
“Hujan nih, kamu nggak mau bareng sama aku beneran? Biasanya juga ayo aja kok,”
Areno menghampiri Arani yang sedang berdiri di depan gedung sekolah menunggu kedatangan papanya.
“Aku udah tanya ke papa jadi atau nggak jemput aku tapi belum dibaca, mungkin bentar lagi kali. Kamu pulang aja sana, aku mau pulang sama papa,”
“Udah petir lho ini, Ran. Nungguin papa kamu? Dibaca aja belum chat dari kamu. Mungkin Om Radi lagi sibuk kali jadi belum pegang handphone dan baca pesan dari kamu,”
“Aku bisa tunggu di dalam kalau emang hujan kasian Papa aku kalau jadi jemput aku tapi aku nya malah nggak ada,”
“Sama aku aja, nggak mau ya? Aku nggak maksa kok, cuma pengen ngajakin kamu aja. Aku pengen pulang bareng kamu pas ujan gini sekali-kali gitu ‘kan, biar romantis kayak di film,”
Ucapan Areno itu mengudang decakan kesal Arani. Dan Arani langsung menjawabnya “Nggak mau, Ren. Aku mau pulang nunggu papa aku aja,”
“Ya udah aku tungguin sampai papa kamu datang ya,”
“Nggak usah, ih ngapain sih nunggu-nungguin aku? Udah dibilang, kamu pulang aja,”
“Sekolah mulai sepi karena udah sore jadi aku mau nunggu kamu,” lugas Areno.
Waktu menunjukkan pukul setengah empat sore. Sehingga para siswa mulai meninggalkan kampus. Areno tidak bisa membiarkan Arani menunggu papanya disaat situasi mulai sepi.
“Ayo kita nunggu di dalam aja jangan di depan gerbang, dekat pos satpam tuh,” ajak Areno pada Arani.
Arani mengangguk, dan langsung berjalan mendekati pos keamanan, diikuti oleh Areno yang masuk lagi dengan motornya.
“Kamu tuh udah siap pulang kenapa nggak pulang aja sih? Kenapa harus nungguin aku? Motor udah dibawa keluar eh malah dibawa masuk lagi,” ujar Arani pada kekasihnya itu. Kali ini Arani menolak pulang dengan Areno karena Papanya bilang mau menjemput.
“Aku tadinya emang udah mau pulang, tapi ‘kan liat kamu lagi nunggu jemputan aku nggak tega, jadi ya aku samperin kamu lah,”
Areno menempatkan kendaraan roda duanya di dekat pos keamanan setelah Ia minta izin dulu oleh Pak Agung yang saat ini berjaga.
“Kok belum pulang?” Tanya Pak Agung pada mereka berdua.
“Nungguin dia dijemput dulu, Pak,” jawab Areno seraya menoleh pada Arani.
“Lho, kenapa nggak pulang sama Mas nya aja?”
“Ya maunya sih begitu, Pak. Tapi Arani nya yang nggak mau kalau saya antar ke rumah,” ujar Areno seraya tersenyum menatap Arani yang membuang pandangan.
“Aku udah suruh pulang duluan tapi dia malah mau nungguin aku, Pak,” sahut Arani supaya Pak Agung tak mengira Ia yang menyuruh Areno supaya menunggu Ia pulang dulu barah Dafin ikut pulang.
“Oh Mas nya mau bareng kali ya. Nggak enak ninggalin ceweknya sendirian,”
Reaksi Areno langsung tersenyum begitu mendengar perkataan Pak Agung. Sementara Areno salah tingkah mendengar sebutan untuk Arani dari Pak Agung.
“Pacaran ‘kan?”
“Nggak, Pak. Aku bukan pacarnya Areno, kami nggak pacaran,” jawab Arani dengan cepat.
“Heh enak aja. Kamu tuh cewek aku ya!”
Arani terkekeh mendengar ucapan Areno yang tidak terima ketika Ia bilang kalau Ia bukan kekasihnya Areno.
Arani yang menjawab seperti itu tentunya membuat Areno langsung mendengus kesal. Sudah senang mendengar kalimat Pak Agung malah dipatahkan oleh Arani yang cuek dan suka gengsi itu.
“Oalah bukan pacaran ya? Saya pikir pacaran. Makanya main tunggu-tungguan, jadi ini cuma temenan aja?”
“Iya, Pak,”
“Ih nggak, beneran pacaran kok, Pak,”
“Arani emang suka malu-malu orangnya,” ujar Areno sambil melirik Arani.
Terpaksa Areno yang mengiyakan, karena sebelumnya Arani sudah mengatakan bahwa mereka tak memiliki hubungan istimewa semacam pacaran.
“Namanya siapa si Mas nya?”
“Areno, ini Arani,” kata Areno seraya menunjuk dirinya sendiri dan juga Arani.
“Tapi biasa saya panggil Aranique yang cantekkk singkat aja Aracan,” sambung Areno sambil terkekeh. Ucapannya itu membuat Pak Agung mengernyit tidak paham.
“Maksudnya?”
“Iya saya suka manggil Aracan,”
“Ih, nama aku bukan itu! Kamu jangan suka ganti-ganti deh, nama aku Arani, bukan Aracan. Aku bukan keturunan macan,”
Areno dan Pak Agung tertawa mendengar Arani yang melontarkan protesnya atas panggilan Areno kepadanya. Arani tentunya lebih nyaman dipanggil dengan namanya saja tanpa ada yang diganti.
“Kamu ‘kan udah pernah aku kasih tau kalau Aracan itu ada kepanjangannya. Arani cantik, nah aku singkat jadi Aracan, jadi panggilan itu bukan karena kamu ada keturunan macan, Ran,”
“Ya tapi tetap aja ah, aku nggak senang dipanggil Aracan,”
“Ya ‘kan aku yang manggil bukan kamu, jadi nggak apa-apa dong,”
“Emang kamu yang manggil, mulut-mulut kamu, tapi ‘kan nama aku Arani, nggak suka diganti,”
“Itu panggilan kesayangan berarti ya?” Tanya Pak Agus pada Areno yang langsung dijawab Areno dengan anggukan cepat sambil mengangkat ibu jarinya.
“Betul sekali, Pak. Karena dia cantik makanya saya panggil Aracan,”
“Bagus itu artinya, Neng. Kenapa nggak mau dipanggil begitu?”
“Ya karena nama aku ‘kan Arani aja, Pak. Nggak ada ‘can’ nya,”
“Hahaha lucu juga ya perdebatan anak muda, udah lama nggak liat yang kayak gini. Lumayan, dapat hiburan di cuaca yang mau hujan ini,”
“Pak Agung senang ya liat saya sama Arani debat-debat kecil? Emang suka begini, Pak. Arani suka ketus sama saya. Tapi nggak apa-apa kok, saya senang asalkan bisa liat Arani,”
“Duh ya ampun, bucin banget kamu ya. Eh bener nggak sih sebutannya? Bucin ‘kan ya?”
