Kisah Anak Farmasi

Kisah Anak Farmasi
Bab 49


__ADS_3

“Ya ampun, ada-ada aja ni mobil ya,”


Radi langsung keluar dari mobilnya ketika di tengah perjalanan menjemput Arani, mobilnya malah mogok.


Ria dan Helen menghela napas kecewa juga. Belum lama meninggalkan komplek perumahan mereka, mobil sudah mati saja.


“Udah minta diganti sama mobil baru kali, Pa,”


“Ini masih baru kok, Dek. Dia tahun ‘kan ini,” jawab Helen karena suaminya tentu tidka bisa dengar ucapan anak bungsunya karena Radi sedang mengecek keadaan mesin di bagian depan mobil.


“Iya juga ya, tapi mungkin mau diganti ke versi lebih baru kali, Ma,”


“Orang punya dua lagi di rumah. Ngapain beli lagi? Lagian ini mah cuma eror aja bentar, paling begitu diutak-atik sama teknisi langsung normal lagi. Ini dia lagi mau dimanja aja, lagi mau ngadat,”


“Iya ih padahal kita lagi mau jemput kakak. Aku nggak sabaran ketemu kakak. Kita naik mobil online aja deh, Ma,”


“Ya terus mobil ini mau diapain?“


“Ya tinggal aja, ntar Papa minta tolong orang jemput mobilnya,”


“Tunggu Papa dulu deh,” ujar Helen yang tidak mau ambil keputusan sendiri. Ia harus meminta pendapat suaminya dulu.


Begitu Radi masuk mobil, Heleh dan Ria langsung bertanya penasaran dengan hasil pemeriksaan yang baru saja dilakukan oleh Radi.


“Ini Papa coba dulu ya,”


“Okay senoga berhasil ya, Pa,”


“Aamiin,”


Radj langsung menstarter mobilnya namun tidak berhasil nyala. Radi berdecak lalu keluar lagi dari mobil.


“Kasian Papa, dikerjain sama nih mobil. Udah deh buang aja yang nggak guna gini. Bikin orang repot aja deh,”


“Main buang-buang aja ya. Ini bukan mobil mainan, anakku yang cantik jelita,”


“Ya abisnya aneh-aneh aja. Segala ngadat sih. Padahal aku ‘kan pengen secepatnya jemput kakak,”


“Lagian kakak juga belum sampai, Nak. Sabar dulu, kita nunggu instruksi dari Papa aja,” ujar Helen yang ragu juga mengajak suaminya menggunakan jasa transportasi online karena suaminya belum bicara ke arah sana.


Beruntungnya Radi berhenti di pinggir jalan yang tidak begitu ramai. Coba saja kalau di tempat ramai dan di tengah-tengah jalan, sudah dipastikan berisik dengan klakson kendaraan lain atau bahkan ada yang mengamuk juga karena perjalanannya diganggu.

__ADS_1


Radi masuk lagi ke dalam mobil dan kembali menstarter. Kali ini berhasil. Ria dan Helen langsung tersenyum senang. Terutama Ria yang sebelumnya sudah merengut karena perjalanannya ke sekolah sang kakak harus diganggu oleh mobil yang tiba-tiba berhenti.


“Alhamulillah bisa, Ma,”


“Iya Alhamdulillah, Pa. Ayo kita lanjut perjalanannya,”


“Papa, tadi aku udah sempat kesal aja tuh. Aku bilang ke Mama, ini mobilnya buang aja udah nggak guna. Masa rajin dirawat tapi tiba-tiba mati sih? Nggak jelas banget,”


“Ya namnya juga mesin, Nak. Kadang suka eror dikit tapi Alhamdulillah bisa nyala normal lagi ‘kan,”


“Pa, mungkin Papa disuruh ganti mobil kali ya sama mobil ini,”


“Kamu jangan hasut Papa ntar kalau Papa beli, ada denat dikit sama Mama,”


“Hahahaha sabar ya, Pa,”


“Ih aku tuh mempersebatkan bukan karena aku pelit atau apa, Pa. Tapi kamu ‘kan punya mobil nggak cuma satu. Ngapain beli lagi ‘kan? Udah cukup lah sama apa yang dipunya, jangan nurutin mau, Pa. Karena kemauan manusia itu nggaka kan pernah habis. Kecuali kalau udah did alam tanah. Itu barulah waktunya manusia nggak punya kemauan lagi. Selagi masih hidup pasti punya kemauan, nah kalau nurutin kemauan nggak akan pernah selesai karena bakal ada yang baru dan baru tiap waktunya, terus kalau Papa ikutin semua tuh kemauan Papa bisa-bisa Papa susah makan,”


“Iya makasih selalu jadi rem Papa kalau mau beli kendaraan ya, Ma,” ujar Radi sambil mengusap lbut tangan istrinya. Niat hati ingin menggenggam tapi ada anak mereka.


