanti aku langsung cabut ya,”
“Okay, hati-hati,”
“Belum juga berangkat, Cantik,”
Arani dan Areno berjalan menuju area parkir begitu sampai di sana ternyata ada teman-temannya Areno yang sudah mau ke kafe.
“Jangan lupa ya, Ren,”
“Iya ini gue mau antar Arani pulang kok,”
Melihat Areno naik ke sbeuah notor yang maush bersih berkilau, tiga teman Areno langsung menggoda Areno.
“Cie yang abis beli motor baru,”
“Bagus bener tuh motkr, spill dong motornya beli dimana dan harganya berapa,”
Areno tertawa karena mereka bicara seperti itu. Biasalah, mulut paling tidak bisa diam kalau lihat teman punya barang baru.
“Arani, yang pertama jadi penumpang tuh motor cieee
“Beraa lama butuh ACC supaya dibeliin sama orangtua lo, Ren?”
“Hmm sekitar sebulan lah,”
“Keren,”
“Dibeliin nyokap bokap ‘kan?”
“Iya,”
“Gue mau beli motor baru nggak dibolehin ah. Katanya ntar aja kalau udha lulus. Yah elah kelamaan kata gue,”
“Yah malah adu nasib hahaha,”
“Ya udah belu sendiri kalau gitu, Dib,”
“Iya ntar gue beli sendiri deh,”
“Areno juga beli sendiri, ada uangnya sendiri itu,” uajr Arani yang langsung membuat tiga teman-teman Areno membelalakkan kedua matanya.
“Seriusan, Ran?”
“Iya, dia beli pakai sisa-sisa uang jajannya sama uang hasil dia nge-desain,”
“Anjir keren banget lo, brody,”
“Ah bisa aja,” ujar Areno.
“Dia nggk bilang-bilang yak, kirain mah minta beliin sama nyokao bokap nya,”
“Ya emang ada uang nyokap bokap gue ‘kan gue maish dikaish uang jajan tuh nah uang jajannya nggak gue habisin tapi ada yang gue tabung. Nah terus hasil dari gue nge-desain gue tambahin deh ke tabungan uang jajan, jadilah gue beli motor,”
“Keren banget lo asli!”
“Thanks, udah ah gue mau antar Arani pulang dulu. Ini kita nggak berangkat-berangkat karena ngobrol,”
“Oh iya Astaga, kita ‘kan mau ke kafe, ya udah lo anterin Arani dulu deh hati-hati ya,”
“Okay sip,”
Areno menyuuh Arani untuk naik ke atas jok motornya setelah itu melaju ke rumah Arani sementara teman-teman Areno ke kafe.
******
“Kakak belum pulang ya, Ma?”
“Belum, oh iya puding lagi Mama masukin kulkas ya biar dingin dulu,”
“Iya makaish ya, Ma,”
“Sama-sama, Nak. Semoga puding buatan Mama bisa bikin kakinya smebuh deh, aamiin,”
“Aamiin, tapi kayaknya nggak ada hubungan deh ajtara puding sama kaki sakit, Ma. Tapi kalau untuk naikin mood sih emang puding Mama itu juara banget,”
Helen terkekeh sambil berkata “Iya juga ya, puding nggak bisa jadi obat kaki sakit deh kayaknya,”
“Tapi obat untuk patah hati bisa tuh, Ma,”
“Elang kamu udah pernah latah hati terus makan puding Mama gitu?”
“Ya nggak sih taoi kayaknya bisa deh,”
“Soalnya puding Mama itu naikin mood banget, yang tadinya lagi sedih atau capek gitu bisa hilang kalau makan puding Mama,”
“Ah kamu bisa aja deh,” ujar Helen sambil menjawil dagu anaknya.
Mendengar suara bel pintu, Ria dan Helen langsung diam tak bersuara dan slaing menatap satu sama lain.
“Siapa tuh, Ma?” Tanya Ria yang diajwab dengan gelengan kepala oleh mamanya.