“Bucin banget-banget, Pak. Cinmat lah sama Arani,”
“Apa lagi itu cinmat?”
“Cinta mati,”
Arani langsung memutar bola matanya jengah ketika mendengar ucapan Areno, sementara Pak Agung malah terhibur karena lagi-lagi tertawa malah kali ini lebih bebas.
“Lumayan banget hiburan bapak sore ini ya, ketemu pasangan bucin,”
“Bukan pasangan, Pak. Sejak kapan aku punya pasangan? Belum ada,” ujar Arani menegaskan supaya jangan lagi ada kata pasangan, pacaran, atau semacamnya. Karena hubungannya dengan Areno tidak seistimewa itu. Walaupun sudah jelas-jelas pacaran tapi terkadang Arani malas mengungkapkan statusnya itu.
“Parah banget aku nggak diakuin padahal ganteng gini, apalagi kalau modelannnya kaleng rengginang yak,”
“Nanti juga lama-lama jadi jodoh nih, yakin deh saya,”
“Aamiin ya Allah, doain ya, Pak. Katanya makin banyak yang doain makin cepat terkabul sampai ijab kobul,“
“Areno, kamu apaan sih? Nggak jelas banget, omongan kamu ngelantur,”
Arani kaget mendengar ucapan Areno yang sudah membahas ijab kobul segala.
“Lah kok ngelantur? Aku ‘kan minta doain sama orang emang nggak boleh?”
“Ya tapi jangan doain kayak gitu dong,”
“Kamu nggak mau jodoh sama aku?”
“Nggak!”
“Nolak-nolak, nanti ujungnya bisa berubah pikiran, Mas Areno. Udah tenang aja,” kata Pak Agung seraya mendouk bahu Areno sekali. Areno merasa disemangati, biasanya dengan orang-orang terdekat, Ia disuruh berhenti mendekati Arani, tapi kali ini oleh Pak Agung, satpam sekolah malah didukung, disemangati supaya tidak menyerah karena bisa saja sekarang Arani bilang ‘tidak’ tapi di lain waktu malah berubah pikiran, benar-benar menjadi istri maksudnya, karena kalau jadi pacar sudah.
“Aku mau dijodohin,”
“Hah?! Seriusan kamu?”
Ucapan Arani langsung membuat Areno membelalakkan matanya kaget, detak jantungnya juga tidak beraturan. Kabar bahwa Arani hendak dijodohkan telah membuat dirinya terkejut sekaligus kecewa.
“Iya biar kamu nggak deketin aku lagi,”
“Beneran? Aku bakal tanya ke mama papa kamu ya,”
“Iya silahkan tanya aja,”
Areno panik, sementara Pak Agung malah terkekeh. Ia menepuk bahu Areno lagi. “Belum nikah, Mas Areno. Masih ada kesempatan. Janur kuning belum melengkung,”
“Duh Pak Agung, jangan kasih semangat mulu ke Areno, dia tanpa disemangatin juga udah semangat mulu setiap saat, tapi semangat deketin aku,” kata Arani mengeluh karena Pak Agung lagi-lagi menyemangati Areno supaya Areno jangan kepikiran dengan perjodohan yang dikatakan Arani tadi.
“Iya sih, prinsip saya juga begitu, Pak. Selagi belum ada janur kuning melengkung, saya bakal usaha,”
“Nah ya udah, itu ‘kan baru rencana,”
“Nggak, udah pasti kok, bukan sekedar rencana lagi,”
“Kamu bohong, Arani. Nanti aku tanya ke mama papa kamu ya,”
Arani menggertakkan giginya, kemudian membuang pandangan. Ia tidak suka Areno yang berisik makanya Ia kerjain Areno dnegan berpura-pura bahwa Ia dijodohi.
Air hujan turun, Arani dan Areno langsung diajak masuk ke dalam pos keamanan oleh Pak Agung. Arani melihat Ardno yang sudah sempat terkena air hujan karena sebelumnya duduk di depan pos.
“Baju kamu jadi basah itu, Ran,”
“Nggak apa-apa, kamu juga sama, Pak Agung juga tuh,”
“Eh bentar, aku rajin pakai jaket kalau pagi. Nih, kamu pakai aja jaket aku ya,”
Areno mengambil jaket yang Ia kenakan tadi pagi dari rumah sampai kelas karena dingin. Tapi setelah duduk di kelas, Ia segera menanggalkan jaketnya dan Ia simpan di dalam tas.
Sekarang Ia serahkan jaketnya itu kepada Arani supaya Arani mengenakannya. Tapi Arani menolak.
“Nggak usah, Areno. Cuma basah dikit aja kok,”
“Udah pakai aja, kamu nggak boleh nolak kebaikan orang. Dipakai ya jaket aku, biar kamu nggak kedinginan, Ran,”
“Tapi aku nggak dingin,”
“Ya tapi pakai aja udah, nggak usah nolak deh,”
“Ya udah aku pakai, nanti aku kembaliin ya,”
“Nggak usah dibalikin nggak apa-apa kok,”
“Ya jangan dong, ini ‘kan bukan punya aku,”
“Ya udah kapan-kapan aja balikinnya,” ujar Areno. Malah Areno senang kalau tidak dikembalikan. Ia memang manusia aneh. Dimana-mana, kalau meminjamkan barang kepada orang lain, pasti inginnya barang itu dikembalikan, tapi kalau Ia malah senang kalau jaketnya tidak dikembalikan oleh Arani. Senangnya karena salah satu barangnya disimpan oleh Arani, bersatu dengan baju-bajunya Arani di dalam lemari Arani..
“Mas Areno mau pakai sarung Pak Agung nggak?”
“Nggak usah, Pak. Saya sih nggak dingin,”
“Wuih sama dong, kirain dingin, tuh pakai sarung punya saya buat ngeronda,”
“Hahahah Pak Agung suka pakai sarung ya?”
“Ya namanya juga bapak-bapak, ngeronda pake sarung kalau saya mah. Mas Areno nggak suka pakai sarung?”
“Ya kalau sholat doang, Pak,”
“Alhamdulillah ingat sholat, lima waktu nggak nih? Nggak ada yang dikurang ‘kan?”
“Ya nggak lah, Pak. Masa iya saya kurang-kurangin,”
“Ntar kalau udah punya istri siap jadi imam dong?”
“Wisss siap kali,”
“Asikk udah siap nih. Ayo atuh Neng Arani, tunggu apalagi? Nggak mau di imamin sama Mas ganteng Areno?”
Areno tertawa, sementara Arani tersenyum saja menanggapi candaan Pak Agung. Dafin langsung menepuk bahunya sekali kemudian menatapnya dengan senyum dan kedua alis yang sengaja dinaik turunkan.
“Jadi gimana? Kapan nih?”
“Kapan apa?”
“Kapan siap di imamin kata Pak Agung tadi,”
“Ck! Areno jangan mulai ya. Pak Agung itu cuma bercanda. Kamu nyebelin banget sih,”
“Eh saya mah serius, Neng. Maksudnya serius nanya, kapan siap nikah? Kapan siap di imamin?”
