Kisah Anak Farmasi

Kisah Anak Farmasi
Bab 27


__ADS_3

“Makasih ya udah mau terima ajakan aku untuk makan siang bareng. Sumpah, aku senang banget tau. Jarang ‘kan kamu mau diajak makan berdua,”


“Iya sama-sama, aku juga senang,”


Areno meraih tangan Arani kemudian Ia genggam dengan begitu erat. Areno tersenyum menatap Arani yang saat ini gugup.


“Kenapa sih? Kok ngeliatin aku kayak gitu?”


“Nggak apa-apa, aku senang aja ngabisin waktu berdua gini sama Aranique yang jutek, galak, ketus, ya pokoknya—“


“Sebutin aja semuanya,” ujar Arani. Dengan nada kesal Ia memotong ucapan Areno.


“Hahahaha nggak-nggak, aku cuma bercanda kok. Kamu tuh baik banget, asli deh nggak bohong, cuma emang kadang galak aja sih, tapi dikit. Walaupun galak, tapi aku tetap sayang, seriusan ini, nggak bohong,”


Arani merotasikan bola matanya. Areno tahu saja bagaimana mengembalikan suasana hatinya.


Areno tidak mau kalau Arani jadi badmood karena Ia menyampaikan kejujurannya. Memang terlalu jujur itu kadang menimbulkan malapetaka. Contohnya barusan, Ia jujur kalau kekasihnya itu galak, tapi Arani tidak mau dibilang begitu. Mukanya langsung merengut.


Makanan yang mereka pesan sudah datang, dan keduanya kompak berdoa sebelum mulai mengisi perut.


“Aku tadi agak deg-degan juga tau,”

__ADS_1


“Kenapa?”


“Ya takut nggak dibolehin sama Papa kamu mau ngajak kamu keluar bentar untuk makan,”


“Boleh, ‘kan cuma sekedar makan. Papa percaya sama anaknya ini,”


“Dan percaya sama aku juga dong kalau gitu?”


Arani mengangkat kedua bahunya. Ia tidak bisa memberikan jawaban pasti. Tapi yang jelas, sejak tahu kalau Ia punya hubungan khusus dengan Areno, kedua orangtuanya tetap selalu mengingatkan Ia untuk menjaga diri, tapi tidak menentang juga Ia mau dekat dengan siapa selagi itu wajar.


“Adek kamu kayaknya setuju ya kita pacaran?”


“Beuh, dia mah bukan lagi. Kalau kamu bikin komunitas fans, itu dia bakal daftar pertama kali deh kayaknya,”


“Kenapa kamu ngomong kayak gitu?”


“Ya karena kenyataannya, Ria emang fans kamu. Ngefans berat deh pokoknya,”


“Kok gitu?”


“Ya karena dia tuh suka belain kamu, kayak lebih sayang sama kamu ketimbang aku yang kakak kandungnya sendiri. Ih aneh banget ‘kan? Mana kayaknya setuju banget lagi aku punya pacar dan pacarnya itu kamu,”

__ADS_1


Areno langsung menepuk kedua tangannya sekali dan menatap Arani dengan wajah sumringah.


“Wah bagus dong kalau gitu,”


“Bagus darimana? Aku yang kadang kesal. Aku tuh iri karena dia suka belain kamu, suka muji kamu, ih pokoknya kayak fans deh,”


“Berarti udah cocok ya aku jadi abang iparnya,”


“Eh dia pernah ngomong kayak gitu di depan Mama Papa. Padahal ‘kan itu masih jauh, tapi dia—“


“Bagus, berarti satu suara udah aku pegang, tinggal suara-suara yang lainnya. Berarti aku emang cocok jadi abang iparnya Ria. Mulai besok aku panggil dia Dek biar lebih akrab,”


Arani memasang ekspresi aneh ketika Areno berkata seperti itu. Apa tidak makin girang adiknya itu ketika dipanggil dengan sebutan ‘Dek’ itu yang Arani gunakan kalau memanggil adiknya.


“Apaan sih, sok akrab banget kamu,”


“Lho, justru biar akrab, aku mau panggil Ria dengan sebutan ‘Dek’. Aku ‘kan anggap dia kayak adik aku sendiri,”


“Nggak-nggak, Ria adik aku, jangan ngaku-ngaku deh kamu,”


“Walaupun adik ipar, tapi aku bakal anggap dia kayak adik aku sendiri,”

__ADS_1


Arani geleng-geleng kepala. Areno kalau bercanda, bisa jauh juga ya. Ria senang disebut adik ipar begitu. Memang sepertinya mau Ria itu, kakak satu-satunya bersama Areno yang dia sebut dengan ‘Babang tamvan’ itu.


__ADS_2