“Mama juga nggak tau, Sayang. ‘Kan kita sama-sama di sini,”
“Mungkin teman Mama,”
“Ah kayaknya nggak deh, biasanya ngabarin kalau pada mau datang, coba deh Mama liat dulu. Bisa jadi itu kakak yang datang,” ujar Helen seraya beranjak meninggalkan ranjang dimana anaknya saat ini berbaring.
“Oh iya benar, ini jam pulangnya kakak ya,”
“Mama keluar dulu sebentar ya, Sayang,”
“Iya, Ma,”
Ria membiarkan Mamanya keluar dari kamar tamu yang saat ini ditempati olehnya untuk sementara waktu sampai keadaan kakinya membaik.
“Ketika Helen membuka pintu, Ia langsung berhadapan dmegan anaknya yang tersenyum dan juga Areno uang juga tersenyum menatapnya.
“Oh kakak yang datang, kirain siapa. Ayo masuk-masuk,”
“Aku mau langsung pergi ya, Tante,”
“Kok nggak masuk dulu, Ren?” Tanya Helen pada Areno yang langsung pamit kepadanya.
“Iya soalnya aku pengen kumpul sama teman,”
“Oh gitu ya udah hati-hati ya,”
“Iya, Tante,”
“Makasih banyak udah antar jemput Arani ya,”
“Sama-sama, Tante. Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam hati-hati, Ren,”
“Siap, Tan,”
Areno mengeluarkan ponselnya untuk melihat kafe mana yang sudah menjadi pilihan tiga orang sahabatnya itu. Setelah Ia tahu kafe mana yang harus Ia datangi, Ia langsung menyimpan ponselnya lalu melambai singkat pada Arani dan Helen yang memperhatikannya.
Setelah Areno melaju meninggalkan kediaman Arani barulah Arani dan Helen masuk ke rumah.
“Adek mana, Ma? Uda pulang ‘kan?”
Yang pertama Arani tanyakan ketika masuk rumah adalah Ria. Arani mengira adiknya itu sudah di kamar, karena biasnaya kalau tidak kedengaran suaranya tentu Ria ada di kamar lagi sibuk belajar, mengerjakan tugas, menonton atau main game.
“Adekmu abis jatuh dari tangga sekolah. Itu Mama ungsikan dulu di kamar tamu soalnya dia kalau bosan ‘kan suka mau keluar kamar jadi di kamar abwah aja, jadi kalau mau ke dapur mislanya atau mau kemana gitu lebih gampang. Nanti ‘kan dia pasti bakal sering jalan walaupun kakinya masih nyeri-nyeri juga,”
“Astaghfirulalh, adek jatuh dari tangga, Ma?”
“Iya tapi keadaannya udah baik-baik aja, Sayang. Dibawa ke rumah sakit sama pihak sekolah tadi,”
Arani langsung bergegas ke kamar tamu dimana adiknya berada. Ia langsung sedih melihat kakai adiknya ada yang diperban, telatnya di lutut dan juga punggung kaki.
__ADS_1
“Eh kakak udah pulang ternyata,”
Ria langsung sumringah menyanbut kedatangan kakaknya yang masuk ke dalam kamar dengan wajah khawatir.
“Tenang aja, Kak. Udah nggak begitu sakit kayak tadi kok, tadi tuh emang sakit banget sampai aku nangis. Soalnya aku nggak sekuat kakak jadi lebay deh hehehe,”
“Kok bisa sih, Dek? Apa kamu hercanda ya sama teman kamu makanya kamu jatuh dari tangga? Hmm?”
“Nggak kok, Kak. Aku nggak bercanda sedikitpun, beneran deh,”
“Terus kok bisa jatuh, Dek?”
“Iya aku juga nggak tau, Kak. Pokoknya tiba-tiba kaki aku tuh keserimpet terus aku jatuh deh,”
“Ya ampun, Dek,”
“Tapi kakak tenang aja, aku udah nggak sakit lagi kok kakinya,”
“Kamu beneran nggak lagi bercanda ‘kan?”