“Ya kalau di imamin udah kok, Pak. Sama papa aku kalau di rumah,”
“Maksud saya, di imamin sama suami,”
“Kapan-kapan, Pak,”
“Sekarang juga aku siap nih, Ran. Tinggal ke penghulu yok,”
“Areno, mending pulang deh daripada ngomong yang nggak keruan. Ih emang siapa yang mau nikah sih? Masih lama tau,”
“Aku mau kok,”
“Ya aku juga mau tapi—“
“NAH DIA MAU PAK NIKAH SAMA SAYA,”
Areno langsung mengeluarkan suara yang riuh sambil menunjuk Arani dan menatap Pak Agung yang terbahak. Pak Agung bisa menangkap maksud ucapan Arani tapi sepertinya Areno salah paham.
“Ih kamu apaan sih? Aku pasti lah mau nikah, tapi nanti, dan nggak tau sama siapa. Maksud aku tuh bukan nikah sama kamu sekarang, Areno! Astaga, kamu salah paham ya? Udah keburu senang begitu, aku sih malu kalau jadi kamu. Kencang banget lagi ngomongnya sampai kuping aku pengang,”
“Oalah gitu ya,” suara Areno langsung lemas, dan Pak Agung terkekeh geli. Areno punya harapan yang besar bisa berjodoh dengan Arani. Tapi Arani kelihatannya belum bisa membuka hati.
“Aku ‘kan lagian udah dijodohin,”
“Ah aku nggak percaya,”
“Coba kalau nggak percaya, berani tanyain ke orangtuanya nggak, Mas Areno?”
“Berani lah, Pak. Nanti kalau ketemu ya pasti saya tanya,”
Areno merasa senang bisa mengobrol dengan Pak Agung, seperti sudah akrab saja padahal baru kali ini bicara panjang lebar sambil bercanda.
“Pak Agung doain yang terbaik untuk kalian berdua ya, kalau udah sebar undangan, Pak Agung jangan dilupakan, okay? Mau sama siapapun jodoh kalian nanti Pak Agung mau diundang dong,”
“Iya boleh, Pak. Nanti saya catat nama Pak Agung ya,”
“Insya Allah aku ingat, Pak,”
Areno dan Arani sama-sama menjawab permintaan Pak Agung yang ingin diundang ketika Areno dan Arani menikah, dengan pasangan masing-masing, atau justru mereka yang menjadi pengantin.
Arani merasakan getaran dari dalam tasnya, dan juga ada dering yang suaranya samar-samar karena beradu dengan suara hujan juga petir.
“Jangan main handphone dulu sebaiknya, Ran,” ujar Areno menasehati Arani yang baru saja mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.
“Iya tapi papa aku telepon nih, aku angkat bentar deh,”
“Halo, Assalamualaikum, Nak,”
“Iya Waalaikumsalam, Pa,”
“Maafin papa ya baru bisa ngabarin, tadi handphone papa habis baterai. Nak, ini macet banget begitu keluar dari kantor papa mau ke kampus kamu, karena hujan, sama ada kawasan yang banjir jadi di alihkan jalannya. Kamu sabar ya nunggu nya,”
“Oh kalau gitu nggak usah jemput aku ya, Pa. Lebih baik Papa langsung pulang aja, kasian papa kalau harus ke sekolah aku dulu. Aku bisa pulang naik ojek kok, tapi nanti aja kalau hujan udah berhenti,”
“Eh jangan lah, Kak. Nggak apa-apa kok papa jemput. Cuma emang bakal agak lama sampainya, Nak. Karena macet banget ini. Semoga sih nggak lama. Hujan-hujan gini papa khawatir kalau kamu naik ojek,”
“Pulang sama aku aja, Ran,” ujar Areno pada Arani yang sedang bicara dengan papanya. Areno mendengar obrolan Radi jadi Ia langsung mengajak Arani untuk pulang bersamanya.
“Om, Arani pulang sama aku aja,”
“Itu suara Areno ya?” Tanya Radi pada Arani.
“Iya ada Areno. Dia katanya mau nungguin aku sampai papa datang jemput. Eh keburu hujan jadi kami berdua lagi nunggu di pos nih. Udah papa nggak usah jemput aku ya. Aku bisa pulang sendiri, beneran deh,”
“Jangan, Papa—“
__ADS_1
“Naik mobil, Pa,”
“Nggak-nggak, papa mau jemput. Insya Allah ini nggak lama kok,”
“Duh papa kok gitu? Jangan maksain, mendingan langsung ke arah rumah aja daripada mampir-mampir dulu ke sekolah aku. Udah papa tenang aja. Pokoknya aku pulang sendiri, papa langsung pulang aja ya nggak udah ke kampus aku. Bye, Pa, hati-hati ya, Pa. Langsung ke rumah. Assalamualaikum,”
Arani tidak mau papanya memaksakan diri ke sekolahnya di tengah kemacetan yang melanda akibat wilayah yang banjir. Arani yakin papanya akan lelah sekali kalau harus ke kampusnya dulu, nanti mereka juga bisa diserang macet, sampai rumah entah jam berapa. Sementara papanya sudah lelah bekerja. Akan lebih baik Radi langsung pulang ke rumah, tak singgah-singgah di manapun termasuk kampusnya.
“Ayo pulang sama aku aja, mau ya?”
“Nggak, aku mau naik mobil,”
“Mendingan sama aku, lebih cepat sampai rumah naik motor, tapi nanti kalau udah agak reda hujannya,”
“Tapi naik motor hujan-hujan ngeri, papa aku khawatir juga,”
“Aku bisa jaga kamu, Ran. Tenang aja, Insya Allah aku bisa bawa kamu ke rumah dengan keadaan selamat, beneran nggak bohong,”
“Aku takut,”
“Takut apa? Takut aku bawa kabur terus aku macam-macam gitu ke kamu? Nggak akan, Ran. Udah aku bilang, aku itu nggak akan jahat sama kamu. Percaya deh sama aku. Kan selama ini pulang pergi sama aku aman-aman aja,” ujar Areno dan tanpa sadar merangkum wajah Arani dan menatap Arani dengan sorot mata serius yang menenangkan. Areno ingin Arani kali ini saja benar-benar bisa membuktikan sendiri kalau Ia tidak akan seperti apa yang Arani khawatirkan.
5)55657575)565)575757
“Ren, jangan pegang-pegang, aku kaget tau!”
Arani melepaskan tangan Areno yang ada di kedua sisi wajahnya. Areno langsung gelagapan salah tingkah.
“Iya maaf, Ran. Aku nggak sengaja, serius,”
“Jangan modus, Mas Areno. Neng Arani malah kabur ntar,”
“Sumpah saya nggak modus, Pak Agung. Saya beneran emang nggak sengaja pegang pipinya Arani. Ah Pak Agung nih nuduh saya aja deh,”
“Oh beneran nggak sengaja? Cantik ya? Makanya pegang pipinya?”
