
"Nanti kalau udah lulus pokoknya aku langsung dateng ke rumah kamu,"
Arani mengangkat sebelah alisnya menatap cowok dengan balutan jaket itu.
'Kenapa makin hari Areno tambah ganteng ya?' Batin Arani tanpa sadar tersenyum hingga mengundang pertanyaan Areno.
"Dih senyum sendiri? Kenapa? gak sabar ya?"
Mendengar itu, Arani langsung memukul lengan kekar Areno.
"Gak sabar apa sih?"
"Gak sabar nunggu aku lamar,"
Mata bulatnya hampir keluar. Areno baru saja berbicara hal yang seharusnya belum masuk ke dalam topik pembicaraan mereka untuk saat ini.
"Emangnya aku mau jadi istri kamu?"
Areno meliriknya tidak suka. Apa lagi yang kurang darinya? Tampan? Sudah, Tajir? Sudah, Pintar? Sudah.
"Kok gitu ngomongnya? Sakit hati abang, dek,"
Tawa Arani pecah. Areno mampu mencairkan suasana tak enak di antara mereka.
"Bentar lagi kita lulus. Terus sebelum aku cari kampus, aku mau lamar kamu dulu. Biar gak di gondol kucing,"
Areno membawa tangan ceweknya untuk duduk di salah satu gerai makanan yang ada di luar komplek Arani ini.
Seperti biasa Areno akan menghabiskan minggu paginya bersama Arani. Begitu bangun dari tidurnya, Ia langsung bergegas mandi lalu datang ke rumah Arani dengan penampilan segarnya. Niatnya memang untuk jalan pagi, Tapi baru sepuluh menit mereka berkeliling, Tukang buburlah yang menjadi tujuan.
"Udah, jangan banyak-banyak sambalnya!"
__ADS_1
Mata Areno menatap kelakuan pacarnya itu yang tidak pernah sayang terhadap diri sendiri. Lihatlah, sudah di larang tapi Arani masih menuangkan Sambal ke mangkuk buburnya.
Areno berdecak lalu mengambil alih sambalnya. Menjauhkannya dari jangkauan cewek si pecinta pedas itu.
Sikapnya mengundang protes keras dari Arani. Saat ini Areno sama saja dengan kedua orangtuanya dan ketiga sahabatnya itu. Selalu menentang apa yang menjadi kesukannya.
"Gak usah ngatur gitu deh! hidup cuma sekali jadi lakukan apa yang buat kita seneng selagi itu postif. Buruan balikin sambalnya!"
Areno mengambil satu sendok sambal lalu mengunci kedua tangan pacarnya. Ia akan memberi sedikit pelajaran pada cewek itu.
"Sini aku tuang sambalnya ke mata kamu,"
Arani berusaha melepaskan tangannya dari jeratan Areno seraya menghindari cowok itu yang semakin maju mendekatinya.
"Mumpung aku baik nih. Aku kasih sambalnya tapi di mata kamu. Kok gak mau?"
"Gak mau lah kalau di mata. Jangan gitu deh," rengeknya yang membuat Areno menggeleng tegas. Ia tidak akan termakan lagi dengan bujuk rayu pacarnya itu setiap kali ingin menyantap makanan pedas.
"Tadi katanya lakukan apa yang buat kita seneng kan? nah, nuang sambal ke mata kamu itu kesenangan aku. Kamu gak mau buat aku seneng?"
"Apaan sih postif-positif?! Mau aku buat positif emang?"
Arani tidak kehabisan cara untuk membuat lawannya kalah. Dengan geram Ia menggigit tangan Areno hingga si pemilik menahan teriakannya karena takut malu. Mengingat di gerai bubur itu bukan hanya mereka saja pembelinya.
"Ngomong yang aneh sekali lagi, Kamu yang Aku guyur pakai sambal!!"
"Coba aja kalau berani!!"
Arani berhasil merebut mangkuk sambal di dekat Areno. Ia berdiri kemudian mengangkat mangkuk sambalnya bersiap untuk menerima tantangan dari Areno itu.
"Aduh, Dek jangan di gituin atuh sambalnya. Sayang kalau tumpah soalnya cabai lagi mahal,"
__ADS_1
Dengan menggerutu, cewek itu kembali duduk lalu meletakkan mangkuk sambalnya dengan kesal hingga isinya hampir tumpah. Cewek cantik itu menatap tajam pacarnya yang sedang tersenyum meledek seraya menjulurkan lidahnya.
"Jangan gitu dong natapnya. Nanti makin cinta kan berabe," Goda Areno seraya menjawil dagu Arani yang langsung sigap membuang wajahnya.
Areno tertawa keras mengetahui kalau Dia yang jadi pemenangnya dalam perdebatan tadi. Rasanya Arani ingin sekali menyumpal mulut Areno yang dengan lancang meledeknya di saat kesal seperti ini.
"Gak aku maafin kalau kamu minta maaf,"
Cewek itu bergumam dengan suara dalamnya. Terlihat sekali kalau Ia sedang menahan kesal. Sialnya, Areno malah semakin memperkeruh suasana dengan tawa yang tak kunjung berhenti itu.
"Yakin banget kamu kalau aku bakal minta maaf?" Ujar cowok itu masih dengan tawa renyahnya.
'Kan biasanya begitu?! Emang sekarang gak mau minta maaf? dasar nyebelin!' Batin Arani berteriak tak terima.
"Iihh kamu nyebelin banget sih!!" rengek Arani dan kini Ia tak mampu lagi menahan air matanya.
Arani kalau sudah merasa malu dan kesal yang berlebihan, Maka tanpa di minta, Ia akan menangis dengan sendirinya. Air mata itu tidak malu keluar padahal usianya sudah cukup dewasa.
Areno mengira kalau itu adalah trik pacarnya agar Ia kasihan dan meminta maaf. Tapi ketika melihat Arani yang benar-benar mengusap air mata mengalir dari sudut matanya, membuat Areno percaya kalau pacarnya memang sedang menangis.
"Lho kok nangis sih? Kan cuma bercanda,"
Areno jadi panik sendiri. Ia berusaha meraih wajah Arani namun cewek itu tak mau disentuh sedikitpun. Sikap sepasang kekasih itu mengundang tatapan dari orang-orang di dekat mereka. Ada yang tersenyum menatap kelucuan yang terjadi itu. Ada juga yang mencibir,
"Anak zaman sekarang kalau pacaran melebihi orang yang udah nikah ya?"
Areno tidak peduli dengan cibiran itu. Ia berusaha membuat telinganya tuli untuk sementara waktu.
"Heh! Jangan nangis gitu dong! Nanti dikira orang lain, aku berbuat sesuatu yang aneh-aneh sama kamu," Ujar cowok tampan itu seraya menarik pipi gadisnya agar mau menatapnya.
Areno memang tidak bisa semanis tokoh-tokoh di novel. Kalau Arani marah, bukannya kata-kata lembut yang keluar dari mulutnya tapi pipi Arani langsung ditarik lalu di marahi seperti anak kecil yang tidak bisa di atur.
__ADS_1
"Kamu selalu kayak gitu kalau aku lagi kesel. Bukannya di hibur malah di ketawain,"
**********