“Nggak, sumpah aku nggak bercanda, Kak. Aku nggak lagi ngobrol juga kok, beneran deh,”
“Memang adekmu itu lagi mau dapat musibah aja, Kak. Musibah ‘kan nggak ada yang tau kalan datangnya,”
“Kasian banget adek, Ma,”
“Nggak apa-apa, Kak. Aku udha membaik banget kok ini,”
“Ya udah bener kamu di sini dulu. Kalau mau jalan-jalan jadi gampang. Kaki kamu ‘kan suka nggak bisa diam,”
“Tadinya adek mau ke kamarnya sendiri tuh, Kak. Tapi setelah Mama jelaisn baru deh ngerti. Tadi mau minta tolong Papa gendong katanya,”
“Jangan, udah paling bener kamu di sini, kalau di kamar ‘kan kalau bosan kamu nggak bis akemana-mana selain balkon, ruang nonton atau kamar kakak, kamar tamu. Nah kalau di lantai bawah ‘kan bisa ke dapur, ke taman, ke teras, ya suka-suka kamu aja lah,”
“Iya makanya itu aku di sini aja deh,”
Arani langsung mengusap pipi adiknya itu dengan lembut dan tersenyum, “Kamu tenang aja, ini mudah-mudahan cepat smebuhnya kok,”
“Aku tadi takut nggak sekuat kakak nahan sakitnya tapi ternyata aku bisa, nah ini udha mendingan banget,”
“Iya makanya harus sabar, sakitnya smang harus dirasain. Namanya juga abis jatuh ‘kan,”
“Kalau kakak ‘kan kuat banget tuh, nahan sakit abis ketiban kayu,”
“Hahaha itu sebenarnya juga nggak kuat-kuat banget sih,”
“Kakak hebat tapi,”
“Kamu juga hebat, pokoknya kamu tenang aja, ini cepat kok smebuhnya orang kaki kakak aja celat ‘kan sembuhnya. Nah kamu kalau butuh apa-apa jangan sungkan minta tolong kakak. Waktu itu kamu baik banget sering nolongin kkak pas kaki kakak lagi sakit, nah sekarang gantian kakak yang bakal nolongin kamu,”
“Makasih ya, Kak,”
“Kakak temenin deh di kamar ini ya? Bair kamu kalau—“
“Nggak usah, kakak tetap di kamar kakak aja. Aku nggak butuh apa-apa kok, aku ‘kan maish bisa ke kamar mandi sendiri,”
“Iya nanti Mama yang udah jagain adekmu, Kak. Kamu tenang aja udah. Ntar mama yang antar makan nya ke kamar, mama yang bantu semua, kakak nggak perlu khawatir,”
*******
“Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Udah aman princess lo? Nggak lecet ‘kan sampau rumah?”
Areno terkekeh mendengar pertanyaan Dafa. Lalu Ia mengacungkan jempolnya sambil duduk.
“Arani kapan-kapan ajakin nongki bareng kita, Ren. Ajak cewek-cewek kita seru tuh kayaknya,”
“Nggak tau deh dia mau atau nggak. Dia ‘kan anaknya gitu,“
“Kenapa elang? Anti nongkrong sama cowok ya?”
“Gue nggak tau juga sih, coba nanti gue ajakin deh,”
“Nah gitu dong,”
Teman-teman Areno sudah pesan cappucino dan pancake, sekarang Areno yang pesan menu serupa.
“Kayaknya seru tuh nongki bareng cewek-cewek kita,”
“Ya kalau mereka mau, tapi kalau mereka nggak mau gimana?”
“Ya udah kalau nggak mau ya nggak apa-apa deh,” ujar Dafa.
Areno, Dani dan Adib tertawa. Dafa pastah, padahal sebelumnya semangat mau melibatkan para kekekasih mereka kalau lagi kumpul seperti ini.
“Kalau Arani tuh punya circle sendiri, jadi gue nggak tau deh dia mau atau nggak kumpul sama kita. Tapi sebenarnya gue liat dia temenan sama siapa aja sih, cuma ya paling dekat, paling akrab ya emang sama teman-teman satu circle nya itu.
