
"Maaf non ganggu. Saya cuma mau kasih tau kalau Den Areno udah nunggu non di ruang tamu."
Bik imah mengetuk pintu kamar Arani. Arani yang sangat tertidur pulas, masih belum mengumpulkan seluruh nyawa Arani. Arani tadi dengan samar mendengar ucapan bik imah. Dengan mata yang masih tertutup Arani membuka pintu kamarnya.
"Kenapa, Bik?"
Tanya Arani pada bik imah. Mata Arani masih juga belum terbuka. Arani sepertinya, masih terbawa ke alam mimpi. Arani belum berhasil mengumpulkan seluruh nyawanha.
"Ada Den Areno di bawah. Dia sudah menunggu non di ruang tamu,”
Yup, ucapan bik imah berhasil membuat nyawa Arani terkumpul kembali. Arani langsung membuka mata. Kaget? Ya itu lah Arani rasakan. Sepertinya, tidak ada tanda kalau Areno ingin datang di ke rumah Arani. Ia bahkan sama sekali tak mengirim pesan untuk Arani? Sebenarnya ada apa?
"Ngapain Areno kesini?"
Tanya Arani pada bik imah.
"Bibik juga kurang tau non. Tapi Den Areno bilang sama bibik, kalau dia mau ngajak non Arani jalan,"
Jalan-jalan? Tidak salah dengar? Setelah mendengar ucapan bik imah, aku langsung bergegas turun ke lantai bawah untuk menghampiri Areno.
"Hai,"
Areno langsung menyambut Arani yang sedang menuruni anak tangga.
"Kamu ngapain kesini?"
Arani langsung memberikan pertanyaan untuk Areno. Tanpa memperdulikan say hai darinya tadi.
"Nggak boleh ya? Maaf deh kalau aku ganggu kamu. Ya udah kalau gitu aku pulang aja deh."
Arani hanya bertanya. Tapi sepertinya dia sudah merasa mengganggu waktu Arani. Saat ia sudah selesai memakai jaket kulit miliknya dan hendak pergi, dengan sigap Arani menahan pergelangan tangannya.
"Kan aku cuma nanya. Dih baper banget si jadi cowok."
Aku langsung melipat kedua tangan Arani di depan dada.
"Oh kamu cuma nanya? Kirain aku, kamu ngerasa terganggu dengan kehadiran aku disini."
Kini Areno menangkup wajah Arani menggunakan kedua tangannya. Agar Arani menatap nya.
"Jangan marah kali. Aku kan nggak tau. Kalau kamu cuma nanya,”
Lanjut Areno sembari masih memegang wajahku. Ia mengelus pipi Arani dengan lembut.
"Aku mau ngajak kamu jalan. Mau nggak? Nggak mau ya?"
Kini Areno bertanya pada Arani.
Arani menoleh padanya. Dan menatapnya tajam. Arani sengaja, supaya dia mengira Arani masih marah padanya. Padahal Arani tak marah lagi dengan nya.
"Nggak!"
Ucap Arani tegas. Arani masih menjauhi Farel. Arani melihat ekskresi Areno yang langsung berubah. Kini wajahnya cemberut. Sepertinya aku tak mampu lagi menahan tawaku di dalam hati. Karena melihat wajah cemberut milik Areno,, yang menurutku sangat menggemaskan. Tapi tidak mengurangi kadar ketampanan nya. Setelah beberapa saat menahan tawa, akhirnya tawaku kelas juga. Arani tertawa, Areno hanya menatap dengan tatapan heran sembari ia mengerinyitkan dahinya.
"Kok kamu ketawa? Tadi perasaan marah,”
Ucap Areno setelah tawanya mulai reda.
"Abisnya, muka kamu lucu kalau lagi cemberut. Aku kira, aku doang yang bisa cemberut. Ternyata kamu juga bisa. Malah aneh banget kalau lagi cemberut."
Ucap Arani yang kini sudah Melihat ekspresi wajah Areno yang lucu tapi aneh membuat Arani tertawa.
"Oh. Kirain aku, kamu sakit,”
Ucap Areno padaku sembari memegang dahiku. Arani langsung memukul pelan lengan Areno dan mencubit pinggangnya.