Areno menganggukkan kepalanya mengakui kecantikan Arani sambil Ia terkekeh. Tahu bagaimana reaksi Alyla? Ia malah membuang pandangan.
“Dia curi-curi kesempatan,” batin Arani.
“Jadi gimana, Ran? Kamu mau ‘kan pulang sama aku? Nanti aku antar dengan selamat ke rumah kamu, tenang aja,”
Areno menatap Arani dengan tatapan yang harap-harap cemas. Ia takut Arani menolak, padahal Ia sudah punya harapan yang besar kali ini bisa membuktikan pada Arani kalau Ia akan membawa Arani pulang dengan keadaan baik-baik saja. Jadi tidka pulang dengan Papanya pun tidak masalah karena Ia akan berusaha seperti papanya Arani untuk memastikan Arani selamat sampai rumah.
“Nggak mau ya? Takut sama aku?”
“Ya udah iya-iya. Aku pulang sama kamu,”
“Yes! Serius ‘kan nih?”
“Iya, emang muka aku keliatan main-main atau bercanda gitu?”
“Ya nggak sih, tapi aku pengen lebih yakin aja. Senang banget aku, Ran. Makasih ya udah mau pulang sama aku, gitu dong, Ran,”
“Harusnya aku lah yang bilang makasih, ‘kan kamu yang mau antar aku ke rumah,”
“Aku bilang makasih karena merasa bersyukur banget kamu percaya sama aku, kayaknya kamu awalnya nggak percaya ya? Takut kali ya aku bawa kabur ujan-unan gini?”
“Kalau udah reda kita langsung pulang,”
“Okay siap, Arani cantik,”
“Ih apaan sih? Jangan panggil begitu bisa nggak? Aku nggak cantik! Biasa aja,”
“Aneh banget ini cewek ya, nggak suka banget dipanggil cantik, heran. Orang gue mah ngomong kenyataan, dia emang beneran cantik, tapi kok malah nggak mau dibilang cantik,”
“Duh manis banget sih kayak permen kalian tuh,”
“Manis apa, Pak?”
“Liat kalian berdua ngomong tuh jadi senyum-senyum sendiri ngeliatnya, Neng. Manis aja keliatannya,”
“Popcorn manis enak tuh,” celetuk Arani sambil menatap ke depan dimana air hujan masih deras membasahi bumi yang dipijaknya saat ini.
“Kamu mau popcorn?”
“Hah? Nggak, itu cuma iseng aja ngomong begitu, asal nyeletuk aku,”
“Ya udah tunggu bentar ya, di kantin ada popcorn kok,”
“EH ARENO!”
Arani terkejut melihat Areno tiba-tiba berlari menerobos hujan. Areno keluar dari pos satpam dan berlari ke arah kanan dimana kantin sekolah berada.
“Astaga anak itu ya. Dia kenapa sih? Orang aku cuma asal ngomong aja kok,”
“Tandanya Mas Areno tuh sayang sama Neng Arani,” ujar Pak Agung seraya tersenyum menatap Arani yang masih kaget tidak menyangka kalau Areno akan berlari menerobos hujan. Tindakan Areno benar-benar diluar perkiraannya.
“Padahal aku cuma iseng ngomong aja, aku asal nyeletuk tapi dia anggapnya aku serius pengen popcorn, ya ampun Areno….Areno,, itu anak ya benar-benar aneh banget deh,”
“Bukan aneh, Neng. Mas Areno mau nurutin maunya Neng, dan mau ada usahanya, sampai nerobos ujan dia,”
“Duh, aku jadi merasa bersalah,”
“Nggak usah merasa bersalah dong, Neng. ‘Kan bukan Neng yang salah, emang si Mas Areno aja yang kepengen nurutin maunya Neng,”
Arani geleng-geleng kepala. Ia tidak menyangka Areno akan nekat keluar dari pos satpam dengan keadaan hujan yang masih deras hanya untuk membelikan popcorn untuknya yang hanya asal bicara saja tadi.
“Aku jadi merasa dosa nih gara-gara bikin anak orang basah kuyup kena hujan untuk beli popcorn,” batin Arani sambil memperhatikan hujan. Sempat terbesit di pikirannya Ia ingin menyusul Areno dan membawakan payung, tapi Ia tak membawa payung.
“Pak Agung, ada payung nggak?”
“Oh ada, Neng. Mau pinjam ya?”
“Iya, boleh nggak, Pak? Cuma sebentar aja kok, nanti langsung aku balikin ke Pak Agung,”
“Boleh dong, pakai aja, Neng,”
Pak Agung segera menyerahkan payung kepada Arani. Payung itu ukurannya tidak besar, bisa dibilang kecil untuk ukuran satu orang. Tak apalah, intinya Arani menyusul Areno, walaupun payung itu sepertinya tidak cukup untuk mereka berdua pakai nantinya tapi setidaknya ada payung.
Arani ke kantin sekolah yang lumayan jauh jaraknya dari pos keamanan. Ia berjalan cepat, berharap Ia masih sempat bertemu Areno sebelum Areno menerobos hujan lagi.
Hampir tiba di kantin, Ia melihat Areno hendak meninggalkan kantin, Arani langsung berseru meminta Areno tetap di kantin saja.
Dafin langsung membelalakkan matanya ketika melihat Arani berlari menghampirinya. “Astaga, kok kamu ke sini sih? Kamu nyusul aku, Ran?”
“Ya iyalah, masa aku nyusul hantu? Kamu ngapain sih tiba-tiba nerobos hujan? Aku ‘kan nggak beneran mau popcorn,” Arani langsung memarahi Areno yang bertindak seperti tadi. Kalau Areno sakit karena air hujan, Arani merasa bersalah nantinya.
“Nih buat kamu,”
Areno segera menyerahkan dua cup popcorn kepada Arani yang entah kenapa hatinya menghangat, tidak sejalan dengan badannya yang saat ini merasa kedinginan walaupun sedang mengenakan jaket dari Areno.
“Makasih, tapi harusnya kamu nggak perlu ngelakuin itu, Areno. Aku nggak serius mau pop corn, kenapa kamu anggapnya serius sih? Hah? Kamu jangan ngorbanin kesehatan kamu sendiri dong. Aku kaget banget tiba-tiba kamu nerobos hujan pengen beli popcorn buat aku, padahal aku nggak beneran mau, aku cuma asal ngomong aja,”
“Nggak apa-apa, Ran. Udah kamu jangan cerewet, dimakan ayo popcorn nya,”
“Sampai beli dua pula, ya ampun kamu nih,”
“Dimakan ya, aku belinya harus basah-basahan dulu soalnya,”
“Iya aku makan,”
“Duduk aja di sini, nggak usah balik dulu ke pos,” ujar Areno seraya meraih tangan Arani untuk Ia ajak duduk di salah satu kursi kantin yang kosong.
