
"Gila masih kasar aja sih Lo!" Ucap Arani saat kepala nya di dorong oleh Areno.
Areno tertawa lepas seraya mengacak rambut Arani hingga rambutnya berantakan.
Arani menepis tangan Areno yang suka sekali membuat rambutnya yang sebelumnya rapih menjadi berantakan seperti singa.
Kebiasaan Areno sama dengan Radi, Papanya Arani. Paling hobi menyalurkan kegemasan melalui rambut. Dan pilihan selanjutnya untuk jadi bahan keusilan mereka adalah pipi berisi Arani.
"Ngomongnya masih aja suka Lo-Gue,"
"Kalau Lo ngeselin ya otomatis gue ngomong kayak gitu. lagipula belum terbiasa. Wajar kali," Dumel Arani dengan bibirnya yang maju.
Areno menggigit bibir bawahnya menahan gemas. Lalu dia menarik kedua pundak Arani dengan lembut untuk menatapnya setelah itu mengapit kedua pipi Arani sehingga wajah Arani tidak jelas bentuknya. Bernapas juga rasanya sulit karena hidung Arani yang kecil tenggelam di antara kedua pipinya yang sedang jadi korban Areno.
"Sakit," Ucap Arani dengan lirih. Wajahnya dibuat sesedih mungkin. Karena untuk melawan Areno tidak bisa dengan kekerasan. Cowok itu akan lebih menyebalkan jika dilawan dengan keras.
"Beneran sakit? Rasain!" Areno mencubit pipi kanan Arani sekali sebelum akhirnya melepas wajah imut yang sudah merah itu.
"Ke Warkong (Warung engkong) Yuk," Areno menaikkan alisnya menatap Arani.
"Ogah," Mata Arani melotot dengan nada bicara yang gak santai.
"Emang kenapa? Kamu kan belum kenal temen-temen aku,"
Pundak arani bergedik.
"Gak mau ah. Ngapain kenalan?"
"Kan Temen aku, Temen kamu juga," Jawab Areno dengan gemas.
Arani tidak pernah mau jika diajak untuk kumpul bersama teman-temannya. Padahal maksud Areno seperti itu agar Arani tidak terlalu kaku bila bertemu dengan Ryan, Jojo, Feri dan teman-temannya yang lain. Seperti apa yang mereka keluhkan pada Areno mengenai Pacar Areno itu yang lebih banyak diam dan kurang bergaul dengan teman-teman di sekolahnya.
"Aku gak berani,"
Areno menahan tawanya di bibir.
"Takut? Mereka gak nyakar, Ran," Canda Areno.
Areno paling senang membuat cewek ini kesal dengan ledekannya.
"Ya aku takut aja sama cowok-cowok kayak gitu,"
Kening Areno mengerinyit dan menatap Arani tak mengerti.
"Kayak gimana maksudnya?"
"Cowok tongkrongan. Aku gak suka karena menurut aku anak kayak gitu cuma biang masalah,"
Wajah Areno langsung masam mendengar ucapan Arani seperti kebanyakan orang yang menganggap anak tongkrongan adalah segala sumber masalah di sekolah.
"Gak kayak gitu kok. Kita emang nakal, Tapi Prinsip kita 'Gak bakal nyenggol, kalau gak di senggol' sampe sekarang masih kita pake."
"Aku gak salah dong kalau nganggep kamu dan temen-temen kamu kayak gitu?"
Areno menoleh pada Arani yang duduk bersebelahan dengannya di kursi taman sekolah. Ia mengusap dahi Arani yang sedikit berkeringat.
Areno menggeleng seraya teesenyum manis.
"Enggak salah. Karena emang semua orang mikir kita kayak gitu. Mereka pikir, Warkong itu tempat nongkrong kita, basecamp kita sehingga kita bisa ngapain aja disitu. Termasuk ngelakuin sesuatu yang bikin Nama baik sekolah ancur. Padahal kenyataannya, Warkong itu cuma tempat bertemunya anak-anak yang di anggep sebelah mata sama dunia. Warkong, kita anggap bukan tongkrongan tapi tempat dimana kita jadi keluarga. Tempat dimana kita yang tadinya gak kenal jadi saling kenal. Kalau gak ada Warkong, Aku mungkin bakal lebih brandal dari sekarang. Karena ada engkong aja yang selalu nasehatin aku kalau aku lagi butuh pencerahan. Dia pemilik warung sekaligus orangtua buat aku sama temen-temen aku,"
Areno menjelaskan seraya menatap dalam mata Arani. Tangannya pun tak bisa diam. Selalu bergerak mengusap kepala gadis itu.
__ADS_1
Arani terdiam lalu mengalihkan pandangannya dari Areno. Cowok itu berhasil membuat Arani salah tingkah tiap kali berdekatan.
"Aku belum tau orang tua kamu," Ucap Arani pelan.
Areno terkekeh lalu menatap Arani dengan jail.
"Kan udah dibilang, Orangtua aku ya Engkong pemilik Warkong,"
Arani menepuk lengan cowok yang gak bisa serius ini.
"Serius,"
"Jangan serius-serius banget kali. Temenan aja dulu,"
Arani merotasi bola matanya. Melipat kedua lengannya ke depan dada lalu mengubah posisi duduknya menghadap ke taman sekolah yang rindang bukan menatap Areno lagi.
Areno menjawil dagu Arani.
"Gitu aja marah,"
"Bodo,"
Areno mencubit-cubit kecil leher belakang Arani yang membuat gadis itu makin Ilfeel.
Karena Arani paling tidak bisa di sentuh leher nya. Pasti langsung berdiri bulu kuduknya.