"Maksud kamu, aku gila? Enak aja. Ya udah aku ngambek lagi sama kamu."
Ucapku sembari ingin berlalu dari Areno untuk kembali ke kamar Arani. Tapi dengan cepat ia menahan lengan Arani.
"Jangan marah lagi sama aku please. Mendingan kita jalan sore. Daripada marahan? Kamu mau ya? "
Kini Areno kembali mengajak Arani.
"Nggak,”
Ucap Arani pada Areno . Tapi kini sembari cekikikan.
"Iya.. Iya aku mau. Aku cuma bercanda. Jangan baper jadi cowok,”
Ucap Arani pada Areno sembari mencubit pipinya dengan gemas.
"Serius kamu mau? Ya udah kamu siap-siap ya. Aku tunggu di sini yaa,”
Ucap Areno dan Arani balas dengan anggukan. Kemudian, Arani bergegas menuju kamar Sangat jarang Arani jalan sore, dulu Arani sering jalan sore dengan kedua orang tua Arani, sebelum mereka sesibuk ini. Tapi kini, jangankan jalan sore. Ketemu aja jarang banget. Arani memutuskan untuk segera mandi. Lalu Arani mengenakan gaun santai yang panjang nya sampai lutut. Ini gaun santai favorite milik Arani. Ini pemberian mama pada saat Arani ulang tahun yang ke enam belas tahun. Gaun ini berwarna pink pastel, warna kesukaan Arani. Dengan Hiasan bunga perpaduan warna antara putih dan pink magenta yang warnanya sedikit lebih terang di banding pink pastel.
"Cantik,"
Gumam Areno. Walaupun suaranya sangat pelan, tapi Arani bisa mendengar nya dengan jelas. Karena sekarang Arani sudah berada di hadapan nya.
"Ayo berangkat. Aku udah siap nih"
Arani menggandeng tangan Areno. Tapi Arani merasa kalau Areno tak mengikuti Langkah Arani. Dia hanya berdiam di posisi nya dengan mematung.
"Kok malah bengong? Ayuk berangkat,”
Arani kembali menggandeng tangan Areno.
"Kamu cantik banget. Aku nggak salah pilih,”
Ucapan Areno kembali membuat wajah Arani merah merona.
"Kamu bisa aja. Kamu juga ganteng. Ya udah, ayo berangkat"
Kali ini Areno mengikuti langkah Arani setelah tangan nya kembali Arani tarik dengan pelan.
"Kita naik mobil?"
Tanya Arani pada Areno , ketika kita sampai di depan rumah. Di sana sudah terparkir mobil sport berwarna biru. Sepertinya ini bukan mobil yang Areno bawa waktu diner bersama Arani. Karena mobil yang ia bawa waktu dinner dengan Arani, berwarna merah. Areno hanya mengangguk sembari tersenyum.
"Kenapa nggak naik motor? Kan lebih seru,”
Arani kembali bertanya pada Areno . Dan kini ia menangkup wajah Arani dengan kedua tangannya secara lembut.
"Pacar aku ini ternyata agak tomboy ya. Masa mau naik motor mulu. Lagian ini udah sore, aku nggak mau kamu sakit karena kena angin sore menjelang malam ini,”
Ucap Areno dengan lembut memberi pengertian padaku. Lalu Ia membukakan pintu mobilnya , mempersilahkan aku masuk. Di dalam mobil suasana hening menyeruak di antara kami. Areno fokus dengan menyetir mobil, sedangkan Arani fokus melihat pemandangan sore hari lewat jendela mobil Areno ini. Sesekali Arani melihat Areno melirik Arani sembari tersenyum. Hingga akhirnya Arani berusaha memecahkan suasana hening ini dengan pertanyaan.
"Baru lagi?"
Tanya Arani pada Areno. Areno melirik Arani dengan memperlihatkan wajah bingung nya.
"Baru? Maksudnya?"
Tanya Areno tak mengerti, sembari ia masih fokus dengan mengendarai mobil nya.
"Mobilnya,"
Arani menjawab kebingungan Arani. Lalu Areno tersenyum tipis mendengar pertanyaan Arani.