“Kamu mau minum apa? Aku lupa beliinnya,”
“Nggak mau minum apa-apa,”
“Lah masa iya makan tapi nggak minum? Bentar ya aku beliin air minum dulu, air putih aja biar sehat nggak kebanyakan gula,” ujar lelaki tu seraya terkekeh. Arani menggelengkan kepalanya mengamati Areno yang saat ini bergegas menghampiri penjual minuman di kantin kampus mereka, sementara Arani duduk memperhatikan popcorn yang baru saja dibelikan oleh Areno.
“Kok dia baik banget sih? Rela banget beliin ini untuk aku?”
Sampai sekarang Arani masih tak habis pikir, masih tidak menyangka kalau Areno mau repot-repot ke kantin dengan keadaan hujan deras hanya untuk memenuhi ucapan asalnya saja.
Areno datang dengan dua botol minuman dan Areno langsung duduk berhadapan dengan Arani. Ia buka tutup botol kemudian Ia letakkan botol tersebut di depan Arani.
“Sama-sama, Arani,” jawab Areno dengan senyum manisnya
“Makasih udah mau repot-repot beli pop corn sama minum. Ngomong di depan kamu bahaya ya, mesti hati-hati,” ujar Arani sambil mendengus kesal dan melirik Areno yang mengernyitkan keningnya.
“Hah? Maksudnya gimana?”
“Iya mesti hati-hati soalnya kamu tuh nggak bisa bedain mana asal nyeletuk mana yang beneran. Aku asal nyeletuk mau popcorn eh kamu langsung tiba-tiba pergi beliin popcorn, sampai sekarang aku masih merasa bersalah lho sama kamu,”
Areno langsung berdecak pelan mendengar ucapan Arani. Kenapa Arani harus merasa bersalah? ‘Kan memang kemauannya sendiri untuk pergi ke kantin beli popcorn. Menurutnya walaupun Arani tidak bicara terang-terangan dia mau popcorn, tapi tetap saja kalau Arani sudah berucap rasanya akan kepikiran terus kalau tidak dipenuhi.
“Kok merasa bersalah? Kamu ‘kan nggak salah apa-apa, Al,”
“Ya tapi kamu udah basah-basahan karena aku, Areno,”
“Nggak, bukan karena kamu. Aku ‘kan yang mau beliin popcorn untuk kamu,”
“Maafin aku ya,”
“Ih ya ampun, kamu kenapa bilang maaf sih? Kamu nggak salah,”
“Lain kali nggak usah kayak gitu lagi, Areno. Kamu bikin rugi diri kamu sendiri. Kalau kamu sakit gimana coba?”
“Sakit karena hujan? Nggak lah, aku nggak pernah sakit kalau kena hujan,” jawab Areno dengan santai. Kalaupun sakit juga tidak apa, sesekali sakit karena Arani boleh juga.
“Udah mulai reda tuh hujannya, Ran. Abis kamu makan, kita langsung pulang ya?” Tanya Areno apda Arani yang langsung menganggukkan kepalanya.
“Sekarang aja yuk?”
“Hah? Nanti aja, kamu makan dulu, abis itu baru kita pulang mudah-mudahan nggak lanjut hujannya,”
“Aamiin, semoga berhenti, kalau kita udah sampai rumah masing-masing, boleh deh hujan lagi biar adem,”
“Lah, kamu malah request,”
Arani terkekeh, Ia terkadang memang aneh. Hujan tak bisa diatur olehnya, tapi itulah harapannya saat ini. Supaya Ia dan Areno tidak basah kuyup sampai di rumah.
“Nanti kalau mau hujan lagi pas kita udah sampai boleh banget kok, ya Allah,”
Areno tertawa dan spontan mengacak lembut puncak kepala Arani yang sedang menikmati popcorn caramel yang baru saja Ia beli di kantin.
“Kamu nggak mau makan juga? Ini ngapain beli dua? Aku sih satu aja udah cukup,”
“Aku nggak mau. Kamu bawa aja ke rumah ya,”
“Hah? Aku bawa ke rumah?”
“Iya, kamu bawa aja ke rumah, kalau nggak mau dihabisin sekaligus,”
“Okay kalau begitu,”
Arani memasukkan satu cup popcorn sisanya ke dalam tas. Sekali lagi Ia mengucapkan, “Makasih ya, Ren.”
“Iya sama-sama, Ran,” jawab Areno dengan lembut sambil tersenyum.
“Ayo pulang, yang satu ini udah habis, aku buang bekasnya ke tempat sampah dulu,” ujar Arani seraya beranjak dari kursi hendak menghampiri tempat sampah.
“Oh jadi popcorn nya buat Arani, Ren? Aciee rela ujan-ujanan buat beli popcorn untuk Arani seorang,”
Areno terkekeh ketika seorang temannya meledek. “Berisik lo, udah sana pulang,”
“Cie cie cie, uhuk ampe batuk gue,”
“Pulang nggak lo! Gue tabok nih,”
“Hahahaha okay, bos. Gue balik nih,” ujar Tomy seraya berjalan menjauh dari Areno. Arani langsung mengajak Areno untuk pulang setelah membuang sampah.
“Ayo pulang,”
“Yok, udah makin reda nih,”
“Iya petirnya juga udah nggak ada,”
“Kita berhenti dulu nanti di pos, aku mau balikin payung soalnya,”
“Okay, itu payung Pak Agung ya? Aku pikir punya kamu,”
“Nggak, aku pinjam punya Pak Agung. Cukup sekali kamu kehujanan, Ren. Makanya aku samperin pakai payung,”
“Duh so sweet banget sih,”
“Kok so sweet sih? Aku tuh merasa bersalah makanya aku nyamperin kamu. Gara-gara aku, kamu jadi basah kuyup cuma untuk beliin popcorn aja,”
“Itu pengorbanan kecil aku, Ran. Nggak ada apa-apanya, santai aja udah,” ujar Areno.
“Kamu aja nih yang pakai payung, aku nggak usah,”
“Heh, enak aja. Nggak-nggak, aku mau bareng,” lugas Areno.
Areno segera merangkul Arani, kemudian Ia memegang payung supaya melindungi dirinya dan juga Areno.
“Ih nggak usah rangkul emang nggak bisa?”
“Ya ‘kan nggak muat, Ran. Mesti rangkulan gini, payungnya kekecilan buat kita, tapi aku nggak mau kalau cuma aku yang pakai payung,”
“Iya sih, tapi—“
“Ya udah nggak usah rangkul deh,” ujar Areno seraya menarik tangannya dari bahu Arani. Ia menyadari Arani tidak nyaman. Maka Ia lepaskan rangkulannya.
“Maaf ya, maaf udah bikin nggak nyaman,”
“Okay, nggak apa-apa. Tapi aku nggak usah pakai payung deh, kamu aja,”
“Nanti juga udah basah naik motor,”
“Eh aku bawa jas ujan kok, Ran,”
“Ya udah kamu aja yang ambil motor, dan tolong jemput aku di sini ya?”
