
“Udah belum?” Tanya Areno pada kekasihnya yang saat ini sedang memilih makanan ringan di dalam sebuah minimarket tak jauh dari sekolah mereka.
“Belum, aku lagi cari yang pedas asin gitu. Tapi banyak banget, aku bingung pilihnya. Bantuin aku pilih dong, Ren,”
“Kamu mau yang pedas-pedas? Jangan lah, nanti kamu sakit perut. Kita sebagai manusia tuh jangan cari penyakit, Ran. Orang yang sakit aja mau ngusir penyakitnya, lah kamu malah ngundang penyakit mau datang,” ujar Areno menasehati kekasihnya supaya menggagalkan niat untuk beli makanan yang pedas. Areno hanya takut Arani sakit perut.
“Tapi aku pengen, beli satu aja kok,”
“Ya udah deh terserah,”
“Nggak apa-apa ‘kan?” Tanya Arani pada Areno yang mengangkat kedua bahunya. Areno tidak memberikan izin. Tapi Arani tetap mau membeli makanan yang pedas.
“Aku anggap boleh ya,” ujar Arani seraya terkekeh sambil melanjutkan kegiatannya memilih makanan ringan yang pedas.
Setelah dapat keripik kentang dengan bumbu balado, Arani langsung tersenyum puas. Inilah yang Ia genari, Arani tertawa puas dalam hati. “Akhirnya dapat juga yang pedas dan keliatan enak,”
“Tau darimana kalau itu enak?”
“Keliatannya sih gitu dari gambar di bungkus,”
“Ya ampun, Ran. Gambar di bungkus-bungkus makanan emang selalu keliatan enak dan jumlahnya banyak. Tapi ‘kan sering dibohongi. Kamu masih polos aja,” ujar Areno.
“Iya sih, tapi ini feeling aku enak. Udah biarin aja lah aku maunya ini kok,”
“Ya udah deh terserah. Tapi aku nggak mau ya kamu sakit perut. Gambar di bungkusnya aja keliatan pedas banget,”
“Nah kamu juga liat dari bungkus. Awas hati-hati dibohongi lho,” ujar Arani yang membahas ucapan kekasihnya tadi dan itu membuat Areno tertawa. Dengan gemas Areno mencubit pipi Arani.
“Nggak usah ya? Aku nggak izinin, cari yang lain aja ya,”
Areno akan mengembalikan makanan ringan yang tadi sudah dimasukkan Arani ke dalam keranjang belanja yang dibawa oleh Areno.
“Ih kok begitu sih? Aku pengen banget, Areno,”
“Jangan, Ran. Ini pedas, mending yang sehat-sehat aja sih,”
“Tapi ‘kan cuma sekali-sekali aja,” ujar Arani yang masih bersikeras ingin menikmati makanan ringan dengan rasa pedas itu.
“Mending biskuit, atau roti tuh. Bikin kenyang daripada beginian bikin sakit perut,”
“Nggak, aku kuat tau,”
Areno menghembuskan napas pelan, kemudian merangkum kedua pipi Arani sambil menggeram gemas.
“Kenapa sih susah banget dikasih tau sama aku? Nggak ingat siapa nih yang ngasih tau kamu? Hmm?”
“Ingat,”
“Aku siapanya kamu?”
“Pacar,”
“Nah ya udah kenapa nggak mau dengar larangan aku? Jangan makan yang pedas-pedas, Ran. Nanti kamu sakit perut,”
__ADS_1
“Nggak, aku orangnya kuat kok,”
“Hadeh kamu ini susah bener dikasih tau,” ujar Areno dengan jengah. Arani menanggapi dengan senyum lebar.
“Boleh ‘kan?”
“Tuh aneh banget. Udah dilarang masih aja tetap bandel. Tapi ujungnya nanya ‘boleh nggak?’ Udah jelas aku jawab nggak,”
“Jawab iya aja,”
“Nggak,”
“Iya, buruan jawab iya,”
“Nggak,”
“Ih Areno kok nyebelin sih? Aku pelototin terus nih? Kamu nggak takut liat mata aku melotot?”
“Hahaha biarin aja, ntar mata kamu capek sendiri,”
“Ih jahat banget. Ya udah pokoknya aku anggap kamu jawab iya,” ujar Arani dengan ketus.
Areno geleng-geleng kepala menghadapi keras kepala kekasihnya. Sudah dilarang, masih juga tetap pada keinginannya. Arani kalau sudah mode keras kepala memang menyebalkan sekali.
“Jawab iya ‘kan?”