"Bukan punya aku. Tapi punya orang tua aku,”
__ADS_1
Jelas Areno padaku Arani hanya mengangguk paham. Setelah itu Areno mengelus pucuk kepala Arani.
"Tapi aku nggak mau ngerepotin kamu. Aku jadi nggak enak hati sama kamu dan orang tua kamu. Kamu seharusnya nggak perlu bawa mobil orang tua kamu. Apalagi ini bukan mobil biasa. Ini kan mobil mahal. Aku naik apa aja mau kok, asalkan sama kamu, jiahh sa ae,”
Ucap Arani pada Areno sambil terkekeh. Arani rasa dengan Areno meminjam mobil orangtuanya, itu sangat membuatnya merasa tak enak hati. Arani merasa telah merepotkan Areno.
"Kamu nggak ngerepotin aku, Ran. Menurut aku ini wajar kok. Kamu nggak perlu merasa nggak enak gitu sama aku dan orang tua aku. Lagi pula orang tua aku juga nggak merasa direpotkan. Kamu tau nggak dulu itu aku punya mantan. Mantan aku itu mau nya banyak banget. Beda sama kamu yang nggak pernah minta apapun sama aku. Makanya aku putusin dia, karena aku udah lelah dengan semua permintaannya. Dan orang tua aku juga nggak setuju kalau aku pacaran sama dia. Kata orang tua aku , dia gak pantas untuk aku. Karena cuma mau harta aku aja. Dia nggak benar-benar cinta sama aku. Lagian cuma cinta monyet juga sih, tapi banyak maunya dia."
Jelas Areno padaku sembari sesekali melirik ke arah Arani dan kembali fokus menyetir .
"Kamu udah cerita sama orangtua kamu, tentang hubungan kita ‘kan? Terus gimana reaksi mereka?” Baru kali ini Arani bertanya mengenai hal ini, karena topik nya pas dengan apa yang mereka bicarakan
"Udah kok. Mereka seneng banget Aku bisa punya pacar kayak kamu. Mereka juga tau , kalau kamu itu nggak banyak mau nya. Aku kadang suka nggak enak sama kamu. Soalnya aku nggak pernah ngasih apapun sama kamu. Hanya fasilitas kayak gini aja yang pernah aku kasih. Itu juga nggak setiap hari aku jalan sama kamu pake mobil kayak gini. Kalau mantan aku dulu, dia udah dapat semuanya dari aku. Antar jemput, dijajanin, barang dan lainnya. Tapi kalau kamu? Kamu nggak pernah dapat apapun dari aku. Sebenarnya bukan masalah ikhlas atau ungkit-ungkit ya cuma kalau ingat itu aku merasa dimanfaatin aja, ya walaupun aku udah ikhlas sih. Aku kalau udah suka, bahkan bucin ke orang tuh emang suka kelewatan,” jelas Areno pada Arani.
"Aku dapat cinta dari kamu, itu udah lebih dari cukup buat aku. Aku cinta sama kamu, bukan karena harta kamu. Tapi aku cinta sama kamu, karena kamu udah rela ngasih sayang kamu, cinta kamu, perhatian kamu dan nyawa kamu untuk aku. Makasih ya kamu udah kasih semua itu buat aku,”
Balas Arani dengan tulus sembari menatap wajah Areno yang sangat tampan itu.
"Kamu nggak perlu bilang makasih sama aku. Itu memang kewajiban aku, sebagai orang yang sama kamu."
Ucap Areno tak kalah tulus. Dia juga menatap wajah Arani sejenak karena ia masih harus fokus menyetir dan mengelus pucuk kepala Arani dengan lembut.
"Udah sampe,"
Ucapan Areno membuat Arani tersadar dari tatapanku saat memandangi wajah Areno.
"Oh udah sampe ya? Ya udah turun yuk,”
Ucap Arani pada Areno. Dan Areno hanya membalas dengan senyum manisnya. Setelah itu, ia keluar dari mobil membukakan pintu mobilnya untuk Arani.
"Makasih,”
Ucapku pada Areno sembari tersenyum memperlihatkan gigi rapi milik Arani setelah ia membukakan pintu mobil itu untuk Arani.
