Kisah Anak Farmasi

Kisah Anak Farmasi
Bab 65


__ADS_3

Arani bertepuk tangan riang saat masakannya dengan sang mama selesai dan terhidang dengan menggoda di atas meja makan.


"Enak kelihatannya," komentar Reina menatap tumpukkan pempek dan juga perkedel kentang.


"Semoga aja Papa juga suka,"


Rasa lelahnya tergantikan dengan hasilnya. Antusiasnya kian menggunung karena sebentar lagi Hadi akan pulang. Lelaki itu tidak tau kalau Arani dan Helen sama-sama pulang lebih cepat.


Bunyi ponsel Helen yang berdering mengalihkan perhatian Arani. Kebetulan posisi Arani lebih dekat dengan ponsel mamanya, oleh karena itu Ia yang meraihnya.


"Papa yang telepon," ujarnya pada Helen seraya menyerahkan ponsel itu.


Helen langsung menekan tombol hijau yang ada di sana.


"Hallo? Assalamualaikum," sapanya pada Hadi di sebrang sana.


Helen mengaktifkan loudspeaker agar Arani juga bisa mendengarkan.


"Waalaikumsalam, Sayang. Aku cuma mau kasih tau kalau aku pulangnya sedikit malam ya. Ada yang harus aku selesaikan di sini,"


Arani langsung menatap mamanya sedih. Bahunya luruh ketika mendengar ucapan papanya. Arani tidak menyangka kalau Hadi pulang lebih lama. Biasanya lelaki itu tidak memaksakan segala sesuatunya. Namun sekarang Hadi memilih untuk bekerja di kantor sampai sedikit malam katanya. Artinya masakan itu sudah dingin dan kurang membuat nafsu siapapun yang ingin memakannya.


"Arani udah masak buat kamu, lho," jawab Helen membuat Suaminya berubah pikiran.


"Benarkah? masakan pertama untukku dong ya?"


Helen mengangguk walaupun Hadi tidak melihatnya. Ia tidak tega melihat perubahan di raut wajah yang biasanya berseri itu.


"Kamu masih mau pulang malam? dia udah semangat banget masakin kamu, Pa," Helen mengatakannya dengan mata melirik Arani yang kini meletakkan kepalanya di atas meja makan. Gadis itu langsung terlihat lesu.


"Maaf, Ma. Kerjaan ini gak bisa aku tunda. Setelah semuanya beres, aku janji akan langsung pulang,"


Bukan hanya Arani. Helen bahkan juga kecewa dengan Radi yang bisa dibilang kurang menghargai mereka berdua. Memangnya sepenting apa pekerjaan tersebut sampai harus menunda waktu kebersamaan mereka?


Helen langsung mematikan sambungan teleponnya tanpa mengatakan apapun lagi. Ia duduk di kursi sebelah Arani dan mengusap puncak kepalanya dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Kita berdoa aja semoga papa bisa secepat mungkin menyelesaikan pekerjaannya. Papa juga senang kamu masakin,"


Arani menggeleng. Ia tidak mendengar itu dari mulut Radi.


"Papa gak ngomong apa-apa tadi, Ma. Kerjaannya sekarang lebih penting daripada aku,"


Hati Helen sedikit ngilu mendengarnya. Ia tidak menyangka kalau gadis itu akan sesedih ini ketika tau papanya akan pulang lebih lama.


"Hei jangan ngomong kayak begitu, Arani! Nggak ada yang lebih penting dari kamu. Mama dan papa sayang banget sama kamu,"


"Tapi papa..."


Helen membimbing anaknya untuk bangkit kemudian menarik sudut bibir Arani agar tersenyum.


"Papa memang lagi sibuk, Sayang. Tolong pahami papa, ya. Secepat mungkin papa akan pulang untuk mencoba masakan pertama anaknya," hibur Helen pada putri pertamanya.


Arani kini tersenyum dengan anggukannya. Baiklah, Ia sudah dewasa. Jadi harus bisa memahami persoalan kecil seperti ini.


*********


"Kok gak minta bukain pintu, Pa?"


"Papa bawa kunci,"


Helen menepuk dahinya pelan. Ia melupakan hal itu.


"Kamu belum tidur?"


"Belum, nungguin kamu. Kalau Arani udah tidur,"


Jawaban Istrinya membuat Radi menghela napas sesal. Putrinya pasti kecewa.


"Pasti Arani sedih. Aku mau minta maaf dulu deh,"


"Gak usah, dia ngerti kok. Sekarang kamu makan aja ya? belum makan malam kan?"

__ADS_1


Helen melirik jam dinding. Sudah pukul sembilan malam. Radi yang terlalu sibuk pasti melewatkan dinnernya.


Radi mengangguk semangat.


"Aku siapin dulu makannya. Kamu lebih baik ganti baju," saran Istrinya di lakukan oleh Radi.


Lelaki itu langsung berjalan ke kamar. Untuk mandi dan berganti pakaian. Radi benar-benar lelah hari ini. Tapi sebisa mungkin Ia tidak mengeluh. Kewajibannya memang sudah digariskan seperti itu.


Radi tersenyum begitu keluar dari toiletnya. Ia menatap setelan pakaian tidurnya yang sudah ada di atas ranjang. Ia tidak tahu pasti kapan Istrinya menyiapkan itu. Yang jelas, Radi bahagia diperlakukan semulia itu oleh Helen.


"Arani udah makan malam? Ria udah juga?” tanya Radi di sela mulutnya yang mengunyah.


Mereka hanya makan berdua. Karena semua penghuni rumah sudah makan malam terlebih dahulu. Helen sengaja menunggu Suaminya pulang untuk makan bersama.


"Udah, Pa. Gimana kerjaan kamu? lancar? kayaknya sibuk banget,"


Helen bukan menyindir tapi Radi menganggapnya berbeda.


"Maaf, Ma. Kerjaan lagi banyak banget," jelas Radi dengan singkat.


Helen hanya mengangguk karena Ia tidak terlalu paham masalah itu.


"Semoga aja kembali membaik," ujar Helen penuh harap.


Radi pun menginginkan hal itu. Ia tidak ingin terlalu lama menyelam dalam kesibukannya. Radu menyadari kalau akhir-akhir ini perhatiannya pada Helen dan Arani jadi berkurang karena pekerjaannya luar biasa banyak.


"Aku akan perbaiki semuanya,"


"Aku selalu dukung kamu,"


Melihat senyum Istrinya, Helen merasa energinya untuk menyelesaikan semua itu kian bertambah.


"Arani dan Ria juga dukung kamu,"


Radi mengangguk. Setelah menyelesaikan kegiatan makannya, Ia mengusap puncak kepala Istrinya.

__ADS_1


"Kalian semua dukung Papa. Selalu mengerti bagaimana keadaan Papa. Terimakasih banyak ya, kalau nggak ada kalian, nggak tau deh hidup Papa sehampa apa. Hanya ada kerja dan kerja, nggak berwarna hidup Papa tanpa Mama, dan anak-anak,”


__ADS_2