“Oh si Syena, Dafilla sama Vevi ya?” Tanya Dafa.
Areno menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Dafa. Yang Areno tahu, Arani itu dekat sekali dengan mereka bertiga. Walaupun beryeman dengan semuanya tapi memang yang paling dekat ya dengan mereka bertiga itu. Kalau kemana-mana hampir selalu bersama.
Pesanann Areno datang dan Areno langsung menyeruput cappucino nya. Setelah itu Areno mencicipi pancake.
“Eh lo udah kenal sama orangtua Arani?” Tanya Adib.
“Udah, sama adeknya juga udah,”
“Anjay selangkah lebih maju hahaha,” ledek Adib.
“Mereka baik, dan gue senang diterima dnegan tangan terbuka,”
“Mereka tau nggak kalau misal lo pacar Arani? Atau mereka taunya lo cuma teman Arani doang?”
“Tau kalau gue pacar Arani kok. Adeknya ‘kan sering ngeledekin gue tuh,”
“Adeknya cewek ya?” Tanya Adib.
“Iya, asyik anaknya, banyak omong alia scerewet tapi friendly gitu sama gue. Dia sering ngeledekin gue sama Arani kalau misalnya dia ngeliat gue jemput Arani atau antar Arani, ya pokoknya dia cerewet lah intinya, dan dia suka banget muji gue. Makanya kata Arani, dia itu fans gue,” ujar Areno menceritakan Ria yang begitu akrab dengannya. Mendengar cerita Areno, teman-teman Areno tertawa.
“Seriusan itu?” Tanya Dafa.
“Iyalah, dia fans gue, bahkan dia ngaku. Dia semang juga katanya punya calon kakak ipar layak gue. Kalau dia udah ngelantur ngomongnya, alias kejauhan, kakaknya yang suka nggak enak,” Areno tidak bisa menahan tawanya kalau mengingat momen-momen lucu yang dibiat oleh Ria setiap bertemu dengannya.
“Ada aja celotehan dia. Gue setelah kenal dia jadi berasa punya adek tau nggak sih. Seru dia tuh, bisa jadi adek, bisa jadi teman juga. Makanya kalau sama dia nggak pernah hening deh, selalu aja ada obrolan,”
“Pasti tipe adek yang posesif juga deh ke kakaknya,” ujar Adib.
“Eh dia pernah lho pesan ke gue supaya jangan nyakitin Arani, kalau gue macam-macam, katanya dia bakal nonhok hidung gue. Lo baynagin anak SMP ngomong begitu, mana cewek kagi. Entah kenapa gue langsung segan, anjir,”
“Hahahahah hebat juga tuh bocah bisa bikin lo ngerasa segan,” ujar Dafa.
“Iya makanya, jadi dia tegas gitu ngomong ke gue, keliatan serius juga deh pokoknya. Dia nggak mau gue tuh nyakitin kakaknya atau macam-macam sama kakaknya karena kalau gue ngelakuin itu dia punya balasan,”
“Nah jadi lo harus hati-hati. Nggak cuma orangtuanya, tapi lo juga bakal berurusan sama adeknya Arani,” ucap Dani.
“Iya gue emang nggak berani macam-macam sih,”
“Kalau lo macam-macam urusannya sama tiga orang tuh berarti,” pesan Adib.
Disaat Areno sedang asyik bercerita bersama tiga orang sahabatnya tiba-tiba ponsel Areno bergetar menandakan ada pesan masuk. Tanpa menunggu waktu lama, Areno langsung membuka pesan masuk itu.
-Areno, makan bareng yuk. Kita ngobrol-ngobrol lagi kayak waktu itu-
Areno diam sebentar usai membaca pesan dari Nara, teman Areno saat sekolah dasar. Kemudian Areno menatap ketiga sahabatnya yang sedang menikmati cappucino dan pancake. Areno tidak mungkin tiba-tiba pergi disaat Ia dan teman-temannya sedang asyik berkumpul dan berbincang.