"Sama-sama, Princess,"
Balas Areno sembari mengacak pelan pucuk kepala Arani.
"Wow"
Itu kata yang mampu mewakilkan perasaan Kagum pada taman yang sangat indah ini. Arani sangat terlalu melihat pemandangan di taman ini. Arani sangat kagum.
"Kamu suka?"
Tanya Areno pada Arani yang masih terpukau dengan keindahan taman ini. Banyak bunga yang tumbuh di taman ini. Warna-warni bunga membuat taman ini makin indah. Udara di sini juga sangat segar. Banyak rerumputan hijau yang tumbuh sangat rapi di sini.
"Banget"
Jawab Arani singkat. Tapi Arani masih terfokus dengan taman ini. Arani dan Areno masih menyusuri taman yang sangat luas ini. Tidak ada sedikitpun lahan yang kosong. Semua kahan sudah di tim uji oleh bunga yang indah nan cantik.
"Indah,”
Gumam Arani pelan. Sembari masih terpukau dengan keindahan yang di sajikan taman ini.
"Keindahan taman ini nggak ada apa-apa nya di banding keindahan kamu."
Arani langsung menoleh ke asal suara. Ternyata Farel yang mengucapkan kalimat itu. Arani pikir, tadi dia tak mendengar ucapanku. Arani hanya melempar senyum padanya.
"Kita duduk yuk. Aku capek nih,”
Ucap Areno sembari menahan lengan Arani yang dari tadi terus menyusuri taman ini bersama Areno.
"Ya udah, Tapi kita duduk dimana?"
Arani bertanya pada Areno. Sembari melihat keadaan sekitar. Samaku akhirnya Arani melihat bangku taman yang kosong.
"Gimana kalau kita duduk di sana aja?"
Ucap Arani pada Areno sembari menunjuk ke suatu arah yang terdapat bangku tamannya. Areno yang tampaknya masih mencari tempat duduk, langsung mengikuti arah yang Arani tunjuk. Lalu ia mengangguk setuju.
Ucap Arani pada Areno.
"Aku juga seneng bisa bawa orang yang aku cinta ke tempat ini. Maaf yaa. Mungkin selama ini aku udah buat kamu kesel, buat kamu marah,"
Ucap Areno pada Arani. Lalu Arani mendongakkan kepala Arani agar bisa menatapnya.
"Terimakasih ya, Selama ini kamu menganggap bahwa aku adalah utusan Tuhan yang pantas kamu bahagia kan. Tapi kalau ternyata utusan Tuhan itu bukan aku gimana? Apa kamu akan merasa nyesel karena udah membuat aku bahagia?"
Arani kembali berbicara sembari mendongakkan kepalaku agar bisa menatapnya lagi. Karena memang sekarang Arani masih dalam dekapannya.
"Apa kamu pikir sebelumnya matahari tau kalau dia adalah utusan Tuhan untuk menemani pagi? Apa kamu juga berpikir bintang tau sebelumnya kalau dia di takdir kan Tuhan untuk menjadi teman nya malam. Nggak kan? Yang mereka tau, mereka harus membuat teman hidupnya tak merasa sendiri. Mereka harus membuat teman hidupnya bahagia.Mereka juga tak pernah menyesal dengan apa yang telah mereka berikan pada teman hidupnya. Buktinya matahari tak pernah berhenti menyinari pagi, bintang juga tak pernah berhenti untuk menemani malam.Walaupun nantinya mereka tak tahu akan takdir."
Ucap Areno tulus sembari menatap mata Arani dalam. Kami kembali menikmati suguhan keindahan yang diberikan oleh taman ini.
*****
Kini hari sudah berganti menjadi malam. Arani mengusap lenganku sendiri. Rasa dimgin sudah mulai menusuk kulit Arani.
"Kamu dingin ya?"
Tanya Areno pada Arani . Lalu ia melepas jaket kulit berwarna hitam miliknya, dan memakaikannya di tubuh Arani. Lalu Ia mendekap tubuh Arani agar tak merasakan dingin lagi. Arani sangat merasa hangat dalam pelukan laki-laki yang sangat aku cintai ini.