“Arani, aku udah jawab nggak, kamu kenapa bandel sih? Aku tinggalin di sini kamu ya,”
“Ancamannya kayak ke bocah aja,”
“Udah pokoknya iya,”
Arani meraih keranjang belanjaan yang ada di tangan Areno kemudian Arani bergegas ke kasir. Areno menghembuskan napasnya dengan kasar setelah itu geleng-geleng kepala mengamati kekasihnya yang sudah berjalan membawa belanjaan mereka ke kasir.
Areno langsung bergegas untuk menyusul. “Sini aku aja yang bawa, Ran,”
“Nggak usah, aku aja,”
“Aku aja, itu lumayan berat lho, ada minuman satu liter nya,”
“Ya nggak apa-apa, aku ‘kan kuat orangnya,”
“Ngaku kuat mulu ya padahal mah nggak juga,”
“Eh enak aja, aku kuat kok,”
“Ya udah coba taruh keranjang itu di kepala kuat beneran nggak,”
Tanpa mengeluarkan suara Arani langsung mengangkat keranjang hendak Ia taruh di kepala dan Areno yang panik padahal sebelumnya Areno yang menantang. Tapi sehujurnya itu tidak sungguhan; tapi ditanggapi dengan sungguh-sungguh oleh Arani. Areno heran dibuatnya.
“Eh jangan-jangan! Aku cuma bercanda,”
Areno langsung menahan lengan kekasihnya dan tanpa menunggu waktu lama Areno mengambil alih keranjang belanjaan yang semula ada di tangan sang kekasih.
__ADS_1
“Kamu aneh-aneh aja sih, Ran. Ngapain coba mau dilakuin beneran?”
“Aku tuh suka ngelakuin tantangan,”
“Apaan sih? Suka sih suka, tapi pikirin hal positifnya juga dong, ada atau nggak?”
“Ada,”
“Apa?”
“Itu ‘kan tantangan dari kamu, nah aku mau lakuin karena aku kuat, sekalian latih otot juga,” kata Arani seraya tertawa.
“Ada-ada aja. Kalau mau latih otot ya olahraga bukan angkat keranjang belanja,”
“Itu bukannya termasuk olahraga ya?”
“Ya kalaupun beneran olahraga, jangan ngelakuin di minimarket juga dong, Ran. Malu ‘kan diliat orang, mereka yang lagi belanja ngiranya kamu mau jualan kue,”
Arani tertawa mendengar ucapan Areno sambil memegangi perut yang terasa sedikit sakit karena Ia tertawa.
“Iya juga ya. Ngapain aku olahraga di tempat umum begini. Lagian sih kamu, Ren. Kamu ‘kan yang nantang aku untuk taruh keranjang di atas kepala. Aku suka tantangan jadi mau langsung aku lakuin tuh tadi,”
“Ran, aku ‘kan cuma bercanda, masa mau dilakuin sih? Aduh aku nggak paham deh sama kamu. Walaupun aku nantang begini begitu, kamu harus pikirin dulu ada hal positifnya nggak? Kalau nggak ada ya ngapain dilakuin? Aku lagian cuma bercanda, malah kamu anggap serius,”
“Aku mau nunjukkin kalau aku kuat, nggak deh bercanda,”
“Jadi kamu nggak serius mau angkat keranjang nya ke atas kepala kamu?”
“Nggak serius, cuma bercanda juga,”
“Halah bohong, pasti serius deh,” areno mencubit hidung bangir kekasihnya itu.
“Nggak, aku cuma bercanda aja kok,”
“Bohong, pasti mau beneran dilakuin. Iya ‘kan? Jujur aja deh, Arani. Jangan bohong sama aku,”
“Dih, orang aku nggak serius, aku juga kayaknya nggak kuat deh angkat keranjangnya,”
“Kalau aku sih udah pasti kuat. Angkat kamu aja kuat,”
“Yee nggak nyambung banget. Masa larinya ke aku?”
“Nyambung lah, aku angkat kamu aja kuat apalagi keranjang kecil begitu. Yah elah, gampang banget itu sih,”
“Iya deh yang kuat perkasa,” ledek Arani
“Iya dong aku ‘kan gagah tiada tertandingi,” kata Areno sambil tersenyum menatap Arani yang terkekeh dan langsung mendorong wajah Areno.
“Nggak usah senyam-senyum kayak orang stres deh, Ar. Aku takut liatnya lho, serius,”
“Aku emang kuat, perkasa, gagah, berani. Pokoknya semua deh,”
Areno langsung mengambil ponselnya yang bergetar tiba-tiba. Terpaksa Ia dan Arani mengakhiri obrolan, tapi kaki mereka tetap melangkah mendekati kasir.
__ADS_1
Kening Areno mengernyit ketika Nara menghubunginya. Dalam hati Areno bertanya-tanya.
“Kenapa Nara telepon gue?”