
“Arani, lo nggak mau jenguk pacar lo gitu? Ayo kita temenin,”
Kening Arani mengernyit ketika Vevi mengajaknya untuk menjenguk Arani. Tak hanya Vevi, bahkan Dafilla dan Syena juga semangat mengajaknya sampai Ia dirangkul oleh tiga temannya yang malah punya inisiatif lebih dulu untuk menjenguk Areno ketimbang Arani yang rencananya akan langsung pulang.
“Kalian ngajakin gue ke rumah Areno? Yakin?”
“Ya iyalah, emang keliatan raut nggak yakin di muka kita bertiga?” Tanya Syena sambil menunjuk mukanya sendiri, muka Vevi dan Defilla yang memang benar-benar kelihatan serius.
“Ngomong-ngomong makasih lho kalian udah mau jenguk Areno. Tapi apa nggak keramean kalau kita ke sana? Takut ganggu si Areno nya. Dia ‘kan mesti banyak istirahat,”
“Nggak lah, orang cuma berempat, banyak darimana sih? Itu nggak banyak kok,” Vevi membantah perkataan Arani yang bilang kalau kereka banyak. Padahal mereka hanya berempat, tidak membawa satu kelurahan atau kecamatan.
“Ya udah ayo,”
“Nah gitu dong pacarnya Areno. Amsa lo nggak ada inisiatif buat jenguk dia sih?”
__ADS_1
“Ya ‘kan udah, gue datang sama adek gue bawain makanan buat dia. Ya ealaupun nggak ketemu sama dia sih tapi ketemu nyokapnya aja karena gue sama Ria mau langsung pulang,”
“Sekarang datang jenguknya sama kita-kita ya?”
Arani menganggukkan keoalanya setuju. Tidak ada salahnya Ia datang lagi ke rumah Arenk sekaligus untuk mengetahui kondisi Areno saat ini. Apakah parah atau justru membaik, Arani sejujurnya penasaran.
******
Teman-teman Areno mendengarkan perkataan Areno agar sekolah dulu baru datang lagi ke rumahnya.
Dani, Dafa, Adib langsung bergegas ke rumah Areno setelah keluar dari sekolah. Mereka tidak kemana-mana, selain ke rumah Areno untuk menjadi temannya Areno selama di rumah saja tidak sekolah karena sakit.
“Nggak apa-apa ‘kan?”
“Jangan, bocah geblek. Lo aja lagi batuk kenapa cari perkara sih? Hah? Makin batuk, sekarat aja lo ntar,”
__ADS_1
“Mulut lo, Daf. Pengen gue sumpel pake kaos kaki nggak?”
Dafa tertawa mendengar ucapan Areno yang tadinya mau mengambil rokok milih Dafa, tapi karena Dafa menegurnya seperti tadi akhirnya Areno mengurungkan niat.
“Eh lo tuh sebenarnya serius nggak sih sama Arani?”
“Serius lah kalau nggak serius ngapain gue pacarin dia,”
“Ini lo nggak diam-diam nerima taruhan iseng kita dulu ‘kan? Lo udah nolak waktu itu tapi nggak diam-diam nerima ‘kan?“
“Ya elah kalau gue terima gue bilang lah. Awalnya iya gue tertarik untuk main-main sama Arani, tapi ternyata kenal dia tuh menyenangkan juga. Jadi gue nyaman sama dia, dan gue nggak ada kepikiran mau main-main sama dia,”
“Awas lo kalau lo macam-macam,”
“Lo mau ngapain emang? Lo ngancem gue? Hmm? Santai aja, gue nggak bakal macam-macam kok sama cewek gue. Emang gue pengen serius sama dia karena dia baik, orangtuanya juga baik ke gue. Ya walaupun dia nya rada cuek, ketus gitu ya, tapi dia cewek yang baik, adeknya juga baik udah kayak anggap gue abangnya sendiri. Gue bersyukur sih bisa jadi bagian dari cerita hidupnya Arani,”
__ADS_1
“Anjir omongannya mantep banget,”
“Lo beneran nggak lagi terlibat taruhan atau apapun itu ‘kan? Soalnya lo tiba-tiba banget jadiin Arani cewek lo, sampai dia dulu jijik banget sama lo karena lo seenak hati jadiin dia pacar, tapi lama-lama cair juga tuh cewek,”