“Udah nggak apa-apa lanjut aja gandengan tangannya. Aku nggak liat kok,” ujar Ria smabil menutup matanya ketika melihat sang papa hampir menggenggam tangan mamanya namun tidka jadi dan Ria menebak itu karena ada dirinya yang duduk di kursi tengah.


“Hahaha anak ini pintar banget ngeledeknya ya,”


“Emang siapa yang anggap kamu pengganggu, Sayang? Hmm? Nggak ada? Papa aja yang malu pegang tangan Mama,” ujar Radi.


“Papa kamu gengsi, Dek,”


“Papa jangan gengsi, malu tuh sama Bang Aren yang nggak pernah gengsi,”


“Cowok emang begitu rata-rata. Emang kamu tau darimana kalau misal Bang Aren nggak gengsi?”


“Dia kayaknya tipe yang nggak gengsi deh, Pa. Nggak tau ya kalau misalnya cuma kadang-kadang doang. Tapi ‘kan beberapa kali ketemu aku kalau dia ke rumah, nah yang dia tanyain itu pasti kakak. Terus dia bilang kangen sama Arani makanya datang ke rumah. Padahal ‘kan di sekolah juga ketemu ya? Kenapa kangen coba? Mana suka beliin makan lagi kalau tau kakak belum makan atau nugas. Bang Aren itu perhatian juga kalau diliat-liat ya,”


“Ya semoga selamanya begitu ya sama Kakak. Mama Papa cuma bisa doain yang terbaik aja,”


“Mama Paoa setuju nggak sih sama Bang Aren?”


“Ya kalau nggak setuju, udah Mama Papa minta pergi dari rumah dengan cara baik-baik. Lah selama ini apa? Nggak pernah kita minta dia pergi, kamu sendiri juga bisa nilai ‘kan?”


“Hmm iya sih, Mama Papa keliatannya nerima Bang aren dengan tangan terbuka. Bang Aren asyik juga orangnya,”

__ADS_1


“Iya fans nya Bang Aren,”


“Selain oppa-oppa korea aku ngefans sama Bang Aren, aku dukung Bang Aren langgeng sama kakak. Karena yang aku liat Bang Aren baik, tapi kalau dia jakat, ya aku nggak dukung lah,”


“Pernah tanya ke kakak nggak Bang Aren jahat atau baik, tanya coba,”


“Udah, dijawab ya baik mulu, ya sesuai sama yang aku liat. Eh kalau Bang Aren jadi calon mantunya Mama Papa gimana?”


“Ya ampun anak ini jauh bener omongannya ya,”


Radi tertawa mendengar ucapan istrinya yang tak habis oikir sebab anaknya sudah terlalu jauh berpikir. Masalahnya Arani dan Areno saja masih sekolah.


“Dek, tau ‘kan kalau Kakak sama Bang Aren itu maish sekolah?”


“Hehehe tau kok, Ma,”


“Nah ya udah jangan mikirin calon mantu atau nikah segala ah. Kamu ember deh mulutnya, itu bukan obrolan anak SMP tau,”


“Iya deh, Ma,”


“Doain aja yang terbik untuk kereka ya, Nak,”


“Iya, Pa,”


Obrolan mereka berakhir karena mereka sudah tiba di sekolah Arani. Belum ada tanda-tanda bus sudah datang. Sejauh mata memandang belum ada bus yang digunakan untuk kegiatan sekomah kali ini ke Jawa barat.


“Alhamdulillah kita nggak telat datangnya,” ucap Helen.


“Iya Alhamdulillah aku senang deh kita nggak telat, tadi sempat takut kakak udah terlanjur sampai duluan eh tapi ternyata nggak,”


“Kira-kira kakak udah dimana ya? Coba aku tanya ah,”


Ria segera menanyakan keberadaannya kakaknya melalui pesan singkat. Ia penasaran kakaknya sudah sampai dimana.


-Kak, aku sama Mama Papa udah di sekolah. Kakak dimana? Hati-hati ya, Kak-


******


“Okay guys bentar lagi kita sampai ya,”


Arani dan teman-temannya banyak yang tertidur dalam perjalanan. Yang tidur salah satunya adalah Arani.

__ADS_1


Begitu dibangunkan karena sebentar lagi bus akan sampai, Arani tersenyum bahagia. Ia sudah benar-benar merindukan keluarganya.


Arani kebetulan mendapati pesan dari adiknya dan Ia langsung membalas pesan tersebut. Setelah itu menyimpan ponselnya ke dalam saku celana.


__ADS_2