“Oh gitu? Ya udah deh, kamu tunggu bentar ya di kantin,” ujar Areno yang akhirnya setuju. Arani tidak mau menggunakan payung berdua karena tidak cukup. Kasihan pada Areno kalau basah lagi akibat payung digunakan olehnya juga.
“Okay aku tunggu di sini,” ucap Arani.
Areno segera berjalan cepat dengan payung yang Ia pegang untuk melindungi kepalanya dari hujan. Ia akan bergegas ke area parkir untuk mengambil kendaraan beroda dua miliknya.
Setelah Ia mengenakan jas hujan, dan naik ke atas jok motornya, Ia ke pos keamanan untuk mengembalikan payung kepunyaan penjaga kampus.
“Pak Agung, makasih banyak ya untuk payungnya,”
“Sama-sama, lho Neng Arani mana?”
“Di kantin, saya jemput di sana,”
“Oh begitu, ya udah hati-hati ya, Mas Reno. Jalanan licin banget itu habis hujan,”
“Okay sip, Pak. Makasih, Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam,”
Areno ke kantin untuk menjemput Arani yang menunggunya di sana. Ia menghampiri Arani yang sudah berdiri menunggu kedatangannya.
“Areno, tolong bawa motornya jangan ngebut ya, hati-hati pokoknya. Aku takut nih, jalanan licin soalnya habis hujan,”
“Iya tenang aja, Aranique,”
Areno beranjak meninggalkan tempat Ia duduk karena ingin mengambil jadi hujan untuk Arani yang segera menerimanya.
“Makasih ya, aku pinjam dulu,”
“Iya, pakai aja, mau dipakai sampai ke dalam rumah kamu juga nggak apa-apa,”
“Alhamdulillah hujan nggak masuk ke rumah aku, Ren. Kamu jangan aneh-aneh deh,”
__ADS_1
“Hahahah bercanda kok, Aracan,”
Arani mengenakan pelindung badannya supaya tidak terkena air hujan. Setelahnya Ia diberikan helm oleh Areno.
“Makasih,”
“Bilang makasih mulu ya ampun, sampai terhura aku tuh,”
“Lebay ah,”
“Ya abisnya ngomong makasih mulu,”
“Wajar dong, aku ‘kan habis terima kebaikan orang,”
“Dah yuk naik, pegangan ya, Ren,”
“Nggak mau deh,”
“Lah kok nggak mau?”
“Ya ngapain? Aku ‘kan bukan anak kecil yang takut jatuh,”
“Ya ampun, kamu nggak pernah liat penumpang pegang pengemudi ya? Hmm?”
“Sering, tapi ‘kan kalau aku nggak mau,”
“Ya udah deh nggak apa-apa, asal kamu jangan ngantuk ya,”
“Nggak, tenang aja,”
Arani naik ke atas motor. Ia duduk tepat di belakang Areno yang sudah siap untuk mengendarai motornya menuju kediaman Arani.
“Ke rumah aku ‘kan, Ren?”
“Iya, kamu takut aku bawa kemana sih? Udah jelas ke rumah kamu lah,”
“Cuma mau mastiin aja, Ren,”
“Tenang, aku antar ke rumah dengan selamat,”
Areno menekan klakson motornya ketika melewati pos keamanan sambil Ia mengangkat satu tangannya pamit pada Pak Agung yang sudah menjadi teman mengobrol sekaligus bercanda nya sejak tadi.
Areno mengendarai motor dengan kecepatan yang normal malah cenderung lambat sesuai dengan permintaan Arani tadi. Ia tidak mau Arani jadi ketakutan.
“Ada kucing tuh, Ren, awas ya jangan nabrak,”
“Iya aku liat,”
Baru juga Arani bicara seperti itu tiba-tiba kucing itu malah berlari ke arah motornya dan itu membuat Areno spontan menggunakan rem secara mendadak.
“Astaghfirullah, Areno!”
“Maaf-maaf, Ran. Aku nggak sengaja, itu dia ngapain sih lari ke sini,”
“Mau bundir kali ya,”
“Maaf ya, aku nggak sengaja, beneran deh,”
Kemudian kucing itu malah berbaring di depan roda motor Areno. “Udah sinting ini kucing. Otaknya dimana sih?! Ngapain coba abis lari, bikin orang kaget, eh sekarang malah rebahan. Sialan lo cing! Punya otak tuh dipake buat mikir, geblek!”
“Areno, sebenarnya yang geblek itu kamu atau kucingnya?” Tanya Arani yang tanpa sadar tadi spontan melingkarkan tangannya di pinggang Areno dan mereka berdua sama-sama belum sadar akan hal itu.
“Ya kucing nya lah. Aku nggak geblek, aku pintar, Ran, kan aku manusia,”
“Kayaknya kamu deh yang geblek,” ujar Arani dengan ketus.
“Lho kok kamu malah ngatain aku sih?”
“Lah, aku bukan ngatain kamu. Aku tanya deh sekarang, emang kucing punya pikiran ya? Dia ‘kan bukan manusia,”
Areno diam baru sadar kebodohannya. Mulutnya bungkam, dan langsung menggaruk keningnya. Arani terbahak karena Areno kehabisan kata-kata.
“Jadi siapa yang geblek dong?”
“Dia lah tetap aja! Aku nggak mau disalahin,”
“Ih tapi dia tuh nggak bisa mikir, Areno,”
“Ya tapi tetap salah lah, dia ngapain nyamperin kita coba? Mana rebahan lagi, dih nggak jelas banget,”
Areno kembali melajukan motor, menjauh dari kucing yang baru saja membuat Areno marah-marah.
Setelah beberapa menit melanjutkan perjalanan, Areno baru sadar kalau Arani melingkari pinggangnya dengan kedua tangan. Areno tersenyum, sambil menunduk untuk melihat tangan Arani yang melingkari pinggangnya,
“Ini dia kayaknya nggak sadar deh, hahahaha senang banget gue anjir! Baru kali ini dipeluk Arani di atas motor uhuy senengnya dalam hati,” batin Areno yang diakhiri dengan berdendang tapi Ia merayakan kebahagiaannya itu diam-diam tanpa Arani tahu. Ia benar-benar kesenangan karena saat ini Arani memeluk pinggangnya.
“Kucing tadi ada gunanya juga. Kalau nggak ada dia, Arani nggak bakal pegangan sama gue nih,”
Areno menahan senyum karena kebetulan Arani melirik ke kaca spion. Arani mengernyit sebentar, ketika melihat Areno seperti tengah menahan senyum.
Seketika Arani sadar bahwa tangannya merengkuh pinggang Areno. Ia langsung melepaskan pinggang Areno tanpa basa-basi.