"Kita pulang ya,”
Ajak Areno pada Arani dan Arani membalasnya dengan anggukan. Setelah itu Areno menggandeng tangan Arani menuju area dimana mobil Areno terparkir. Areno membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan Arani masuk.
"Maaf ya. Karena aku ngajak kamu ke taman ini, jadi kamu dingin deh. Tahan sebentar yaa dinginnya,”
Ucap Areno lembut dengan rasa bersalah yang menyertainya.
"Kok minta maaf? Aku kan seneng di ajak jalan. Ini bukan salah kamu kok. Aku emang Gak kuat dingin,”
Jelas Arani pada Areno dengan lembut. Farel hanya melirik ke arah Arani. Sepertinya ia khawatir dengan keadaan Arani. Padahal Arani hanya dingin. Bukan karena penyakit parah. Segitu khawatirnya dia pada Arani.
"Udah sampe. Turun yuk, Aku anter kamu masuk ke dalem."
Ucap Areno pada Arani. Arani hanya mendengarnya samar. Tak ada jawaban sama sekali yang keluar dari mulut Arani.
"Sayang... Heii . Kita udah sampe sayang di rumah kamu,”
Lagi-lagi Areno mengelus pipi Arani lembut, ia berusaha membangunkan Arani. Tapi mata Arani sangat enggan sekali terbuka. mulut Arani tak juga menjawab. Arani sangat mengantuk dan tak ingin membuka mata Arani sama sekali. Meskipun tidur Arani sangat lelap, tetapi Arani bisa mendengar suara Areno. Arani juga sekarang bisa merasakan kalau tubuh Arani sedang digendong oleh seseorang. Arani mengerjapkan mata Arani berusaha melihat siapa yang telah menggendong Arani. Ternyata adalah Areno. Setelah membuka mata sebentar, bodohnya, aku justru melanjutkan tidur Arani. Entah kenapa Arani sangat malas sekali untuk bangun dari tidur manja! Ya mungkin Arani memang manja dengan Areno.
"Ya ampun Den Areno ada apa sama non Arani? Non Arani sakit?"
Arani bisa mendengar samar suara bik imah. Arani masih sangat enggan sekali membuka mata Arani.
"Enggak kok, Bik. Arani cuma tidur. Kamarnya Arani mana ya bik? Areno boleh antar Arani ke kamarnya?"
Areno meminta izin pada bik imah. Areno memang sama seperti Arani sangat menghargai bik imah.
"Boleh Den. Ayo bibik antar,”
Ucap bik imah di ikuti Areno yang mengekori bik imah.
"Ini Den kamarnya non Arani. Silakan masuk,"
Kini mereka sudah sampai di ambang pintu kamar Arani.
"Iya bik. Makasih ya bik,”
Balas Areno. Lalu segera membawa Arani ke dalam kamar milik Arani yang sangat luas ini . Arani bisa merasakan tubuh Arani telah di letakkan oleh Areno di ranjang queen size milik Arani.
__ADS_1
"Good night, Ran,”
Arani bisa mendengar ucapan Areno lagi dan masih samar. Setelah itu Arani juga bisa merasakan kalau dahi Arani telah di usap lembut oleh Areno.
****
"Pagi, Non. Silakan dinikmati sarapannya ya non."
Sambut bik imah pada Arani yang sedang menuruni anak tangga.
"Iya bik. Makasih ya bik,”
Ucap Arani pada bik imah. Bik imah hanya membalas dengan anggukan sembari tersenyum.
"Oh iya aku baru ingat bik. Selesai jalan kemarin sore, Masa semalam aku mimpi digendong Areno masuk ke rumah sampai kamar aku, "
Ucapku pada bik imah, Setelah Arani mengingat mimpi Arani semalam.
"Itu bukan mimpi non. Tapi kenyataan. Semalam Den Farel memang menggendong non masuk ke dalam kamar non. Karena non tidurnya pulas banget,”
Ucapan bik imah berhasil Membuat Arani terbatuk saat menyantap sarapan.
"Pelan-pelan, Non. Ini minum dulu."
Ucap bik imah sembari menyodorkan segelas susu hangat.
"Makasih bik,”
Ucap Arani yang batuknya sudah mulai mereda.