-Sorry, Nara. Gue nggak bisa kalau hari ini. Lain hari aja ya sorry-
Areno langsung mengirimkan balasan pesannya itu intuk Nara. Areno berharap Nara paham.
Areno sedang asyik bersama tiga orang sahabatnya itu, berat untuk menyudahi obrolan mereka.
-Oh gitu, ya udah deh nggak apa-apa lain kali aja-
Areno tidak membalas lagi, Ia hanya membaca, kemudian Ia kembali mengajak temannya untuk mengobrol.
“Eh ngomong-ngomong lo keren juga udah bisa ngasilin duit dari desain, Ren,”
“Thankyou, masih amatir sih tapi gue bersyukur ada hasilnya,”
“Iyalah bersyukur banget. Lo tuh keren! Udah bisa ngasilin uang sendiri, mantep banget deh,”
“Tapi orangtua gue masih belum tau,”
“Karena lo masih dilarang ya buat kerja?”
“Masih banget, asli. Gue sampai bingung kenapa sih emangnya? Gue ‘kan pengen eksplore kemampuan gue dan syukurnya ada bayaran,”
“Gue paham sih tujuan orangtua lo ngelarang lo buat desain. Soalnya ya, udah pasti fokus belajar lo bakal terbagi, bro. Nah usia lo yang sekarang ini tuh memang baiknya dipakai untuk fokus nuntut ilmu apalagi nyokap bokap lo ‘kan masih merasa mampu ya untuk biayain lo, jadi mereka nggak mau tuh kalau lo kerja. Yang mereka mau adalah, lo fokus belajar, nggak usah mikirin apa-apa selain belajar,”
“Iya gue tau nyokap bokap gue tuh pengen gue fokus belajar, tapi apa salahnya ‘lan gue punya kegiatan sampingan gitu?”
“Ya karena kegiatan smapingan lo itu oasti bakal nyita waktu, tenaga, pikiran udah pastilah dilarang. Apalagi orientasi lo ngelakuin itu buat duit. Sedangkan nyokap bokap lo mampu, jadi mereka pikir buat apa? Pendidikan itu nomor satu, itu prinsip yang bagus sih,”
“Areno!”
Areno menoleh ke sumber suara. Disaat Ia sedang terlibat obrolan dengan tiga sahabatnya tentang pekerjaan dan larangan dari orangtuanya, tiba-tiba ada yang memanggilnya.
“Lho, Nara?”
Nara bergegas menghampirinya dengan senyum sumringah. Areno tidak menduga kalau Ia akan dipertemukan secara tidak sengaja dengan Nara, padahal sebelumnya Ia sudha menolak ajakan Nara untuk makan bersama tapi ternyata malah bertemu di kafe itu.
“Kamu kok bisa ada di sini?”
“Ya uarusnya gue deh yang nanya kayak gitu,”
“Aku emang mau minum di sini,”
“Oh gitu, gue lagi sama teman-teman gue kebetulan nih,”
Nara langsung mengulurkan tangannya ke untuk berkenalan dengan Adib, Dani, dan Dafa.
“Ini siapa, Ren?” Tanya Dafa setelah sesi perkenalan berakhir.
“Ini teman gue pas SD,”
“Oh gitu, kirain selingkuhan,” celetuk Dafa yang langsung mengundnag tatapan tidka terima dari Areno. Sembarangan saja mulutnya Dafa bicara. Ia tidak ada niat mau selingkuh dari Arani.
Nara terkekeh menutupi rasa penasarannya setelah mendengar ucapan Dafa. Kalau Areno dikira selingkuh, itu artinya Areno sudah punya kekasih. Itulah kesimpulan yang bisa Ia ambil.
“Lo mau gabung nggak?” Tanya Areno yang tak mungkin tidak menawarkan Nara untuk bergabung. Karena sata ini Nara hanya sendirian.
“Boleh elangnya?”
“Ya boleh kalau lo mau,” unar Areno.
