Kisah Anak Farmasi

Kisah Anak Farmasi
Bab 103


__ADS_3

Hari ini Arani dan teman-temannya pergi ke bogor dalam rangka merayakan hari jadi yayasan sekolah. Di sebuah villa mereka akan menginap dan melaksanakan beberapa kegiatan yang berhubungan dengan perayaan ulang tahun yayasan sekolah. Mereka hanya menginap satu malam, jadi diperkenankan untuk membawa baju, perlengkapan tidur, mandi, dan lain-lain yang diperlukan


Arani antusias sekali. Sudah rindu rasanya tidak pergi ke luar kota dengan teman-teman sekolah. Titik keberangkatan tentunya di sekolah, dan nanti ketika pulang pun semua murid diturunkan di sekolaj dan orangtua menjemput.


Kedua orangtua Arani mengantarkan Arani ke sekolah, bahkan adiknya yang libur di hari sabtu inipun ikut mengantarkan. Ria tidak mau ketinggalan.


Arani membawa satu buah koper berukuran kecil. Di sana ada baju seragam nya satu stel, jaket, baju tidur, baju olahraga, dan juga baju ganti ketika akan pulang. Tentunya tidak ketinggalan perlengkapan mandi, dan tidur. Arani juga emmbawa satu buah goodie bag berisi makanan rungan yang bisa Ia nikmati nantinya kalau sudah merasa lapar tapi makan berat dari pihak sekolah belum diberikan, atau misalnya malam hari tiba-tiba Arani lapar. Selama ini Arani sering seperti itu, walaupun sudah makan malam.


“Kakak, jangan lupa sering-sering kasih kabar ke aku ya,” pesan Ria pada kakaknya. Padahal sudah berpesan seperti itu sebelumnya tapi sekarang kembali mengucapkannya. Seperti biasa, kalau berpisah dengan sang kakak pasti Ria akan cerewet karena dia khawatir. Tak sering berpisah dnegan Arani, jadi pasti ada rasa kehilangan, rindu, dan khawatir yang bercampur jadi satu.


“Iya,”


“Jangan cuma ke Mama Papa aja, ke aku juga lho,”


“Iya, cerewet banget kamu ah,”


“Kak, adekmu itu khawatir makanya minta dikabarin terus, sama kangen mungkin,”


“Ih nggak ah, aku nggak khawatir nggak kangen tuh,”


Arani dan kedua orangtuanya terkekeh mendengar jawaban Ria yang suka gengsi mengungkapkan kalau Ia khawatir, Ia rindu, Ia sayang apda kakaknya.


“Baik-baik di sana ya, Nak. Jaga diri, ingat kepercayaan Mama Paoa itu harganya mahal sekali. Kalau udah rusak sekali kepercayaan itu, bakalan susah untuk dapetin kepercayaan lagi, atau bahkan bisa nggak akan dapet lagi,”


“Iya, Pa. Aku bakal jaga diri baik-baik,”


“Fokus sama kegiatan sekolahnya ya, jangan mikirin apa-apa,”


“Iya, Ma,”


“Kak, Bang Aren ikut? Terus sahabat-sahabat kakak pada ikut?”


“Ya ikut lah, Dek. Masa nggak ikut? Itu ‘kan kegiatan bersama,”


“Ih seru banget. Kapan ya aku bisa kayak gitu? Pengen juga,”


“Nanti juga ada saatnya. Sabar aja, kayak kakak nih tau-tau pergi aja, padahal nggak kepikiran. Tapi emang sering iri sih kalau liat ada yang pergi sama teman rame-rame kayak seru gitu, sedangkan di sekolah kakak ‘kan jarang ngadain kegiatan kayak gini. Kalaupun ada yang biasanya nggak semua. Ada yang cuma kelas sepuluh, ada yang cuma kelas sebelas. Ya pokoknya nggak nentu deh,”

__ADS_1


“Lagian kamu mah di rumah aja dulu, Dek. Masih kecil tau,”


“Ih Papa, tapi aku itu udah SMP. Kenapa disebutnya anak kecil terus, Pa?”


Radi terkekeh sambil menatap anak keduanya itu melalui kaca di depannya saat ini yang sedang mengemudikan mobilnya ke sekolah anak pertamanya.