"Tapi bibik serius ? Areno beneran gendong Arani? Ternyata itu bukan mimpi ya?"
Ucap Arani sembari menggaruk tengkuk Arani yang tak gatal karena malu. Arani kira, kalau semua itu mimpi.
"Bibik sangat serius, Non. Awalnya bibik kira terjadi sesuatu sama Non. Karena bibik liat non sudah ada di gendongan Den Areno. Tapi ternyata, kata Den Areno, non cuma tidur. Perasaan bibik langsung lega deh dengar Den Areno ngomong gitu. Terus Den Areno minta izin sama bibik mau nganter non ke kamarnya non. Tentu bibik izinkan. Setelah itu Den Areno meletakkan non di ranjang non dengan sangat lembut. Dia nggak mau membuat non bangun dari tidur non. Setelah dia memastikan non sudah benar-benar tidur di kamar non, Baru Den Areno pamit pulang sama bibik,”
Bibik mencoba memberi penjelasan pada Arani. Kini Arani sudah mulai mengerti. Arani tertawa sendiri di dalam hati Arani. Bagaimana bisa Arani mengira kalau itu semua mimpi? Seketika pipiku menjadi merona saat mendengar cerita bik imah tadi. Arani sangat mendapat perhatian lebih dari Areno. Dia selalu memperlakukan Arani layaknya seorang putri raja.
"Kalau bibik perhatikan, Den Areno kayaknya cinta banget sama non. Bibik bisa liat itu semua dari tatapan matanya ke non dan semua perhatian yang dia kasih buat non. Nggak mungkin dia memperlakukan non layaknya putri dari seorang raja, kalau dia nggak bener-bener cinta sama non. Bibik ikut merasa senang atas hubungan kalian. Sepertinya Den Areno adalah laki-laki yang dapat menjaga non dengan baik. Dia menjaga non penuh dengan rasa tanggung jawab,”
Ucap bik imah pada Areno. Mata Arani berkaca mendengar ucapan bik imah. Benar kata bik imah, kalau Areno memang menjaga Arani penuh dengan rasa tanggung jawab. Bahkan saat ia tak bersama Arani, bukan berarti dia tak menjaga. Dia selalu mengecek keadaan Arani walau dia tak berada di samping Arani. Apalagi saat Arani berada dengan nya, pasti dia sangat over protective.
"Non sepertinya itu Den Areno. suara motornya Den Farel sudah tidak asing lagi di telinga bibik, karena setiap hari Den Areno kesini untuk menjemput non. Jadi bibik selalu dengar suara motor Den Areno"
Ucap bik imah sembari tertawa kecil setelah mendengar suara motor besar. Yang sepertinya adalah suara motor Areno.
"Ya udah, Aku berangkat sekolah dulu ya bik. Assalmuaapaikum,”
Pamit Arani pada bik imah sembari mencium punggung tangan nya. Sesampainya Arani di depan pintu , ternyata benar Areno sudah menungguku di ambang pagar rumah Arani. Dia melemparkan senyum manisnya. Setelah itu Arani menghampirinya, kemudian membuka pagar sedikit agar Arani bisa keluar .
"Hai pagi, Ran,"
Areno langsung menyapa Arani dan mengelus pipi Arani lembut.
"Hai juga, Ren,”
Arani membalas sapaan Areno sembari tersenyum lebar.
"Ya udah berangkat yuk,”
Ajak Arani padaku. Tapi Arani menahan lengan Areno. Dan sepertinya dia menatap Arani bingung .
"Kayaknya aku lupa sesuatu,”
Ucap Arani dan langsung kembali mendapat tatapan bingung dari Areno.
"Ya udah ambil dulu sana, kalau ada yang ketinggalan."
Ucap Farel pada Arani.
"Cieee yang semalam gendong aku. cieee sweet banget sih pacar aku,”
Kini Arani menggoda Areno sembari menjawil pipinya disertai dengan suara layaknya anak kecil.
"Apaan si kamu? Kok suaranya gitu?"
Ucap Areno menahan senyumnya.
"Cieeee. Perhatian banget sih cama aku. Sampe di gendong segala,”
Arani masih menggoda Areno dan tak berhenti menjawil pipi nya. Kini Areno membawa Arani ke dalam pelukannya. Arani bisa merasakan pelukan erat dari Areno.