“Boleh ‘kan?” Tanya Areno pada tiga orang sahabatnya yang pangsung menganggukkan kepala mereka masing-masing.
Nara tersenyum dan langsung duduk di antara Arenod an tiga orang sahabatnya. Nara memesan dulu barulah Ia mengangkat topik obrolan lebih dulu supaya tidak canggung.
“Kok bisa dih kalian masih slaing ingat kalau kalian tuh teman SD? Jujur gue aja udha nggak ingat teman SD gue tuh siapa aja,” ujar Dani apda Areno dan juga Nara.
“Pastilah aku ingat. Orang Areno pernah nolongin aku pas aku ditabrak sepeda,”
“Kita sempat ketemu nggak sengaja beberapa hari lalu di minimarket gitu kalau nggak salah. Terus Nara yang ngenalin gue duluan, gue sih udah nggak ingat lagi. Tapi setelah Nara jelasin dia tuh siapa, dan gue usaha untuk ingat-ingat akhirnya ya ingat juga sama Nara,”
“Terus kok bisa sih ketemu di sini? Kebetulan uang unik banget ya,” ujar Adib.
“Padahal gue barusan nolak ajakan Nara buat makan bareng, karena gue lagi sama kalian. Eh tau-taunya malah ketemu di sini,” jelas Areno.
“Lo semdiri aja ke sini nya, Nar?” Tanya Dafa.
“Iya aku sendiri aja, emang kenapa?”
“Nggak, kirain sama pacar,”
“Hahahaha aku belum punya pacar sih sejauh ini
“Kok nggak punya?”
“Ya…belum ada yang cocok aja gitu,”
“Oh iya berarti lo sama Areno seumuran ‘kan ya? Terus lo sekolahnya dimana aekarang?”
“Dia nih pindahan, Daf. Sekarang sekolahnya di negeri,” ucap Areno.
“Tapi aku mau pindah ke sekolah kalian sekster depan. Doain semoga lanacr ya prosesnya,”
“Hah?! Lo mau pindah ke sekolah kita? Ekang lo tau sekolah kita dimana?”
“Aku tau kalian sekolah di farmasi ‘kan? Nah aku punya cita-cita mau jadi apoteker. Aku pindah ke sekolah yang sekarang tuh karena dekat sama rumahku yang sementara. Nah kalau aku udah pindah ke rumah aku yang asli, aku bakal pindah ke skeolah yang lebih dekat. Aku udha tau kalau skeolah kalian lumayan dekat sama rumah asliku yang maish belum jadi,”
“Lo tau darimana kita skeolah di sana?”
“Areno yang ngasih tau. ‘Kan waktu pertama kali aku sama Areno ketemu di minimarket itu aku sama Areno mampir dulu ke kafe terus ngobrol-ngobrol deh bentar,”
“Oalah, tau dari aareno,”
“Ya dari siapalagi, Daf? Udah pasti dari gue lah. Dia ‘kan baru kenal sama kalian sekarang,”
Dafa menganggukkan kepalanya. Ia baru tahu kalau Nara sudah ada momen berbagi cerita antara Areno dan Nara.
“Terus lo rencananya mau oindah ke sekolah kota sekster depan?”
“iya semoga lancar, doain ya,”
“Lo masuk situ karena emang beneran tertarik atau karena mau satu sekolah sama Areno?”
“Hahahaa ya nggak lah, emang aku tertarik masuk sana. ‘Kan tadi udah aku bilang. Aku sika sama farmasi dan cita-cita aku oengen jadi apoteker. Aku tau sih aku terbilang telat ya karena udah sempat belajar umum dulu bukan belajar farmasi, tapi setelah aku pikir-pikir nggak apa-apa lah, aku harus gapai mimpi aku,”
“Oalah kirain lo emang mau masuk sekolah farmasi tempat kita karena ada Areno,”
__ADS_1
“Ya ngapain aku masuk sekolah faransi karena ada Areno? Kebetulan aja sekolah kalian dekat sama rumah aku jadi aku milih sekolah itu deh,”