“Ya Allah, maaf-maaf, aku nggak sengaja, nggak sadar, aku minta maaf ya,”
“Yah, kok dilepas sih? Aku ‘kan senang dipeluk kamu dari belakang,”
“Aku nggak sengaja, aku nggak seharusnya pegangan ke kamu, tadi karena kamu rem mendadak jadinya aku nggak sadar kalau aku peluk kamu, maaf sekali lagi,” ucap Arani yang punya rasa bersalah sebesar itu.
“Astaga, nggak apa-apa banget. Aku malah senang,”
Arani menepuk lengan Areno melampiaskan rasa kesalnya. “Kamu nggak boleh modus dong!” Ujarnya dengan ketus.
“Aku nggak modus, aku ‘kan dibuat senang sama kamu karena dipeluk kamu. Kamu kali yang modus peluk-peluk aku,”
“Ih aku nggak sengaja! Kamu dengar nggak sih? Apa perlu aku copot dulu helm nya?”
“Kamu nggak modus jadinya nih?”
“Nggak lah! Ngapain aku modus sama kamu. Aku nggak mau pegangan sama kamu, tadi aku udah ngomong. Aku nggak sengaja, Areno. Tadi gara-gara kamu rem mendadak, aku jadi pegangan ke kamu,” ujar Arani menjelaskan lagi bahwa Ia tidak sengaja memeluk pinggang Areno. Gara-gara kucing berlari ke arah motor Areno, akhirnya Areno rem mendadak, di detik itulah Ia spontan melingkarkan tangannya di pinggang Areno.
“Udah fokus aja nyetirnya, Ren, jangan mikirin kucing lagi, atau mikirin aku peluk kamu tadi,”
“Iya aku selalu fokus kok, Ran, tenang aja, walaupun sebenarnya sedih sih, kok kamu nggak mau peluk aku lama-lama, minimal sampai rumah kamu lah,”
“Huuu modus! Itu maunya kamu! Nggak boleh modus, Areno!”
“Sekali-kalinya nih dipeluk sama kamu,”
“Itu pertama kali, dan terakhir kali ya, Ren. Aku nyesal juga sebenarnya,”
“Hahahaha kok pertama dan terakhir sih? Kalau kita nikah, kamu nggak mau peluk aku gitu? Hmm?”
“Kamu mikirnya kejauhan tau nggak sih? Udah mikir nikah aja,”
“Nggak jauh lah, umur aku udah legal sebenarnya, jadi kalau nikah sekarang ya nggak apa-apa banget,”,”
“Itu masih muda,”
“Kamu mau nikah muda nggak?”
“Kalau aku sih nikah muda, atau nggak, ya nggak masalah, kapan aja dikasih jodoh, aku pasti terima lah,”
“Berarti kalau jodohnya aku gimana? Terima juga ‘kan?”
Arani menghembuskan napas kasar. Areno kalau sudah mode menyebalkan, terkadang membuat Arani jadi kehabisan kata-kata.
“Jawab dong, Ran,”
“Pertanyaan kamu itu nggak jelas, kamu nyebelin banget sih,”
“Lho, nggak jelasnya dimana coba?”
“Ya emang nggak jelas,”
“Aku ‘kan nanya, kalau aku jodoh kamu berarti kamu terima nggak?”
“Menurut kamu apa?”
“Ya mana aku tau, aku nggak bisa nebak jawaban kamu, Arani cantik,”
“Ya tebak lah coba,”
“Nggak bisa ah, takut salah nebak,”
“Kalau udah jodoh ya aku pasti terima,”
“Asyik senang banget dengarnya,”
********
Areno membantu Arani melepaskan jas hujan dan juga helm setelah tiba di rumah Arani. Kemudian Ia tersenyum menatap Aranu.
“Makasih ya udah mau pulang sama aku, jujur aku senang banget, Tan. Aku bisa bukti ‘kan kalau aku bisa antar kamu ke rumah dengan selamat walau hujan sekalipun,”
“Harusnya aku yang bilang makasih karena ‘kan kamu yang antar aku pulang ke rumah dengan selamat. Makasih udah mau direpotin, oh iya makasih juga popcorn nya ya, pasti aku abisin nih nanti,”
“Siapa bilang ngerepotin? Malah aku senang bisa pulang sama kamu, untuk kamu, nggak usah bilang makasih. Udah cukup aku aja yang bilang makasih. Pulang sama kamu tuh sebuah kebahagiaan besar buat aku, Ran,”
Arani merotasikan bola matanya sambil mencibir “Lebay kamu.” Dan Areno yang mendengar itu terkekeh.
“Nggak lebay dong, emang beneran kok. Itu ucapan yang keluarnya dari hati. Ya udah kamu masuk deh, langsung istirahat ya,” ujar Areno pada Arani yang baru saja pulang bersamanya.
“Makasih sekali lagi,”
Arani senang bisa sampai di rumah dengan selamat. Areno mau saja direpotkan olehnya. Dan kekhawatiran yang sempat ada di hati, kalau-kalau Areno akan berbuat sesuatu kepadanya disaat hujan deras seperti tadi, tidak serius mengantar ke rumah, ternyata tidak terjadi. Areno bisa menepati ucapannya. Entah kenapa Zeline sekarang sulit sekali untuk percaya pada orang karena banyak orang dipercaya malah nusuk dari belakang,”
“Hati-hati, Ren. Nggak usah ngebut bawa motornya. Di jalanan licin lho, habis hujan. Ngebut dikit, bisa kepleset,”
“Iya, Tuan puteri. Makasih udah ingetin aku ya, berasa diperhatiin banget deh sama kamu,” kata Areno seraya tertawa. Padahal sebenarnya wajar saja Arani berpesan seperti itu karena memang jalanan licin sekali selepas diguyur hujan, tapi reaksi Areno bisa dibilang berlebihan. Maklum, jarang sekali Arani berpesan seperti itu kepadanya.
Areno naik lagi ke atas motornya hendak pulang, tapi pintu rumah terbuka menampilkan sosok Helen yang terkejut.
“Alhamdulillah, udah pulang kamu, Ran, eh sama Areno?”
Makin terkejut ketika melihat lelaki yang mengenakan jas hujan juga helm di kepalanya itu adalah Areno.
Areno turun lagi dari motor bahkan melepaskan helm yang Ia gunakan lalu kemudian Ia mencium tangan Shefia..
“Tangan kamu dingin tuh, Daf. Masuk dulu yuk, minum teh hangat,”
“Nggak usah, Tante. Aku mau langsung pulang aja,”
“Makasih udah antar Arani ya, Ren, semoga kebaikan kamu dibalas kebaikan juga sama Alah, aamiin,”
“Sama-sama, Tante. Aku senang banget bisa pulang bareng Arani. Maaf baru sampai sekarang, soalnya nunggu hujan agak reda,”
“Iyalah, Tante paham. Makasih sekali lagi, beneran nggak mau masuk dulu?”
“Iya masuk aja dulu,” ujar Arani yang akhirnya turut mempersilahkan lelaki yang mengantarkannya pulang tadi untuk masuk dulu ke rumah, menghangatkan badannya.