"Aku sayang banget sama kamu. Jangankan gendong kamu dari sini ke kamar kamu, dari Bogor ke Jakarta juga aku jabanin,”
Ucap Areno sembari tertawa kecil pada Arani. Arani mendongakkan wajah Arani agar bisa menatap Areno. Tak berapa lama, Arani menggenggam tangannya erat dengan satu tanganku dan sembari mengelus pipinya dengan satu tangan Arani lagi.
"Makasih ya untuk semua yang udah kamu kasih buat aku. Aku sangat bersyukur, Tuhan menitipkan satu ciptaan nya yang sangat sempurna untuk aku. Aku sangat bahagia memiliki kamu. Aku gak nyangka, kalau aku akan memiliki pangeran hidup yang sangat luar biasa baik sama aku. Sekali lagi makasih yaa sayang."
Ucap Arani tulus sembari masih mengelus pipi nya dan menggenggam tangannya erat.
"Sama-sama, Ran. Apapun akan aku kasih buat kamu. Asalkan kamu bahagia. Kalaupun aku harus mengorbankan nyawa aku, untuk bahagia in kamu. Aku akan lakukan itu dengan tulus dan ikhlas. Demi perempuan yang sudah menjadi bagian terpenting dalam hidup aku yaitu kamu."
Ucap Areno tak kalah tulus. Mataku tampak berkaca mendengar ucapan tulus dari Areno.
"Jangan nangis. Masa anak motor cengeng."
Areno berusaha menghiburku agar Arani tak menangis. Tangis bahagia, itulah yang Arani rasakan saat ini.
"Biarin. Aku kan bukan anak motor. Karena kamu nggak izin in aku buat jadi anak motor. Bawa motor nggak dibolehin, nyebelin!"
Ucap Arani pada Areno sembari melipat kedua tanganku di depan dada. Areno terkekeh melihat tingkah Arani.
"Iya lah, Aku nggak bakal izinin kamu buat jadi anak motor lagi. Aku sayang banget sama kamu Jadi Aku nggak mau terjadi sesuatu sama kamu, sayang. Eh ngomong-ngomong kamu tau dari siapa? Kalau aku gendong kamu?semalam kamu kan tidur. kok bisa tau, kalau aku gendong kamu? Atau kamu pura-pura tidur yaa biar aku gendong?"
Areno bertanya pada Arani sembari menjawil pipiku. Arani langsung memukul lengannya dan mencubit pinggang nya. Areno terlihat meringis kesakitan dengan cubitan Arani.
"Enak aja. Siapa juga yang mau kamu gendong? Yeee geer. Aku tuh tau dari bik imah."
Ucapku pada Areno dan dibalas oleh Areno dengan anggukan paham.
"Eh kita kenapa belum berangkat? Nanti telat lagi. Ayuk kamu naik ke motor aku. Biar kita berangkat ke sekolah. Sebelum telat"
Ucap Areno yang berhasil membuatku panik.
*************
"Makasih udah mau nganter aku ke sekolah kang supir,”
Ucap Arani mengejek Areno ketika menuruni motornya.
"Tapi kang supirnya ganteng kan?"
Balas Areno menggoda Arani.
"Enggak. biasa aja,”
Ucap Arani yang sedang menahan senyumnya karena pipiku diusap Areno.
"Halah bohong. Kalau gak ganteng kenapa mau jadi pacarnya kang supir ini?"
Lagi-lagi Areno menggoda Arani. Sembari belum berhenti mengusap pipi Arani. Dan kini ia beralih mencubit pelan hidung mancung milik Arani. Dan rona di pipi Arani hadir setelah terasa panas.. Setiap kali di goda Areno, pasti seperti gini kelakuan pipi Arani.
__ADS_1
"Eeaaa pagi-pagi udah mesra aja nih,0
Ucap seseorang yang telah berhasil membuat canda kami terhenti. Sepertinya suara itu berasal dari arah belakang tubuhku. Arani langsung menoleh ke belakang. Dan mendapati seseorang yang telah mengeluarkan ucapannya tadi.