“Kamu sama kakak emang Papa Mama anggap masih kecil terus,”


“Nggak ada tumbuh kembang dong, Pa?”


“Hahaha ada lah, Sayang. Tapi ini khusus Mama Papa aja, kamu sama kakak itu sampai kapanpun bakal jadi putri kecilnya Mama Papa,”


“Hmm so sweet,”


“Nanti kalau kalian udah punya anak juga pasti bakal paham kok,” ujar Helen seraya menoleh ke belakang dimana dua anaknya duduk.


Tidak terasa mereka sudah sampai di sekolah Arani yang sudah ramai dengan siswa dan juga orangtuanya. Mereka keluar dari mobil bersamaan. Ria langsung meraih tangan mamanya, suasana yang cukup ramai membuatnya takut tertukar.


“Duh rame ya, kayak di pasar, Ma,”


Ria terkekeh membenarkan. Kalau kakaknya sendiri yang pergi, aneh juga. Ria hanya kurang terbiasa dengan suasana yang ramai walaupun teratur.


“Dek, coba aja kamu ikut, pasti seru,”


“Aku sih mau banget, Kak. Tapi aku duduk dimana? Di bagasi bus? Hmm? Mana mungkin,”


“Atau di atap aja gimana?”


Ria mendengus kesal. Ia menatap kakaknya dengan tatapan sebald an itu mengundang tawa sang kakak.


“Halo, Tante, Om,”


Tiba-tiba datang Areno menghampiri Arani, kedua orangtuanya, serta adiknya. Areno pangsung mencium tangan kedua orangtua Arani.


“Diantar ‘kan, Ren?”


“Iya diantar, Om, tapi Mama Papa aku udah langsung pulang karena paman aku ada yang di rumahs akit jadi mereka mau jenguk,”

__ADS_1


“Semoga lekas sembuh ya, Ren,”


“Aamiin, terimakasih untuk doanya, Om,”


“Bang Aren ternyata beneran ikut? Aku kirain absen lho,”


“Hahaha mana mungkin? Justru abang tuh senang yang jalan-jalan gini, Dek. Refreshing gitu ceritanya,” jawab Aremo pada Ria yang sudah Ia anggaps enagai adiknya sendiri. Mereka semakin akrab saja, sampai Arani merasa posisinya disingkirkan perlahan-lahan.


“Ria ikut?”


“Hah? Nggak mungkinlah, Bang. Aku ‘kan bukan murid sini. Nanti kalau aku udah jadi murid sini baru deh aku ikut,”


“Semangat sekolahnya biar ikutin jejak kakak masuk sini ya? Tapi emang kamu mau jadi apoteker?”


“Mau dong, eh tapi nggak tah deh. Aku masih belum jelas nih cita-citanya,”


Arenk tersenyum memaklumi. Di usia Ria sekarang, wajar saja kalau Ria masih labil ingin menjadi apa di masa depan.


“Yang penting sekarang belajar aja dulu yang fokus, biar cita-cita kamu tercapai, ya apahn itu cita-citanya,”


“Siap, Bang,”


“Jangan malas belajar ya. Kamu nggak pernah malas deh kayaknya, pasti rajin terus ya?”


“Beuh jangan ditanya,”


Areno tertawa melihat Ria yang begitu percaya diri. Irangtua Ria dan kakaknya hanya geleng-geleng saja. Tidak tahu saja Areno kalau Ria itu tipe anak yang suka malas juga kalau urusan belajar. Terkadang harus disuruh dulu baru mau belajar. Tapi sering juga punya inisiatif sendiri. Walaupun begitu, nilainya sejauh ini aman-aman saja dan mereka bersyukur.


“Tapi kalau ada malas-malasnya wajar sih namanya juga pelajar ya,”


“Emang Bang Aren nggak pernah malas?”


“Pernah kok, manusia itu kan kadang ada fase dimana malas ngapa-ngapain apalagi belajar tuh nguras otak, nguras energi,”


“Asik banget liat Ria ngobrol sama Areno ya. Udah kayak abang dan adek aja. Gimana, Ren? Kenal Ria bikin pusing ‘kan? Karena dia cerewet,”


“Oh nggak kok, Tante. Justru aku senang, berasa punya adek, karena jujur sepi dan membosankan sih hidup jadi anak satu-satunya,”

__ADS_1


__ADS_2