“Nggak deh, Tante, Ran. Aku mau langsung pulang aja. Makasih sebelumnya, takut malah deras lagi hujannya,”
“Ya udah kalau gitu hati-hati ya,” pesan Shefia pada Areno nggak mau yang tersenyum. Ia anggap ini salah satu bentuk usaha mengembalikan kepercayaan orangtua Arani kepadanya, dan menghilangkan asumsi bahwa Ia adalah lelakiyang biasa.
“Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam, hati-hati ya, Ren,”
“Iya, Tante,”
Areno kembali menggunakan helm, dan setelah itu melajukan motor dengan kecepatan yang normal, meninggalkan Arani dan mamanya yang menatap kepergian Areno sampai Areno menghilang dari pelupuk mata.
“Aku nggak jadi pulang sama papa, Ma. Soalnya kasian kalau papa harus belok ke kampus aku dulu, tadi katanya macet banget. Makanya aku minta papa untuk langsung pulang aja ke rumah. Nah aku bisa naik ojek, tapi papa khawatir katanya, ya udah aku bilang naik yang mobil. Eh areno malah ngajakin bareng terus, ya udah akhirnya aku bareng sama dia. Kebetulan emang dia tuh tadinya pengen nungguin aku sampai dijemput sama papa,”
“Iya papa juga cerita tuh ke mama kalau macet banget katanya, ada banjir juga. Masuk yuk, kamu harus mandi air hangat, terus pakai baju yang hangat juga, Ran. Nanti mama buatkan teh atau susu hangat, kamu mau apa?”
“Nanti aku bikin sendiri aja, Ma,”
“Nggak usah, Mama aja. Kamu mau apa?”
“Susu aja deh, Ma. Makasih ya, Ma,”
“Iya sama-sama,”
Helen dan ngadu masuk ke dalam rumah. Helen langsung menyuruh anaknya untuk bergegas ke lantai dua dimana kamarnya berada dan segera mandi.
Begitu tiba di kamar, Arani langsung melepas kaus kaki, meletakkan tas nya di meja dekat sofa, dan bergegas ke kamar mandi.
Ia mandi dengan air hangat selama kurang lebih tiga puluh menit karena sekalian berendam, setelah itu barulah Ia keluar dari kamar mandi.
“Padahal udah pakai jas hujan tapi tetap ngerasa dingin ya. Hawa-hawa dinginnya berasa lumayan nusuk ke badan, air hangat penyelamat banget emang,”
Arani mengenakan baju berlengan panjang, dan celana panjang. Ia menyisir rambutnya, menggunakan body lotion setelah itu turun ke lantai dasar. Ia ke ruang makan, dan di sana melihat mamanya yang sedang duduk di salah satu kursi.
“Susu belum mama seduh takutnya kamu berendam jadi lama mandinya, eh ternyata beneran lumayan lama ‘kan,” ujar Helen seraya beranjak ke dapur untuk menyeduh susu untuk anaknya.
“Mau dibikinin apa lagi, Nak? Pisang goreng mau?”
“Nggak, Ma. Udah cukup susu aja, Ma,”
Arani menghampiri mamanya yang sudah selesai menyeduh susu untuknya. Ia segera mengambil alih.
“Makasih ya, Ma,”
“Sama-sama, minum langsung sampai habis biar perutnya hangat,”
“Mama kok tau aku berendam?”
“Ya soalnya lama, kamu kalau mandi ‘kan nggak lama-lama, kalau agak lama berarti berendam dulu,”
Arani terkekeh mendengar ucapan mamanya yang tahu saja kalau Ia berendam, karena hafal kebiasaannya bila mandi tak pernah menghabiskan waktu lama.
Mereka duduk di ruang makan lagi dengan posisi saling berhadapan. Arani sambil menikmati susu hangatnya sementara Helen mengambil wadah kecil di tengah-tengah meja makan berisi pangsit goreng.
“Nih cemilan, Ran,”
“Nggak, Ma. Aku kenyang, tadi juga aku habis nyemil popcorn “
“Oh di kampus?”
“Iya, dibeliin sama Areno,”
“Kok bisa dibeliin sama Areno?”
“Ceritanya benar-benar lucu deh, Ma,”
“Kenapa? Cerita ke mama coba,”
“Kalau aku sama Arani tadi nungguin hujan reda itu di pos satpam kampus. Nah aku nyeletuk aja, pengen popcorn, padahal itu aku cuma asal ngomong, aku nggak benar-benar kepengen popcorn, eh si Areno bikin aku bingung karena dia tiba-tiba lari keluar dari pos nerobos hujan dan dia bilang mau beli popcorn buat aku. Aneh banget itu orang, padahal aku cuma asal ngomong aja eh dianggap serius sama dia,”
“Hahahah kok sampai segitunya si Areno ya, Kak?”
“Iya makanya aku bingung, Ma. Kok dia sampai neroboso hujan, cuma gara-gara aku nyeletuk pengen popcorn. Aku merasa bersalah, aku pengen nyamperin dia ke kantin kampus tapi aku nggak ada payung akhirnya aku pinjam sama Pak Agung yang kebetulan lagi jaga di pos. Terus aku samperin dia pakai payung, dan dia benar-benar beli popcorn buat aku. Ada dua tuh, kata dia buat aku semua. Ya udah yang satu udah aku makan, yang satu lagi aku masukin tas. Dan kami pulang deh, karena hujan udah reda,”
“Lain kali kamu harus hati-hati kalau ngomong, Nak. Karena ternyata Areno bisa segitunya wujudin apa yang kamu omongin,”
“Iya itu yang aku pikirin, Ma. Aku ‘kan anaknya emang kadang suka asal nyeletuk ya, Ma. Misalnya, ‘Bakso enak nih ujan-ujan’ tapi ‘kan belum tentu aku betulan mau bakso, cuma asal ngomong aja,”
“Areno pikir, perempuan itu ‘kan mainannya kode-kodean, jadi kalau dengar kamu ngomong begitu dianggap kode sama dia,”
Arani menepuk keningnya dengan wajah jengah. Helen tertawa melihat anaknya yang tampaknya masih tak habis pikir dengan apa yang dilakukan Areno.
“Yang bikin aku kaget tuh, dia udah tenang-tenang di pos, eh langsung mendadak lari begitu aku ngomongin popcorn. Aku bingung banget di situ, terus aku juga merasa bersalah. Pengen nyamperin, aku nggak ada payung, untungnya Pak Agung punya. Jadi aku bisa pinjam deh. Niatnya supaya dia pas balik ke pos tuh nggak kehujanan lagi. Eh ternyata agak reda, akhirnya aku suruh dia ambil motor pakai payung itu, sedangkan aku di kantin aja nungguin dia ambil motor, setelahnya kita pulang deh,”
“Macet di jalan?”
“Iya tapi macet dikit aja, Ma,”
__ADS_1
“Nggak tau itu si Areno udah sampai rumah atau belum. Mama makasih banget sama dia karena dia udah mau repot hujan-hujan antar kamu,”