"Awas ah! Iseng banget sih," Arani berusaha membuat tangan Areno pergi dari lehernya. Ia sudah tak kuat lagi dengan rasa geli yang menyerangnya. Seluruh tubuhnya sudah merinding.
"Untung ya Ria ngasih tau apa kelemahan kamu,"
Arani mengumpat dalam hati. Ria Benar-benar mengajaknya bertarung. Sengaja memberi tau sesuatu yang bisa membuatnya kalah kalau lagi bertengkar.
"Kelemahan kamu apa?"
Arani membuat ekspresi ingin muntah di wajahnya yang membuat Areno tertawa kencang.
"Sok sempurna," Arani mencubit hidung Areno dengan kencang lalu bangkit dari duduknya.
Areno menengadahkan kepalanya untuk menatap Cewek berbadan kecil yang berdiri menjulang di hadapannya.
"Mau kemana? Kan belum jam masuk. Sekarang masih Istirahat. Lagian kan guru-guru lagi pada rapat,"
"Sotoy,"
"Ayuk makan soto. Aku juga laper nih,"
"Apaan sih? Siapa yang ngajak makan soto?"
"Kamu,"
Dahi Arani mengerinyit tak terima.
"Aku gak bilang gitu ya. Aku cuma bilang kalau kamu itu Sotoy. Sotoy yang artinya Sok tau,"
Areno bangun lalu menggenggam tangan Arani.
"Yaudah terserah. Sekarang mending kita makan soto di warkong,"
****** ******
"Lah? Ngapain Arani ke sini?"
__ADS_1
Mata Areno melotot galak pada Jojo yang sedang menatap Arani dari rambut hingga ujung kaki.
"Mata lo gue colok pake bambu nya engkong buat ngambil rambutan nih," Areno mengambil bambu panjang yang berada tak jauh darinya lalu benar-benar mengarahkannya pada Jojo yang kalang kabut.
"Eh kampret lo! Ntar beneran kena mata gue,"
Tangan Jojo berusaha menyingkirkan bambu yang menjadi senjata Areno.
"Bodo amat. Biar sekalian mata lo copot karena gue korek,"
"Ih serem banget sih," Arani menggumam saat membayangkan kalau hal itu benar-benar di lakukan cowok yang lagi sibuk menyodorkan bambu panjang itu pada sahabatnya.
"Udah, Ren." Ucap Feri yang terkenal lebih pendiam jika dibandingkan dengan teman-teman Areno yang lain.
"Biarin aja si bos nyongkel mata si Jojo lagian berani-beraninya natap Arani kayak gitu,"
"Kan Jojo cuma bercanda elah," Bela Feri.
Arani makin bingung berada di tengah-tengah mereka semua. Kenapa jadi saling adu argumen.
"Eh kenapa jadi pada berantem?Gak boleh kayak begitu! Kalian itu temen bukan?" Ucap Engkong yang baru keluar dari rumahnya bersampingan dengan warung miliknya dan mendapati para pemuda itu yang lagi ribut-ribut kecil.
"TEMEN LAH," Ujar mereka semua dengan kompak. Lalu cowok-cowok Ganteng itu saling tatap.
Arani berusaha menahan tawanya saat melihat ekspresi mereka yang aneh.
"Jangan kebiasaan bertengkar terus. Biasanya ribut-ribut kayak gitu yang bisa jadi petaka buat pertemanan kalian,"
"Enggak lah, Kong. Justru kalau gak ribut gak seru," Jawab Areno yang baru saja duduk di tempat biasanya ia merokok dan menyeruput kopi di warkong.
"Heh jangan nahan tawa gitu lo, Ran!" Ucap Jojo dengan nyolot.
Arani langsung terdiam dan berusaha mengatur mimik wajahnya.
"Lo kenapa sih nyari ribut mulu sama Areno? Biarin aja Arani ketawa. Masalah buat lo?"
"Ya enggak Fer. Tapi Arani ngeselinnya sama kayak Areno. Pinter banget nahan tawa kalau gue abis kesusahan, Heran,"
Arani tanpa sadar terkekeh dan hal itu membuat Jojo memutar bola matanya.
"Tuh kan udah dibilangin jangan ketawa masih aja di lakuin,"
"Udah jangan di dengerin. orang gila kalau baru keluar dari Rumah Sakit Jiwa emang begitu kelakukannya." Areno menarik tangan Arani untuk duduk di sebelahnya.
"Maaf deh. Abisnya kalian lucu kalau berantem," Ucap Arani tak enak.
"Ya emang gue lucu. Baru tau lo?!"
Ucapan Jojo yang sangat percaya diri membuat Areno mendengus geli.
"Bulu idung lo lucu!"
"Diem aja dah cula badak! Gue gak ngomong sama lo!" Jojo melempar bungkus rokok kosong yang ada di depannya ke arah Areno.
"Itu panggilan kalian buat Areno?"
Jojo langsung mengangguk sambil membuka bungkus kuaci. Karena sehabis bertengkar juga masih butuh tenaga melalui makan. Makan kuaci pun tak ada masalah kalau uang di kantong lagi menipis daripada gak ada yang di kunyah. Begitulah pemikiran Jojo. Simple memang.
"Enggak!" Seru Areno sambil menggeleng pada Arani.
"Terus kok Jojo manggil kamu gitu?"
__ADS_1
"Lah emang dia cula nya badak. Kalau cula Banteng terlalu keren buat Areno. Cula badak juga suka nyeruduk kayak cula banteng. Areno kan punya penyakit nyeruduk orang. Lo obatin deh tuh sebagai calon apoteker yang baik,"